CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA

CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA
149.


__ADS_3

Berkat bantuan Kendra masalah yang menimpa keluarga Medinah dan Ilham akhirnya dapat diselesaikan, istri Zian ditangkap pihak berwajib atas tuduhan pemalsuan serta penyekepan dan penyiksaan terhadap Tuan Samuel. Sementara Zian berhasil melarikan diri, tapi beberapa hari kemudian berhasil ditangkap. Sedangkan putra mereka yang berumur lima tahun, dibawa oleh pihak dari keluarga istri Zian.


Tuan Samuel pun telah berada diantara anak menantu dan cucunya.


Ilham memutuskan untuk menetap di Kanada dan mengembangkan milik perusahaan ayah mertuanya,


"Kendra, kami semua mengucapkan terimakasih padamu. Kalau bukan karena bantuan dari mu, kami tidak tau bagaimana nasib keluarga kami sekarang." ucap Medinah lirih.


"Me.... aku, Hummairah, Kakek, Nanny, serta Papa dan Mama adalah keluarga mu, keluarga kalian. Kami tidak mungkin membiarkan kalian menghadapi semua ini sendiri, kami selalu ada untuk kalian." jawab Kendra.


Kendra menghampiri Ilham dan memeluknya.


"Jangan pernah merasa sendiri Ham, kami selalu ada bersama mu." bisik Kendra.


"Terimakasih." ucap Ilham membalas pelukan Kendra.


"Baiklah, aku pamit pulang sekarang. Aku tidak bisa lebih lama lagi disini, sebab istriku telah sangat merindukan aku." ujar Kendra.


"Istrimu yang merindukan mu, atau kau yang tidak bisa jauh dari nya Tuan Kendra?" celetuk Antony.


"Ya, sebenarnya begitulah." jawab Kendra tersenyum.


Semua pun tertawa mendengar penuturan Kendra.


Kendra pun meninggalkan Ilham serta keluarganya, dan kembali kepelukan istri tercinta yang sedang menunggunya dirumah.


......


"Kapan lu tiba disini." tanya Kiano pada Fachri yang beru tiba di apartemennya Kiano.


"Kemarin, karena terlalu lelah jadi aku putuskan untuk beristirahat dahulu di hotel tempat kami menginap." Fachri menghempaskan dirinya di sofa.


" Lu sendirian atau bareng Om dan Tante?" tanya Kiano memberikan minuman ringan pada Fachri.


"Terimakasih." Fachri meraih minuman dari tangan Kiano, kemudian membukanya. "Gue kesini sama Mama, sedangkan Papa masih di Indonesia mengurus bisni baru yang ia geluti." Fachri menyesap minuman dinginnya.


"Oh ya , bisni baru apa?" tanya Kiano.


"Papa lagi mencoba membuka resto, lu tau kan sekarang para ABG dan muda mudi kumpulnya dimana? Nah... Papa ingin memanfaatkan itu." ucap Fachri.


"Waah... boleh juga tuh, pasti seru pas Kirana balik kesini kita bisa ikut nongkrong disana." seru Kiano.


"Pastinya." jawab Fachri singkat.


"Nanti saat peresmian, lu kasi tau kapan. Gue pasti pulang, dan gue juga mau ngajakin Kirana dan temannya kesana untuk makan gratis."


"Lu boleh makan sepuasnya, toh juga dimasa depan itu akan jadi milik Kirana." celetuk Fachri.


"Brengsek!" Kiano melempar bantal sofa kearah Fachri, yang langsung disambut gelak tawa oleh Fachri.


"Serius gue! Papa bilang itu untuk bakal menantunya nanti, kan gue bakal kawin ama Kirana. Jadi itu bakal jadi milik Kirana kan?"


"Sok yakin banget lu, lha kalau Kirana mau dikawinin sama lu, kalau gak gimana." ejek Kiano.


"Kalau Kirana sampai gak mau kawin sama gue, gue bakalan bawa dia kabur ke tempat yang jauh. Yang bakal gak akan ada seorang pun tau keberadaan kami." ujar Fachri.

__ADS_1


"Sebegitu cintanya ya lu sama adek gue, apa sih istimewanya tuh anak dimata lu?" tanya Kiano ingin tahu.


"Lu mau tau... Kirana itu cantik."


"Gue tau, adik gue memang cantik." sambar Kiano.


"Bukan hanya itu." seru Fachri.


"Lalu?"


"Makanya dengerin dulu perkataan gue." seru Fachri kesal.


Kiano terkekeh saat emlihat wajah Fachri yang mulai kesal dengan ulahnya.


"Dia tidak hanya cantik wajah, hati dan perilakunya juga cantik. Sopan, sholeha, istri idaman gue banget." puji Fachri.


"Muntah gue dengernya." olok Kiano.


"Bilang aja lu sirik." ejek Fachri balik.


"Sirik? Sorry, gue gak bakalan sirik. Kalau gie mau gue bisa dapat gadis manapun yang fue mau." ucap Kiano sombong.


"Tapi lu belum bisa menangin hatinya Zavira." Fachri tergelak melihat wajah merah Kiano.


"Eh lu gak tau ya, dia tu sebenarnya yang naksir gue." Kiano tidak mau kalah.


"Oh ya! apa lu ingat saat pertama kali dia takut sama lu." Fachri kembali tergelak.


"Brengsek!" Kiano kembali melepar Fachri menggunakan bantal sofa.


Fachri kembali tertawa lepas dan puas.


"Boleh! mau tanya apa?"


"Sebenarnya Kirana pernah pacaran gak sih, cinta cinta monyet gitu?" tanya Fachri.


"Setau gue sih gak punya, soalnya gue gak pernah liat dia keluar atau gimana. Selain keluar untuk latiha atau les, palingan dia keluar kalau gak sama gue, ya sama Ummi atau Daddy. Selebihnya dia menghabiskan waktu dirumah."


"Gitu ya! emang gak ada yang suka gitu sama Kirana, secara Kirana kan cantik pintar dan banyak nilai plus nya." Fachri masih penasaran.


Kiano tertawa.


"Koku ketawa Ki, ada yang lucu?" tanya Fachri.


"Iya, pertanyaan lu lucu. Mana ada anak cowok yang berani sama Kirana, dia itu galak." jawab Kiano.


"Oh ya."


"Lu gak percaya?" tanya Kiano.


Fachri menggelengkan kepalanya.


"Pernah ada satu anak cowok, yang nembak dia. Dia gak mau, eh tuh anak nekat nungguin si Kirana selesai latihan di koridor dekat ruang loker anak cewek. Saat Kirana keluar tuh anak langsung nyium pipi Kirana." Kiano tertawa mengingat kejadian itu.


Tapi tidak dengan Fachri, ia tampak kesal mendengarnya. Fachri pun berdiri berniat untuk mengakhiri obrolannya. Tapi alangkah ditahan oleh Kendra.

__ADS_1


"Mau kemana?" tanya Kendra pada Fachri yang ingin melangkah pergi.


"Gue mau pulang." jawab Fachri ketus.


Kiano kembali terkekeh. "Lu gak mau tau kelanjutannya?" tanya Kiano.


Fachri terdiam tanpa menjawab pertanyaan Kiano.


"Males gue dengernya, lu kebanyakan ngarang cerita." lanjut Fachri.


"Denger dulu." Kiano pun melanjutkan ceritanya. "Setelah tuh anak nyium pipinya, tanpa babibu lagi tuh anak di tonjok hingga giginya patah tiga." Kiano kembali tergelak disusul tawa lepas dari facri.


"Tapi serius Ki, pertama kali gue liat Kirana gue langsung suka." Fachri mengambil napas lalu melanjutkan kembali. "Ki, kalau menurut lu Zavira itu bagaimana?" pancing Fachri.


Kiano terdiam kemudian tersenyum saat nama Zavira disinggung.


"Dia seperti Ummi, baik, cantik, pintar, rajin, dan tidak tersentuh, pokoknya semua yang ada diri Ummi ada di dia. Terutama kataatan nya dan kesolehaan nya, bagi gue setelah kedua adek gue, Zavira adalah yang gadis yang akan selalu gue lindungi." tutur Kiano sembari membayangkan wajah Zavira.


"Dan lu suka gak sama dia?" tanya Fachri lagi.


"Siapa yang gak suka kalau ada cewek kayak gitu."


"Kalau misal suatu hari, Ummi dan Daddy nyuruh lu tiba-tiba nikah sama dia gimana?"


"Kalau itu adalah perintah dari Ummi dan Daddy, gue gak akan nolak." jawab Kiano.


"Tapi bukankah lu udah cinta mati sama Kayla?" Fachri kembali memancing.


Wajah Kiano serta merta berubah merah padam.


"Sorry Ki, bukan maksud gue membuka luka lama lu, tapi gue pengen tau aja perasaan lu ke Kayla sekarang kayak gimana." tanya Fachri.


"Gue udah lupain dia, dan gue juga udah maafin dia. Tapi jika gue ingat pengkhianatan dia rasa benci dihati gue gak bisa gue gambarkan seperti apa." kenang Kiano.


"Lu masih sayang dan cinta sama dia?" tanya Fcari lagi.


"Rasa itu telah mati saat dia khianatin gue, lu bayangin bertahun-tagun gue dekat sama dia, gue sayangi dia, dan gue lindungi dia. Tapi setelah gue jaga dia, seperti ini balasan dia ke gue." ucap Kiano lirih. " Dia juga dengan mudahnya menyerahkan harga dirinya ditukar dengan sebuah jabatan dan karier."


"Dari mana lu tau dia lakuin itu dibelakang lu?" tanya Fachri.


"Gue kirim seseorang untuk ngawasin dia, saat pertama kalia dia menginjak kan kakinya di Jepang. Gue kira dia seperti gadis polos yang gak tau apa-apa, ternyata gue salah. Saat gue nelpon dia, bertanya dia lagi dimana. Dia bilang dia lagi di asrama, padahal dia lagi di club terbesar bersama teman-temannya."


Merasakan Kiano mulai larut dengan perasaan kecewanya, Fachri pun mengubah topik pembicaraan mereka.


"Ki, udah hampir dua jam gue kesini. Gak lu tawarin makan atau apa gitu, gue kan lapar Ki." celetuk Fachri.


Kiano kembali tertawa. "Lu lapar, tapi gue lagi malas untuk masak. Gimana kalau kita makan keluar, tapi lu yang traktir." ucap Kiano.


"Kok gue, gue kan tamu Ki."


"Lu emang tamunya, tapi lu bosnya sedangkan gue cuma anak kuliahan."


"Lu emang anak kuliahan, tapi anak seorang milyuner." jawab Fachri.


"Udah mau makan gak?" tanya Kiano.

__ADS_1


Fachri pun beranjak dari duduknya, dan jedua sahabat itu pun pergi keluar untuk makan siang, dan menikmati waktu bersama.


Bersambung.


__ADS_2