
.
.
.
.
.
"Lalu apa yang ingin kau ceritakan?" Tanya Gianna pada sahabatnya itu
"Aku akan menikah dengan guntur."
Anna yang sedang mengchek ponselnya itu kaget di buatnya.
"benarkah?"
"Yaa dan ini undangan untukmu" berinya sembari mengulurkan tangan kepada Anna.
"Ku fikir Erland telah menerima undangan dari Guntur."
"Astaga secepat ini?" guma Anna
Anna segera membuka isi undangan tersebut, sembari membaca isinya.
"Ambar ini acaranya 1 minggu lagi."
"of course"
"kenapa kau tidak bilang padaku jauh jauh hari" Guma Anna dengan lantang.
"Astaga Anna kau" ujar Amabr terkejut terlebih dia melihat sekekilingnya menatap mereka
"Aku ingin membuat kejutan kepadamu"
"ini bukan kejutan Ambar kau .. ahh kita kehilangan waktu kebersamaan kita."
"maksudmu?"
"Jika kau mmebicarakan ini jauh hari bahka bila perlu 1 bulan sebelum nya mungkin kita dapat liburan bersamaa menghambiskan waktu bersama seperti yang dulu sering kita lakukan."
Ambar berhenti sejenak memikirkan apa yang baru saja Anna ucapkan ada benarnya.
"Maaf kan aku tapi Guntur pun meminta kita menikah secepat itu."
"Astaga atau jangan jangan kauuu---" ujar Anna sembari menatap sinis Ambar
__ADS_1
"jaga pikiranmu."
"maksudku Guntur memberi info tanggal pernikah secara dadakan karna beberapa minggu setelahnya dia mendaptkan bisnis dia luar negri dan dia menginginkan saat itu aku telah menjadi istrinya." jelas Ambar
"Astaga Ambar tapii___"
"Sudahlah Anna masih ada hari esok kita pun akan tetap sering bertemu bukan?" Ujar Ambar sembari menenangkan Anna.
Anna menghembuskan nafasnya mencoba menetralkan fikirannya.
"baiklah akan aku coba untuk terima, dan bagaimana dengan ibumu? kau telah menemukannya?'
Pertanyaan itu membuat Ambar merasa sedih pasalnya hingga kini dia belum menemukan Ibunya.
"Sama dengan dirimu Anna."
"ku fikir pernikahanku akan mendatangkan kebahagian lebih banyak bila ada ibuku disini."
" tenanglah Ambar kau tidak sendiri. oke" ujarnya.
♡♡♡♡♡♡
Gianna membuka pintu besar itu dia melihat sekitar tempat itu terlihat sepi.
Anna bersemangat untuk naik lantai atas untuk menemui kekasihnya.
"Erlandd yuhuuu.." teriak Anna
Anna membuka pintu lemari itu dan dia tidak menemukan seorang pun di sana.
"Erland " Anna kembali memastikan lagi.
"Erland??" suara Anna yang mencoba mencari Erland di kamar mandi.
"Astaga dimana dia?" Tanya Anna
Anna membuka ponselnya guna menghubungi Erland tapi ternyata notif sudah berada di depan layarnya.
"Aku akan keluar sebentar." Tulis Erland
Anna mengheela nafasnya panjang karna lelahnya dia menjatuhkan badannya di kasur besar itu.
"Astaga aku gabuttt hik hiks" Suara manjanya.
Beberapa jam berlalu
Erland baru saja turu dari mobil di basmant pribadinya.
__ADS_1
Erland segera melangkah lebih kencang karna dia tahu Anna sudah pulang lantaran mobil yang di kenakannya sudah terparkir disana.
Erland berjalan menyusuri koridor.
namun langkahnya terhenti kala dia tidak sengaja menabrak seseorang.
"Astaga i'am sorry" Ujar suara kecil wanita itu yang coba bangkit.
"ahh maaf aku terburu buru dan tidak melihatnya."
Saat wanita itu sudah dapat berdiri dan keduanya saling memandang.
Erland begitu terkejut saat.
"Erlandd?" ujar wanita itu.
"Laody?" Lanjut Erland.
"Kau ada disini?" tanya Erland.
"*m*aaf Erland aku fikir itu bukan kau."
Erland hanya diam disana.
"Erland bisakan kita bicara?"
Erland melihat jam tangannya.
"Apa yang ingin kau bicarakan aku tidak punya waktu banyak."
"Tapi Erland aku ingin kita tidak berbicara disini."
Erland berfikir tidak ada salahnya jika dia memberi waktu luang untuk Laody.
"baiklah."
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
♡♡♡♡♡♡