
Kehidupan keluarga Kendra dan Hummairah semakin harmonis. Kiano sukses dengan meneruskan bisnis sang Daddy, sedangkan Kirana menjalankan bisnis restoran milik mertuanya dan sang suami Fachri meneruskan bisnis milik orang tuanya.
Sedangkan Kanayah dan Nathan juga sibuk dengan bisnis mereka masing-masing. Kedua orang tua Nathan sendiri, kini memilih pensiun dan mengurus kedua cucu kembarnya.
"Kalian akan pulang jam berapa malam ini?" tanya Mama Nathan.
"Biasalah, Ma," jawab Nathan santai.
"Biasa gimana?" tanyanya lagi.
"Ini kan malam minggu, Ma. Mungkin, Nathan dan Kanayah mau malam mingguan," celetuk sang Papa.
"Papa, benar," sahut Nathan membenarkan.
"Enak aja, pokoknya gak ada acara nginap di hotel," protes Mama.
"Kenapa, Ma?" tanya Nathan.
"Seperti yang udah-udah, kamu selalu jahilin menantu Mama. Kamu tahan dia berhari-hari di sana. Kamu gak kasian sama dia?" jawab Mama.
"Namanya juga anak muda, Ma," jawab Nathan lagi.
"Anak muda, juga anak muda. Tapi, kamu juga jangan lupa. Ada dua orang yang selalu menunggu kalian di rumah." Mama menunjuk ke arah cucunya.
Nathan tersenyum dan mendekati Mamanya. Ia menggendong salah satu dari buah hatinya dan menciumnya dengan sayang.
"Natham selalu ingat kok, Ma," desis Nathan.
Tidak lama kemudian, Kanayah turun dan telah siap untuk berangkat.
"Ingat ya, Nay. Kalau, Nathan ngajakin nginap ke hotel jangan mau," ucap Mama.
"Memang, makan malamnya dimana?" tanya Kanayah polos.
"Di restoranlah, Sayang," jawab Nathan mendekati istrinya.
"Lalu, ngapain nginap di hotel?" lanjut Kanayah.
Nathan dan kedua orang tuanya tertawa melihat kepolosan Kanayah.
"Ada apa? Kenapa malah ketawa?" tanya Kanayah polos.
"Udah, Sayang jangan didengerin omongan Mama," ucap Nathan merangkul pinggang istrinya.
"Kita pergi dulu ya, Ma, Pa," ucap Nathan pamit.
"Nitip, Nabil sama Nabila ya, Ma." Kirana mencium tangan mertuanya dan mengecup pipinya.
"Iya, kalian hati-hati ya," jawab sang Mama.
Pasangan muda itu segera berangkat, tanpa mereka duga. Mereka pun bertemu dengan pasangan Kiano Zavira dan Fachri dan Kirana. Mereka pun meminta satu meja besar untuk mereka sekeluarga.
"Serasa reunian, ya," celetuk Kiano.
"Terhitung terakhir kita ketemu, pas lahirannya si kembar, kan?" sahut Fachri.
"Kalau Ummi sama Daddy, tau pasti nangis," sambung Kirana.
"Jadi, kangen sama Ummi," ucap Kanayah sedih.
Kiano tersenyum dan meraih ponselnya, ia pun melakukan panggipan video ke Daddynya. Setelah panggilan terhubung, mereka pun berbincang hangat untuk melepas rindu. Setelah puas melepas rasa rindu, mereka pun menutup panggilan dan melanjutkan perbincangan mereka.
"Eh, week end nanti gimana kalau kita ngunjungin, Ummi," celetuk Kiano.
"Boleh!' sahut Fachri sembari melirik ke arah Kirana istrinya.
"Oke, aku akan atur jadwal untuk week end nanti," ucap Nathan. Kanayah terlihat sedih, me dengar perkataan suaminya. Ia memastikan, pasti Nathan akan sibuk minggu ini.
Setelah acara makan malam, selesai mereka pun memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing.
****
Akhir pekan pun tiba, Kanayah masih menunggu dengan cemas, keputusan dari Nathan.
"Nathan belum kasih kabar, Nay?" tanya Mama.
Kanayah hanya menggeleng. Mama Nathan tahu, jika menantunya ini sangat merindukam kedua orang tuanya. Ia berharap, putranya tidak mengecewakan menantu kesanyangannya ini. Tidak lama kemudian, mobil Nathan memasuki perkarangan rumah. Kanayah berdiri dan berlari membuka pintu.
"Assalammu'alaikum," ucap Nathan.
"Waalaikumsalam." jawab Kanayah dan mencium tangan suaminya.
"Kok, kamu yang buka, Sayang?" tanya Nathan.
Kanayah hanya tersenyum.
"Kamu, pasti lagi nungguin aku, ya?" goda Nathan.
"Kenapa? Gak boleh?" tanya Kanayah kesal.
__ADS_1
"Bukan gak boleh, Sayang." Nathan mendekati istrinya dan memeluknya dengan mesra.
Kanayah membalas pelukan suaminya. "Aku kangen Ummi," desis Kanayah.
Nathan tersenyum dan mengecup puncak kepala Kanayah. "Kita akan pergi," bisik Nathan.
"Benarkah?" tanya Kanayah penuh semangat.
"Kapan aku pernah berbohong padamu?" jawab Nathan. Kanayah menggeleng dan tersenyum.
"Sore ini kita akan berangkat, bersama Kiano dan yang lainnya," lanjut Nathan.
"Mereka juga?" tanya Kanayah semangat.
Nathan mengangguk pelan. Tapi, sebelumnya kamu harus memberiku satu hadiah." Nathan tersenyum menyeringai penuh arti.
"Si kembar gimana?" tanya Kanayah, berusaha menghindar. Ia tahu bagaimana ganasnya sang suami ketika di ranjang. Kanayah bergidik ngeri membayangkannya.
"Ma... Nathan liatin si kembar sebentar, ya!" seru Nathan, kemudian menggendong Kanayah masuk ke kamarnya. Kanayah sudah bisa membayangkan nasibnya di tangan Nathan saat berada di kamar.
****
"Dimana Kanayah dan Nathan?" tanya Fachri.
"Entahlah! Lu tau sendiri, kan. Kanayah, pasti yang membuat semua ini terlambat," tebak Kiano.
"Jangan asal, Mas," celetuk Zavira.
"Maaf, Sayang. Tapi, kamu tau bagaimana dia, kan?" lanjut Kiano.
"Tapi, kan belum tentu juga. Kita semua tau, mereka punya balita kembar yang sedang aktirf-aktifnya," bela Zavira. Kiano terdiam, ia tidak melanjutkan perdebatannya dengan sang istri.
Tidak lama kemudian yang di tunggu pun tiba. Nathan turun dari mobilnya dan segera menurunkan barang bawaan mereka. Nathan hanya membawa satu koper dan dua buah tas besar perlengkapan si kembar.
"Kenapa, Nath?" tanya Kiano.
"Kenapa, apa?" tanya Nathan bingung.
"Kanayah bikin, lu menunggu lagi?" tanya Kiano.
Nathan menoleh ke arah istrinya yang sedari tadi pasang tampang cemberut. Nathan tersenyum geli. Ia berlalu dari Kiano dan mulai memasukkan barang bawaannya ke dalam Bus.
"Siapa yang pertama akan mengemudi?" tanya Fachri.
"Siapa saja boleh?" sahut Nathan.
"Lu duluan ya, Nath!" seru Kiano.
Setelah perjalanan panjang, mereka pun tiba di desa kelahiran Umminya. Tepat tengah malam, Bus yang membawa mereka masuk ke halaman rumah. Kiano meminta Nathan dan Fachri untuk membangunkan para anak dan istri mereka.
Mendengar suara deruman kendraan yang berhenti di luar, Ummi Hummairah dan Daddy Kendra pun bangun untuk melihat di balik jendela.
"Ya Allah, Mas. Itu anak-anak!" seru Hummairah segera membuka pintu.
"Apa?" pekik Kendra terkejut.
"Assalammu'alaikum Ummi, Daddy," ucap mereka serentak.
"Waalaikumsalam," jawab Ummi dan Daddynya serentak.
"Kenapa, gak ngasi kabar dulu, Sayang?" ucap Ummi.
"Sengaja, Mi. Kita ngasi kejutan untuk Ummi sama Daddy," sahut Kirana sembari mencium tangan Umminya. Hummairah memeluk putri dan mencium cucunya.
"Ayo masuk, di luar dingin!" ajak Kendra.
"Ummi akan siapkan makanan dulu," ucap Ummi.
"Gak usah, Mi. Besok aja, kita mau istirahat dulu. Capek banget," sahut Kirana.
"Yakin?" tanya Daddy.
Mereka mengangguk serentak. Kendra menoleh ke arah istrinya dan mengangguk.
"Baiklah, kalian bisa ke kamar kalian masing-masing," lanjut Ummi.
"Besok pagi, rumah ini pasti akan terdengar heboh, Sayang," ucap Kendra pada istrinya.
"Iya, Mas. Suara dari Zaki dan Zakira, Faqih, dan celoteh si kembar Nabil dan Nabila," sahut Hummairah.
"Ayo kita lanjutkan tidur, kita harus bangun pagi. Agar punya tenaga, untuk melayani dan meladeni mereka semua," lanjut Kendra yang menuntun istrinya kembali ke kamar utama.
Keesokan harinya, Hummairah dan Kendra telah bangun dan segera membangunkan anak dan menantunya untuk menunaikan kewajiban mereka. Kiano dan Zavira membawa kedua anak mereka, Zaki dan Zakira yang kini mulai beranjak remaja.
Setelahnya, sang Ummi beserta anak dan menantu perempuannya menyiapkan sarapan untuk mereka. Mereka makan pagi di balai-balai, yang ada di samping rumah. Sambil menikmati hawa sejuk dan udara bersih.
"Opah, Zaki mau mandi di sungai, ya!" ucap Zaki.
"Boleh, tapi jangan sekarang," jawab Opah Kendra.
__ADS_1
"Kenapa, Opah?" tanya Zaki.
"Sekarang masih pagi, air sungainya terlalu dingin," lanjut Opah Kendra.
"Oh, ok." Zaki mengacungkan jempolnya.
"Saya, juga ikut!" seru si cantik Zakira.
"Gak boleh!" seru Zaki.
"Kenapa?" tanya Zakira.
"Kamu gak liat? Sungai itu gak kayak kolam renang di rumah kita," sahut Zaki lagi.
"Maksudnya?" Zakira kembali bertanya.
"Kamu kan pakai jilbab, nanti mandinya gimana? Apa kamu mau pakai baju renang dan melepas jilbab kamu?" ungkap Zaki.
Zakira terdiam.
"Kamu gak kasian sama Daddy, aku, bakal suami dan anak laki-laki kamu nantinya nantinya di akhirat, akan siksa?" lanjut Zaki.
Zakira menggeleng cepat. Zakira menunduk sedih.
"Za... sini, Sayang!" panggil Opah Kendra.
Zakira mendekati Opahnya.
"Apa yang di bilang, Kakak Zaki itu ada benarnya. Tapi, kamu masih bisa kok mandi di sungai," hibur Opah.
"Gimana caranya, Opah?" tanya Zakira polos.
"Opah ingat, Oma mungkin masih menyimpan baju renang milik Mama Kanayah. Iya, kan Oma?" tanya Opah Kendra.
"Ayo ikut, Oma!" ajak Oma Hummairah.
"Kayaknya, Daddy akan bikin kolam renang pribadi di sini," celetuk Daddt Kendra.
"Untuk apa, Dadd?" tanya Kiano.
"Untuk cucu-cucu Daddy yang perempuanlah," jawabnya santai.
"Untuk apa?" lanjut Kiano.
"Kalau setiap mereka datang, mereka bisa berenang kapan saja mereka mau," sahutnya.
"Kiano gak setuju, Dadd. Itu mubazir. Mubazir uang, mubazir air," tolak Kiano.
"Mubazir gimana?" Kendra menautkan kedua alisnya.
"Dadd, Zaki dan terutama Zavira itu hanya sesekali datang ke sini. Itu juga kalau dapar ijin dari para ustadz dan ustadzahnya. Kalau gak, kan mereka akan tetap di asrama. Jadi, kalau Daddy bikin kolam renang hanya untuk di pakai saat mereka di sini, buat apa? Kalau berenang, Daddy tau sendiri. Di rumah kita juga punya kolam renang, kan? Itu juga mereka pakai sesekali aja," ungkap Kiano.
"Mas, Kiano benar Dadd. Kami tau, Daddy sangat sayang sama mereka. Hanya saja, kami tidak mau, mereka terlalu manja dan akhirnya bergantung pada orang tua, terutama Opah dan Omanya," sela Zavira.
Kendra terlihat cemberut. Namun, ia pun kembali memasang senyum di wajahnya. Ia mengerti dari maksud ucapan dari anak dan menatunya.
"Kakak Zaki, liat deh!" seru Zakira, sembari memamerkan baju renang milik Mama Kanayah.
"Waah! Ummi masih simpan ini?" tanya Kanayah mendekati Zavira.
"Ini punya, Mama?" tanya Zakira.
"Iya, Sayang. Bagus, kan?" sahut Kanayah.
"Iya, Ma. Masih bagus lagi," jawab Zavira.
"Ini baju renang model apa?" tanya Zaki bingung.
"Ini baju renang, khusus yang pakai jilbab Kakak Zaki," jawab Kanayah.
"Kok aneh, ya bentuknya?" kata Zaki sembari memperhatikan.
"Udah, Nay. Jangan kamu jelasin lagi," sela Zavira.
"Kenapa, Kak?" tanya Kanayah.
"Kamu kayak gak tau, Zaki aja. Dia sengaja pura-pura bego gitu," jawab Zavira.
"Maksudnya?" Kanayah semakin tidak mengerti.
"Nay, Zaki sama Daddynya itu sama. Yang satu lima kali dua, yang satunya lagi dua kali lima," jawab Zavira.
Kanayah semakin tidak mengerti.
"Sayang, Zaki itu sengaja pura-pura gak tau. Buat godain adeknya," sela Nathan.
"Tuh, liat aja." tunjuk Zavira. "Bentar lagi, pasti Zakira ngamuk," lanjut Zavira.
Benar saja, Zakira mengejar Zaki keliling rumah. Zaki berlari dan berusaha menghindar dari amukan saudarinya. Ia merasa puas, apabila telah berhasil menjahili adiknya. Ummi dan Daddynya, sudah paham dengan gelagat keduanya.
__ADS_1
Zaki menuruni sikap dari Kiano. Sedangkan Zakira, mewarisi sifat seperti Kirana. Tenang namun bijak dalam menyikapi segala hal. Terkecuali, dalam hal kejahilan Kakaknya. Zakira pasti kalah.