
"Sudah turun sana." cetus Kiano pada istrinya.
"Barengan deh Mas, aku malu soalnya." ucap Zavira.
"Malu kenapa?" tanya Kiano bingung.
"Ya malulah, kita itu seharian di kamar, dan sekarang turun. Pasti kita diledekin deh sama yang lain."
"Gak akan, siapa yang akan ledekin kamu." bela Kiano.
"Gak mau pokoknya kita turunnya bareng, aku gak mau sendiri." paksa Zavira.
"Iya... iya, turunnya bareng. Kok jadi manja gini sih?" tanya Kiano sembari memeluk istrinya lagi.
"Ya udah kita turun yuk!" ajak Kiano.
Mereka pun turun bersamaan kebawah, tiba dibawah mereka pun berpisah, Kiano bergabung dengan teman-temannya dan Daddy nya.
Sedangkan Zavira menuhu dapur membantu mertuanya menyiapkan cemilan sore untuk mereka.
Hummairah tersenyum melihat wajah menantunya.
"Sayang, mari sini." panggil Hummairah.
Zavira pun berjalan mendekati mertuanya, dan mulai membantunya.
"Kiano mana Za?" tanya Hummairah.
"Di depan Mi, sama yang lain." jawab Zavira.
Hummairah hanya tersenyum.
"Ayo Za kita bawa ini untuk mereka." ajak Hummairah.
Zavira mengangguk dan mengikuti langkah mertuanya.
Sementara di teras depan Kiano di bully habis-habisan oleh ketiga teman dan Daddy nya.
"Mentang-mentang pengantin baru, udah sore baru nunjukin muka nya, tadi kemana aja?" goda Dion.
"Iya, bukan nya gabung sama kita disini." sambung Tristan.
"Gitu deh tuh, kalau udah dapat mainan baru. Lupa semuanya." lanjut Daddy nya.
"Ah Daddy, kayak gak pernah muda aja." jawab Kiano.
"Ki, udah berapa ronde maen bolanya." celetuk Fachri ikutan menggoda Kiano.
"Kak Fachri.." seru Kirana.
"Sorry sweety." jawab Fachri menangkup kedua tangannya keatas dan segera mendekati Kirana, dan membantu Kirana latihan lagi.
Kirana masih suka mengasah kemampuan tae kwon do nya, kali ini Fachri ikut latihan bersamanya. Sebenarnya Fachri juga menguasai beberapa ilmu beladiri , dan salah satu tae kwon do.
Tidak lama kemudian Hummairah datang membawa teh dan cemilan sore untuk mereka, Zavira berjalan dibelakangnya.
"Eeeh.. pengantin baru." ucap Dion.
"Fachri, lu mau liat wajah pengantin baru gak?" ujar Tristan berteriak pada Fachri.
__ADS_1
"Waah, seger ya. Beda sama kita." ucap Fachri.
Tiba-tiba..
Bugh....
Fachri pun tertunduk memegang perutnya.
"Sweety sakit banget, kamu pukulannya beneran." Fachri terbungkuk memegang perutnya.
"Makanya konsentrasi Kak, jangan meleng." jawab Kirana.
"Jahat banget sayang, di belai kek aku nya, sakit ini." celetuk Fachri.
"Gak mau, tuh minta bantuan sama Ka Tristan dan Kak Dion." jawab Kirana berlalu meninggalkan Fachri dan mendekati Ummi dan Daddy nya.
"Nanti Fachri sama Kirana pergi ke bandara ya." perintah Hummairah.
"Ngapain Mi?" tanya Kirana bingung.
"Ummi nyuruh aku bawa kamu nyusul Mama Papa aku, yang lagi di Colorado." celetuk Facri asal.
"Kak Fachri..." Kirana melotot pada Fachri.
Fachri menangkupkan kedua tangannya ke depan wajahnya.
Hummairah menggelengkan kepalanya melihat ulah kedua anak manusia yang sedang kasmaran ini
"Kalian pergi jemput Kanayah, dia pulang hari ini. Pesawatnya tiba besok siang." jawab Hummairah. "Ingat jangan terlambat, kamu tau kan gimana adek kamu." lanjut Hummairah berbicara pada Kirana.
"Na, kamu kapan pulang ke Kairo lagi?" tanya Ummi nya lagi.
"Gak, Ummi cuma lagi mikirin Kakak kamu dan istrinya. Mereka bakalan LDRan dong ya." Hummairah terdiam sejenak.
"Tenang Mi, nanti Nana akan ngomong ke Zavira gimana nanti nya mereka." hibur Kirana.
....
Keesokan harinya, Zavira sedang menyiapkan pakian suaminya. Kiano sedang berada di kamar mandi.
Zavira teringat akan rencana kepulangannya ke Kairo besok lusa, ia pun duduk di ujung tempat tidurnya.
Kiano yang baru saja keluar dari kamar mandi, melihat istrinya sedang termenung, Kiano pun segera mendekatinya dan duduk dihadapannya.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Kiano lembut sembari membelai rambut Zavira.
"Udah selesai, ini bajunya." jawab Zavira mengalihkan perhatian Kiano.
"Sayang, duduk sini aku ingin bicara." ajak Kiano dan membawa istrinya duduk di pangkuannya.
Zavira duduk diatas pangkuan Kiano
"Ada apa?" tanya Kiano lembut.
"Aku lagi mikirin, gimana kita nanti." ucap Zavira pelan.
"Maksudnya?" tanya Kiano lagi.
"Ya.... besok atau lusa aku akan kembali ke Kairo, dan kamu juga akan kembali ke Swiss. Dan kita akan menjalani hidup masing-masing untuk sementara ini, aku merasa gak enak Mas." jelas Zavira.
__ADS_1
"Oh.. jadi kamu lagi mikirin itu, ya gak apa-apa lah sementara juga. Aku kan gak lama lagi selesai kuliah, dan akan kembali kesini. Dan kamu masih ada dua tahun lagi kan?"
"Itu dia yang sedang aku pikirkan, apa aku gak usah lanjut kuliah ya?"
"Jangan, kamu udah nunggu sekian tahun lho, lagian juga kamu bakal kecewain orang-orang yang memberikan beasiswa untuk kamu."
"Jadi baiknya bagaimana?"
Kiano menagkup wajah istrinya. "Sayang dengerin ya, kamu selesaikan dulu kewajiban kamu disana dan aku juga akan melakukan hal yang sama. Setelah urusan ku selesai aku akan kembali dan aku yang akan mengunjungimu disana, aku yakin setelah ini Daddy gak akan biarin kalian tinggal di asrama lagi." pungkas Kiano.
"Kenapa?"
"Sebab sudah ada aku, kalau kalian masih tinggal di asrama nanti kalau aku kangen sama kamu, aku datang kesana masa aku harus tidurnya di asrama? rame-rame sama temen kamu juga, nanti suami kamu yang tampan ini jadi konsumsi publik, dan juga aku bakalan gak bisa tidur sambil memeluk kamu." Kiano menarik hidung istrinya.
Zavira hanya terkekeh mendengar penuturan Kiano.
"Kita sholat dulu yuk, udah masuk waktu magrib tuh." ajak Kiano yang beranjak dari duduknya dan menuntun istrinya menuju kamar mandi untuk berwudhu.
Mereka pun melaksanakan sholat magrib bersama, ini pertama kalianya bagi Zavira ada yang mengimaminya. Kiano sudah terbiass memimpin sholat, jika tidak ada Daddy nya, Kiano lah yang akan menggantikan.
.....
Facri dan Kirana pergi ke bandara untuk menjemput Kanayah, mereka telah tiba di bandara dan sedang menunggu Kanayah turun dari pesawat.
"Kapan kamu pulang Na?" Fachri yang sedari tadi diam akhirnya buka suara.
"Mungkin lusa Kak, ada apa?"
"Tidak. Aku hanya bertanya." Fachri pun kembali terdiam.
Kirana menatap Fachri. "Ada yang kamu pikirkan Kak?" tanya Kirana.
"Kapan kamu akan pulang lagi?"
"Masih belum tau, mungkin menunggu libur lagi." Kirana terkekeh.
Fachri menghela napas dalam. "Na, bagaimana kalau dalam waktu dekat ini, kita bertunangan." pernyataan itu lolos begitu saja dari bibir Fachri. Sebenarnya sudah lama Fachri ingin mengatakannya, belum mempunyai keberanian. Tapi kali ini ia sudah tidak mampu lagi menahannya, Fachri begitu takut untuk kehilangan Kirana. Kehilangan untuk kedua kalinya, lama Fachri belajar menata hati kembali untuk memulai membuka dan menerima yang lain dalam hatinya.
Kirana terkejut mendengar pernyataan dari Fachri.
"Kak, kamu lagi demam?" tanya Kirana sambil terkekeh.
"Aku serius Na, aku tidak pernah seserius ini sebelumnya. Aku takut Na, takut kehilangan. Dan takut kamu akan berubah pikiran." tutur Fachri.
Kirana berjalan mendekatinya dan duduk disampingnya.
"Kak, aku tidak akan pernah merubah pikiran ku, bagiku kamu adalah orang pertama yang berhasil menggoyahkan hato dan pikiran ku. Aku tau ini tidak boleh terjadi, dan sangat bertentangan dengan prinsip hidupku. Tapi aku tidak bisa melawab keinginan yang muncul dari dalam hati ku, aku tidak pernah memikirkan pria manapun selain Daddy dan Kak Kiano. Aku tidak tau apa artinya ini, tapi dari yang aku rasakan aku juga sempat takut untuk memulainya, aku takut rasa ku tidak terbalaskan." Kirana menundukan kepalanya.
Fachri menoleh kearah Kirana, hanya bisa menatap tanpa bisa menyentuh.
"Na, aku sayang kamu. Aku udah menahannya selama ini, aku mulai menyukai kamu saat pertama kali aku melihat kamu. Sikap kamu yang cuek, tapi bersahaja jauh dari kata kriteria ku, tapi justru aku tidak bisa lepas dari bayang wajahmu. Tapi pada saat itu aku hanya bisa menyimpannya rapat dan jauh di lubuk hatiku yang paling dalam, mengingat kamu yang tak tersentuh dengan segala yang kamu miliki." Fachri kembali menghela napas.
"Na, apa kamu mau memulainya sekarang? Menjalani hubungan ini bersama ku walau terpisah jarak dan waktu, tapi kita tetap selalu ada untuk satu sama lain." ucap Fachri tulus.
Kirana tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Aku akan selalu menjaga hati ku Na, aku janji." ucap Fachri menatap mata Kirana.
Bersambung..
__ADS_1