
.
.
.
.
.
Gianna membuka matanya saat telah sadar dari tidur panjangnya.
matanya menyoroti keadaan sekeliling saat dia tidak mendapati Erland disana.
"apa aku bangun kesiangan?" Gumanya
Anna perlahan mencoba bangkit dan meluruskan kakinya.
namun tak lama dia mendengar suara yang tak asing.
Anna pergi menghampiri Erland yang sedang mengobrol dj via telfon disana.
Anna dapat mendengar percakapan mereka karna jarak yang tdak terlalu jauh.
"Erland?" sang kepemilikan nama menoleh kearahnya.
"Nanti Kau bisa hubungi lagi." Ujar Erland menyuruh bawahanya untuk menutup telfon.
"sayang? kau sudah bangun?"
Anna hanya menjawab pertanyaan Erland dengan jawaban.
"apa ada sesuatu yg harus kau kerjakan?" tanya Anna
"yaa bersangkutan dengan proyek di luar kota."
"dimana itu?"
"pedesaan kecil aku berencana untuk membuat villa di sana."
Anna membayangkan desa kecil yang di sebutkan Erland.
Anna merasa sudah lama dia tidak mengunjungi itu.
dia merasa rindu dengan suasana pedesaan yang sunyi dan tentram.
__ADS_1
"Aku boleh ikut kau pergi?" tanya Anna kepada Erland.
"tapi ini jauh sayang kau akan lelah dalam perjalanan."
"tidak Erland, aku bisa kau tidak ingin menuruti keinginanku?" Jawab Anna memasang wajah sedihnya.
"ayahmu tidak mau mengajak kita jalan jalan baby." Guma Anna dengan mengeluskan tangannya di perit seakan berbicara dengan bocah yang ada dalam perutnya itu.
melihat itu membuat hati Erland luluh seketika.
"Astaga sayang tidak seperti itu. no baby, dady hanya khawatir denngan momymu." Ujar Erland dengan mengekus perut Anna.
"Daddy?" tanya Anna bingung.
"yes, Daddy and momy" jawab Erland
"Ah tidak terlalu buruk." lanjut Anna
"Sayang berhenti mengambek kau bisa ikut denganku"
♡♡♡♡
Beberapa hari kemudian Anna menyiapkan banyak pakain untuk keperluan perjalannya kali ini.
Anna merasakan sangat mual saat berada di jet pribadi Erland.
tapi kali ini sudah ketiga kalinya dia bolak balik kamar mandi.
Hingga Anna melihat wajahnya dalam cermin itu melihatkan wajahnya kini terlihat sangat pucat.
"sayang ada apa denganmu??" tanya Erland dibalik pintu itu.
Anna segera membuka kancing pintu itu sehingga memperlihatkan wajah Erland disana.
"Sayang kau sangat pucat." Erland segera membawa Anna untuk ikut denganya.
Ternyata Anna di bawa oleh Erland di ruang pribadinya yang terdapat pada Jetz itu.
"Bagaimana bisa terjadi kau terlihat seperti ini sayang."
"aku rasanya aku ingin mual terus menerus."
Erland membawakan Air putih dan memberikanya pada Anna.
"Sudah ku bilang kau harusnya dirumah saja."
__ADS_1
"Tapi aku ingin ikut kau lihat aku terlalu lama di rumah."
"Ya sudah lebih baik istirahat supaya lebih membaik."
Anna menuruti perintah Erland disana dia membaringkan tubuhnya pada kasur kecil yang berada disana.
tidak lupa di dampingi oleh Erland disisinya.
Anna memandang Indahnya langit dan awan sebagaimana yang terlihat di depan matanya sendiri.
"Sayang sebenarnya akan kemana kita ini?" Tanya Anna pada Erland.
"labuan bajo."
Mendengar jawaban dari Erland Anna segera melompah dari tidurnya.
"Benarkan??!" Ucap Anna eksetit.
"Sayang astaga kau.. ingat perutmu sayang." ujar Erland memperingati.
"Ini sudah tidak sakit sayang" Ujarnya sembari mengelus pelan perutnya.
"Tapi ada calon anak kita di dalamnya." Jawab Erland memberi pengertian.
"Astaga benar, tapi aku senang karna sudah lama aku tidak liburan kesana." Ujar Anna dengan manjanya di sembari memeluk lengan kekar Erland.
"Jika nanti kau sudah mengeluarkan bayi ini kau boleh libiran kemanpun kau mau."
"benarkah?"
Jawab Erland dengan menganggukan kepala.
"Asikkkkk thanks you Erland"
Ucap Anna dengan bahagia sembari memberi ciuman untuk Erland.
.
.
.
.
.
__ADS_1
♡♡♡♡♡