
Kendra tiba di hotel, semua menyambutnya dengan menundukan kepalanya. Hummairah tersenyum saat salah satu staff menyapanya, mereka pun di pandu menuju restoran.
Kendra juga telah memesan sebuah kamar presiden suit untuk mereka bukan madu kesekian kalinya.
"Kamu senang sayang?" tanya Kendra kepada istrinya.
"Iya aku senang, jarang-jarangkan kita bisa kayak gini." jawab Hummairah tersenyum.
Saat mereka asyik bercanda, tampak satu keluarga menghampiri mereka.
"Selamat malam Tuan dan Nyonya Kendra." sapa orang itu.
Kendra dan Hummairah segera menoleh kearah suara, mereka pun tampak terkejut setelah melihat siapa yang menyapa mereka.
Kendra pun segera berdiri dan menyapa mereka, dan ikuti oleh sang istri.
"Selamat malam Tuan dan Nyonya Yan." mereka pun berjabat tangan.
"Apa kabar Nyonya Kendra." sapa Nyonya Yan.
"Selamat malam." jawab Hummairah ramah.
"Sepertinya kita memang di takdirkan menjadi keluarga Nyonya." ucap Nyonya Yan tersenyum.
Kendra dan Hummairah saling berpandangan dan tersenyum.
"Apa kami boleh bergabung disini Tuan dan Nyonya Kendra?" ucap Nyonya Yan.
Hummairah kembali melirik kepada Kendra.
Kendra tersenyum tanpa ekspresi, dan menggaruk kepalanya.
"Sayang, sepertinya Tuan dan Nyonya Kendra sedang menikamati waktu berdua mereka. Dan pastinya mereka tidak ingin diganggu." ucap Tuan Yan.
Kendra hanya tersenyum sembari melirik istrinya.
"Baiklah, kami akan permisi dahulu. Selamat manikmati waktu anda Tuan Kendra." Pasangan itu pun pergi meninggalkan Kendra dan istrinya.
Hummairah kembali duduk dengan wajah kesal.
"Makan lagi sayang!" ajak Kendra.
"Aku gak lapar lagi Mas." jawab Hummairah.
Kendra menghela napas kasar, ia tahu istrinya kesal lantaran kehadiran kedua tamunya barusan.
"Kita istirahat saja yuk!" ajak Kendra sembari ngelulurkan tangannya.
Hummairah menganggukan kepalanya, menerima uluran tangan sang suami.
Mereka pun kembali ke kamar yang telah mereka pesan.
...
Disisi lain dan di kamar lain, Tuan dan Nyonya Yan sedang mengobrol.
"Besok malam aku akan mengundang Tuan dan Kendra makan malam." ujar Nyonya Yan.
"Untuk apa?" tanya Tuan Yan.
"Untuk mempertanyakan rencana perjodohan antara Kai Zhou dan Kirana." jawab Nyonya Yan.
"Aku tidak yakin mereka akan menyetujui rencana mu" ucap Tuan Yan lagi.
"Apa maksudmu?" tanya Nyonya Yan lagi.
"Kamu lihat sendiri reaksi Nyonya Kendra saat pertama kali kamu membahas rencana ini kemarin."
"Kenapa dengan reaksi Nyonya Kendra?" tanya Nyonya Yan.
"Aku melihat sepertinya dia tidak akan mau menyetujui rancangan kamu." jawab Tuan Yan.
"Aku akan berusaha membujuknya, aku akan berusaha mengambil hati dan simpati darinya, agar dia mau menjalain hubungan dengan keluarga kita." Nyonya Yan tersenyum licik.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Tuan Yan mulai curiga.
"Kamu tenang saja, kamu akan lihat Nyonya Kendra akan menuruti kemauan kita." ucap Nyonya Yan menyeringai.
Tuan Yan hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia sangat tidak berani membantah ucapan istri pertamanya ini. Tuan Yan memang memiliki lebih dari satu, itu pun ia harus mendapat persetujuan dari sang istri pertama. Dan dia lah yang akan ikut andil dalam memilih wanita itu. Bukan tanpa sebab ia mengijinkan suaminya menikah lagi.
Nyonya Yan mengidap penyakit langkah, yang membuatnya tidak bisa lagi melayani suaminya diranjang. Ia tidak mengijinkannya untuk main perempuan diluar, untuk itu dia menyarankan suaminya untuk menikah sebanyak dan semampu yang suaminya iinginkan, selama suaminya mampu melayani kebutuhan istri-istrinya, dengan syarat mereka tidak boleh punya anak. Hanya Kai Zhou lah yang akan di akui sebagai pewaris satu-satunya keluarga Yan.
Meskipun Tuan Yan memiliki istri lain diluar, tapi dialah yang paling Tuan Yan utamakan. Tuan Yan selalu memberikan apapun yang ia inginkan, Tuan Yan juga telah memberikan 20% dari saham perusahaan untuknya.
......
Libur akhir tahun pun tiba, Kiano dan Fachri memutuskan kembali ke tanah air, begitu pula Kirana yang mengajak serta Zavira liburan ke rumahnya.
Mereka semua masih dalam perjalanan kembali, tapi Hummairah sudah mempersiapkan penyambutan untuk mereka semua. Sesuai permintaan putra putrinya, mereka akan mengadakan barbeque di malam pergantian tahun nanti. Hummairah juga akan mengundang kedua orang tua Fachri, untuk makan malam dirumah mereka.
Kiano dan Fachri tiba lebih dulu dari Kirana dan Zavira, Fachri kembali kekediaman nya terlebih dahulu setelah itu barulah ia akan menemui keluarga Kendra.
Kiano sedang beristirahat dikamarnya, sembari mengkhayalkan pertemuannya dengan Zavira nanti, Kiano tersenyum sendiri.
Keesokan harinya, Kendra menyuruh supir untuk menjemput Kirana, Zavira, serta Kanayah yang juga ikut pulang.
Sebenarnya Kiano yang ingin menjemput mereka, tapi sayangnya Kendra lebih menyuruhnya untuk mengikutinya meninjau proyek diluar kota. Dengan berat hati Kiano pun menuruti ajakan Daddy nya, kandas sudah harapan Kiano dapat menjemput Zavira di bandara.
Hummairah tersenyum melihat kelakuan putranya yang sedang di jahili Daddy nya.
.......
Salah seorang pelayan mendekati Hummairah.
"Maaf Nyonya, ada tamu di depan." ucap salah satu pelayan.
Hummairah yang sedang menjahit baju pun segera menghentikan kegiatannya. Sehari-hari Hummairah selalu menghabiskan waktu dengan menjahit, dan membuat sesuatu seperti alas meja, kulkas, hingga baju para pelayan dirumahnya.
Hummairah pun beranjak dari kursi jahitnya, dan bergegas keluar menemui tamunya. Hummairah terkejut saat melihat tamu yang datang kerumahnya.
"Nyonya Yan." sapa Hummairah berusaha menutupi rasa herannya.
"Selamat siang Nyonya Kendra" ucap Nyonya Yan menyapa tuan rumah.
"Maaf ada apa ya, kok tiba-tiba anda menemui saya dirumah." tanya Hummairah penasaran.
"Begini Nyonya, maksud kedatangan saya kemari ingin mengundang anda dan Tuan Kendra untuk makan malam dirumah di rumah kami yang ada disini." " ucap Nyonya Yan menjelaskan maksud kedatangannya.
"Makan malam, dalam rangka apa ya?" tanya Hummairah lagi.
__ADS_1
"Tidak dalam rangka apa pun, hanya ingin mempererat hubungan kita Nyonya. Dan, oh ya Nyonya saya juga membawakan buah tangan untuk anda dan suami." Nyonya Yan memberikan bungkusan paper bag kepada Hummairah.
"Anda tidak perlu repot-repot Nyonya, saya..."
"Tidak, ini bukan sesuatu yang merepotkan untuk saya." sembari menyerahkan bungkusan itu kepada Hummairah.
Hummairah pun terpaksa mengambilnya. "Terimakasih." ucap Hummairah datar. "Mbak, tolong simpan ini ya." Hummairah menggil salah satu pelayanannya. Pelayan itu pun bergegas menghampiri majikannya, dan mengambil bungkusan yang di berikan Nyonya Yan. "Mbak, tolong buatin minum untuk tamu kita ya." pinta Hummairah lembut pada pelayanannya, pelayan itu hanya menjawab dengan menganggukan kepalanya.
Setelah selesai minum teh, Nyonya Yan pun pamit undur diri. Hummairah mengantarkannya hingga pintu depan.
"Sampai ketemu besok malam Nyonya Kendra, kirim salam untuk Tuan Kendra. Jangan lupa dengan makam malam kita ya Nyonya Kendra." ucap Nyonya Yan.
Hummairah hanya tersenyum sungkan dan menganggukan kepalanya. "Insyaallah nanti saya sampai kan."
Hummairah menghembuskan napasnya, saat ia akan masuk kedalam rumah, mobil Kendra masuk kehalaman rumah besarnya.
Senyum Hummairah kembali terkembang saat melihat suaminya, ia pun menyambut teman hidupnya.
"Assalamualaikum." ucap Kendra turun dari mobil.
"Waalaikumsalam." jawab Hummairah tersenyum dan mencium tangan suaminya.
Kendra tersenyum dan mengelus puncak kepala istrinya.
"Tadi aku lihat ada mobil keluar. Apa ada yang datang sayang?" tanya Kendra.
"Nyonya Yan." jawab Hummairah singkat.
"Ada apa?" mereka pun berjalan masuk kedalam dan duduk di ruang keluarga.
Hummairah berjalan mengambilkan air putih untuk suaminya di meja, yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.
Kendra tersenyum menerima segelas air putih dari istrinya.
"Terimakasih sayang!" ucap Kendra.
Hummairah tersenyum dan duduk disamping suaminya, melepaskan sepatu dan melepaskan dasi sang suami.
"Oh ya, ngapain Nyonya Yan kemari?" tanya Kendra.
"Ngundang kamu makan malam, besok!"
"Aku?" tanya Kendra.
Hummairah menganggukan kepalanya.
"Cuma aku?" lanjut Kendra.
Hummairah menarik napas dalam dan mengembuskan kasar.
"Ya, aku juga." jawab Hummairah.
"Pasti mereka mau ngomongin masalah perjodohan Kirana dan putra mereka." ujar Kendra.
"Aku gak setuju lho Mas. Serius!" ucap Hummairah cepat.
Kendra tersenyum sembari mengelus pipi istrinya. "Iya aku tau." jawab Kendra terkekeh.
"Aku siapin air mandi ya, kamu istirahat dulu." Hummairah pun berjalan ke tangga dan berjalan naik ke atas menuju kamarnya.
......
Besok malamnya, Kendra sedang bersiap untuk pergi memenuhi undangan makan malam dikediaman keluarga Yan. Hummairah masih bermalas-malasan di meja riasnya. Kendra tersenyum melihat tingkah Hummairah, ia tahu sebenarnya Hummairah tidak mau ikut. Tapi Kendra memaksanya untuk ikut, dan Kendra juga tahu apa yang akan dibahas keluarga Yan jika mereka telah tiba disana.
Hummairah menoleh ke arah suaminya.
"Udah siap?" tanya Kendra lagi.
Dengan malas Hummairah menganggukan kepalanya. Kendra tersenyum dan menghampiri istrinya, kemudian mengecup keningnya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Kendra lembut.
"Aku malas banget ikut Mas, pasti mereka akan membahas masalah perjodohan itu. Apa lagi Nyinya Yan, dia pasti akan menodong aku dengan pertanyaan seputar penyatuan keluarga." ucap Hummairah.
"Kita batalin aja gimana?" tanya Kendra.
"Jangan, kita mau kasih alasan apa?"
"Bilang aja aku lagi gak enak badan." jawab Kendra asal.
"Jangan." jawab Hummairah cepat. "Nanti kamu sakit beneran, aku gak mau."
Kendra kembali tersenyum melihat tingkah manja istrinya. Entah mengapa Hummairah menurut Kendra semakin hari semakin menggemaskan.
"Jadi baiknya menurut kamu bagaimana?" tanya Kendra lagi.
"Ya udah deh, aku siap-siap. Aku pasang jilbab lagi." ucap Hummairah berdiri dan kembali memasang jilbabnya.
Tidak perlu memakan waktu lama untuk Hummairah memasang jilbabnya.
"Aku sudah siap." ucap Hummairah.
"Yakin?" tanya Kendra lagi.
Hummairah menarik napas kemudian mengembuskan napasnya kasar. "Iya, aku udah siap." jawab Hummairah.
Kendra berjalan menghampiri istrinya, dan menarik istrinya masuk kedalam pelukannya, mengusap punggung dan mengecup keningnya.
"Ayo kita pergi!" ajak Kendra.
Kendra menggandeng mesra tangan istrinya, dan berjalan turun. Dibawah Kiano, Kirana, Kanayah, dan Zavira duduk santai menikmati acara televisi.
"Ummi mau kemana?" tanya Kanayah.
"Ummi nemanin Daddy makan malam diluar." jawab Kendra.
"Ikuuuuuut..." teriak Kanayah.
"Gak bolah sayang." jawab Hummairah lembut dan memeluk tubuh si bungsu.
"Yaah..." wajah Kanayah cemberut.
"Gini aja, bagaimana kalau besok malam kita makan malam diluar?" pujuk Kendra.
"Janji ya Daddy?" ucap Kanayah.
"Oke, Daddy janji." jawab Kendra.
"Ya, sudah kami berangkat dulu." ucap Hummairah pamit pada ketiga anaknya. "Ki, kamu yang paling tua, kamu yang harus jagain adek kamu, dan juga Zavira."
__ADS_1
"Kalau jagain Zavira sih Kiano mau Mi, jangankan sebentar seumur hidup juga Kiano sanggup." jawab Kiano sambil melirik ke arah Zavira yang langsung tertunduk.
"Kalau jagain ni anak bedua, Kiano mau nelpon Fachri deh. Biar Fachri yag jagain nih anak berdua, Kiano jagain Zavira deh." lanjut Kiano terkekeh.
"Tuh, mau nya lu. Dasar kecentilan." celetuk Kirana.
"Iya, belum tentu juga Kak Zavira mau sama Kakak." sambung Kanayah.
Terjadilah perang dunia ketiga dirumah Kendra, jika ketiga buah hatinya kembali berkumpul.
Kendra dan Hummairah hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menghela napas, melihat ulah ketiganya.
"Ayo sayang!" ajak Kendra merangkul pinggang istrinya dan membiarkan ketiga saudara itu berperang.
....
Fachri tiba di kediaman keluarga Kendra, ia segera meluncur saat sahabat baiknya itu menelponnya untuk meminta bantuan.
"Assalamualaikum." ucap Fachri mengucap salam.
"Waalaikumsalam." jawab ketiga saudara ity kompak.
Mata Fachri membulat saat melihat Kanyah dan Kirana mengeroyok Kiano, dan Zavira berusaha memisahkan ketiganya.
"Ada apa ini?" tanya Fachri heran.
Ketiganya serentak berhenti, Kiano berhasil melepaskan diri dari kedua wanita perkasa itu.
"Fachri lu harus bantuin gue, gue di keroyok sama nih anak berdua." Kiano mencari perlindungan.
Fachri memperhatikan wajah Kiano, setelahnya ia menoleh ke arah Kirana.
Mata Kirana melotot saat Fachri menatapnya.
"Maaf Ki, seperti kali ini gue gak bisa berada dipihak lu." bisik Fachri sambil menatap kearah Kirana.
"Kok gitu?" tanya Kiano heran.
"Lu lihat aja, calon induk singa gue lagi melotot kearah gue, gue kan jadi takut." jawab Fachri yang langsung lari menghindar dan duduk di sofa.
"Teman apaan lu?" seru Kiano kesal. Mata Kiano kembali menangkap sosok manis yang sedang berdiri.
"Za, kamu belain aku kan? Aku ka calon imam kamu, jadi kamu harus belain aku kali ini." rayu Kiano pada Zavira.
"Jangan mau Za, dia juga bilang gitu kesemua cewek yang mau dia dekatin. Lagian masih calon kan, belum jadi." ucap Kirana.
"Kalau udah jadi juga Kak Zavira juga harus tetap di pihak kita." lanjut Kanayah.
"Kalian kok gitu sih? Oke fine, aku akan cari teman lain, saudara lain, dan..." menatap ke arah Zavira. "Tapi aku gak akan cari gadis lain lagi, hanya ada kami di sini Za, dihati aku." ucapan Kiano serta merta membuatnya harus menerima lemparan bantal secara bertubi-tubi.
....
"Bonyok lu kemana?" tanya Fachri.
"Lagi keluar makan malam." jawab Kiano santai.
"Oh.." jawab Fachri singkat.
Otak jahil Kiano mulai bekerja.
"Gue mau liat gimana reaksinya Fachri jika tau Ummi sama Daddy makan makam sama keluarganya Kai Zhou." ucap Kiano dalam hati.
"Lu tau gak Ummi sama Daddy makan malam sama siapa?" tanya Kiano sembari tersenyum jahil.
"Siapa?" tanya Fachri masih cuek dan menatap lurus kearah ponselnya.
"Ummi sama Daddy lagi makan malam sama keluarga Yan." jawab Kiano.
Mata Fachri membulat dan langsung menoleh ke arah Kiano.
"Panik kan lu, panik kan? Lanjut gue kerjain lagi."
Fachri masih menetap ke arah Kiano, mencari tahu kelanjutan cerita Kiano.
"Kenapa lu liatin gue kayak gitu? Gue ngeri tau, jangan-jangan lu naksir gue lagi. Iihhhhhh, jijik gue!" ucap Kiano sembari menahan tawa.
Raut wajah Fachri menjadi serius dan tegang.
"Ki, lu gak mau bilang kalau mereka lagi ngadain pertemuan keluarga untuk...." Fachri tidak melanjutkan perkataannya, sebab Kiano sudah menjawab dengan mengangkat bahunya.
"Gua gak tau, mungkin bisa jadi." jawab Kiano santai.
Fachri berdiri dan berjalan keluar.
"Fachri, lu mau kemana?" teriak Kiano melihat sahabatnya itu berjalan menuju pintu luar.
Kini giliran Kiano yang panik, saat sahabat baiknya itu pergi meninggalkan rumah.
"Fachri, gue becanda kali." teriak Kiano dari dalam.
"Ku kenapa teriak-teriak Kak?" tanya Kirana yang baru saja muncul dari dapur bersama Zavira membawa cemilan.
"Si Fachri pulang." jawab Kiano singkat.
"Kenapa?" tanya Kirana.
"Tadi, gue sempet becandain dia." ucap Kiano.
"Becandain gimana, kok bisa langsung pulang tuh anak?" tanya Kirana lagi.
"Gue bilang, kalau Ummi sana Daddy pergi makan malam sama keluarga Yan, untuk membahas masalah pertunangan lu sama putra mereka." jawab Kiano.
"Apa! Lu bilang gitu sama dia?" tanya Kirana kaget.
Kiano menganggukan kepalanya.
"Waah... parah lu, kalau dia baper gimana?" sambung Kanayah.
Kirana terdiam mendengar penuturan adik bungsunya.
*Bersambung.
Hai... hai... Aku Icha Mawik.
Maaf atas keterlambatan update nya, sekarang aku bisa lanjutin kisah Kendra+Hummairah, Kiano+Zavira, dan Fachri+Kirana.
Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak like dan komen di tiap eps nya, Vote dan Boom BINTANG RATE.
Terimakasih..
__ADS_1
Salam sayang author selalu.
**I LOVE U ALL***