
Medinah menatap Ilham agar membantu nya untuk bicara pada Sam, Ilham tersenyum untuk meyakinkan Medinah.
" Pa, hari ini apa boleh aku menemui Mama Rebecca "
Samuel meletakan sendok dan garpu nya, kemudian menatap teduh mata putrinya.
" Kamu mau apa bertemu dengannya ? "
" Aku cuma ingin tau kabar nya Pa "
" Dia baik baik saja Dinah, kamu tidak perlu mengkhawatirkan nya. "
" Dinah tau Pa, tapi kan apa salah nya saat kami disini kami juga mengunjunginya. Dinah mau mengucapkan terimakasih sama Mama Rebecca Pa "
" Terimakasih untuk apa Dinah ? "
" Karena sudah merawat Dinah Pa "
Samuel terdiam, Ia sejenak berpikir apa yang di ucapkan Medinah ada benar nya. Karena sedari bayi Rebeca lah yang merawat Medinah, walau Rebecca tidak pernah mencurahkan semua kasih sayangnya, tapi Rebecca yang pertama merawat Medinah sebelum Samuel menyewa seorang pengasuh untuk Medinah.
" Papa tidak keberatan kan, kalau aku pergi menemui Mama Rebecca ? "
Samuel tampak berpikir sejenak, kemudian melirik ke arah Ilham.
" Dengan satu syarat " Ucap Samuel tiba tiba
" Syarat apa Pa ? "
" Ilham akan menemani kamu pergi kesana "
Medinah tersenyum dan menetap Ilham dengan penuh harap Ilham akan menjawab " Ya ".
Akhirnya Ilham menganggukan kepala, Medinah menghambur memaluk Papa nya.
" Terimakasih Pa, Dinah sayang sama Papa "
" Iya, Papa juga sayang kamu. Sudah Papa mesti ke kantor. "
Medinah melepaskan pelukannya.
Samuel pun segera berangkat ke kantornya.
" Kamu tidak mau peluk aku sayang " Tanya Ilham
" Untuk apa ? "
" Ucapan terimakasih "
" Terimakasih apa ? "
" Karena aku udah bantuin kamu ? "
" Bantuan? Yang mana ? Kapan ? "
" Barusan "
" Tadi kan aku bicara sendiri sama Papa, kamu nya hanya senyum senyum tanpa bicara " Kesal Medinah
" Tapi kan Papa nyuruh aku temani kamu menemui Mama Rebecca, kalau aku tidak pergi kamu juga tidak boleh pergi " Ilham tersenyum menjengkelkan.
" Baiklah, apa yang kamu inginkan ? "
" Kamu lupa harus panggil aku apa ? "
Medinah mendengus kesal.
" Bie, kamu mau apa ? "
" Benar seperti itu, mulai sekarang kamu panggil aku Bie "
"Bisa kita pergi sekarang Bie ? " Tanya Medinah yang bergelayut manja dilengan suaminya.
Ilham tertawa geli.
__ADS_1
" Baiklah dear kita berangkat sekarang "
Mereka pun berangkat menuju ke tempat Rebecca ditahan, sebuah penjara wanita.
******
Selesai makan malam, Kendra bercengkrama bersama anak dan mertuanya. Sedangkan Hummairah masih sibuk di dapur membereskan sisa perlengkapan makan malam.
Kirana yang awal nya anteng kini mulai rewel, Kendra mulai kewalahan.
" Sayang, kamu udah selesai ? "
" Sebentar mas sedikit lagi, nanggung juga " Jawab Hummairah dari dalam.
Kirana makin rewel, kini mulai menggosok mata nya dan menggesek gesekan mulutnya di dada Kendra seperti mencari sesuatu.
" Kamu haus ya nak ? " Tanya Kendra pada putrinya
" Sebentar ya sayang, kita tunggu Ummi. "
" Sayang, udah di tinggal aja dulu. Ni Kirana udah rewel banget ini, aku bingung jadinya. " Teriak Kendra dari ruang tengah.
Ayah hanya tersenyum melihat menantu kebingungan.
" Sini nak, biar Ayah yang gendong " Pinta Ayah.
" Jangan Yah, Ayah duduk aja. Biar Kendra yang lakuin " Tolak Kendra
" Tidak apa apa nak, sini Kirana nya " Pinta Ayah lagi
Kendra pun segera menyerahkan Kirana kepada mertuanya.
Ayah menimang Kirana sejenak dan melantunkan sholawat.
Perlahan Kirana yang tadinya menangis perlahan terdiam, mulai menguap dan memejamkan matanya.
Kirana pun tertidur dalam gendongan Kakek nya, Kendra tampak takjub.
" Kenapa, heran ya ? "
Kendra mengangguk.
" Anak kecil itu kalau udah waktunya tidur, memang sedikit rewel. Tinggal kita nya saja bagaimana menyikapi tangisnya, kalau kita tidak sabaran dia nya makin rewel. " Terang Ayah sembari tersenyum.
" Kita sebagai suami harus bisa mengerti dan membantu istri, dalam melakukan tugas rumah tangga. " Lanjut Ayah
" Apa Ayah juga membantu Ibu dalam segala hal ? "
" Tentu saja, Ayah selalu membantunya. Jika Ayah melihat Ia sedang menggendong Hummairah, maka Ayah akan kedapur melihat apa yang Ayah bisa kerjakan. Kalau Ibu mu mencuci baju Ayah yang menjemur, Ibu sibuk memasak di dapur Ayah akan menghibur Hummairah dengan mengajak nya bermain. "
Kendra terdiam dan kagum dengan penjelasan Ayah. Kini Ia mengerti bahwa tugas menjadi seorang istri itu ternyata sangat berat, Ia selalu mengeluh kelelahan kepada istrinya setiap pulang dari kantor.
Dengan sabar istrinya selalu menghiburnya, tapi Ia tak pernah tau dan bertanya tentang keluh kesah istrinya.
Hummairah telah selelsai dengan tugasnya di dapur, dan segera berjalan keluar untuk menghampiri keluarganya.
" Ayah, Kirana bobo' nya sama Ayah ? " Tanya Hummairah heran
" Iya, tadi dia rewel dan Ayah bantu aku nenangin dia. "
" Sini Yah Kirana nya, Ara pindahin ke kamar. Ayah juga istirahat ya, udah malam. "
Hummairah pun membawa Kirana yang pulas, Kendra menggendong Kiano yang juga telah tertidur.
Sampai dikamar Hummairah meletakan Kirana di tempat tidur, sedangkan Kiano di kasur terpisah.
" Sayang " Panggil Kendra
Hummairah segera berjalan mendekat.
" Ada apa mas ? "
" Maafin aku ya "
__ADS_1
" Maaf, untuk apa mas ?"
" Maaf untuk sikap aku selama ini "
" Memangnya kamu kenapa mas ? " Hummairah masih bingung.
" Hari ini setelah mendengar penjelasan dari Ayah, aku mengerti bahwa kamu juga lelahmengurus rumah dan anak anak kan. Selama ini aku gak ngertiin kamu, selama ini aku selalu mengeluh ke kamu tentang keadaan aku, tanpa memikirkan perasaan kamu. "
Hummairah duduk di depan Kendra dan menangkup wajah suaminya kemudian menatapnya lekat.
" Mas, selama ini aku tak pernah merasa terbebani dengan semua tugas yang aku kerjakan. Aku melayani mu karena itu memang kewajiban ku, aku memasak dan dan mencucikan pakain mu itu karena aku ingin berbakti pada mu. Aku ingin meraih surga dengan berbakti pada mu, suami ku "
Hummairah mengecup lembut pipi Kendra.
Kendra meraih tangan istrinya dan menggenggt jemarinya kemudian menciumnya.
" Terimakasih, terimakasih sudah mau mendampingiku. Menemaniku disaat tersulit, melahirkan dan merawat anak anak ku. Aku mau keluarga kita menjadi keluarga yang bahagia selamanya. "
" Aamiin... Semoga keluarga kita menjadi keluarga yang Sakinah Mawaddah dan Warahma, hingga bisa berkumpul di surga nanti "
Kendra mengecup kening istrinya.
" Kita tidur yuk, kamu pasti lelah " Ucap Kendra menuntun istrinya naik keatas tempat tidur.
" Tidurlah " Ucap Kendra menarik selimut menutupi tubuhnya dan istrinya kemudian memeluk nya.
Mereka pun mulai memejamkan mata.
Keesokan harinya, Hummairah sudah berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan untuk keluarganya.
Kendra keluar dari kamar dalam keadaan rapi dan menggendong Kirana. Sedangkan Kiano masih tertidur pulas.
Hummairah tersenyum melihat senyum suami dan anaknya.
" Sebentar ya " Ucap Hummairah
Kendra segera membawa putrinya berjalan keluar, dan duduk di teras rumahnya, bersama Ayahnya.
Tak lama kemudian Hummairah keluar membawa nampan berisi kue dan minuman hangat.
" Kita sarapan disini saja ya " Ucap Hummairah
Saat selesai sarapan Hummairah pun mulai mencoba berbicara pada Kendra pasak Intan.
" Mas, kalau aku ngomong sesuatu kamu mau dengar gak ? "
" Kamu mau ngomong apa, selama ini aku dengerin kamu kok. " Jawab Kendra.
" Kemarin Bi Ratna datang menemui ku, dan memberitahu tentang kondisi Intan saat ini "
Kendra hanya diam menatap ke depan.
" Memang apa yang terjadi pada Intan Ra " Tanya Ayah
Hummairah pun bercerita apa yang Ratna ceritakan padanya, hingga perihal Ratna meminta Kendra menemui Intan.
" Apa ! Jadi kamu mau aku menemui Intan ? "
Tanya Kendra kesal
" Iya, mas kita bisa bantu dia dalam masa penyembuhan "
" Tidak, aku tidak mau "
" Tapi kan mas, sebenarnya.... " Kalimar Hummairah terpotong.
" Tidak, aku tidak akan menemui nya. Biarkan Ia mendapat ganjaran nya, Ia bersalah maka Ia harus mendapatkan ganjaran nya. Kenapa kita yang susah. "
" Tapi kan.. "
" Cukup... aku tak mau membahas ini lagi, aku tetap pada pendirian ku, aku tak mau menemuinya. "
Kendra berlalu masuk ke kamar
__ADS_1