
Pagi hari Ilham tersadar dari tidurnya, Ia menatap sekeliling berusaha mengumpulkan semua kesadarannya.
Matanya menangkap sosok cantik yang masih tidur disampingnya, Ilham tersenyum dan mengeratkan pelukannya dan kembali memejamkan matanya.
Merasakan sesuatu benan berat diatas perutnya ternya sebuah tangan, Medinah perlahan membuka matanya.
Menyingkirkan tangan tersebut, wajah Medinah bersemu merah saat menyadari bahwa dirinya saat ini dalam keadaan polos dan berada di bawah selimut.
Medinah memandang wajah Ilham, perlahan meraba pria yang kemarin telah menjadi suaminya.
" Apa kau sudah cukup puas dengan memandang dan merabanya. "
Seketika Medinah membeku, matanya membulat. Ilham membuka matanya dan tersenyum, melabuhkan sebuah kecupan didahi dan bibir tipis Medinah.
" Morning Kiss " Ucap Ilham tersenyum.
Pipi Medinah merona, Ilham tersenyum melihat istrinya yang tersipu.
Ilham kembali mengeratkan pelukan, dan melabuhkan kecupan di leher putuh Medinah.
Sebuah tanda kepemilikan tercetak jelas disana.
Ilham mulai melancarkan aksinya.
" Ayo kita lanjutkan yang kemarin "
Medinah hanya bisa pasrah dan mengembangI permainan Ilham, dan terjadilah pertempuran dipagi hari dikamar itu.
Tubuh mereka terkulai lemas, setelah sama sama mencapai puncaknya.
Medinah perlahan bergeser, meraih jubah tidur yang berserakan dilantai. Dengan hati hati Medinah menyingkirkan tangan kokoh Ilham yang masih memeluknya posesif.
Medinah segera beranjak ke kamar mandi, untuk membersihkan diri.
Ilham meraba kasur di sebelahnya, Ilham membuka mata dan mengitari sekelilingnya mencari sesuatu.
Setelah telinganya mendengar suara percikan air dari arah kamar mandi, barualh Ilham tenang.
Ia segera menyambar boxer nya yang terogok kelantai, mata Ilham menangkap sesuatu di tempat tidur.
Noda darah, Ilham tersenyum bangga.
" Terimakasih Me, kamu telah menjaganya untuk ku. " Ilham bergumam sendiri.
Ditempat berbeda Kendra membawa keluarga kecilnya sarapan, semua menunduk hormat. Dengan wajah dingin dan angkuh, tanpa menghiraukan sekelilingnya Kendra melangkah menuju restaurant.
Hummairah berjalan mengikuti langkah kaki suaminya, sesekali Hummairah tersenyum pada karyawan suaminya. Hummairah menggendong Kirana, sedangkan Kendra memimpin tangan Kiano.
Tiba di restaurant, mereka duduk disebuah meja dan mulai memesan makanan.
Saat mereka sedang asyik menyantap sarapan, Kiano berseru.
" Uncle, aunty " Ucap Kiano
Kendra dan Hummairah menoleh ke arah pandangan Kiano.
Ilham melambaikan tangannya dan tersenyum.
" Hai tampan " Sapa Ilham mencubit hidung Kiano.
Medinah menagmbil Kirana dari pelukan Ibunya, kemudian mencium gemas bayi itu.
" Kalian juga mau sarapan ? " Tanya Kendra
" Selamat pagi Me " Sapa Hummairah
" Pagi " Jawab Medinah
Ilham menarik kursi untuk Medinah duduk, dan Ia pun duduk disamping nya.
" Tidur mu nyenyak tadi malam Me ? " Kendra bertanya tanpa melihat wajah Medinah.
Medinah menatap Ilham, Ilham hanya memberi isyarat dengan anggukan kepala.
" Kalian mau sarapan apa ? " Tanya Hummairah.
" Kamu mau apa sayang ? " Tanya Ilham pada Medinah.
Kendra menutup mulutnya menahan tawa, mata Hummairah melotot menatap Kendra.
" Kenapa ? " Tanya Kendra polos.
Hummairah hanya menggelengkan kepalanya.
" Jangan dengarkan dia " Ujar Ilham menunjuk Kendra.
Medinah segera memesan makanan untuk sarapan.
Pesanan mereka datang dan mereka pun mulai menyantap sarapan nya.
" Aunty, leher aunty kenapa ? " Tanya Kiano polos saat melihat bercal merah dileher Medinah.
__ADS_1
Mata Medinah membulat, semua menghentikan aktifitas makanya dan Medinah.
Hummairah segera mengalihkan pembicaraan.
"Sayang habiskan sarapan mu " Ucap Hummairah pada putranya.
" Tapi Ummi, Kian sedang bertanya pada aunty. Leher aunty kenapa, apa di gigit nyamuk ? "
" Iya sayang, leher aunty digigit nyamuk besar " Jawab Kendra menahan tawa.
" Kami sudah selesai sayang ? " Tanya Hummairah pada putranya.
" Sudah Ummi "
" Ya, sudah ayo kita ke atas. " Ajak Hummairah yang memimpin tangan Kiano.
Selepas kepergian Hummairah dan Kiano.
" Kau, telah mencemari mata polos putra ku " Ujar Kendra
" Apa, mana aku tahu kalau Kiano akan sedetil itu memperhatikan "
Wajah Medinah memerah seperti udang rebus.
" Kalian akan disini berapa lama ? " Tanya Kendra.
" Kenapa kau kebeatan ? " Jawab Ilham
" Bukan.... Aku ada rencana pindah dari mansion Kakek. "
Ilham dan Medinah terkejut.
" Apa maksudmu ? "
" Dengar Ham, aku sudah membangun rumah untuk aku dan keluarga kecilku. "
" Tapi mansion Kakek ? "
" Kau dan istri mu akan tinggal disana " Jawab kenal sambil tersenyum. "
" Tapi Ken.... "
" Aku sudah sepakat dengan Hummairah istri ku, setelah kalian menikah kami akan pindah ke rumah kami. "
" Apa Kakek tau rencana kalian ?"
" Belum, aku belum sempat bercerita. "
" Bagaimana kalau Kakek tidak setuju ?"
Ilham mengehela nafas, Ia tau kalau Kendra sudah membuat keputusan maka tidak ada satu pun yang bisa menahannya.
" Terserah lah " Ilham menyerah
*******
" Apa kita akan pulang hari ini Paman ? " Tanya Zian
" Ya, Zian. Kita akan membawa Jessica kembali kesana dan menjalani perawatan seperti sebelumnya. "
" Baiklah, aku akan bersiap "
Zian segera meninggalkan kamar Paman nya dan masuk ke kamarnya, untuk berberes.
Tak lama setelah nya mereka pun bergegas meninggalkan hotel.
" Paman, apa kita tidak menemui Medinah dulu ? " Ujar Zian.
Sam nampak terdiam dan menimbang.
" Tapi mereka sedang menginap di hotel sekarang, aku tak mau mengganggu mereka. "
" Tapi, setidaknya kita pamit Paman. "
Sam terdiam sejenak, kemudian.
" Baiklah, kita akan menemuinya sebentar. "
Zian tampak senang, Zian ingin membuat Ayah dan anak ini menjadi dekat.
Mereka telah sampai dihotel milik keluarga Malik, tepat nya milik Hummairah.
Mereka melangkah masuk dan segera menemui receptionis untuk memberitahu.
Receptionis itu segera menghubungi kamar Ilham.
Mereka menunggu di lobby.
Selang beberapa menit kemudian, pintu lift terbuka, Medinah dan Ilham nampak keluar dari lift dan segera menghampiri mereka.
" Papa, Kak Zian " Ucap Medinah.
__ADS_1
" Kalian mau kemana ? " Tanya Ilham heran
" Kami akan pulang Ham, " Jawab Zian
" Cepat sekali ? Apa ada masalah ? " Ilham kembali bertanya.
" Semua masalah telah selesai Ham. Kami pulang karena urusan disini sudah selesai. " Jawab Sam
Medinah terdiam menatap wajah Ayahnya.
Sam mendekatI Medinah.
" Papa, akan pulang sayang. Kamu jaga diri kamu dan keluarga baru kamu baik baik ya "
Medinah tidak bisa berkata apa apa, panggilan sayang dari sang Ayah sanggup membuatnya tak bisa berkata apa pun.
" Jangan khawatir Paman, aku akan menjaga Medinah. " Ilham merangkul bahu Medinah.
" Aku tahu Ham. Aku mau mulai sekarang kau memanggil ku Papa, seperti Medinah. " Ujar Sam
" Baiklah ,Papa " Ucap Ilham.
" Dan, baiklah kami akan berangkat. Pesawat kami akan terbang dua jam lagi. " Zian beranjak dari duduknya.
Medinah masih membisu, hingga saat Ayah akan melangkah keluar baru lah Ia sanggup membuka suara.
" Papa.... " Panggil Medinah
Sam dan Zian menghentikan langkahnya dan menoleh.
" Papa.... " Suara Medinah terisak " Papa, Papa... " Medinah pun berlaru memeluk Ayahnya, menumpahkan segala kerinduan yang ada di hatinya.
Ilham dan Zian tersenyum dan terharu melihat pemandangan mengharukan dihadapan mereka.
" Kenapa menangis sayang ? " Sam menyeka air mata putrinya.
Medinah masih terisak, dan kembali memeluk Ayahnya.
Sam hanya tersenyum bahagia.
" Apa kau tidak malu Dinah, kau sudah punya suami. Tapi kau menangis dalam pelukan Papa, nanti Ilham bisa cemburu " Goda Sam pada putrinya.
Ilham dan Zian berjalan mendekat.
" Jaga dia untuk ku Ham " Ucap Sam
"Aku janji Pa "
" Baiklah, kami berangkat dulu " Ucap Sam
" Papa, boleh Me mengantar ke bandara ? " Tanya Medinah
" Tentu, jika suami mu mengijinkan " Jawab Sam
Medinah menoleh ke arah Ilham dengan wajah memohon.
Ilham menganggukan kepalanya dan tersenyum.
Medinah segera memeluk suaminya,
" Terimakasih " Ucap Medinah
" Kau akan membayar nya nanti " Jawab Ilham berbisik ditelinga Medinah.
Seketika wajah Medinah merona.
Ilham mengantar mereka hingga masuk mobil.
" Kami pamit Ham, sampai jumpa lagi " Ucap Zian
" Baiklah, datanglah kemari jika kalian merindukannya. " Jawab Ilham
" Tentu saja, dan sebaliknya kau juga harus mengunjungi kami jika libur "
" Baiklah, aku janji "
Mobil telah dinyalakan, mata Ilham menatap Medinah.
Ilham mengedipkan matanya pada Medinah yang tertunduk malu.
Mobil pun meninggalkan hotel menuju bandara. Ilham kembali ke kamar nya.
" Sepertinya aku akan bekerja sekarang, " Ilham menggaruk kepala tidak gatal.
*Bersambung
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dibtiap eps nya
jangan lupa juga **VOTE, LIKE, DAN BOOM LIMA BINTANG untuk naik rating***
agar aku semangat nulis nya.
__ADS_1
Terimakasih
I LOVE U ALL