Another Loved

Another Loved
36.Pangeran kodok


__ADS_3

.


.


.


.


Setelah beberapa menit Anna pergi dari rumah itu, masuklah mobil milik Jihan Tahalea yang mana dia adalah ibu tiri dari Anna.


Tidak menunggu lama Jihan masuk kerumah di sambut oleh pelayan yang ada disana.


"tolong bawakan belanjaanku di bagasi mobil"


"baik nyonya"


Jihan segera naik kelantai Atas menuju kamar utama.


"apa Gavin belum juga pulang?"


"belum nyonya"


sesampainya di dalam kamar dia meletakkan tasnya diatas meja, dan melepaskan heelsnya.


Dia menuju kamar mandi namun langkahnya berhenti setelah melihat laci lemari itu sedikit terbuka.


Jihan mengampiri benda itu dia kembali berfikir.


"kenapa aku harus lalai menutupnya inikan tempat yang sangat penting."


namun pada saat hendak membereskan obat itu Jihan kembali heran melihat bungkus yang terbuka.


lamunannya buyar setelah masuknya dua pelayan yang membawa barang belanjaannya kedalam.


"bii?"


"ya nyonyaa?"


Jihan kembali berfikir sebaiknya dia tidak perlu mencurigai seseorang masuk kedalam ruangan itu, dan diapun merasa mungkin dia yang lalai dan lupa.


"tidak jadi, segera pergi dari kamarku dan siapkan makan malam, sebelum gavin pulang"


"baik nyonyaa"


Pelayan itu menunduk hormat dan pergi berlalu.


♡♡♡♡


"Apa hanya ada ini?"


"untuk sampai sejauh ini baru ini yang saya temukan"


"baiklah, kita akan memasukannya kedalam laboratorium mungkin hasil nya akan keluar 2-3hari yang akan datang"


Anna terus menyimak pembicaraan dia dengan salah satu detektif itu.


"baiklah"


"selebihnya akan saya kabarkan lagi, jika memang benar ada sesuatu kejanggalan yang terjadi kita akan mengusut semuanya secara berlangsung."


"baiklah pak, terimakasi Atas bantuanya"


"dan mungkin saat setalah hasil ini keluar jika benar adanya saya minta anda untuk segera mencari pengacara sebagai pegangan Anda jika ingin mengusut hal ini kepengadilan"


"baik pak terimakasi untuk infonya."


"baiklah saya rasa cukup sampai disini pembicaraan kita mungkin di lain waktu kita akan bertemu kembali."


setelahnya dia pergi Anna tetap terdiam dan menyenderkan kepalanya diatas sofa itu dia kembali berharap dan berdoa.

__ADS_1


"semoga setelah ini aku menemukan titik terang" ucap hati kecilnya.


Anna mengambil gelas kopi yang berada di hadapnya dan meminumnya, matanya memandangi arah luar jendela yang melihatkan lampu jalan dan aktifitas di luar sana.


Saat tengah mengamati kehidupan, dia dikejutkan oleh panggilan yang berasal dari ponselnya.


saat Anna melihat ternyata itu panggilan berasal dari Erland.


tak menunggu lama Anna segera mengangkat panggilan itu.


"Hallo?"


"Dimana?"


"apanya yang dimana."


"kamu dimana?"


"Ada di cafe."


"pulanglah aku akan datang"


"untuk apa?"


"untuk bersenang senang"


"jangan macam macam Erland!" Ujar Anna tegas


"Hey apa yang kamu fikirkan? Bersenang senang itu banyak macamnya."


"ya aku tau, tapi nada bicaramu buat aku___"


"maluu?" Ucap Erland yang memotong pembicaraan.


"baiklah tidak perlu malu aku akan kesana segeralah pulang."


Anna segara bangkit dari duduknya


♡♡♡


Sampainya di Appartement Anna berjalan melewati lorong yang menuju Unitnya.


Anna terkejut saat melihat Erland sudah berdiri di depan pintu appartemenya.


Anna segera pergi mengumpat di balik dinding itu, dia ingin tahu seberapa lama Erland bisa bertahan menunggunya.


Dia terus melihat dan memantau Erland dari kejauhan sembari tertawa ringan.


"Ternyata Erland sangat tampan bila dilihat secara terus menerus, Astaga bahkan dia terlihat sempurna dengan jas itu." ucap halusinasinya


Anna masih terus memandangi Erland dari kejauhan.


Tidak terasa 15 menit berlalu, Anna sudah mulai bosan berada disana. Apa lagi dia harus mengumpat di balik tembok.


"kenapa sepi banget" ujarnya dalam hati


Anna kembali menyerongkan tubuh mungilnya guna melihat Erland.


"Hahah dia sudah mulai bosan rupanya." guma Anna lirih


"baiklah kita tunggu saja, apa dia masih nyaman berada disana."


Waktu terus berjalan Erland yang masih berdiri disana mulai merasa jenuh dia menghubungin Anna namun tidak ada jawaban, membuat rasa jenuh itu berganti rasa khawatir.


Erland melihat jam yang ada di pergelangan tanganya waktu menunjukan Setengah sepuluh malam.


"Kamana wanita itu?" ujarnya


Tak tahan lagi Erland menjalankan kakinya untuk pergi dari sana.

__ADS_1


Sedangkan Anna yang melihat Erland bergerak dia segera memperbaiki posisi badannya meluruskan dengan Tembok.


Saat Anna melihat Erland berlalu ditepat disampingnya dia menahan Nafas berharap Erland tidak melihatnya.


Erland berlalu dia sudah mulai jauh dari jarak Anna.


Anna segera mengejar diam diam dan "Bruuuuuuuuuuuuukkk"


Sontak mereka berdua terjatuh secara bersamaan, dengan posisi Erland terngkurap di lantai sana sedangkan Anna yang berada dalam gendongan Erland ikut terjatuh.


Tanpa rasa bersalah dengan posisi yang masih berada di bawah Anna melihatkan wajahnya kearah Erland.


"Hallo pangeran kodok."


Erland melihat kearah Anna dia menyadari itu.


"Sial kenapa harus begini caranya"


"kau bilang akan bersenang senang, bukankah ini menyenangkan?" Ujar Anna lirih.


Erland yang mendengarnya tersenyum masam.


"dasar Wanit konyol bangkit dari tubuhku"


Anna melakukannya kini dia duduk dilantai itu. sedangkan Erland bangkit dan memperbaiki posisi nya.


Anna melihat Erland yang menjulang tinggi dihadapnya.


Sampai mereka melihat dua karyawan wanita yang sudah berdiri di samping mereka dengan arah berjauhan.


Karyawan itu menyadari bahwa laki laki yang dihadapanya adalah atasan disini.


"Oh maaf tuan Hernandez kami tidak tahu" ujar salah satu wanita itu


keduanya segera berlalu pergi.


Anna berteriak "Ini tidak seperti apa yang kalian fikirkan Heyyy dua manusia dengarkan ucapanku" ujarnya lantang.


"dua manusia?" ujar Erland bingung


"Ya mereka manusia bukan?"


"lalu kau?"


"ya aku makhluk yang masih bernafas" Ujar Anna lirih sembari berusaha bangkit berdiri.


Erland yang melihatnya hanya terdiam pasalnya dia engan membantu mengingat tingkah konyol Anna.


"Baiklah kembali ke appartement" Ujar Anna


Keduanya berjalan bersamaan dengan tangan yang saling mengenggam.


"Erland apa kau marah?"


"sedikit karna kau menyebutku pangeran kodok"


"karna aku melihatmu seperti pangeran kodok"


"apa?!!!"


.


.


.


.


♡♡♡♡

__ADS_1


__ADS_2