
Jadi itu tadi yang namanya Gisel?" tanya Hummairah.
"Heem..." jawab Kendra sembari melepas atributnya.
"Cantik, dan sexy." gumam Hummairah.
Kendra berpaling ke arah istrinya, kemudian mendekat dan memeluk penggangnya dari belakang.
"Tapi kamu lebih cantik dan sexy dari wanita manapun, apa lagi jika kamu sedang di kamar bersamaku, tanpa menggunakan pakaian maka kamu akan terlihat cantik. Kamu juga akan lebih sexy saat kamu berada di bawahku, dan mendesah menyebut namaku.. aahh sayang, aku jadi ingin lagi."
"Gak ada..."
"Kenapa?"
"Aku capek."
"Kamu diem aja, biar aku yang bekerja."
Kendra mulai menggerayangi tubuh istrinya.
"Udah, aku mau ganti baju." Hummairah berlalu, tapi baru tiga langkah Kendra dengan sigap menariknya kembali kepelukannya.
"Gak ada wanita yang lebih cantik dan sexy selain kamu." ucap Kendra.
"Iya, aku tau. Sekarang lepas dulu, aku mau ambil baju tidur."
"Gak usah, kita langsung tidur aja." Kendra menggendong istrinya meneju pembaringan hangat mereka. Masuk ke alam mimpi dalam balutan selimut dengan saling berpelukan.
.....
Luna kembali kerumah keluarga Fachri, sebelumnya Luna begitu marah pada petugas tempat bermain setelah Andrew dibawah oleh Fachri dan Kirana.
Keadaan rumah telah gelap, Luna sengaja pulang tengah malam untuk menghindari pertanyaan dari keluarga Fachri. Perlahan Luna membuka pintu dan berjinjit melewati ruang utama, tapi saat ia melewati ruang keluarga, tiba-tiba lampu ruangan menyala. Keadaan yang semula gelap kini terang benderang. Luna terkejut dan segera menoleh kebelakang. Mata Luna membulat saat ia menoleh kebelakang, Fachri dan kedua orangtuanya telah duduk disofa.
"Selamat malam Om, Tante, Fachri. Kalian belum tidur?"
"Belum.... kami menunggu kamu, untuk berbicara." ucap Papa Fachri.
"Mau bicara ap Om?"
"Kemana kamu seharian ini?"
"Saya kerumah teman, ada urusan."
"Berapa penting urusanmu, hingga meninggalkan anak mu di penitipan seharian tanpa makan dan minum.".
Luna terdiam, ia menatap Fachri, sebaliknya Fachri tampak acuh dan tidak peduli.
"Aku kan pernah bilang padamu... jika kamu tidak menginginkannya, kembalikan pada kami dan kamu bisa bebas kemanapun kamu pergi, dan kami juga akan memberi mu sebagaian yang kami miliki untuk mu menyambung hidup."
"Tapi aku menyayangi putra ku Om."
"Sayang? Kamu bilang sayang, kalau kamu sayang kamu tidak akan menelantarkanny di penitipan." Papa Fachri berdiri dan diikutu oleh Fachri dan Mama nya.
"Mulai saat ini Andrew akan berada didalam pengawasanku, suka tidak suka, terima tidak terima itu sudah jadi keputusan ku. Kau bisa mengambilnya kembali jika terbukti Andrew bukan cucu ku, tapi sebaliknya jika Andrew terbukti memang benar cucu ku, kau silahkan angkat kaki dari rumah ini."
"Bukti apa lagi Om, bukannya tes DNA kemarin mengatakan bahwa Andrew memang cucu Om, anak dari Fachri dan aku."
"Aku masih kurang yakin, aku akan melakukan tes sekali lagi."
"Itu tidak akan merubah keadaan Om, hasil nya akan tetap sama." elak Luna.
"Akan tetap aku lakukan berapa kali pun, dan akan aku pastikan sendiri hasilnya." Papa Fachri pun meninggalkan ruang tengah di ikuti oleh istrinya dan masuk kedalam kamar
__ADS_1
nya.
"Fachri kamu percaya dengan hasil itu kan? Aku tidak mungkin membohongi mu."
"Aku percaya pada Papa ku." Fachri pun berlalu masuk ke kamarnya.
Luna mengepalkan tangannya menahan kesal dan amarahnya.
"Aku harus melakukan sesuatu, aku tidak mau kalau sampai mereka membongkar semua tipuanku." gumam Luna, ia pun segera naik ke kamarnya.
Keesokan harinya, seperti biasa seluruh keluarga berkumpul menikmati sarapan pagi. Termasuk Andrew, Mia mulai sayang pada anak itu dan berniat mengadopsinya jika memang nanti anak itu bukan cucunya. Mia merasa kasihan pada Andrew yang masih butuh perhatian dari orang tua.
Luna turun dari kamarnya dan ikut bergabung bersama mereka.
"Fachri udah selesai Ma, Pa." ucap Fachri kemudian mendorong kursi dan segera meninggalkan meja makan.
"Fachri.." panggil Mama nya.
"Iya Ma.."
"Jangan lupa bilang pada Kirana, untuk photo prewed hari kamis nanti, satu minggu sebelum akad undangan sudah harus disebar." lanjut Mia.
"Itu dia yang mau Fachri omongin sama Mama dan Papa." Fachri kembali duduk.
"Ada apa?" tanya Papa Fachri.
"Gini Pa, Ma... Kirana tidak mau melakukan prewed sebelum kami menikah." ucap Fachri.
"Lho.. kenapa?" tanya mereka serentak.
"Kirana maunya kami menikah dulu sebelum melakukan sesi photo prewed, sebab Kirana ya Mama dan Papa tau lah gimana Kirana, ia masih memegang teguh prinsipnya."
Mama dan Papa Fachri pun mengangguk mengerti, Kiran begitu spesial dimata mereka. Disaat semua gadis didunia ingin mengadakan resepsi dengan megah, ia hanya meminta secara sederhana, dan pinta nya sebagai mas pe kawin hanya sebuah cincin milik mertuanya, dan ia tidak meminta apa-apa lagi.
"Bagaimana dengan keluarganya, apa mereka setuju dengan usulan Kirana?" tanya Mama.
"Lakukan apa yang ia inginkan, Papa yakin apa pun yang Kirana inginkan lakukan." ucap Papa.
"Baik Pa." jawab Fachri tersenyum kemudian pamit dan berangkat ke kantor.
"Om, Tante kalian gak bisa seperti ini." ucap Luna buka suara.
Mia dan Reza saling berpandangan.
"Apa maksud kamu?" tanya Reza.
"Om, aku ini Mama nya Andrew, dan Andrew itu anaknya Fachri cucu kalian. Sekarang kalian akan menikahkan Fachri dengan wanita lian, apa yang akan Andrew pikirkan tentang kalian Oma dan Opa nya."
"Untuk itu kamu tidak usah khawatir, aku telah memberi penjelasan padanya tentang Kirana dan Fachri. Andrew telah tau semuanya, dan dia sangat senang mendengarnya dan juga Andrew sangat menyukai Kirana." jawab Reza.
"Tapi Om..."
"CUKUP!!!! Aku tidak mau mendengar ini lagi."
Tinggallah Luna sendiri diruang makan, Andrew dibawa oleh Mia ke kamarnya.
"Aku harus menemui Lucas, aku tidak akan biarkan mereka menikah dalam waktu dekat ini." gumam Luna.
....
"Assalammu'alaikum dear.." ucao Fachri melalui telepon.
"Waalaikumsalam Kak, ada apa?"
__ADS_1
"Mama dan Papa setuju jika kita menikah terlebih dahulu sebelum prewed."
"Alhamdulillah.. Mama dan Papa bisa ngerti."
"Jadi kapan rencananya?"
"Rencana apa?"
"Kita nikah?"
"Nanti Nana tanya sama Ummi dan Daddy, biar mereka yang menetukan waktunya."
"Jangan lama-lama ya dear.."
"Kenapa?"
"Undangan harus dicetak dan sebelumnya kita harus prewed dulu baru cetak undangan."
"Oh... iya, nanti Nana ngomong sama Daddy, Ummi deh."
"Aku juga udah gak sabar dear."
"Gak sabar kenapa?"
"Pengen peluk dan cium kamu."
"Hemmm... mau nya. Menikah itu niatnya
ibadah Kak, kalau kamu kayak gitu yang ada kita nikah karena kamu terlalu nafsu sama aku."
"Iya maaf dear... habisnya aku takut ada kejadian lain lagi nanti."
"Makanya kita niatkan dalam hati, kita menikah untuk ibadah."
"Iya dear, aku tau. Udah dulu ya... aku udah sampai kantor, nanti aku telpon lagi" ucap Fachri.
"Kamu lagi dijalan Kak?"
"Iya..."
"Kan udah dibilang kalau lagi nyetir jangan sambil main handphone." omel Kirana.
"Aku gak main hape, aku kan nelpon kamu." Fachri masuk ke kantornya dan naik lift khusus menuju ruangannya.
"Sekarang kamu dimana?"
"Udah sampai kantor, dan udah sampai didepan ruangan."
"Ya.. udah, aku tutup ya. Assalammu'alaikum."
"Walaalaikumsalam."
"Oke semua udah beres, tinggal nunggu jawaban Kirana kapan kami akan menikah. Aku jadi tidak sabar menunggunya." gumam Fachri.
....
Reza dan Mia membawa Andrew kerumah sakit untuk melakukan tes DNA kembali, mereka masih belum yakin dengan hasil kemarin, tapi untuk tahu hasilnya mereka harus menunggu selama seminggu. Reza menunjuk seorang dokter kenalannya, untuk mengawasi dan menjaga langsung hasil tes itu.
"Aku percayakan padamu masalah ini Martin." ucap Reza.
Martin adalah sepupu jauh dari Mia Mama Fachri. Ia seorang dokter dirumah sakit miliknya.
"Kamu tidak usah khawatir, aku akan mengawasi langsung masalah ini."
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu. Oh ya, jangan lupa nanti datang ke pernikahan Fachri. Aku akan mengirim undangannya padamu nanti. Mama dan Papa Fachri pun pulang kerumahnya.
Bersambung.