
Kiano dan Fachri telah kembali ke Amerika, setelah mendapat balasan pesan dari Kayla, kini Kiano bisa bernapas lega. Kini hubungannya kembali membaik, bahkan akhir pekan ini Kayla berencana akan mengunjunginya.
Kiano tiba di kampusnya, ketiga sahabatnya telah menunggu di gerbang kampus.
"Kianoooo...." Tristan berteriak senang.
Fachri dan Dion menggelengkan kepalanya dengan ulah temannya yang satu ini.
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Kiano.
"Tristan penasaran dengan hubungan Fachri dan Kirana, dia gak percaya kalau Fachri dan Kirana udah jadian." jelas Dion.
"Bener Ki, kamu harus ceritain semuanya. Bagaimana bisa si cupu ini jadian sama adik kamu yang luarbiasa itu." seru Tristan.
"Aku juga gak tau, kalau mereka udah jadian." jawab Kiano.
Fachri membulatkan matanya, ia lupa kalau Kiano tidak mengetahui hubungannya dengan Kirana.
"Oh, jadi kalian udah jadian? Kok aku gak tau ya, tumben si ceriwis gak cerita sama gue. Awas lu ya ntar gue bilangin Ummi." gerutu Kiano.
"Udah..... kita masuk yuk, kelas udah mau mulai." ajak Fachri mengalihkan pembicaraan.
Mereka pun berjalan masuk ke kelas masing-masing. Tristan dan Dion beda jurusan, sedangkan Kiano dan Fachri satu jurusan, sebab itulah Kiano dan Fachri bisa jadi lebih dekat.
Akhirnya akhir pekan tiba, Kiano telah siap berangkat ke bandara untuk menjemput Kayla.
"Kamu akan ke bandara sekarang Ki?" tanya Fachri yang sedang berada di apartemen Kiano.
"Iya, untuk itu lah aku menyuruhmu untuk ikut menginap disini." jawab Kiano.
"Waah... memangnya kenapa kalau tidak ada aku disini, bukannya itu lebih menyenangkan?" goda Fachri.
"Sebenarnya aku juga berpikir seperti itu, tapi mengingat ucapan Ummi tentang dosa kemarin, membuat aku jadi ngeri sendiri." kenang Kiano.
"Bagus, kalau dalam dirimu masih ada ketakutan dan ingat akan dosa. Sebab kalau tidak, aku tidak tau sudah berapa banyak gadis yang kamu ajak untuk berkencan." Fachri tergerak.
"Kamu benar, Ummi selalu mengingatkan aku tantang hal itu. Tapi terkadang aku masih suka melanggarnya, aku masih suka melakukan hal yang dilarang." ujar Kiano.
"Oh ya, apa yang sudah kalian lakukan. Apa kalian sudah melakukan hal yang berlebihan?" tanya Fachri ingin tahu.
"Tidak... kami hanya lakukan kenakalan kecil, yang sering dan lumrah dilakukan oleh banyak orang hehehe.." Kiano terkekeh.
Fachri hanya mengangguk paham.
"Aku akan selalu menjaga Kayla, hingga saat itu tiba. Aku tidak mau mengecewakan kedua orang tua." ujar Kiano.
"Aku setuju, aku juga akan lakukan hal yang sama suatu hari nanti, jika aku telah menemukan seseorang yang berarti dalam hidup ku." Fachri menatap nanar langit-langit kamar Kiano.
"Apa Kirana masuk kriteria yang akan menjadi seseorang yang berarti dalam hidupmu?" goda Kiano.
Fachri tertunduk dan tersenyum malu, wajahnya merah padam.
"Apa kamu menyetujuinya jika aku dekat dengan Kirana?" tanya Fachri.
"Kalau serius kenapa tidak, tapi kamu tau sendiri. Kirana tidak mau pacaran, sebab itu dia tidak pernah jatuh cinta atau apa pun itu, dia mau yang serius." terang Kiano.
"Aku tau, Kirana juga pernah ngomong itu sama aku...." Fachri terdiam.
Kiano menatap wajah Fachri. "Kamu sudah nembak Kirana?" tanya Kiano penuh selidik.
Fachri keceplosan, ia lupa bahwa ia pernah berjanji pada Kirana jangan sampai ada yang tahu masalah ini. Fachri memejamkan matanya, menahan kesal pada dirinya.
__ADS_1
......
Kayla sedang buru-buru menyelesaikan pekerjaannya, ia tidak ingin membuat Kiano menunggu lagi, untuk itu setelah semuanya selesai Kayla segera menemui atasannya untuk menyerahkan pekerjaannya, dan ingin segera pulang.
Tok...
Tok...
Tok...
Kayla masuk ke ruangan atasannya, di sana sudah ada Kai Zhou yang sedang menemani Ayahnya.
"Masuklah Kay." ucap Tuan Zhou Yan Ayah dari Kai Zhou.
"Ini Tuan, saya ingin menyerahkan laporan hari ini." Kayla menyerahkan map berwarna merah dia atas meja bos nya.
Tuan Zhou Yan menerima dan meletakannya kembali ke atas meja tanpa melihatnya.
Kayla ingin segera pamit pulang, dan menyiapkan dirinya untuk langsung terbang menyusul Kiano.
Saat Kayla akan membuka mulutnya untuk pulang, Tuan Zhou Yan segera buka suara.
"Kay, malam ini kamu pergi menemani Kai Zhou menemui rekan bisnis kita untuk makan malam." ucap Tuan Zhou Yan.
Mata Kayla membulat mendengar pernyataan dari bos nya, ia pun akhirnya memberanikan diri buka suara.
"Maaf Tuan, sebenarnya hari ini saya akan terbang ke Amerika untuk menemui seseorang disana. Dan saya sudah berjanji padanya jauh sebelum hari ini, dan saya juga pernah bicarakan masalah ini dengan Kai Zhou. Apa dia tidak bilang pada anda?" tutur Kayla yang mulai kesal dengan Kai Zhou hanya diam sedari tadi.
"Ya.. Kai Zhou ada bilang kemarin, sebenarnya aku ingin memberikannu ijin pergi. Tapi rekan bisnis kita itu tiba-tiba saja menelpon ku, dan memajukan pertemuan."
"Iya Kay, aku sudah bilang pada Ayah ku, bahwa kamu akan menemui kekasih mu yang ada di Amerika. Tapi tadi sore rekan bisnis itu menelpon Ayahku dan mengatakan itu semua, dan tidak bisa di tunda lagi. Sebab besok ia akan terbang ke Swiss." ucap Kai Zhou menjelaskan.
"Aku minta ijin pulang dulu, untuk membersihkan diri. Permisi." Kayla bergegas keluar dari ruangan bos nya dan berjalan keluar dari perusahaan.
Taxi yang membawa Kayla tiba di kost an nya, setelah membayar Kayla pun masuk kedalam kamarnya dan melemparkan tasnya dilantai kemudian mengempaskan dirinya di atas sofa. Kayla menatap layar ponselnya dan segera menelpon Kiano.
Tut.... Tut.... Tut...
Terdengar suara diseberang sana, suara masih parau khas orang bangun tidur.
"Hallo, Ki." ucap Kayla menyapa.
"Ya sayang." balas Kiano.
"Aku... tidak jadi mengunjungi mu." Kayla tidak lagi melanjutkan ucapannya disebabkan isakannya.
Tapi tanpa Kayla duga kali ini Kiano tidak marah seperti biasanya.
"It's oke..." jawab Kiano santai.
"Kok kamu gak marah?" tanya Kayla heran, biasanya jika Kayla membatalkan janjinya, Kiano akan marah. Tapi tidak untuk saat ini, apa Kiano sedang dalam suasana hati yang baik.
"Lalu aku harus apa? Mau marah juga percuma, toh kamu juga gak bakalan datangkan? Lagi pula aku sudah bisa menebak pasti akan begini jadinya, jadi aku sudah terbiasa dengan hal ini." jawab Kiano.
Bagaikan sebuah tamparan keras diwajah Kayla, ia kini tahu mengapa Kiano terdengar santai saat ia mengatakan tidak jadi datang.
"Ki, aku minta maaf ya, aku janji lain kali aku akan....."
"Ya, aku sudah memaafkan mu. Aku selalu mengerti akan dirimu. Baiklah, setelah ini kamu pasti akan keluar makan malam dengan rekan bisnis dari bos mu kan. Lebih baik kamu siap-siap sekarang, sebentar lagi pasti teman baik mu datang menjemput mu." Terdengar suara bunyi bel pintu. " Tuh, teman kamu udah jemputkan, jangan buat dia menunggu seperti aku oke? Bye." Kiano menutup telponnya dan melanjutkan tidurnya.
Kayla merasa tidak nyaman dalam hatinya, ia segera beranjak dan membuka pintu.
__ADS_1
Disana sudah berdiri Kai Zhou dengan pakaian formalnya dan siap untuk mengajak Kayla pergi.
"Kamu belum siap Kay?" tanya Kai Zhou heran melihat Kayla masih mengenakan pakaian kantornya.
Kayla hanya tersenyum. "Sebentar, aku hanya akan mencuci muka ku." Kayla berjalan masuk kedalam kamar mandi dna mencuci mukanya. Kayla menatap wajahnya di cermin, ia merasa tidak berselera untuk kemana-mana, tapi ia tidak tahu harus bagaimana lagi menghindar dari ini semua.
"Ayo kita berangkat, aku sudah siap." Kayla meraih tasnya dna segera menuju keluar di ikuti oleh Kai Zhou.
......
Kiano melempar ponselnya sembarang, kemudian ingin melanjutkan tidurnya. Tapi percuma, ia tidak bisa lagi memejamkan matanya kembali.
Kiano beranjak dari tidurnya menuju kamar mandi, setelah selesai membersihkan diri Kiano pun keluar dari kamarnya.
Fachri menyiapkan sarapan untuk mereka, Fachri tersenyum saat melihat Kiano turun dari kamarnya.
"Selamat pagi." sapa Fachri.
"Pagi." jawab Kiano singkat.
Fachri tersenyum kembali mendengar ucapan balasan dari Kiano.
"Ada apa? siapa yang membuat mood mu tidak bagus pagi ini?" tanya Fachri.
"Tidak ada." jawab Kiano singkat.
"Apa Kayla membatalkan lagi?"
Kiano diam dan terus menyantap sarapannya, tanpa menghiraukan ucapan Fachri.
"Mengapa tidak kamu saja yang datang mengunjunginya." ucap Fachri.
Kiano pun segera menghentikan makannya dan menatap Fachri.
"Kalau dia tidak bisa mengunjungi mu karena satu alasan, maka untuk mu tidak alasan untuk tidak bisa datang mengunjunginya kan?" lanjut Fachri.
Kiano tersenyum dan segera berlari ke atas. "Fachri pesanka aku tiket pesawat ke Jepang sekarang." perintah Kiano.
Fachri segera meraih ponselnya dan memesan tiket pesawat via online.
Tidak berapa lama kemudian Kiano pun keluar dari kamarnya dengan tas ranselnya.
"Lepas landas pukul 11 siang, sekarang sudah pukul 10. Sebaiknya kamu berangkat sekarang, nanti macet di jalan." tutur Fachri.
"Thanks ya, kamu memang teman yang pengertian. Aku berangkat dulu ya, tetap lah disini sampai aku kembali. Aku berangkat dulu."
"Oke, hati-hati ya."
Kiano pun memsan taxi menuju bandara dan siap terbang ke Jepang untuk menemui gadis pujaan hatinya.
*Bersambung
Hai.. hai.. Aku Iha Mawik
jangan lupa untuk dukung karya ku ya!!!
kasi aku boom like, vote bintang rate dan komen di setiap eps nya.
jangan lupa baca karya ke dua ku yang judulnya MENGEJAR CINTA SANG ASISTEN ya!!
Terimakasih...
__ADS_1
I LOVE U ALL*