
"Selamat ulang tahun zerra" ucap Anna pada temannya.
"terimakasi Gianna udah nyempetin hadir di acara ini."
"hahah ga masalah."
"ya kan lu sibuk bangettt artis papan atas"
"hahah engak lah biasa aja"
"sayang". suara itu yang sepontan membuat keduanya menengok ke sumber suara.
"ohh helloo beb." melihat siapa yang hadir membuat Gianna sempat tekejut pasalanya dia bukan orang asing bagi Anna.
"oh ya kenalin ini temen aku." ucap zerra pada kekasihnya, lelaki itu menoleh ke arah zerra yang menggandeng temanya, tak kala lelaki itu pun itu terkejut dibuatnya.
"Anna?" ucap sang lelaki. yang di balas hanya dengan senyuman oleh Anna.
"kalian sudah saling mengenal?" tanya zerra heran.
"ya kit---"
"teman kecil" lanjut Anna spontan memotong perkataan Sang lelaki.
"oh ya ampun aku tidak menyangka dunia terlalu sempit" Ujar Zerra. yang di bals anggukan oleh Gianna
"hmm, Zerra aku permisi dulu kalian lanjutkan obrolan kalian"
__ADS_1
"ohh baik Anna, sekali lagi trimakasi sudah hadir"
"tidak masalah"
Anna bergegas pergi menuju Toilet. Disana dia berusaha menenangkan diri setelah tau siapa yang baru saja dia temui, Gavin Tahalea (Kakak tiri dari Gianna). Anna tidak pernah menyangka mereka akan bertemu disini setelah beberapa tahun lamanya.
ini membuatnya merasa tidak nyaman mengingat dulu perilaku ayahnya setelah kedatangan Ibu dan anak lelaki tersebut dalam kehidupan rumah tangga Ayah dan mamanya. tanpa di undang mereka datang keistana keluarga mereka dan merusak kebahagian yang sempat Anna miliki.
terlebihnya setelah mereka berhasil menghancurkan segalanya Anna merasa Ayahnya berpilih kasih. padahal jelas dialah anak kandungnya tapi ibu tirinya selalu mejalankan drama dihadapan sang ayah yang membuat Anna selalu salah di mata Ayahnya itu.
Tak sadarkan oleh Anna yang membuat dirinya menangis di depan cermin besar Anna selalu membayangkan semua moment menyedihkan dalam hidupnya yang mambuatnya memutuskan untuk pergi dari rumah dan tak pernah kembali, mejalani kerasanya hidup di usia muda dan betekad untuk mencari ibunya yang akhirnya membawa dirinya bekerja di Dunia Entertaiment yang saat ini dia jalani.
semua memori pahit terangkum dalam ingatannya begitu miris kehidupan yang tidak semua orang tau.
Anna berjalan di lorong gedung mewah itu dengan riasan yang sudah dia rapikan setelah beberapa saat lalu hancur di buatnya. dia tidak mau dikasihani oleh orang lain terhadap apa yang mereka lihat , Anna ingin terlihat baik baik saja didepan banyak orang terkait dengan rasa kesepian, sakit hati, dan kekecewaan yang ada dalam dirinya yang dia pendam sorang diri.
"masih di kota ini"gumam nya menjawab pertanyaan orang yang sama.
"ayah mencarimu"
"heheh" terdapat tawa kepalsuan yang dapt di lihat dari Anna.
"dia perduli padaku?
"kamu anak perempuanya"
"hah? memangnya kau bisa menjamin itu?"
__ADS_1
" dia merindukanmu, dia terus menunggu mu pulang"
"bilang padanya aku tidak akan pulang" tegas Anna
"kau tidak merindukanya?"
"tidak!". Gianna membalikan badan dengan penuh keyakinan dia melangkah meninggalkan lelaki itu.
jika boleh jujur dalam hati Anna sangat merindukan Ayahnya terlebih dulu mereka memiliki hubungan yang sangat erat layaknya anak perempuan dan ayah namun semuanya sirna mengingat kekecewan ana terhadap pilihan ayahnya.
siring dengan langkahan kaki Anna yang perlahan menjauh sembari memutar semua kenangan kenangan Dia dan Ayahnya yang indah membuanya perlahan mengehentikan langkahnya dan mengangkat kepalanya meluruskan pandangan.
"kumohon jaga dia, aku menitipkan nya pada mu karna aku mempercayaimu." ucapan ana tanpa memutar tubuhnya.
"pasti". mendengar jawaban yang meyakinkan membuat anna kembali ngengayuh langkanya.
♡♡♡♡
"meskipun aku telah jauh darimu namun hatiku tetap bersamamu, sejauh manapun aku melangkah ayah masih selalu aku ingat, terlepas dari kepedihan yang pernah aku rasakan mungkin itu hanya keegoisanku dan rasa amarahku terhadapmu tapi ingat aku pun selalu merindukanmu ayah. jika saja waktu bisa diulang dan kau tak menikahinya dan meninggalkan kami, mungkin saat ini kita tidak sejauh ini. mungkin saat ini aku tetap merasakan hangatnya keluarga dan nyamanya rumah untuk aku pulang seperti yang pernah aku rasakan dulu. waktu membawa semuanya pergi. tak ku sangka seseorang dengan mudahnya berubah sama hal nya denganmu Ayah. aku fikir hangat pelukmu akan selalu ku rasa hingga aku besar."
kalimat itu yang muncul dalam benak Gianna seiring dengan kecepatan roda empat yang berputar menelusuri jalanan yang tampak sepi dan udara yang terasa dingin.
melihat pada monitor layar mobil ternyata sudah jam 01:34.
ini sudah hal biasa untuk Anna sering yang pulang pagi.
"Astaga aku melupakan ambar!" Nada Anna panik.
__ADS_1