CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA

CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA
191.


__ADS_3

Sayang bantuin aku." pinta Kiano pada Zavira.


Zavira berjalan mendekati suaminya, dan segera membantu suaminya. Kiano melirik ke arah Zaki yang masih asyik dengan mainannya, Kiano pun menarik tubuh Zavira agar mendekat padanya.


"Mas, aku lagi masangin kamu dasi lho."


"Kamu udah selesai period?" tanya Kiano.


"Udah." jawab Zavira singkat.


"Aku lagi pengen sayang." bisik Kiano ditelinga Zavira.


"Nanti aja, kita lagi ditingguin sama yang lain di bawah."


"Aku akan main cepat kok."


"Gak ada, nanti aja."


"Ayolah sayang..." rengek Kiano, ia mulai memeluk dan mencium istrinya.


"Mas... ada Zaki tuh." tunjuk Zavira pada putranya yang sudah melotot pada Kiano.


"Apa liat-liat?" Kiano balik melotot pada putranya.


"Daddy.. menjauh dari Mommy." celetuk Zaki.


"Kenapa tidak boleh?"


"Itu Mommy nya Zaki, jangan peluk dan cium sembarangan."


"Kenapa, ini juga Mommy nya Daddy."


"Gak... itu juga Mommy nya Daddy."


Terjadilah pertengkaran antara Kiano dan putranya Zaki, Zavira hanya menggelengkan kepalanya dan berjalan keluar kamar.


"Dimana Kiano?" tanya Ummi Hummairah pada Zavira.


"Dikamar lagi bertengkar sama Zaki." tunjuk Zavira.


"Kenapa?"


"Biasa Mi, rebutan."


"Kiano... Kiano, kapan anak itu bisa berubah. Udah punya istri dan anak, tapi gayanya masih kayak anak kecil."


"Iya Mi, aku kadang pusing sendiri ngadepin mereka berdua."


"Biarin aja Za, ntar juga tenang sendiri."


"Iya Mi. Eh... Ummi mau kemana?"


"Mau ke kamarnya Kirana, mau lihat dia udah siap apa belom. Soalnya keluarga Fachri udah nunggu kita di hotel."


"Oh.. gitu, ya udah aku mau bilang sama Kiano deh." Zavira masuk kembali ke kamarnya.


Seteleh semuanya siap, mereka pun berangkat ke hotel dimana pesta pernikahan Kirana dan Fachri digelar.


.....


Lucas pulang ke hotel dengan penuh amarah, sudah berbagai cara ia lakukan untuk memisahkan Kirana dan Fachri, tapi selalu saja tidak berhasil. Saat Lucas tiba dikamarnya amarah Lucas kian memuncak, pasalnya keadaan kamarnya seperti kapal pecah. Sampah makanan berserakan dimana-mana, sedangkan Luna masih terlelap dalam tidurnya.


Kini Lucas benar-benar tidak bisa menahannya lagi, Lucas masuk ke kamar mandi dan membawa segayung air kemudian menyiramkannya kewajah Luna.


Luna terkesiap bangun dari tidurnya.


"Lucas... kamu apa-apaan sih?" teriak Luna.


"Kamu itu memang perempuan yang tidak tau terima kasih, sudah aku bantuin kamu dengan menampung kamu dan anak kamu. Kamu disini malah enak-enak tidur, tapi apa kamu tau jika saat ini Kirana dan Fachri sedang mengadakan pesta besar-besaran."


"Apa maksud kamu Lucas, jangan bilang kalau...."


"Ya... hari ini pesta pernikahan Fachri dan Kirana."


"Jadi kamu gagal misahin mereka Lucas?"


"Apa kamu bilang, aku gagal? Kamu yang tidak becus dalam menyusun rencana, semua rencana kamu hancur berantakan."


"Kok, kamu nyalahin aku. Kamu juga gak berhasilkan mendekati Kirana, jangankan untuk mendapatkannya, mendekatinya saja kamu tidak bisa."


"Aku menyesal bekerja sama dengan mu, lebih baik aku bekerja sendiri. Sekarang aku mau kamu bereskan semua barang-barang kamu dan anak kamu untuk pergi dari sini." ucap Lucas lantang.


"Apa Lucas? kamu usir aku?"


"Iya.. apa kamu masih kurang jelas. Aku udah muak liat tampang kalian berdua, kalian hanya bisa jadi benalu dalam hidupku."


"Kamu gak bisa giniin aku Lucas, kamu tau kan apa aja yang udah aku berikan ke kamu."


"Aku tidak pernah memintanya, lagi pula kamu yang memberikannya padaku secara percuma. Kamu yang datang padaku dan menyerahkan dirimu padaku dengan suka rela, aku sebagai lelaki normal tidak akan pernah menolak jika disuguhkan daging segar."


"Kamu memang berengsek Lucas, wajar saja Kirana menolak kamu. Kamu tidak ubahnya seorang ********."


Plaak...


Sebuah tamparan melayang dipipi Luna.


"Aku memang berengsek dan ********, tapi si ******** inilah yang sudah membawamu kesini. Sekarang bereskam semua barang-barang milik mu dan pergi dari sini."


Lucas keluar dari kamarnya dan meninggalkan Luna.


"Kau akan menyesal Lucas."


.....


Pesta berjalan dengan lancar dan meriah, semua tamu yang hadir tampak dibuat takjub dengan pasangan pengantinnya. Diantara tamu yang hadir, tampak Kayla yang hadir menemani Juna. Juna adalah rekan bisnis Fachri, Juna dan Kayla berjalan mendekati Kirana dan Fachri untuk mengucapkan selamat.

__ADS_1


"Selamat ya Kirana dan Fachri." ucap Kayla.


"Makasih ya Kay." jawab Kirana dan Fachri bersamaan.


"Selamat ya Fachri." ucap Juna.


"Terima kasih, saya harap anda akan menyusul kami setelah ini." ujar Fachri.


"Mungkin beberapa bulan kedepan, iya kan beib?"


"Jadi kalian?" tanya Kirana.


"Doain aja." ujar Kayla.


"Selamat ya Kay, aku senang dengernya." Kirana memeluk Kayla.


Hummairah dan yang lainnya juga menghampiri Kirana yang memeluk Kayla.


"Ada apa sayang? kok kamu bahagia sekali."


"Ini Mi, Kayla akan menikah dalam beberapa bulan kedepan."


"Oh ya... selamat ya Kay, Ummi senang sekali."


Kiano dan Zavira juga mengucapkan selamat untuk Kayla dan Juna.


"Sayang... kita nginap dihotel juga ya." bisik Kiano.


"Ngapain?"


"Kita jangan mau kalah sama Kirana dan Fachri."


"Maksudnya?"


"Kirana dan Fachri kan selesai acara akan nginap dihotel, kita juga."


"Maksud aku... kita ngapain nginap dihotel, kita kan bisa pulang ke rumah."


"Kita bikin adek buat Zaki."


"Kalau mau bikin adek buat Zaki ngapain mesti ke hotel, dirumah juga bisa."


"Jadi kamu setuju kita bikinin Zaki adek nih?"


"Iya, boleh deh."


"Aku sayang kamu."


"aku juga."


"Aku cinta kamu."


"Aku juga."


"Aku tau." jawab Zavira tersenyum.


Kiano memeluk istrinya dengan erat, tapi tiba-tiba.


"Aaahh..." teriak Kiano.


Membuat semua orang disekitarnya menoleh kearahnya.


"Kenapa sih Mas?" tanya Zavira keget.


"Ini si bocil gigitin paha aku sayang."


"Daddy ngapain peluk Mommy." celetuk Zaki.


"Ini kan Mommynya Daddy." gerutu Kiano.


"No!! itu Mommynya Zaki, Daddy cari Mommy lagi aja sana."


Kiano menatap Zavira yang melotot kearahnya.


"Daddy gak mau, Daddy maunya Mommy yang ini aja."


"Opaaa, Daddy nakalin Zaki nih." adu Zaki pada Opa Kendra.


"Maaf ya jangan heran, merek memang gak pernah akur." ucap si bungsu Kanyah pada Kayla dan Juna.


Tanpa mereka sadari sepasang suami istri memperhatikan keharmonisan keluarga mereka.


"Ma, Pa kita pulang sekarang?" ucap seorang pemuda yang kisaran umurnya tiga puluh tahunan.


Pasangan suami istri pun menganggukan kepalanya, mereka pun berpamitan setelah mengucapkan selamat pada Kirana dan Fachri.


....


Kiano dan rombongan pulang kerumah, ia dan istrinya tidak jadi menginap dihotel karena Zaki tidak mau ikut Oma dan Opa nya pulang kerumah.


Kiano masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, Zavira menidurkan Zaki di kamarnya Setelah Zaki tertidur, Zavira kembali ke kamarnya. Ia melepas jilbabnya, menarik handuk kemudian masuk ke kamar mandi.


Zavira keluar dari kamar mandi dan mendapati Kiano sedang berdiri di balkon kamarnya.


"Mas... ngapain disitu?" tanya Zavira dan segera membuyarkan lamunan Kiano.


"Kamu udah selesai mandi sayang?" Kiano berjalan mendekati istrinya.


"Iya udah, kamu ngapain disitu tadi?"


"Gak apa-apa, aku cuma lagi bayangin. Kira-kira Kirana sama Fachri lagi ngapain ya?"


"Astaggirullah... kamu mikirin itu? aku kira kamu lagi lamunin apa gitu, kok serius banget." Zavira menggelengkan kepalanya.


"Hehehehe.... aku bayangin lho, kan Kirana kayak kamu gak pernah deket sama cowok mana pun, kalau Kirana paling dekat sama Daddy, Opa, Opa uyut dan aku sendiri. Pasti Kirana panas dingin." Kiano kembali terkekeh.

__ADS_1


"Itu urusan mereka, kok jadi kamu yang mikirin sih." Zavira kembali menggelengkan kepalanya.


Zavira kadang heran dengan ulah sang suami, yang boleh dikatakan terkadang seperti anak kecil, dan manja.


Kiano berjalan mendekati istrinya kemudian memeluknya.


"Kita kayak Kirana sama Fachri yuk."


"Maksudnya?"


"Ya... kayak kesepakatan kita di hotel tadi."


"Besok aja deh, udah malam juga."


"Gak mau... pokoknya sekarang, aku pengennya sekarang sayang." Kiano mulai melancarkan aksinya, mulai dari mencium leher Zavira, hingga membuat Zavira tidak bisa menolak. Zavira pun tunduk dan mengikuti permainan Kiano.


Dikamar lain, terdengar desahan pelepasan yang baru saja mengakhiri permainan.


"Kamu sangat sexy sayang." ucap Kendra sembari mengecup kening istrinya.


"Kamu juga masih hebat Mas, masih kuat seperti dulu." bisik Hummairah manja.


"Tapi aku masih pengen lagi lho." goda Kendra.


"Kamu gila Mas, ini kita udah dua kali lho." keluh Hummairah kelelahan.


"Aku masih bisa tahan hingga beberapa kali lagi." bisik Kendra sensual di telinga istrinya.


"Besok lagi ya, aku capek." pinta Hummairah.


"Aku mau sekarang, kamu diam aja biar aku yang bekerja." Kendra pun kembali menyerang Humamirah hingga tidak berdaya lagi, kemudian ia pun tertidur disamping istrinya.


......


Luna kini tinggal dijalanan, setelah ia diusir oleh Lucas. Kini Luna tidak tahu lagi harus kemana, uang simpanannya telah habis ia gunakan untuk makan dan menyewa hotel dua hari yang lalu. Kini ia juga harus meninggalkan hotel karena tidak mampu lagi membayar sewanya.


"Mommy.. kita mau kemana?" tanya Andrew.


"Mommy gak tau Andrew."


"Mommy Andrew lapar."


"Tunggulah Andrew, nanti kita cari makan."


"Tapi kita mau kemana Mom, dari tadi kita hanya berjalan tapi gak nyampai-nyampai."


"Berhenti mengeluh Andrew, Mommy juga lelah dan lapar."


"Kita pulang ke rumah Oma aja yuk Mom."


"Mereka sudah tidak mau menerima kita Andrew."


Kirana dan Fachri sedang keluar untuk makan siang, Fachri sengaja membawa Kirana ke kantornya, sebab ia belum bisa jauh dari istrinya.


Saat mereka berjalan menuju mobil, mata Kirana melihat Luna yang berjalan sambil memimpin Andrew.


"Kak, itu bukannya Luna sama Andrew ya?" tunjuk Kirana.


"Mana dear?"


"Itu Kak, yang lagi jalan sambil narik koper."


Fachri pun menatap lurua kedepan, hingga dapat menemukan sosok yang ditunjuk oleh istrinya.


"Ayo kita samperin Kak."


"Eh... jangan sayang, dear, beib, honey... aduh kok aku jadi ngaco begini ngomongnya." Fachri pun mengikuti langkah istrinya.


"Luna." panggil Kirana.


Luna menoleh, ia ingin menghindari Kirana tapi Andrew melepas tangan Luna dan berlari kearah Kirana kemudian memeluknya.


"Ummi Kirana." seru Andrew.


"Iya sayang, kamu mau kemana?"


"Gak tau Ummi, dari tadi Mommy cuma ngajak jalan dari tadi."


"Kamu mau kemana Luna?" tanya Kirana lembut.


Luna diam tidak menjawab.


"Ummi... Andrew lapar, dari kemarin malam Andrew belum makan apa pun."


Kirana mengelus kepala bocah berumur empat tahun itu. Luna memalingkan kepalanya ke arah berlawanan, ia tidka sanggup lagi menatap orang yang ada di hadapannya.


"Andrew lapar, Andrew mau ikut Ummi?" tanya Kirana.


"Kemana Ummi?"


"Kita makan."


Andrew menganggukan kepalanya. "Mom, ayo kita ikut Ummi dan Daddy ya."


"Ayo Luna, lebih baik kamu ikut kami dulu. Nanti baru kalian melanjutkan perjalanan."


"Sayang, kamu sadar apa yang kamu lakukan?"


"Kak, lupain yang udah-udah. Sekarang kita mulai yang baru, kamu gak kasian liat Andrew."


"Sayang, yang pasti aku udah peringatkan kamu."


"Ayo sayang kita makan ya.. ayo Luna." ajak Kirana memimpin tangan Luna.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2