
.
.
.
.
.
Waktu terus berlalu kini Erland sudah dipindahkan dalam ruang rawat pasien.
namun kondisi belum juga memunjukan tanda baiknya.
bagaimana tidak segala alat medis masih terpasang dalam tubuhnya.
Anna yang melihatnya hanya merasa iba dan tak kuasa.
begitu perih hatinya ketika harus menyaksikan suatu kejadian yang tidak pernah terbesit dalam fikirnya.
Anna hanya bisa melihat monitor yang memperlihatkan detak jantung Erland di dalam sana.
serta Anna terus memandangi wajah pucat Erland disana.
"Erland ku mohon bangunlah aku membutuhkanmu."
Anna hanya bisa terduduk lemas diruangan sepi yang hanya ada suara denting monitor.
Anna terus berdoa untuk kesembuhan Erland.
bagiamanpun saat ini Erland yang dia mau dan dia butuhkan.
Dalam keheningan Anna mendengar suara pintu yang tertutup.
Anna melihat siapa yang datang.
"Anna bisakah kau keluar aku ingin berbicara dengan Erland." Mendengar permintaan Indah Anna tidak dapat menolaknya.
"Baik mom"
Anna lantas pergi meninggalkan ruangan itu sendiri dan lebih memilih untuk duduk di sana.
Elisya melintas di hadapannya tanpa sapaan dan juga senyum yang di lihatnya.
dia lantas masuk dengan cueknya.
Anna yang melihat kembali merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Erland.
bagimana tidak.
__ADS_1
"Jika Erland tidak bersamaku mungkin tidak seperti ini akhirnya."
Anna kembali menangis seketika itu.
Saat Anna tengah termenung sembari memikirkan Erland. tanpa sengaja terkecohkan oleh suara dering telfon yang menyala.
Anna melihatnya ternyata nomor itu dari kantor polisi.
"Ada apa?"
tanpa menunggu lama Anna mengangkatnya.
"Hallo apa benar ini dengan sodari Gianna Tahalea."
"iya benar saya pak, ada apa ya pak?"
"begini nona, Sodara Anda yang bernama Gavin tahalea. ditemukan tergeletak di kamar mandi dengan keadaan sudah tidak bernyawa."
Seketika jantung Anna terasa turun
untuk sekian kali dia merasa terkejut.
"Bagaimana mungkin terjadi pak?"lanjutnya
"Di duga beliau meminum racun yang sama dengan racun yang mereka berikan kepada korban yaitu Basuki Tahalea."
"Apa ada bukti lain?"
"yaa hingga saat itu pertama kali yang kita lihat adalah satu botol ya ada di genggaman korban."
"baiklah saya akan segera kesana."
Anna segera turun menggunakan Lift darurat yang tersedia.
dengan rasa yang tidak percaya Anna kembali merasa hawatir dan kacau.
Andre baru saja memasuki rumah sakit itu setelah dia menyelesaikan urusannya.
namun dia heran dengan sikap Anna yang terlihat sangat panik disana.
"Nona Anna."
Anna yang merasa mengenali suara itu lantas mencari seseorang.
"Andre"
Andre datang menghampiri.
"Nona Anna anda mau kemana?"
__ADS_1
"Maaf Andre ada urusan yang harus aku bisakah kau jaga Erland di atas."
"Itu pasti nona. namun sebenarnya ada apa mengapa wajahmu terlihat sangat khawatir."
"Nanti aku ceritakan aku harus pergi Andre."
"baiklah hati hati nona."
Andre melihat kepergian Anna yang menggunakan taksi disana.
Dengan rasa heran dan bertanya-tanya.
"sebenarnya apa yang terjadi."
Anna terus memandangi jalanan sepajang dia ada didalam sana.
Raganya terus merasa lelah dengan semua ini.
dia sudah merasa sangat lelah fisik maupun fikirannya.
"Bagaimana bisa ini terjadi."
Anna kembali mengingat Gavin dia tidak pernah menyangkah bawa semua ini akan menimpa kakak tirinya.
"apa aku salah mengambil keputusan itu?" tanya nya.
Anna ingat bagaimana dulu Gavin menjaganya, dan sama sama bermain di taman memberi makan kura kura kesayangan mereka.
Bagaimana pun Anna menyayangi Gavin terlepas dari apa yang telah dia lakukan.
Anna ingat saat dulu ayahnya lebih membela Gavin daripada anak kandungnya.
itu yang membuat lukanya kembali terusik.
.
.
.
.
.
.
.
♡♡♡♡
__ADS_1