
.
.
.
.
Anna menuju kantor polisi waktu sudah menunjukan tengah malam wajar bila terlihat sangat sepi.
Anna masuk dengan pelan dan menemui salah satu polisi yang terlihat sedang berjaga disana.
"permisi pak"
"ada yang bisa saya bantu."
"Saya Gianna tahalea."
Mendengar nama itu seakan polisi tersebut mengerti.
"Oh nona Gianna ya silahkan masuk lewat sini biar saya antar."
"baik terimakasi pak."
Anna berjalan melewati lorong gelap.
Namun bergitu terkejut saat dia dia bawa kedalam ruangan yang terlihat tulisan "Ruang otopsi."
"Disana nona."
"baiklah terimakasi."
Anna merasa takut saat dirinya akan melangkah masuk.
bagaimana pun fikirannya sudah terpancing kearah tak menentu.
Anna meyakinkan diri untuk melangkah maju.
sebelumnya dia mengedarkan pandangan melihat sekeliling ternyata disana ada 3 polisi yang sedang bertugas melihat kan satu polisi wanita.
Anna merasa takutnya berkurang.
"permisi"
Ketiga polisi itu lantas melihat arah kedatangan Anna.
"Nona Anna silahkan masuk"
"baik" Ujar Anna sembari menutup pintu kembali.
Anna melihat satu Jenazah yang tertutup disana.
__ADS_1
dia yakin itulah Gavin
"Bagaimana Pak?" Tanya Anna.
"Ya dari hasil otopsi menujukan kebenaran bahwa dia menengguk racun tersebut."
"lalu bagaimana kronologinya hingga semua itu terjadi?" Tanya Anna.
"Jadi selama pemeriksaan dia menjawab semua nya dengan jujur lalu satu jam setelahnya dia meminta untuk pergi kekamar mandi. kita memberikan waktu dan mengijinkannya. namun setengah jam berlalu tidak juga keluar dan juga tidak ada suara yang terdengar dari sana lantas kita berusaha membukanya namun begitu kami berhasil membuka pintu itu korban sudah tergeletak disana."
Anna terkejut mendengarnya
Anna membalikan pandangannya melihat jenazah itu.
"Apa itu kakak tiri saya?"
"betul"
"boleh saya melihatnya?"
"silahkan."
Anna mengambil langkahnya untuk menghampiri.
dengan tangan gemetarnya Anna membuka kain biru itu.
begitu terkejutnya saat melihat Gavin yang terbujur kaku disana dengan wajah pucat basi.
hatinya kembali terkoya.
namun untuk kali ini Anna tidak ingin menangis.
Hatinya mengatakan iklas.
"Apa yang kamu tanam inilah yang kamu petik." Ujarnya dalam hati.
Anna kembali menutup kain itu.
"bagaimana dengan ibu tiriku?" tanyanya
"dia masih dalam masa pemeriksaan namun terlihat masih syok dengan apa yang menimpa Anaknya."
"boleh aku melihatnya."
"maaf nona untuk saat ini belum bisa mungkin anda dapat melihatnya besok."
"Baiklah terimakasi."
Beberapa waktu berlalu Anna kembali.
kali ini Anna memilih pulang untuk menenangkan fikirannya.
__ADS_1
Anna berjalan gontai dengan kaki nya yang sudah mulai lemas.
Anna melihat jam digitalnya yang melekat pada tangannya.
waktu menunjukan 03:12 pagi
Anna perlahan menekan tombol finger print itu dan bunyi koneksi pintu itu terbuka.
Anna memasuki ruangan namun langkahnya berhenti saat melihat Ambar yang duduk di sofa itu.
Ambar pun melihat kedatangan Anna dia lantas berjalan menghampir Anna.
"Anna astaga apa yang terjadi pada Erland."
"kau terlihat kacu sekali."
"Ambar maaf untuk kali ini biarkan aku berdiam diri."
Ambar yang mendengarnya hanya menganggukan kepala.
Dan tanpa aba aba Ambar merai tubuh Anna
"Maaf aku tidak ada disampingmu melewati ini semua."
Anna begitu terkejut dengan pelukan Ambar tidak biasanya ambar seperti ini.
Seketika tangis Anna pecah disana.
betapa yang dia butuhkan adalah sandaran saat ini.
"semua ini salahku"
"Anna tidaklah kau berbicara seperti itu ini sudah takdir dan jalannya."
"Aku salah Ammbar.. tidak seharusnya aku egois seperti ini semua karna aku semuanya jadi seperti ini hiks... hiks.. hiks."
"Stttt Anna tenanglah ini hanya sebuah ujian kehidupan kau harus tenang."
"Tapi Gavin mati karna ku.."
.
.
.
.
.
♡♡♡
__ADS_1