
"Za, kamu gak apa-apa?" tanya Kirana.
Zavira menggelengkan kepalanya.
"Kamu kok pucat Za, yakin kamu gak apa-apa?" tanya Kirana khawatir.
"Aku gak apa-apa, cuma rada pusing dan mual aja, kamu kan tau aku lagi hamil gini." jawab Zavira.
"Kamu gak lagi kepikiran tentang masalah di klinik kan ?" tanya Kirana lagi.
Zavira terdiam dan raut wajahnya berubah, tapi saat ia akan menjawab pertanyaan Kirana, tiba-tiba Kiano masuk kedalam kamarnya. Zavira pun kembali terdiam dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Pulang juga lu?" tanya Kirana ketus.
Kiano diam sembari menatap ke arah Zavira yang sedari tadi enggan memalingkan wajah ke arahnya.
"Za, aku keluar dulu ya." Kirana pun keluar dari dalam kamar Kakak nya.
Kirana turun kebawah menghampiri orang tuanya dan Fachri.
"Gimana Zavira Na, dia baik-baik aja kan?" tanya Hummairah cemas.
"Dia gak apa-apa Mi, cuma kecapekan aja." jawab Kirana.
"Ummi lega jadinya, ya udah Ummi mau ke kamar dulu. Daddy kamu minta di kerokin tadi." ujar Hummairah beranjak naik ke kamarnya.
"Daddy sakit Mi?" tanya Kirana khawatir.
"Gak, cuma masuk angin aja."
Kirana lege saat mendengar ucapan Ummi nya.
"Kamu gak pulang Kak?" tanya Kirana pada Fachri.
"Kamu ngusir aku?" tanya Fachri.
"Bukan gitu Kak, maksud aku kan ini masih jam kantor Kak. Apa kamu gak balik lagi ke kantor?" tanya Kirana.
"Aku masih mau disini, kenapa gak boleh ya?"
"Bukan gak boleh..." jawab Kirana terbata.
"Ya udah aku pulang sekarang." ucap Fachri merajuk.
"Kak, kok jadi ngambek sih... ya Allah." Kirana mulai kesal.
"Hahahaaaa...." tawa Fachri pun pecah saat melihat wajah panik Kirana.
"Kaaak..." pekik Kirana kesal.
__ADS_1
Tawa Fachri kembali pecah, ia benar-benar puas saat melihat wajah kesal Kirana.
Ia pun berpamitan pada Kirana dan kembali ke kantornya.
....
"Aku mau mandi Za, bisa siapkan airnya." pinta Kiano membuka suara.
Tanpa bicara Zavira pun bergerak dan masuk ke dalam kamar mandi, Kiano tahu Zavira sedang marah padanya. Ia akan membiarkan Zavira tenang terlebih dahulu, setelahnya ia akan meminta maaf kepada istrinya.
Tidak lama kemudian Zavira keluar dari kamar mandi, dan kini Kiano yang masuk kedalam kamar mandi.
Zavira segera menyiapkan baju ganti untuk suami nya, setelah itu ia turun kebawah untuk membawakan teh untuk suaminya.
Saat makan malam pun Zavira masih belum berbicara pada Kiano, dan sebaliknya Kiano juga belum berani untuk berbicara lebih dulu.
Hingga menjelang waktu tidur, Kiani masih duduk di sofa kamarnya dengan menatap ke arah laptop nya.
Zavira telah beranjak naik keatas tempat tidur dan menarik selimut, Kiano yang melihat itu pun berpikir. Mungkin ini saat yang tepat untuk ia meminta maaf dan menyelesaikan masalah yang terjadi diantara mereka.
Kiano pun menutup laptopnya dan meninggalkan pekerjaannya, kemudian menghampiri istrinya yang mulai terlelap.
Kiano segera melepas pakaian nya, hingga hanya tertinggal celana pendek dan kaos oblong nya. Ia pun naik ke atas tempat tidur, dan masuk kedalam selimut istrinya memeluk erat dan mengecup kepala bagiana belakang istrinya.
"Maaf...." ucap Kiano. Kata itulah yang hanya bisa keluar dari bibir nya.
"Za... aku tau kamu belum tidur, kamu masih bisa dengar aku. Za.. aku ingin minta maaf, seharusnya aku pulang sama kamu tadi. Dan aku juga tidak melakukan hal yang Kayla minta, aku tidak mengazani anaknya Kayla Za. Aku hanya ingin, hanya anak ku yang akan mendengarkan lantunan adzan dari mulutku." Kiano semakin memperkuat pelukannya, terdengar nada penyesalan yang keluar dari nada bicara Kiano.
"Aku minta maaf Za, aku janji tidak akan melakukan kesalahan yang akan membuat kita seperti ini. Aku tidak bisa kalau kamu diamkan Za, aku rindu mendengar suara kamu. Plis Za, bicara padaku Za." kali ini Kiano tidak main-main, ia benar-benar menyesal tidak hanya istrinya, seluruh keluarganya juga murka terhadap dirinya.
Perlahan Zavira membalik badannya menghadap Kiano, ia tersenyum dan menangkup wajahnya.
Kiano mengecup kening istrinya. "Jangan marah lagi, aku mohon." pinta Kiano.
Zavira tersenyum dan menenggelamkan wajahnya ke dada bidang milik Kiano.
Kiano bahagia, dan merasa beruntung memiliki istri seperti Zavira.
......
Kayla telah diperbolehkan kembali ke rumahnya, ia sedang mempersiapkan barang-barangnya.
Ia meraih ponselnya dan kembali menghubungi Kiano.
Tapi sayangnya, nomor Kiano tidak bisa dihubungi. Berulang kali ia menghubungi Kiano tapi tetap tidak bisa tersambung.
Kayla menggeram kesal, ia pun melangkah keluar sambil menggendong putranya.
Jihan yang baru tiba disana melihat Kayla yang keluar dari pintu masuk.
__ADS_1
"Kay... kamu mau kemana?" tanya Jihan yang menghampiri Kayla.
"Aku mau pulang Mbak." jawab Kayla.
"Ayo Mbak antara." Jihan membantu memasukan barang-barang Kayla ke dalam bagasi, kemudian membantu nya masuk kedalam mobil.
Mereka memasuki pekarangan rumah milik keluarga Kayla, mata Kayla membulat. Jika ia tidak sedang menggendong bayinya, mungkin Kayla akan memilih melompat dari mobil.
"Kenap kita kesini Mbak?" tanya Kayla dengan wajah pucat, ia benar-benar takut akan kemarahan Papa serta kedua Kakaknya.
"Mulai sat ini kamu akan kembali tinggal bersama kami." ucap Jihan tegas.
"Tapi Mbak...."
"Tidak ada tapi, ini sudah kesepakatan seluruh anggota keluarga." ucap Jihan.
Jihan pun membawa Kayla masuk kedalam, Jihan pun memerintahkan pembantunya untuk menurunkan barang milik Kayla.
Jihan menggendong anak Kayla dan berjalan masuk sembari menggandeng tangan Kayla.
Ini pertama kalinya Kayla mengunjakan kakinya kembali kerumah nya, setelah ia diusir dari rumah.
Dengan perasaan takut ia perlahan melangkahkan kaki nya untuk masuk kedalam.
"Ayo datangi Papa dan minta maaf." perintah Jihan.
Kayla menoleh ada perasaan takut disana, tapi sekali lagi Jihan meyakinkan nya.
d? Kayla pun akhirnya dengan langkah perlahan mendekati Papa nya.
Kayla meraih tangan Papa nya dan menciumnya.
"Pa, Kay minta maaf ya." derai air mata Kayla pun tumpah saat itu juga, semua yang ada disana juga terharu mendengar penuturan dan penyesalan Kayla.
Reno dan Soni pun memeluk adik perempuan semata wayang nya.
"Ini Wulan, istrinya Soni." ucap Reno memperkenalkan wanita muda yang sedang duduk disamping Papa nya.
Wulan mendekati Kayla dan memperkenalkan diri.
"Hai..." sapa Wulan ramah.
Kayla tersenyum ramah.
"Mulai saat ini kamu akan tinggal disini, menemani Papa. Kami juga akan selalu ada untuk kamu." ucap Reno.
Mereka pun kembali berpelukan dan kini keluarga mereka lengkap meskipun tanpa sosok Mama di samping merekan.
Bersambung
__ADS_1