
.
.
.
.
.
Erland yang mengetahui keberadaan Anna saat ini, dia begitu panik lantaran alamat yang dikirimkan menujukan alamat rumah orang tuanya.
Erland segera bergegas dan memacu mobilnya untuj datang kesana.
Erland meyakinkan diri jika ini hanya mimpi namun kenyataannya bahwa hal yang tidak pernah dia pikirkan saat ini ada dihadapannya.
Gerbang pintu rumah itu terbuka, saat dua orang satpam itu mengetahui siapa kepemilikan mobil itu adalah anak majikannya.
Keduanya memberikan salah hormat saat mobil itu melintas di hadapan mereka.
Erland turun dari mobil dan segera masuk kedalam rumah besan itu
Baru beberapa ketukan pintu, sudah terbuka oleh satu pelayan rumahnya.
"Tuan muda Erland" Ujarnya memberi salam
"Dimana momy?"
"Nyonya besar ada dihalaman belakang sedang menemui tamu."
Mendengarnya Erland segera menghampiri tempat itu.
Erland berjalan tanpa memperlambat ayunan kakinya saat kemudia dia melihat ketiga wanita yang tengah duduk di gazebo.
Erland pergi menemui mereka.
"Hallo guysss" Ujar Erland menyapa mereka.
Sontak ketiganya kaget melihat keberadaan Erland terlebih Anna begitu terkejut hingga dibuat melonggo melihatnya.
Anna begitu panik dia segera bangkit dari duduknya dan mendekati Erland.
"Erlanddd kamu ngapain disini"
"Aku kan suruh kamu tunggu di depan kenapa kamu masuk kerumah orang dengan cara seperti ini.."
"Erland ihhh kamu harus jaga sopan santun.."
Ucap Anna yang merasa tidak enak dengan keberadaan Erland bahkan dia berbicara pun sangat pelan namun tetepa di dengar oleh sekitarnya termasuk Indah.
Indah yang melihat kearah Erland hanya tersenyum tipis bahkan Erland pun sempat membalas senyuman itu.
"Hallo momyyy apa kabar?" Ujar Erland pada Indah.
Anna yang melihatnya sontak kaget bahkan dia dibuat bingung sendiri dengan keadaan saat ini.
"Hallo nak kabar baik duduklah kau sudah lama tidak datang."
"Ya aku datang kesini untuk menemui seseorang."
"hahah apa dia begitu berharga hingga kau rela meninggalkan pekerjaan demi menjemputnya."
"ku fikir begitu."
Keduanya tertawa tipis, di situ Anna semakin bingung di buatnya.
"Erland???" Tanya Anna
"Ada apaa?"
"kauuuu????"
belum selesai berbicara Erland telah memotong pembucaraan itu. " Ada apa denganmu kenapa mukamu terlihat bingung."
__ADS_1
"Jadiiii??"
"Jadiii dia momyku" lanjut Erland.
Anna yang menderngarnya begitu terkejut hingga dia menutup mulutnya dengan kedua tangan mungilnya lantaran dia terngia-ngia.
"hah!? prank macam apa iniiii?" Ujarnya dalam hati Anna.
Erland yang melihatnya begitu gemas lantas dia mengetuk dahi Anna dengan jari telunjuk sembari berkata "kontrol ekspresimu.."
Erland tertawa tipis.
♡♡♡♡
Keduanya kini sudah berada di mobil, Anna terus diam disana setelah mendengar pernyataan yang tidak pernah dia duga.
"Aku tidak tahu mengapa waktu begitu tepat berpihak kepadamu" Ujar Erland.
Anna yang menyadari itu dia kembali pulih dalam lamunannya.
"Hanya kebetulan"
"Hahah kurasa ini yang dinamakan takdir"
"Takdir apa?"
"Takdir jika aku tidak usah bersusah payah mengenalkan kamu dengan keluargaku."
"Untuk apa kau mau ngenalkan aku ke keluargamu."
"Untuk menjadi teman arisan momy"
"Erlanddd!!!!" Ujar Anna mengambek.
"mengapa dunia begituuu sempittttt Tuhan" Ujar Anna dalam hati.
♡♡♡
Anna saat ini dibawa oleh Erland kesalah satu tempat dimana proyek sedang berjalan.
dia seakan melihat hal baru lantaran selama ini dia hanya datang kegedung maupun hotel tinggi yang sudah rapi dan digunakan.
Jadi dia merasakan hal baru untuk kali pertamanya dia melihat alat alat beban berat yang digunakan untuk membangun gedung tingga.
"Erland kenapa kita harus datang ketempat seperti ini."
"lalu kamu ingin kita datang ketempat mana?"
Anna tidak menjawabnya dia hanya diam melihat para pekerja disana.
Erland tengah memantau beberapa pekerbangan pembangunan, dengan di temani oleh beberapa investor dan arsitek disana.
Anna tidak bisa jauh dari Erland selalu memintanya ada disamping dia, Erland hanya takut kejadian tadi pagi terulang lagi.
Terlebih ini di tempat pembangunan dia takut jika terjadi sesuatu terhadap Anna lantaran disini pun cukup berbahaya.
"Erland kau lihat alat di ujung sana?'
"Mana??" Jawab Erlang mencari yang dimaksud Anna
" itu yang seperti mesin capit boneka?"
"Astaga Anna itu namanya tower crane, bagaimana bisa kmu menyebutnya capitan boneka?"
"Isssst itu mirip lahhh"
"yaa tapi itu lebih besar."
"aku juga tau"
beberapa waktu berlalu Erland terus memantau perkebangan disana dan tentunya Anna yang terus mengikuti Erland.
Entah mengapa hari ini tidak seperti biasanya kali ini awan terlihat sangat gelap bahkan sejak tadi merekapun sudah mulai khawatir akan turun hujan.
__ADS_1
Tak menunggu lama hujan itu pun turun, para pekerja disana mulai membereskan pekerjaannya.
begitu pun dengan Anna yang tampak bingung kehujanan.
"Erland bagaimana mobil terpakir jauh."
"kita meneduh disana."
"Kalian carilah tempat meneduh,saya akan pergi kesana." Ujar Erland pada koleganya
"Baik tuan Hernandez."
Erland membawa Anna pergi hanya tempat itu satu satunya yang dekat dengan keberadaan mereka.
Dan Erland pun meminta yang lain meneduh ditempat yang lebih besar paslanya di tempat yang akan Erland tuju sangat sempit.
Anna mengusap kemejanya yang setengah basah karna air hujan.
Erland melihat Anna tampak kediginan dia lantas melepas Jasnya untuk di kenakan kepada Anna.
"Kau kedinginan"
"Terimakasi" ujar Anna yang menerimanya.
"Maaf membuatmu seperti ini"
"tidak papa Erland sudah lama aku tidak merasakan Air hujan."
"Tapi nanti kamu sakit"
"hahah tidak."
Beberapa waktu terus berjalan namun hujan itu tidak kunjung berhenti bahkan semakin besar dan langit semakin gelap.
Anna sudah merasakan kedinginan karna Angin yang menyusup ke kemaja yang telah basah.
Namun hal yang tidak terduga terjadi saat langit itu memancarkan cahaya trilap yang begitu terang.
Disusul dengan suara gemuruh dari langit itu membuat Anna merasa takut dan kaget. dia segera mendekap Erland begitu kencang.
bahkan Erland pun dapat merasakannya dari genggaman erat yang diberikan oleh Anna.
Erland sontak kaget di buatnya.
"Erland aku takuttt" Rintih Anna yang menyembunyikan wajahnya di dada bidang Erland.
"it's oke Anna"
Saat Ini Erland dapat merasakan secara langsung ketakutan Anna, memang benar rasa takutnya tidak di buat-buat.
Saat kondisi mulai membaik Anna melepaskan ikatan tangannya itu yang menyatu dengan Erland.
"Maaf Erland aku tidak bermaksud"
"Tidak masalah aku mengerti."
Sejak itu Erland menyesal bahwa dia telah salah membawa Anna ketempat ini, Erland mengerti saat ini bahwa sebenarnya Anna takut dengan hujan apalagi dengan suara gemuruh dari langit.
"Seharusnya aku tidak membawamu kesituasi seperti ini" Ujar Erland dalam hati.
Tanpa mereka ketahui saat Erland mengucapkan hal itu di dalam batinya.
Anna juga mengucapkan hal yang serupa.
"Maaf Erland dengan situasi seperti ini mungkin akan membuatmu mengetahui aku lebih dalam." ujar Anna dalam hati.
.
.
.
.
__ADS_1
.
♡♡♡♡♡