Another Loved

Another Loved
179. Melamar


__ADS_3

.


.


.


.


♡♡♡


Dengan wajah yang masih kebingungan, Gianna masih menatap kearah depannya.


namun secara tiba-tiba suasana berbeda saat perlahan Anna dapat mendengar lantunan musik bersamaan dengan lilin yang menyala.


bahkan namanya terukir, dengan api yang menyala.


Anna tidak tau, apa yang sedang terjadi saat ini.


Dia terus memandangi sekeliling berapa indah kini germelap lilin di hamparan rumput dengan syair lagu yang menyentuh hingga ke relung hatinya.


Saat itulah lelaki yang di hadapannya berbalik arah menghadap kearah Anna, sesuai yang dia mau sebelumnya.


"Nando? " Disitulah Anna baru paham rencana apa yang sudah Nando buat untuknya.


Anna menitihkan air mata haru.


dia tidak pernah menyangka untuk kejutan hari ini.


Nando melangkah membawa Gianna kearah tengah dan tertuju pada danau buatan yang luas.


dengan susunan kayu yang di buatnya untuk di jadikan tempat mereka berpijak.


masih dalam genggaman Nando menuntut Anna dengan hati hati.


Sampai akhirnya musik berhenti tak kala mereka memberhentikan langkah mereka.


"Gianna aku bukanlah seseorang yang romantis bagiku semua ini seperti anak anak, tapi untuk terakhir kalinya aku meminta kepadamu, Mau kan kau menjadi istriku. "


Tidak banyak yang Anna katakan dia hanya memandang Nando di sana.


Kembali dia melihat wajah Nando dengan sejuta permohonan.


itu bukan kali pertamanya dia di lamar oleh seorang Fernando Orlando.


namun raut wajah yang di tujukan tetap sama lembut suara nya tetap sama, tidak ada yang berubah.

__ADS_1


"Terimakasih untuk semuanya Nando, untuk kali ini tidak ada alasan bagiku lagi untuk menolaknya bukan? "


"Terimakasih" Ujar Nando mencium lembut tangan wanita itu.


Anna kembali merasa terharu saat jemari itu Nando sematkan cincin yang indah. bertabur berlian dengan permata hijau di tengahnya.


Gianna dapat merasakan berdebar jantung Nando saat dia memeluk nya.


"apa kau habis lari maraton ? " Tanya Anna


keduanya terkekeh bersama.


"bagaimana jantung ku tidak berdebar, aku menemukan bidadari hatiku"


Anna tersenyum malu.


"Lalu rumah siapa ini? " Tanya Anna lihat bangunan besar itu.


"Siapa lagi kalo bukan rumah kita? "


Mata Anna berbinar?


"Benarkah? "


"Ya kita akan tinggal disini setelah menikah"


"Ya, Dan ini terwujud. "


Nando melihat sekelilingnya yang tampan gelap, Hanya ada cahaya remang dari beberapa lilin yang masih menyala.


"Jauh dari pemukiman, hiruk lirik kehidupan perkotaan dan yang pasti media"


Anna mengangguk-angguk kepalanya.


"betul, kita akan hidup tenang disini bukan? "


"Pastinya sayang"


Keduanya berpelukan bersama.


♡♡♡♡


Sebelum mereka pulang ke rumah masing-masing.


Mereka menyempatkan waktu untuk makan malam bersama di sebuah rumah makan yang tidak jauh dari tempat sebelumnya.

__ADS_1


Nando tidak ingin membuang waktu terlalu cepat.


Dia ingat beberapa hari terakhir Dirinya dengan Peter sibuk akan pekerjaan.


dan itu membuat Keduanya merindukan wanita-wanitanya.


hal itu membuat dirinya meminta untuk makan malam bersama.


sebuah warung makan kecil yang tampak sepi itulah yang mereka pilih.


terdapat banyak makanan tradisional khas Spanyol.


dan ternyata penjualannya seorang kakek lansia yang tinggal seorang diri.


beberapa kali Anna kagum dengan resep masakan yang di sajikan.


dan tidak jarang memuji kakek tersebut yang turut serta duduk bersama mereka.


"Lihatlah kalian ini pasangan yang serasi" Ujar sang Kakek melihat mereka.


"Benarkah begitu? " Tanya Anna.


"Benar, Jadi kalian sudah saling menikah? "


"mereka sudah, Kita belum kek" lanjut Anna


"menikahlah, supaya memiliki teman hidup. dan jika pun sudah menikah jagalah pernikahan dan cinta itu. "


"Ya terimakasih untuk keperdulian kakek" Ujar Nando di sana.


"Tidak apa, itulah yang memang harus kalian lakukan."


Beberapa waktu mereka mengobrol hingga akhirnya mereka telah sampai di tempat mereka masing-masing.


mengingat tengah malam sudah menjelang.


.


.


.


.


.

__ADS_1


♡♡♡


__ADS_2