CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA

CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA
117. Vote, boom like dan boom bintang rate untuk dukung author


__ADS_3

Hummairah sedang membereskan meja makan, Kendra dan yang lainnya sedang berkumpul diruang keluarga .


Setelah selesai mencuci piring, Hummairah juga ikut bergabung bersama mereka. Hummairah membawakan mereka cemilan dan minuman, Kiano tampak sedang bercanda dengan kedua adiknya.


"Mi, katanya Kak Kiki udah punya pacar sekolah." ujar Kirana menyebut Kiano Kakak nya dengan sebutan Kiki.


"Oh ya, siapa namanya ? " tanya Hummairah.


"Nama heemmmmpp....." mulut Kirana dibekap oleh Kiano.


"Bohong Mi, gak kok Kiki gak ada yang begituan." elak Kiano.


"Kalau iya pun, udah wajar kok. Kan udah waktunya." celetuk Kendra.


"Memang memang boleh Dad? " tanya Kirana.


"Kirana gak boleh." jawab Hummairah cepat.


"Kenapa Mi, kan Daddy bilang boleh." tanya Kirana lagi.


"Jangan dengerin omongan Daddy, kalian gak bolah pacaran dosa." jelas Hummairah.


"Ummi sama Daddy dulu bagaimana bisa menikah, kan harus pacaran dulu baru menikah." jelas Kirana.


Kendra, Hummairah, dan Kiano terdiam dan dan saling berpandangan satu sama lain.


"Ummi yang ngejar-ngejar Daddy" jawab Kendra asal.


Plak...


Hummairah menampar lengan Kendra.


"Aww.... sakit sayang, jahat banget sama suaminya." ucap Kendra mengelus lengannya.


Hummairah menggelengkan kepalanya.


Ketiga Kakak adik itu menutup mulut menahan tawanya, melihat ulah Daddy nya.


"Sudah malam, ayo masuk ke kamar masing-masing." ucap Hummairah memberi perintah.


"Oke Ummi" jawab mereka kompak.


Mereka pun beranjak masuk kedalam kamar masing-masing, setelah pamit pada kedua orang tuanya dan sang Kakek.


"Ayo Yah, Arah antar ke kamar." ajak Hummairah pada Ayahnya.


Hummairah pun mengantarkan Ayahnya masuk kedalam kamar, setelah mengantar Ayahnya ke kamar Hummairah pun kembali ke kamarnya.


Tak lupa Hummairah membawakan suaminya teh jahe, seperti biasa Kendra akan memeriksa pekerjaan kantornya sejenak lalu pergi tidur.


Hummairah masuk ke kamarnya, melepas jilbabnya dan menaruhnya di dekat tempat tidur, berjalan menuju meja kerja Kendra, kemudian meletakan cangkir berisi teh.


"Terimakasih sayang." ucap Kendra tersenyum.


Hummairah segera berjalan menjauh dari meja kerja Kendra, tapu tangan nya ditahan Kendra.


"Ada apa mas." tanya Hummairah lembut.


"Sini, duduk disini." ucap Kendra menunjuk pangkuannya.


Hummairah segera berjalan kembali mendekati suaminya, dan duduk di pangkuan Kendra.


"Udah lama ya kita gak pernah sedekat ini." ujar Kendra memeluk tubuh istrinya dari belakang dan mengecup pundak.


"Memang selama ini kita gak dekat ya mas?" tanya Hummairah tidak mengerti.


"Bukan begitu sayang." Kendra memutar tubuh istrinya menjadi menghadap ke arahnya.


"Jadi, maksudnya bagaimana." tanya Hummairah lagi.


"Udah ah, aku mau kayak gini dulu." pinta Kendra yang membenamkan wajah istrinya di dada bidangnya.


Hummairah tersenyum, ada rasa nyaman dihati Hummairah saat berada dalam pelukan suaminya.


Tanpa Kendra sadari Hummairah telah terlelap.


"Sayang kau tidur ya?" tanya Kendra


Tidak terdengar jawaban dari Hummairah, yang terdengar hanya dengkuran halus.


Kendra tersenyum dan sejenak mengeratkan pelukannya, tapi kemudian ia perlahan bergerak dan menganngkat tubuh Hummairah membawanya ke kasur.


Kendra meletakan Hummairah yang tertidur diatas tempat tidur dengan perlahan, seakan tubuh sang istri adalah kaca, yang setiap saat bisa pecah.


Kendra kemudian menyelimuti istrinya dan memberikan kecupan di keningnya.


"Selamat malam sayang, terimakasih untuk hari ini dan terimakasih telah menemaniku selama ini." Kendra mengecup kening Hummairah dengan lembut, tak lama kemudian ia pun ikut berbaring disisi perempuan yang ia cintai.


Medinah tampak sibuk mengurus perlengkapan suaminya, Ilham akan berangkat ke Swedia besok, untuk mengurus anak perusahan Nanny.


Telah terjadi mogok kerja yang dilakukan karyawan disana, mereka menuntut pimpinan mereka turun dari jabatannya.


"Sudah Ma?" tanya Ilham pada istrinya, sejak memiliki anak Ilham dab Medinah memutuskan untuk merubah panggilan mereka menjadi sebutan Mama dan Papa.


"Sudah. " jawab Medinah singkat.


Ilham tahu Medinah masih marah padanya, sebab Ilham pergi secara mendadak.


Semenjak mereka menikah, baru pertama kali inilah mereka berpisah.


Selama ini Ilham tidak pernah jauh dari Medinah, dan sekarang Ilham akan pergi sendirian untuk waktu yang masih belum ditentukan.


Ilham mendekati istrinya kemudian memeluknya dari belakang.


"Masih marah?" tanya Ilham


Medinah masih diam.


"Jangan marah ya, aku janji setelah selesai aku akan segera pulang." ujar Ilham.


"Janji ya."


"Iya, aku janji. Sekarang senyum dong, seharian ini kamu gak kasi aku senyuman." Ilham merayu Medinah.


Medinah pun tersenyum sekenanya.


Ilham segera menarik tubuh Medinah masuk kedalam pelukannya.


"Udah malam, kita tidur yuk!" ajak Ilham.


Medinah pun menganggukan kepalanya.


Mereka pun bersama-sama menuju tempat tidur, dan mulai merebahkan diri.


Ilham bergeser mendekat pada Medinah, dan membawa Medinah dalam dekapan nya.


Keesokan hari nya, Kendra telah berada di kantornya.

__ADS_1


Kendra tampak membolak balik map yang berisi laporan keuangan perusahaan selama sebulan ini.


Ia juga tampak membandingkan kertas satu dan yang lainnya, terdapat banyak kesalahan didalam nya.


Kendra kemudian memanggil Ifan.


"Fan, ke ruanganku sekarang." perintah Kendra.


Tok... Tok.... Tok...


"Masuk Fan. " ucap Kendra.


"Tuan memanggil saya?" tanya Ifan.


"Fan, coba kamu selidiki ini." Kendra memberikan map yang berisikan berkas kepada Ifan.


Ifan menganggukan kepalanya, melangkah keluar ruangan.


"Fan, jangan sampai ada yang curiga apalagi tahu masalah ini." ucap Kendra tegas.


Ifan pun segera meninggalkan ruangan itu dan segera menjalankan perintah dari atasannya.


Ditempat berbeda, setelah mengantarkan Ilham kebandara, Medinah segera menjemput Hummairah dan Ayahnya.


Mereka mampir ke supermarket untuk membeli bahan-bahan makanan, seperti biasa jika berkumpul mereka selalu memasak sesuatu untuk masing-masing buah hati mereka.


Setelah merasa cukup, mereka pun pulang ke mansion untuk mulai meracik bahan yang mereka beli di supermarket.


Ayah, Kakek, dan Nanny berada di taman belakang masion. Mereka membicarakan masalah perjalanan Ibadah Haji mereka, yang akan mereka laksanakan tahun ini.


"Saya merasa beruntung sekali Pak Firman, kita bisa pergi secara bersama tahun ini." ucap Kakek.


"Iya Pak Firman, saya juga begitu. Saya rasa setelah ini kita tidak perlu kemana-mana lagi, kita akan beristirahat panjang selamanya." lanjut Nanny.


"Saya merasa ini menjadi perjalanan kita terakhir, sebab diusia kita yang sudah sepuh ini, pergi kemana-mana hanya akan membuat anak cucu kita kerepotan." lanjut Ayah.


Ketiga manula itu kembali menunduk dan terdiam, mereka masuk dalam pikiran mereka masing-masing.


Ada rasa berat dihati mereka untuk meninggalkan keluarga, sebab selama ini jika mereka akan berpergian mereka selalu pergi bersama.


Entah mengapa mereka merasa perjalanan mereka kali ini terasa begitu berat.


Disaat ketiga senior itu tenggelam dalam pikirannya, terdengar suara ribut yang datang dari arah pintu depan.


Ketiganya saling berpandangan dan tersenyum.


"Saya merasa kita sepakat bahwa ini yang membuat kita berat untuk pergi jauh." ucap Tuan Malik.


Mereka pun tertawa.


Kirana, Kanaya, dan si kembar telah pulang dari sekolah.


Setelah mengganti seragam sekolah dengan pakain santai, mereka pun segera menyerbu dapur.


"Ummiii....." teriak si kembar memeluk Hummairah.


Hummairah tersenyum dan membalas pelukan mereka.


"Sayangnya Ummi udah pulang, gimana belajarnya tadi di sekolah?" tanya Hummairah pada si kembar Alif dan Alfian.


"Kami masih mulai ulangan Ummi, dan semuanya lancar. Otak Fian kan pintar Ummi." jawab Alfian membanggakan dirinya.


Medinah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar penuturun putranya.


Sikembar memang sangat dekat dengan Hummairah dan Kendra, dan sebaliknya Kiano dekat dengan Ilham, dan Kirana dan Kanaya dekat dengan Medinah.


"Dimana Kirana dan Kanaya." tanya Medinah mencari kedua tuan putrinya.


"Ummi Kakek Firman dimana ? Opa dan Oma juga gak ada?" tanya Alfian.


"Mereka ada ditaman belakang, lagi ngobrol." jawab Hummairah.


Si kembar pun segera berlari keluar dari dapur kemudian berlari menuju taman belakang rumah.


"Kakek...." teriak Alif yang langsung mencium tangan Ayah Hummairah, kemudian berjalan menghampiri Nanny dan Kakek Malik.


"Sudah pulang sayang." tanya Nanny.


"Sudah Oma, Oma ngapain disini?" tanya Alfian yang langsung duduk dipangkuan Nanny.


Sedangkan Alif duduk disamping Kakek Firman.


"Kak Kiano kalian belum pulang sayang?" tanya Kakek Malik.


"Belum Opa, Kak Kiano pulang nya sore." jawab Alif.


Tak lama kemudian Kirana dan Kanaya pun ikut bergabung bersama mereka.


Mereka pun berbincang hangat, terkadang terdengar tawa cekikikan mereka.


Di sekolah, Kiano baru saja menyelesaikan ujiannya. Ia bergegas ingin pulang, ia begitu tidak sabar ingin bertemu dengan Opa dan Oma buyut nya.


"Kiano..." panggil seseorang yang membuat langkah kaki Kiano terhenti.


Ia pun menoleh kearah sumber suara. Ternyata Sarah teman satu angkatannya yang berbeda kelas.


"Ya." jawab Kiano dan membalik badannya.


"Mau pulang ya?" tanya gadis manis itu.


"Belum, aku masih mau ke perpus. Kenapa?" tanya Kiano kembali.


"Oh gak, aku sebenarnya mau ikut kamu pulang. Nebeng sampai cafe depan." jawab Kayla.


"Oh, tapi mobil kamu kemana.?" tanya Kiano


"Lagi di bengkel, bocor ban nya." jawab Sarah


"Tapi tadi kamu bilang mau ke perpus?"


"Gak lama, cuma balikin ini." Kiano menunjukan setumpuk buku ditangannya.


"Oh ya udah kalau gitu, ayo ikut." ujar Kayla.


Mereka pun berjalan ke arah perpustakaan, setelah selesai mereka pun langsung menuju halaman parkir.


Disana supir Kiano telah menunggu, sebenarnya bisa saja bawa mobil sendiri. Tapi Kiano tidak menginginkan nya.


"Kenapa kamu tidak bawa mobil sendiri Ki?" tanya Kayla.


"Kenapa, apa salah?"


"Tidak, tidak ada yang salah. Hanya saja kau bisa liatkan disekolah ini, hampir semua anak-anak disini sekolah bawa mobil sendiri."


"Itukan mereka, bukan aku, dan aku bukan mereka." jawab Kiano ketus.


Sebenarnya ada rasa malas dihati Kiano saat Sarah mengajaknya pulang bersama, entah mengapa ia tidak menyukai sifat Sarah.

__ADS_1


Selama didalam mobil Sarah terus saja bercerita tentang dirinya dan teman-temannya, kemuan tentang keluarganya yang kaya.


Kiano mulai jenuh berada satu mobil dengan Sarah.


Tapi mata Kiano menangkap satu sosok tang sedang mendorong motor matic nya.


Kayla gadis manis yang selalu menjadi incaran dan perhatian Kiano dari sejak pertama kali ia masuk ke sekolah.


Kayla adalah murid pindahan dari Surabaya, gadis pendiam itu sangat menarik perhatian Kiano.


Kiano pun menyuruh Pak Ari supirnya untuk menepi dan berhenti.


Kiano turun dari mobil dan menghampiri Kayla.


"Motor kamu kenapa?" tanya Kiano.


"Gak tau, tiba-tiba mati." jawab Kayla


"Boleh aku lihat?" tanya Kiano.


Kayla segera menenepikan motornya dan membiarkan Kiano memeriksanya.


Sarah masih berada didalam mobil, dan tidak mau turun. Ia tampak kesal sebab rencananya tidak berjalan mulus.


Sarah membuat taruhan yang isinya, jika dia berhasil membawa Kiano sampai di cafe depan sekolahnya, maka dia mendapatkan voucher gratis perawatan di salon kecantikan senilai dua juta.


Kiano masih berusaha memperbaiki motor milik Kayla. Akhirnya Sarah pun hilang kesabarannya, ia turun dari mobil dan menghampiri Kiano.


"Kiano kok lama sih?" tanya Sarah


"Ini belum Sar, sebentar ya." jawab Kiano santai


"Lu berdua mau pergi ya?" tanya Kayla.


"Iya, gue sama Kiano mau makan di cafe depan, gara-gara lu semuanya batal tau gak." jawab Sarah ketus.


"Lu apa-apaan si Sar, siapa yang janjian makan. Lu kan cuma mau nebeng sampai cafe depan." jelas Kiano.


Kayla tersenyum menutup mulutnya.


"Sudah gak apa-apa, biar nanti gue bisa mendorongnya sampai bengkel." ujar Kayla merasa kesal melihat ulah Sarah. Apa lagi tampang Kiano sudah cemong disana sini.


"Gak apa-apa Kay, tapi ini kayaknya gak bisa dibenerin disini, harus dibawa ke bengkel." Kiano menjelaskan.


"Ya udah gak pa-pa, biar gue dorong lagi sampai bengkel." ucap Kayla.


"Tidak, aku akan menyuruh supir ku untuk membawanya ke bengkel." ujar Kiano.


"Tapi Kiano kamu kan udah janji, mau pergi sama aku." rengek Sarah manja.


"Kapan aku janji pergi sama kamu Sar?" tanya Kiano heran.


Sekali lagi Kayla menahan senyumnya.


Kiano pun memanggil supirnya.


"Kay, kamu ikut aku pulang, motor kamu nanti dibawa ke bengkel sama supir." ucap Kiano.


"Tapi Kiano kita kan...." ujar Sarah.


"Kita apa Sar, kamu kan cuma nebeng sampai cafe depan kan. Jadi sampai disana aku akan langsung nganterin Kayla." jelas Kiano.


"Udah Ki, gak apa-apa biar gue pulang naik taxi aja." tolak Kayla.


"Kau bilang ikut ya ikut, ini udah sore jalan disini sepi, taxi dan angkutan umum jarang ada. Mau gak mau suka gak suka kami harus ikut sama aku pulang, masalah motor kamu biar supir aku yang urus. Ayo!" Kiano menarik tangan Kayla dan membawanya masuk kedalam mobil.


"Sar, lu duduk dibelakang. Nanti enak turunnya." ucap Kiano.


Sarah pun duduk dibelakang, sedangkan Kayla, Kiano menyuruhnya duduk didepan bersamanya.


Dasar Kayla, tukang rusuh.


Jadi gagal semua rencana gue hari ini.


Gerutu Sarah dalam hati.


Sampai di depan cafe, semua teman-teman Sarah menunggu di depan cafe.


Sarah turun dari mobil yang Kiano kendarai.


Semua mata teman-teman Sarah tertuju pada Sarah, dengan tersenyum senang.


Tapi tidak dengan Sarah, wajah Sarah tampak menahan kesal.


Setelah mobil Kiano menghilang dari tempat itu, teman-temannya menghampiri Sarah.


"Waaah, selamat ya Sar, lu berhasil bikin Kiano nganterin lu kemari" ucap salah satu temannya.


"Berhasil apaan, gagal tau gak." jawab Sarah.


"Lhoo, bukan nya tadi dia yang nganterin lu kemari?"


"Lu semua gak liat, di dalam mobil tadi selain gue dan Kiano ada siapa lagi?" ujar Sarah.


"Siapa?"


"Itu cewek jutek yang sok kecantikan, si Kayla." jawab Sarah.


"Apaaaa!!!!" tanya teman-teman Sarah serentak.


"Rumah kamu dimana Kay?" tanya Kiano.


"Tuh di kompleks depan." jawab Kayla singkat.


Akhirnya tiba dirumah Kayla.


Kiano memperhatikan rumah Kayla, yang sangat asri.


"Makasih ya udah nganterin sampai sini." ucap Kayla.


"Sama-sama, besok kamu ke sekolah pakai apa?" tanya Kiano.


"Palingan dianteri sama Papa." jawab Kayla.


"Oh ya udah, tapi kalau kamu butuh tumpangan kau telpon aku ya." ujar Kiano.


"Sorry, bukan gak mau tapi, aku gak diperbolehkan bawa ponsel ke sekolah." jawab Kayla.


"Kenapa?" tanya Kiano lagi


Kayla hanya menggelengkan kepalanya.


Kiano tampak mengerti.


"Baiklah, tapi kalau dirumah kamu pegang ponselkan?" tanya Kiano lagi.


"Sudah, aku masuk dulu ya. Makasih atas tumpangannya." kayla berlari masuk kedalam rumah dan menutup pintu.

__ADS_1


"Baiklah, cukup untuk hari ini." Kiano pun masuk kedalam mobil dan melajukan kendaraannya.


Bersambung...


__ADS_2