
.
.
.
.
Gavin yang melihat Anna menitihkan air mata dihadapannya merasa iba atas apa yang saat ini dia lakukan.
Namun bagaimana pun ini adalah salahnya, dan dia mengakui itu.
"Maaf Anna" Ujarnya dalam hati
Gavin tetap pada wajah Flatnya memandang Anna.
dia menggengap keras botol itu.
"kau tau tidak ada laki laki yang tida menyukai harta dan tahta." Ujar Gavin
"akan munafik jika aku mengatakan tidak." lanjutnya
"aku melakukan ini atas datar aku menyukai apa yang aku miliki saat ini dan aku tidak ingin kembali hidup miskin seperti dulu saat aku masih duduk di bangku Sekolah dasar dimana aku selalu di bully oleh teman-temanku karan aku miskin dan tidak memiliki uang. kini mereka semua kagum dengan apa yang mereka lihat tentang diriku, mereka menyanjungku setelah mereka melihat siapa diriku dan aku tidak ingin kehilangannya."
"tapi bukan seperti itu caranya!!!"
"husst Gianna bisakah kau tidak berbicara keras dalam rumahku?" Ujar Jihan
Bola mata Anna menyoroti kepada Wanita itu.
"Aku tau ini adalah trik licikmu."
"jangan harap kalian akan lolos kali ini" lanjut Anna
Dalam keheningan mereka mendengar langkah kaki berjalan mendekati mereka.
"siapa yang berani membuat wanitaku menangis?" Ujar Erland yang berhasil mencuri pendang mereka.
__ADS_1
Gavin yang melihatnya semakin kesal apalagi ada saingan bisnisnya di hadapannya.
"Aku sudah mendengar semua percakapan kalian." Ujar Erland santai.
"dan aku sudah menyiapkan banyak kejutan."
"masuklah" Ujar Erland
Sontak kejutan itu membuat Anak dan ibu itu terkejut lantaran dihadapannya sudah berjejer beberapa anggota polisi yang telah berbaris rapi.
Gavin dan Jihan tidak bisa berkutik saat polisi itu memborgol kedua tangannya.
"Apa apa ini pak?"Tanya Gavin
"sebaiknya anda ikut kami, dan kita bicarakan di Kantor."
Jihan hanya berpasrah.
Dia memandangi Anna dengan sejuta kemarahan dan kebencian.
"Dasar wanita licik, kau seperti ja*ang yang tak tau malu, beraninya kau menjebakku wanita sial*n" Teriak Jihan sembari di bawa keluar oleh dua polisi yang mengikat tangannya.
"Lihat aku datang di waktu yang tepat bukan?" Tanyanya
Anna yang melihatnya hanya tersenyum.
Erland meraih pinggang Anna dan menariknya dalam pelukan.
"Tenang sayang aku ada bersamamu"
"terimakasi"
♡♡♡♡
Keduanya telah sampai di kantor polisi setelah mereka memutuskan untuk langsung membawa mereka ke kantor.
sedangkan mobil yang di tunggangi Anna dan Erland mengikuti di belakangnya.
__ADS_1
sorotan mobilnya menyinari tempat itu sebelum akhirnya Anna dan Erland turun dari sana.
Terlihat dengan jelas betapa Gavin berusaha untuk memberontak dan mecoba melawan petugas disana.
beberapa kali bahkan dia berusaha untuk melarikan diri.
Erland mendatangi ketua tugas malam ini.
"Terimakasi pak atas kerja samanya" ujar Erland menjaba tanganya nya.
"sama sama tuan, saya juga berterimakasi untuk ini."
"ya selebihnya saya mempercayai kalian untuk mengurus semua ini, Jadi saya mohon ijin untuk pulang."
"oh ya tuan silahkan" Jawabnya.
Gavin yang melihatnya begitu panas yang dirasakan di dalam hatinya melihat Erland yang berada di garis Finish saat ini.
Gavin mencoba memberontak, dan dua polisi itu pun kewalahan menahan tenaga yang dihasilkan oleh badan kekarnya.
Sontak Gavin terjatuh karna tidak bisa menjaga keseimbangan begitu pun polisi yang memeganginya mencoba mendirikan Gavin lantas begitu kagetnya saat dia melihat sarung pistol sang polisi yang terbuka.
gavin tidak ingin mengabaikan kesempatan dengan cepat dan cekatan dia mengambil pistol itu dan mengarahkannya kepada dua orang yang tengah menuju mobil.
tanpa persekian detik timah panas itu keluar dan mengarah kepada Erland.
Dan Dor~~~~
Seketika darah mengucur deras dari balik jas lelaki itu
.
.
.
.
__ADS_1
.
♡♡♡♡