
.
.
.
.
pagi sebelum matahari terbit jet yang di tunggangi Erland Hernandez kini sudah mendarat di landasan milik keluarganya.
Jadwal pemberangkatannya mengalami masalah sedikit yang membuatnya harus mengulur waktu penerbangan 3 jam.
Terlihat jelas raut wajah Erland yang kesal, lantaran dia harus lama menunggu.
Erland segera melangkahkan kakinya menuruni Jet itu setelah pintu terbuka.
Erland melangkah menuju kedalam bandara pribadi miliknya guna beristirahat sejenak.
"Andre?"
"saya disini Tuan?"
"tolong belikan buket bunga untuku."
"hanya itu?"
"ya dan Ambilkan tas yang sudah pernah aku pesan saat itu"
"baik tuan"
Setelah kepergian Andre, Erland berniatan untuk pulang keappartement terlebih dahulu untuk membersihkan badan.
setelah keluar dari kamar Erland bergegas turun kelantai bawah. barulah dia mendapati apa yang dia inginkan.
♡♡♡♡
Anna baru saja selesai berbenah, mulai dari lantai atas hingga lantai bawah di bantu oleh asistennya Anna membereskan beberapa lemari yang di pindahkan ke atas.
saat Anna melihat ruang kamar yang dulu di tempatkan oleh Ambar kini dia ingin merubahnya menjadi tempat walk in closet dan ruang make up miliknya.
beberapa lemari sudah tersusun di sana namun ini masih tahap pertama jadi masih ada banyak hal yang harus dilakukan oleh Anna selanjutnya.
karna ruangan disana cukup besar Anna berinisiatif untuk menambahkan beberapa lemari yang nantinya akan di gunakan sebagai tempat koleksi sepatu dan tas miliknya.
"aku rasa hari ini cukup sampai disini, asisten juga udah balik bisa gempor gua kalo harus naik turun tangga sendirian." gumanya saat sedang menaruh box sampah samping pintu.
Anna berniat mengambil air di dapur namun suara bel mengurungkan niatnya sebelum akhirnya wanita itu menghampiri arah pintu tersebut.
"iya sebentarrr"
Anna membuka pintu itu dan dia dikejutkan dengan hadirnya Erland yang sudah berada di depannya.
karna rasa kesal yang di pendamnya selama ini lantaran Erland yang pergi tanpa kabar. membuat Anna segera berbalik badan dan meninggalkan Erland yang masih terdiam di ambang pintu itu.
saat langkahnya perlahan mengayuh Anna di kejutkan dengan telapak tangan yang sudah berada di lengannya.
"kau tak menyambutku?"
"aku datang kesini untukmu"
__ADS_1
"untuk apa?" jawabnya ketus
"hei apa aku tidak boleh menjengukmu"
"tidak"
"benarkah kamu tidak rindu denganku?"
"tidak"
"kenapa?"
"kalo ku bilang tidak ya tidak." ujar Anna sembari melipat lengan di dada.
Anna pergi berlalu dengan diikuti oleh Erland di belakangnya.
"bagaimana kabarmu?"
"baik"
"ku lihat kamu semakin cantik"
"apa kamu datang hanya untuk mengatakan itu?"
"tidak, aku bawakan ini untukmu"
"dalam rangka apa kamu memberi bunga untukku?"
"dalam rangkaaaa____? tidak hanya ingin memberi saja"
"dann___yaa maaf jika selama ini aku tidak ada kabar"
"benarkah?"
"iyaa"
"okeh baiklah artinya aku tidak perlu lagi susah susah datang kesini" Erland yang beranjak dari duduknya dan mengambil kunci mobil.
"Ehhh Erland.."
"duduk dulu, ada yang ingin aku bicarakan"
"tentang berita itu?"
"yaaa"
"oke" ujar Erland singkat dengan kembalinya dia duduk di tempat tadi.
"jadi bagaimana? kau bilang akan menyelesaikan hal itu bukan?"
"ya tapi aku menunggu keputusanmu"
"bukankah sebelumnya kau sudah bicara padaku?"
"yaa hanya saja aku takut nantinya jika aku salah berbicara" mendengar pengkuan itu Erland tersenyum samar.
"maafkan aku jika beberapa minggu terakhir aku tidak memberimu kabar itu karna aku sedang ada pekerjaan di luar negri yang harus aku kerjakan jadi aku tidak sempat berbicara denganmu."
"ya tidak masalah? lalu bagaimana dengan kelanjutan berita itu?"
__ADS_1
"begini saja, bagaimana jika kita biarkan berita itu karna ku rasa berita media di luar sana tidak akan ada habisnya dan aku sendiri pun malas mengurusinya, pekerjaanku lebih penting dari semua itu."
"maksudmu Erland?"
"ya maksudku biarkan saja dengan berita berita di luar sana. selagi itu tidak mengganggu karirmu. kalo kamu keluar atau kesuatu tempat dan wartawan mengejarmu dan memberikan beberapa pertanyaan jawablah sesuatu dengan realita yang ada.. jawablah sesuai dengan apa yang ada dalam hatimu percayalah dan jangan takut dengan setiap ucapamu. menurutku jika kita harus melakukan klarifikasi itu akan menyita banyak waktu terlalu banyak waktu yang terbuang menyebalkan."
"baiklah aku ikut maumu"
saat mereka sedang berbincang Erland di sadarkan dengan baju yang di kenakan Anna terkena seperti chat.
"apa ini?" ujarnya melihat chat disana.
"ini hanya chat sedikit?"
"apa yang kamu kerjakan"
"ya aku sedang membuat ruangan make up. karna ada satu rungan di atas tidak terpakai."
"boleh aku melihatnya?"
"silahkan asal tidak merusak saja."
Erland pergi ke lantai atas di temani oleh Anna. disana dia melihat rungan yang masih kosong yang tengah di renovasi dan diganti warna.
Erland dan Anna berbicara mengenai inspirasi yanga da di dalam kepala Anna tentang tempat itu.
"idemu tidak terlalu jelek , jadi bagaimana jika besok aku menemanimu berbelanja furnitur"
"tidak maslaah jika tidak mengganggu waktumu"
"pastiii tidak"
Beberapa waktu berlalu kini keduanya menuju ke lantai bawah berniat pergi ke resto untuk makan malam, kebetulan keduanya sama sama belum makan. dan Anna pun malas memasak malam ini jadi keduanya memutuskan untuk pergi makan di luar.
Saat keduanya keluar dari lift VVIP seketika keduanya menjadi pusat perhatian orang orang di sekitar sana terlebih para wanita wanita yang bekerja di sana.
beberapa orang menunduk hormat kepada Erland. bebrapa lainnya hanya memberi senyuman.
namun karna Anna tidka terbiasa dengan hal itu dia mencoba mencari celah menghindar dari arah Erland. namun Erland tetap menahan Anna disana.
"hhahaha Emang bener ya sama berita diluar sana"
"ya namanya juga artis nyarinya kolongmerat biar karirnya naik"
"yalah pasti panjat sosial."
Ujar para karyawan disana setelah keduanya tak terlihat dari balik pintu kaca itu.
.
.
.
.
.
♡♡♡
__ADS_1