
Tiba kediaman nya, Kayla masih mengingat kelakuan manja Zavira kepada mertuanya. Ada rasa iri dihati Kayla, dan rasa itu pun berubah menjadi penyesalan, seharusnya yang mendapat perhatian dab kasih sayang itu adalah dirinya. Zavira begitu beruntung, ditengah kehamilannya ia dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangi nya. Tidak seperti dirinya yang kini harus berjuang sendiri, dan kesepian tidak ada teman atau saudara yang menemaninya.
Kayla mengelus perutnya dengan lirih, ia benar-benar sendiri saat ini.
Kayla pun bangkit dan menghapus air matanya, ia berjanji pada dirinya, ia akan berjuang sendiri untuk dirinya dan anaknya kelak. Kayla tidak akan menggantungkan hidupnya pada Kai Zhou dan keluarganya.
......
"Na, aku sudah ada di Indonesia sekarang. Selamat untukmu, aku senang kamu telah menyelesaikan study mu. Sesuai janjiku, aku akan segera membawa orang tuaku menemui orang tuamu."
Itulah pesan yang dikirim Fachri untuk Kirana, gadis itu hanya tersenyum saat membaca pesan dari Fachri.
Sesuai janji Fachri padanya, saat Fachri kembali ke Indonesia, ia akan menemui kedua orang tua Kirana dan akan langsung melamarnya.
Sudah satu minggu Kendra dan Hummairah berada di Kairo, untuk wisuda Kirana. Dan hari ini mereka akan kembali ke tanah air.
"Sudah siap sayang?" tanya Hummairah.
Kirana menganggukan kepalanya, dan beranjak dari duduknya.
"Sepertinya setelah kembali dari Kairo, Kirana hanya akan sebentar tinggal dirumah kita." ujar Daddy Kendra.
"Maksudnya?" tanya Kirana bingung.
"Maksudnya, setelah ini Fachri akan datang kerumah dan melamar Kirana. Setelahnya mereka akan menikah dan akhirnya Kirana akan dibawa oleh keluarga Fachri dan tinggal dirumah mereka" jelas Daddy Kendra.
Kirana tersenyum dan menundukan kepalanya.
"Kita bakalan ditinggal ya Mas, Kanayah juga belum selesai study nya." sambung Hummairah.
"Makanya kemaren aku ajakin buatina adik untuk Kanayah kamu gak mau." goda Kendra.
"Apa sih, ngomong didepan anak kok gitu." ucap Hummairah.
"Biarin aja, ntar juga Kirana paham apa yang kita bicarakan." jawab Kendra.
"Sudah nanti kita terlambat." ucap Hummairah.
Mereka pun berpamitan dan mengucapkan terima kasih pada pengawas asrama dan teman-teman Kirana.
Setelah berpamitan mereka pun menuju bandara dan siap kembali ke tanah air.
.......
Belasan jam kemudian mereka pun tiba di tanah air, tepatnya tengah malam mereka sampai dirumah.
Mobil memasuki halaman rumah, dan berhenti tepat di depan pintu.
Fachri berlari dan segera membuka pintu, ia pun tersenyum saat melihat orang yang ia tunggu-tunggu akhirnya tiba.
"Assalamualaikum." ucap Hummairah.
"Waalaikumsalam." jawab Fachri.
"Lho Nak Fachri ada disini?" tanya Hummairah heran.
"Biasa Mi, nungguin tuan putri kita." goda Kendra.
Fachri hanya tersenyum dan menggaruk kepalanya karena malu.
Kirana turun dari mobil, Fachri tersenyum saat melihat wajah kusut Kirana.
"Aku bantuin Na." ucap Fachri membawa koper milik Kirana.
Kirana yang mengalami mabuk udara hebat, sepanjang perjalanan selama dipesawat Kirana muntah.
"Hati-hati sayang, Ummi bantu ya." ujar Hummairah.
Kirana hanya mengangguk tanpa bisa banyak bicara.
Fachri diam menatap Kirana, hingga ia dikejutkan oleh Kendra yang menepuk pundaknya.
"Tenang saja, Kirana tidak apa-apa. Dia hanya sedikit kelelahan."
Fachri menganggukan kepalanya.
"Ayo kita masuk dan beristirahat, kamu menginap disini saja." ujar Kendra yang merangkul calon menantunya.
Keesokan harinya seperti biasa Zavira membantu Ibu mertua dan para pelayan menyiapkan sarapan.
Para pria telah berkumpul dan duduk dimeja makan sembari mengobrol. Tidak lama kemudian sarapan pun siap dan telah terhidang dimeja.
Fachri nampak mencari seseorang, diantar mereka.
Kendra yang mengetahui gerak gerik Fachri yang sedang mencari keberadaan Kirana.
"Kirana masih di kamarnya Fachri, tadi udh bangun mandi dan sholat. Setelahnya ia kembali ke kamarnya, masih pusing katanya." tutur Kendra.
Fachri tersenyum menundukan kepalanya malu, karena ulahnya diketahui.
"Tadi Kirana pesen, dia minta sarapannya diantar ke kamar aja." tambah Zavira yang kini sudah mulai hilang ngidamnya.
Setelaha selesai sarapan Hummairah naik ke atas membawakan sarapan untk putrinya, di tidak lama setelahnya diikuti Zavira dan Kiano.
Kendra yang melihat gelagat Fachri khawatir, juga ikut.
"Ummi, Nana bisa makan sendiri." protes Kirana saat Ummi nya menyuapinya didepan Fachri dan yang lain.
"Gak ada, pasti gak dimakan dan pasti tersisa." jawab Ummi nya
"Atau lu mau di suapi sama Fachri, dia pasti gak keberatan." goda Kiano melirik Fachri yang masih berdiri dibelakang Daddy nya.
Kirana menunduk dan dengan cepat menghabiskan makanannya.
Setelah selesai makan Ummi nya turu disusul oleh Daddy nya, kini tinggal Kiano, Zavira, dan Fachri yang ada di kamar Kirana.
"Kok lu bisa mabuk berat gitu sih Na?" tanya Kiano.
"Gak tau juga Kak, biasanya juga gak kayak gini." ujar Kirana lemas.
"Lu terlalu bersemangat ingin pulang kali?" goda Kiano.
__ADS_1
"Semangat kenapa?" Kirana bingung.
"Semangat pulang, pengen ketemu Fachri." lanjut Kiano sembari melirik Fachri yang masih duduk diam.
Kirana merucutkan bibirnya.
"Udah ah, gue mau ke bawah dulu. Ayo sayang!" ajak Kiano pada istrinya.
Zavira mengangguk dan mengikuti langkah suaminya keluar dari kamar Kirana.
Fachri pun ingin beranjak, tapi Kiano menahan nya.
"Lu disini aja, temani dia." ujar Kiano, ia tahu Fachri belum berbicara sama sekali dari tadi.
"Tapi nanti....." ucap Fachri
"Tenang, pintu gak gue tutup." Kiano pun merangkul istri nya keluar dari kamar Kirana.
"Gimanaa, masih pusing?" tanya Fachri duduk mendekat.
"Udah gak lagi." jawab Kirana tersenyum.
Mereka kembali terdiam, dan asyik dalam pikiran masing-masing.
"Kakak gak ke kantor?" lanjut Kirana bertanya.
"Gak, tadi udah bilang sama mama mau jengukin kamu. Dan mama bilang nanti setelah pulang kantor mau kesini juga jengukin kamu."
"Aku gak apa-apa Kak, bentar lagi sembuh. Ini juga udah ilang pusingnya, cuma masih lemes sedikit." tutur Kirana.
"Mama kesini gak cuma mau jengukin kamu, tapi juga ada hal lain yang akan dibahas sama Ummi dan Daddy kamu."
"Hal lain... hal lain apa Kak?"
"Mau ngomongin rencana untuk melamar kamu." lanjut Fachri.
Mata Kirana terbelalak, ia tersenyum dan menundukan kepalanya.
"Aku serius lho Na, kamu mau kan?"
Kirana kembali tersenyum.
"Kok senyum sih Na."
"Lantas aku harus apa Kak?"
"Kasih jawaban apa gitu."
"Jawaban? jawaban apa Kak?"
"Hadeeeh... jawaban iya atau gak, kamu mau kan tunangan sama aku?"
Kirana kembali tersenyum.
"Tuh kan tersenyum lagi." ucap Fachri kesal dan gemas dengan sikap Kirana.
"Lantas aku harus bagaimana?" jawab Kirana terkekeh.
Kirana terkekeh lagi.
"Kan gitu lagi."
"Apa selama ini sikap ku belum bisa menjadi jawaban atas pertanyaanmu Kak?" ucap Kirana.
Fachri terdiam, dia mencerna setiap kata dari ucapan Kirana.
"Kenapa diam Kak, bingung mau jawab apa?" Kirana kembali tersenyum.
"Tersenyum lagi, aku makin gemes Na liat kamu senyum gitu." jawab Fachri kesal.
"Gemes kenapa? Kan aku cuma senyum." tanya Kirana bingung.
"Haduuuh, sepertinya secepatnya aku harus halalin kamu." Fachri beranjak dari duduknya.
"Mau kemana? Ngambek yaa!!" goda Kirana.
"Tadi katanya nyuruh ke kantor." ujar Fachri.
"Oh... tapi tadi katanya udah ijin." goda Kirana sembari terkekeh.
Fachri kembali berjalan mendekat pada Kirana, dan mata mereka beradu pandang.
"Kamu kok hobby banget sih maenin perasaan hati aku."
"Maenin gimana?"
"Tuh barusan, tadi nyurh aku ke kantor. Dan sekarang aku mau ke kantor ditanyain mau kemana." keluh Fachri.
"Aku gak maenin Kak, kan aku cuma nanya."
"Udah ah, semakin lama disini aku bisa lepas kontrol. Aku ke kantor dulu ya, kamu istirahat aja." ucap Fachri tertawa.
"Iya." jawab Kirana singkat.
"Love you." ucap Fachri sembari mengedipkan matanya kemudian berlalu pergi.
Kirana tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
....
"Kak, aku pengen makan kurma muda." celetuk Zavira tiba-tiba.
"Mau cari dimana sayang?" tanya Kiano saat bersiap ke kantor.
Kiano kini ikut bersama Daddy nya mengelolah perusahaan, dibawah pengawasan sang Daddy.
"Carilah Kak, mungkin di Mall ada." jawab Zavira.
"Iya deh nanti pulang kantor aku cariin."
"Sekarang Kak."
__ADS_1
"Gak bisa sekarang sayang, Mall nya belum buka." ucap Kiano sembari menangkup wajah istrinya.
"Ya kamu suruh buka." rengek Zavira.
"Ya gak bisa gitu juga sayang, kalau pun Mall nya buka. Pemilik toko kurma nya pasti belum datang."
"Ditelpon suruh datang dan buka tokonya."
Kiano kalah lagi berdebat dengan istrinya, dan mengiyakan ucapan istrinya.
Mereka pun keluar dari kamar, dan Fachri pun turun dari kamar Kirana disusul Kirana yang juga ikut turun.
"Sayang, kamu kok keluar kamar." tanya sang Ummi.
"Suntuk Mi." jawab Kirana singkat.
"Suntuk, apa lu mau anterin pulang?" goda Kiano.
Kirana memutar bola matanya dan duduk tanpa menghiraukan ucapan Kakaknya.
"Ini bumil kenapa lagi?" tanya Kirana.
"Minta dibeliin kurma muda, kan cuma ada di Mall. Dan Mall sepagi ini belum ada yang buka." jawab Kiano.
"Kan bisa di telpon suruh buka tokonya."
Kirana dan Fachri tersenyum menutup mulutnya.
"Puas lu tawain gue, ntar lu rasain kalau udah nikah, dan Kirana hamil." ujar Kiano.
"Gak, gua gak akan ngidam macem-macem. Cukup satu macem aja." jawab Kirana.
"Iya, anak kita mau kite ajarin biar gak nyusahin Aby sama Ummi nya." tambah Fachri.
"Waaah.... udah nyiapin panggilan aja lu, resmi juga belum." ujar Kiano.
"Memang serius Nak Fachri?" tanya Hummairah.
"Iya Mi, insyaallah nanti malam rencananya mama dan papa mau kesini dan bicarin masalah ini." tutur Fachri jujur.
"Baiklah, kami akan menyiapkan makan malam bersama nanti." jawab Hummairah.
"Kalau gitu saya permisi dulu Mi, assalamualaikum." Fachri pun berlalu pergi meninggalkan kediaman keluarga calon mertuanya.
.......
Malam harinya keluarga Fachri telah tiba kediaman keluarga Kendra, mereka disambut hangat oleh Hummairah dan Kendra beserta putra putrinya.
Mereka pun tampak senang saat melihat sosok Kirana, dan memutuskan minggu depan mereka akan datang untuk melamar Kirana. Dan meminta waktu beberpa bulan kedepan untuk mempersiapkan pernikahan dan sekaligus resepsi nya.
Pernikahan Fachri dan Kirana akan menjadi pernikahan termegah, karena menggabungkan dua keluarga besar pengusaha sukses, untuk itu harus dipersiapkan dengan matang.
......
Seminggu kemudian keluarga Fachri kembali mendatangi keluarga Kendra, dan membawa serta beberapa keluarga besar mereka.
Malam hari ini proses lamaran untuk Kirana, acara itu di gelar di ballroom hotel salah satu milik Hummairah.
Kirana dan Fachri tampil serasi dalam balutan serba putih, acara lamaran tertutup untuk awak media. Tapi setelah selesai Kendra pun mengadakan konferensi pers dan memberikan keterangan.
Setelah acara selesai mereka tidak memutuskan pulang kerumah, tapi menginap di hotel.
Kiano membantu Kirana membuka hadiah pemberian keluarga Fachri, yang isinya hampir semuanya perhiasan dalam berbagai macam model dan bentuk.
"Kalau begini, kita tinggal buka toko perhiasan." celetuk Kiano.
Keluarga Fachri memang hampir semuanya pengusaha perhiasan, jadi tidak heran jika yang mereka berikan lebih banyak perhiasan.
Kirana memilih beberapa kemudian memberikannya pada Zavira.
"Nih buat antum." ucap Kirana dalam bahas arab.
"Jangan, ini milik kamu." jawab Zavira.
"Ana belum pernah memberikan mu hadiah saat kalian menikah." tutur Kirana. "Dan ini untuk Ummi."
"Gak usah sayang Ummi udah punya banyak dan Ummi bingung kapan Ummi akan memakainya." jawab Hummairah.
"Nana juga bingung Mi, kapan Nana mau pake kalau sebanyak ini. Lagian kalau disimpan tapi tidak digunakan, juga akan dihitung zakat harta Mi." tutur Kirana.
"Iya juga sih, makanya setiap tahun Ummi negeluarin zakatnya lebih, sebab Ummi hitung ini." tunjuk Hummairah pada perhiasan. Hummairah memang memiliki banyak perhiasan, Kendra selalu membelikan istrinya setiap ia kembali dari perjalanan bisnis keluar negeri.
"Milik Zavira juga banyakan, kermren yang Ummi berikan untuk Zavira kemaren." tambah Kiano.
"Gimanan kalau kita bikin satu tempat dan kita simpan semua disana." usul Kirana.
"Ummi setuju, Ummi akan meminta Daddy mu membuatkan sebuah kamar untuk kita menyimpan semua perhiasan kita disana." ujar Kirana.
"Ummi boleh simpan semuanya, Nana akan pakai yang ini saja." ucap Kirana memilih se set perhiasan sederhana pemberian orang tua Fachri.
"Kenapa lu pilih yang itu Na?" tanya Kiano.
"Ini perhiasan milik orang tuanya Kak Fachri, hadiah pernikahan dari papa nya Kak Fachri untuk mama nya." tutur Kirana.
"Owh...." jawab mereka serentak saat mendengar penuturan Kirana.
"Baiklah, jika kamu sudah memutuskan memilih itu." jawab Hummairah membereskan kotak perhiasan dan menyimpannya. "Hari telah larut saatnya istirahat, besok kita akan kembali kerumah."
"Gak bisa lebih lama lagi kita disini Ummi?" seru Kiano.
"Banyak yang Ummi mesti kerjakan dirumah, apa lagi Kirana akan menikah kan." jawab Hummairah. "Tapi kalau kamu masih mau disini, juga gak apa-apa."
Hummairah pun keluar kamar dan pergi ke kamarnya menemui suami nya.
*Bersambung
aku kasih bonus visualnya*..
Nih yang penasaran sama sosok Kirana dan Fachri...
Ini versi HALU KU.. t
__ADS_1