CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA

CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA
200.


__ADS_3

"Sayang... selepas pernikahan Kanayah nanti, gimana kalau kita pulang ke rumah Ayah dikampung." ujar Kendra saat berada berduda di kamar mereka.


"Maksudnya?" tanya Hummairah.


"Ya.... aku ingin istirahat dari semua ini, aku sudah lelah sayang."


"Lalu perusahaan gimana?"


"Aku akan memberikan kuasa penuh pada Kiano, hotel akan aku berikan Kirana yang mengelolahnya, sedangkan pabrik garme, textil dan beberapa outlet akan aku berikan kepada Kanayah."


"Kamu ingin pensiun Mas?"


"Iya... aku lelah, aku ingin istirahat dan menghabiskan hariku bersamamu disana. Mengurus ternak dan tambak ikan dan udang milik Ayah."


"Terserah kamu Mas, aku ikut kemanapun kamu pergi."


"Aku seneng dengernya, kamu memang istri terbaik yang pernah ada. Terima kasih telah menemaniku selama ini, menerima segala kekurangan dan kelebihanku. Selalu sabar dengan keras kepalaku, dan hanya kamu yang bisa menenangkan aku." Kendra mengecup kening istrinya.


"Aku juga mau ucapin terima kasih padamu, dan keluargamu yang telah sudi menerima gadis kampung ini menjadi bagian dari keluarga kalian. Kalau saja saat itu Ayah tidak sakit, mungkin aku akan menolek usulan Bibi dan Paman, dan mungkin saat ini istrimu pasti Intan."


"Gak... aku seandainya waktu itu kamu itu Intan, mungkin aku milih cabut balik lagi ke luar negeri."


"Kenapa?"


"Kamu liat aja kelakuan Intan."


"Itukan karena kamu menolaknya Mas, coba kamu menerima dia, pasti gak akan kayak gitu kok."


"Gak... pokoknya aku udah bahagia kamu jadi istri aku titik."


Hummairah akan berankak dari sisi suaminya, tapi Kendra kembali menahannya.


"Mau kemana? baru aja bentaran."


"Aku mau kedepan, liat Zaki. Kasian Zavira pasti repot, Zaki akhir-akhir ini rewel. Kasian Mommy nya, mana perut udah gede gitu."


"Gak terasa ya sayang... kita udah punya cucu, mau dua lagi."


"Kenapa? masih mengaku muda?" goda Hummairah sambil mencolek pipi suaminya.


"Gka gitu sayang." Kendra tersenyum. "Rasanya baru aja kemaren kita punya Kiano, Kirana, Kanayah. Sekarang udah punya Zaki dan calon adiknya."


"Waktu cepat berlalu Mas, rambutku pun udah mulai ada saljunya."


"Aku lebih banyak, cuma ketutup sama rambut luarnya aja. Uban ku kecil-kecil, pendek lagi."


Mereka saling menatap wajah satu sama lain, Hummairah menatap wajah Kendra. Terlihat disana gurat usia yang tidak bisa di bohongi. Begitu juga Kendra, yang nenatap wajah istrinya lekat.


"Temani aku tidur, udah jarang sekali kita bisa berdua siang-siang begini. Biasanya kamu sibuk sama cucu kamu."


"Kamu cemburu Ma?"


"Gak... aku cuma merasa gak di perhatikan aja lagi."


"Aku masih sayang kamu kok." goda Hummairah sembari mengecuo pipi suaminya. "Kita tidur ya."


Mereka pun saling berpelukan dan mulai memejamkan mata.


Satu minggu kemudian Nathan kembali ke toko perhiasan, dan mengambil pesanannya. Ia pun bergegas pulang untuk menunjukan ini pada Mamanya.


Dirumah Mama Nathan sedang kelimpungan menghadapi hari yang semakin mendekati hari Ha.


"Apa yang Mama lakuin Pa, kalau sampai perhiasan yang sesuai selera Kanayah gak ketemu, Mama mau kabur aja, malu Mama Pa."


"Mama ngomong apa sih? tenang Ma, semua pasti ada jalan keluarnya. Kita tunggu saja."


"Nunggi sampai kapan Pa."


"Ma... Mama... Mama..." teriak Nathan.


"Mama disini Nathan..." jawab Mama.


"Ma... Nathan udah ketemu perhiasan dan cincin sesuai keinginan Kanayah."


"Gak mungkin, kamu kan gak dekat dengan Kanayah."

__ADS_1


"Ma... liat dulu, apa yang Nathan bawa." Nathan pun mengeluarkan isi kotaknya.


Mata Mama membulat dengan mulut menganga membentuk huruf O.


"Nathaaan... kamu nemuin ini dimana?"


"Nathan yang pesan di toko perhiasan Ma, dan Mama tau. Ini keluaran terbaru dan limited editiom, sebab cuma ada satu."


"Maksudnya?"


"Nathan bilang pada pegawai itu untuk tidak lagi membuat yang seperti ini. Biarkan ini menjadi satu-satunya." ucap Nathan bangga.


"Bagus Nath, untuk menantu Mama memang tidak boleh sembarangan dan pasaran. Harus berbeda dari yang lainnya." lanjut Mama.


Papa Nathan hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan istri dan anaknya.


Undangan telah disebar, seluruh keluarga besar Kendra juga telah hadir. Ilham datang beserta Medinah dan sikembar Alif dan Alfian serta sicantik Alika yang masih berusia dua tahun. Papa dan Mama Kendra juga hadir. Hanya tinggal Nanny dan Kakek yang masih dalam perjalanan, dijemput oleh asisten Kendra.


Kanayah masih berdiri di kamarnya, sesekali ia menarik napas dan menghembuskannya. Sebentar lagi adalah hari yang bersejarah untuknya, sebab mulai hari ini ia sudah memulai kehidupan baru nya dengan orang yang sama sekali tidak ia cintai. Karena cinta dan baktinya untuk kedua orang tuanya, Kanayah mau menerimanya. Kanayah juga akan berganti statusnya, dari Nona muda keluarga Kendra, menjadi Nyonya muda Jhonatan.


Ia hanya berharap Nathan akan bisa menerima segala kelebihan dan kekurangannya.


"Kamu sudah siap sayang?" kali ini Kendralah yang menjemput putrinya. Kanayah adalah putri kesayangan Kendra, ia hampir tidak percaya jika hari ini putri kecilnya ini akan menikah dan meninggalkannya.


"Sudah Dad..." jawab Kanayah menguatkan diri, ia tidak mau terlihat sedih didepan Daddy nya.


"Kita turun?"


Kanayah menganggukan kepalanya, Kendra menjemputnya dan memeluknya sesaat.


Kanayah menggandeng tangan Daddy nya dan turun ke bawah. Kanayah belum dibawa turun dan di tempatkan disebuah ruangan, hanya bisa melihat dari layar monitor yang terpasang.


"Kamu tunggu disininya sayang." ucap Kendra lembut kemudian mengecup kening putrinya.


Kanayah mengangguk, setelah Daddy Kendra pergi, masuklah Zavira dan Kirana menemaninya.


"Nay...." sapa Zavira.


Kanayah menoleh sekilas, kemudian kembali menatap monitor.


"Iya..." sahutnya.


Zavira dan Kirana menahan tawanya.


"Walau pun umurnya tua, tapi masih kelihatan macho dan keren ya Nay?" lanjut Zavira.


Kanayah tersenyum. "Iya..."


"Kalau dilihat dari bentuknya, pasti tubuhnya proposional. Kekar gitu."


"Iya..." Kanayah membulatkan matanya, ia baru tersadar dikerjai oleh kedua saudarinya.


"Lu bedua yaa..."


Gelak tawa pecah mengisi ruangan dimana hanya ada mereka bertiga.


"Tapi gue gak bohong Nay, Nathan emang tampan kok. Cuma yaa...."


"Cuma apa? tua..."


"Bukan Nay.... bukan tua, tapi umurnya lebih banyak dari kita."


"Emang umurnya Nathan berapa?" tanya Zavira.


"35.." jawab Kanayah.


"Kamu?"


"20."


"Ya Allah beda 15 tahun Nay?" ucap Zavira.


"Memangnya kenapa, Daddy sama Ummi beda 10 tahun. Tapi lihat meski Daddy hampir 50, tapi Daddy masih tampan dan berkharisma kan?" puju Kirana.


"Tapi ada benarnya juga, katanya kalau kita dapat suami yang umurnya lebih tua dari kita, dia pasti akan lebih sayang ke kita."

__ADS_1


"Gitu ya Za, aku sama Kak Facri beda 7 tahun, kamu sama Kak Kiano beda 4 tahun. Pantesan."


"Pantesan apa Na?"


"Kak Fachri makin sayang sama gue."


Kanayah memutar matanya malas.


Tidak lama kemudian seorang utusan menjemput Kanayah keluar.


Kirana dan Zavira mendampingi Kanayah, disambut oleh Ummi Hummairah yang langsung memeluk putri bungsunya.


Semua mata menatap ke arah bidadari keluaga Kendra. Kendra tidak kuasa menahan harunya, air matanya tanpa terasa mengalir dipipinya. Ilham, Papa, serta Kakek yang telah tiba memeluknya.


Kanayah di dudukan disamping Nathan yang menyambutnya. Setelah Nathan menyematkan cincin dijari manis Kanayah, Nathan pun mengecup kening Kanayah. Momen itu langsung di abadikan oleh keluarga besar mereka.


Acara sungkeman menjadi suasana haru biru. Kendra memeluk erat putri kesayangannya, kali ini tangis Kanayah pun pecah. Ia sudah tidak bisa lagi menahan sedihnya, menangis dalam pelukan Daddy nya menjadi satu-satunya jalan meluapkan emosinya yang sudah beberapa hari ini ia tahan.


"Maafin Daddy Nay, Daddy jahat sama Nay." bisik Kendra kemudian mencium kening dan kedua pipi Kanayah, kemudian kembali memeluknya.


"Nay juga minta maaf, jika selama ini Nay selalu bikin Daddy kesal dengan tingkah Nay."


Nathan tersenyum terharu mendengar ucapan Kanayah.


Kini giliran Nathan, setelah mencium tangan. Kendra pun memeluknya.


"Jaga putri ku Nath, jika sekali saja kau menyakitinya. Aku akan mencarimu hingga kau tidak tau lagi harus bersembunyi dimana." bisik Kendra.


"Aku berjanji, aku tidak akan membiarkan setitik pun air mata Kanayah jatuh karena aku."


"Aku pegang janji mu."


Setelah menyalami seluruh keluarga besarnya, tibalah mereka semua berangkat ke hotel untuk mengadakan resepsinya.


Banyak tamu yang hadir baik dari pihak Kendra maupun keluarga Nathan. Hampir semuanya dari kalangan pengusaha.


Nathan menatap Kanayah, yang mulai mengeluarkan keringat dingin, ia pun mendekatinya.


"Kamu lelah?" tanya Nathan lembut.


Kanayah hanya mengangguk, Nathan mengeluarkan sapu tangannya, kemudian mengelap keringat diwajah Kanayah.


"Duduklah, atau kamu masuk dan istirrahat saja. Biar aku yang akan melanjutkannya."


"Tidak...."


"Jangan membantah Nay." ucap Nathan tegas.


Kanayah terkejut mendengar suara tegas Nathan.


"Aku akan mengantarmu ke atas." lanjutnya.


"Tidak usah... aku bisa sendiri."


"Aku yang akan mengantarkanmu." suara dominnan memerintah dan tidak bisa ditolak.


Kanayah menurut, Nathan pun mengantarkan istrinya ke atas.


"Ganti pakaianmu dan mandi dengan air hangat." ucap nya lembut. "Aku akan kembali ke bawah."


Kanayah menganggukan kepalanya, Nathan mengecup kening Kanayah. Mata Kanayah membulat saat mendapat perlakuan manis dari Nathan.


Nathan pun kembali ke pesta dan bergabung dengan yang lainnya.


Setelah acara selesai, Nathan pun kembali ke kamarnya. Ia melihat Kanayah telah tertidur, ia masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri.


Dua puluh menit kemudian Nathan keluar dan segera memakai pakiannya. Ia memakai kaos dan boxer nya, kemudian naik ke ranjang dan berbaring disamping Kanayah.


Nathan menatap wajah Kanayah yang terlelap, ia mengecup keningnya kemudian tidur sambil memeluk Kanayah.


"Aku berjanji akan menjaga kamu Nay, kamu akan jadi satu-satunya wanita dalam hidupku. Aku akan membahagiakan kamu Nay, itu janji ku." ucap Nathan dalam hati.


Nathan pun memeluk erat Kanayah dalam dekapannya dan mulai memejamkan matanya.


bersambung.

__ADS_1


__ADS_2