
Di kamarnya, Kiano masih asyik berkutat dengan laptopnya.
Ia sedang serius mengejar beasiswa ke Amerika, dan masuk universitas favoritnya.
Tidak lama kemudian terdengar suara deruman mobil, Kiano berjalan mendekati jendela kamarnya.
Kiano melirik jam di dinding kamarnya, tepat pukul dua belas malam.
"Daddy, baru pulang jam segini. Gak biasanya Daddy kayak gitu, tapi akhir-akhir ini Daddy kelihatannya lebih sibuk dari biasanya. Apa di kantor ada masalah ya." Kiano pun kembali melanjutkan aktifitasnya.
Kendra dan Hummairah sedang menikmati waktu intim berdua.
Kendra masih memeluk pinggang Hummairah dengan posesife nya, sesekali ia melabuhkan kecupan hangat dan gigitan kecip di pundak Hummairah.
Hingga akhirnya Hummairah memberanikan diri membuka suara, dan mencoba bertanya.
"Mau aku pijit?" tanya Hummairah hati-hati.
Kendra tersenyum dan mengangguk.
"Berbaliklah, aku akan memijit punggung mu."
Kendra pun memutar tubuhnya menjadi membelakangi Hummairah.
Hummairah pun perlahan mulai memijit lembut pundak Kendra.
Setelah memastikan Kendra telah relax, baru lah Hummairah membuka suara.
"Mas, apa di kantor ada masalah?" tanya Hummairah lembut.
"Sedikit."
"Apa serius?"
Kendra tidak menjawab, Hummairah hanya tersenyum.
"Mas, dalam hubungan suami istri itu harus saling berbagi, baik itu susah tau pun senang. Dan tugas istri itu mendengarkan semua keluh kesah dari suaminya. Jadi jika kamu ada masalah jangan ragu untuk berbagi dengan ku, aku istri mu bagaimana pun hanya aku yang akan mengerti dengan keadaan kamu, dan siapa kamu baik luar maupun dalam." jelas Hummairah.
Kendra masih diam, mencerna setiap ucapan istrinya. Tidak lama kemudian terdengar helaan nafas panjang.
"Ada masalah di perusahaan, aku di tipu." aku Kendra.
Hummairah terdiam, kemudian kembali melanjutkan aktifitasnya.
"Seorang yang baru aku kenal menawarkan kerja sama, maka ia menyuruh ku menginvetasikan sebagian dari dana perusahaan pada nya. Setelah dia meyakinkan aku dengan program-progam nya, aku pun mulai tertarik dan aku pun menginvestasikan separuh daru dana perusahaan padanya." Kendra kembali tercegat dengan kata-kata nya, terdengar kembali helaan nafas panjang Kendra.
"Dan beberapa hari berikutnya, aku tidak bisa menghubunginya, bahkan kemarin pun aku menyuruh Ifan menghubungi asisten nya, sudah tidak bisa. Mereka hilang bak ditelan bumi, tanpa jejak tanpa bekas."
"Berapa banyak kerugian yang harus di ganti?" tanya Hummairah.
"Seluruh simpanan kita untuk masa depan anak-anak, dan beberapa yang tersisa di kas perusahaan. Itu yang tersisa, bahkan untuk menggaji seluruh karyawan bulan ini aku bingung dari mana mendapatkan tambahan nya."
Hummairah terkejut mendengarkan cerita dari suaminya.
Ia bisa membayangkan bagaimana stress nya ia jika harus berdiri di posisi Kendra saat ini.
"Kita udahan yuk, aku udah kedinginan. Lagi pula ini udah malam, kan kamu besok mesti ke kantor lagi." pujuk Hummairah pada pada suaminya.
Hummairah sengaja mengalihkan pembicaraan, agar Kendra tidak lagi memikirkan masalah. Membawanya tidur dan istirahat adalah jalan terbaik untuk Kendra saat ini, agar ia merasa lebih tenang dan sejenak melupakan masalah nya.
Setelah mengeringkan badan, Hummairah menarik tangan Kendra naik ke atas tempat tidur.
Kali ini ia yang berinisiatif membawa Kendra tidur dalam pelukannya. Kendra pun hanya diam dan meuruti perintah istrinya.
"Tidurlah mas, jangan pikirkan masalah itu lagi. Biar besok kita pikirkan bagaimana cara nya menyelesaikan masalah ini, aku juga akan membantu mu keluar dari masalah ini." hibur Hummairah sembari memeluk Kendra.
Kendra yang telah merasa nyaman pun mulai memejamkan matanya, dan secera perlahan masuk kedalam mimpi.
Rasa kantuk pun melanda Hummairah, setelah memastikan suaminya telah terlelap ia pun memejamkan mata.
Pagi hari di mansion Kakek yang tak pernah sepi sejak kehadiran si kembar.
Tapi akan terasa lebih heboh jika kedatangan anak-anak Kendra dan Hummairah.
Tidak seperti biasanya Medilah lebih sibuk hari ini, sebab ia akan menjemput Ilham di bandara.
Ilham akan tiba tengah hari nanti.
"Kamu yakin ingin menjemput suami mu sendirian Me?" tanya Nanny.
"Iya Ma, lagian Papa nya anak-anak juga gak bawa banyak barang." jawab Medinah.
"Papa pulang hari ini Ma?" tanya Alif.
"Iya sayang. Cepat habiskan sarapan nya, sebentar lagi jemputan datang." ujar Medinah.
Si kembar pun segera melahap habis sarapan nya.
"Me, apa Ilham tidak memberitahu mu kabar disana?" tanya Nanny lagi.
"Gak Ma, memang kenapa Ma?"
" Tidak, Mama kira Ilham ada memberitahu mu sesuatu."
Medinah bingung dengan ucapan mertuanya.
Tak lama kemudian mobil jemputan si kembar pin datang, mereka pun berpamitan pada Kakek dan Nanny.
Medinah mengantarkan si kembar ke depan pintu.
Didalam mobil hanya ada Kirana dan Kanaya, tak terlihat Kiano di dalam sana.
"Dimana Kak Kiano?" tanya Medinah pada Kirana.
"Kakak sedang mabuk Ma." jawab Kirana santai tanpa beban.
"Mabuk? Apa dia sakit sayang?" tanya Medinah cemas.
"Bukan mabuk Ma, Kakak sedang mabuk cinta Mama."
__ADS_1
Mata Medinah membulat tidak percaya.
"Sudah Ma, nanti saja Mama tanya Kak Kiano kalau mau tau lebih jelasnya, kita berangkat sekolah dulu ya. Assalammu'alaikum." pamit Kanaya.
"Waalaikumsalam."
Hummairah membongkar laci lemari nya, ia mencari sesuatu disana. Kendra yang baru keluar dari kamar ganti tampak memperhatikan gerak gerik istrinya.
Kendra mendekati istrinya perlahan, dan dengan sigap memeluknya dari belakang.
"Aaaa...." pekik Hummairah kaget.
"Nyari apa sih, dari tadi bolak balik?" tanya Kendra.
"Mas, aku kaget tau."
Kendra masih enggan melepaskan pelukannya.
"Kamu nyari apa?" Kendra mengulang pertanyaan nya.
"Sebentar..... ini dia. Lepasin dulu, kita duduk nanti aku kasi tau." Hummairah memberi tahu Kendra.
Kendra pun melepaskan pelukannya dan menguikuti Hummairah dari belakang.
Mereka duduk di sofa kamarnya, dan Hummairah memperlihatkan sesuatu.
"Ini mas." Hummairah memberikan sebuah amplo coklat.
"Apa ini sayang?" Kendra bingung.
"Buka aja."
Perlahan Kendra pun membuka dan mengeluarkan isi amplop tersebut.
Setelah memeriksa nya satu persatu, Kendra amat terkejut dengan isi amplop tersebut.
"Sayang ini....."
"Ini tabungan aku, dan ini bukan tabungan untuk milik anak-anak kita. Ini milik aku pribadi."
"Tapi sayang ini untuk apa?"
"Ini untuk bayar gaji para pegawai bulan ini."
"Gak sayang...."
Kendra dengan tegas menolak.
Bukan Hummairah nama nya jika tidak bisa mencairkan hati pria sedingin Kendra.
"Dengarkan penjelasan ku dulu." Hummairah menangkup wajah Kendra.
"Mungkin ini tidak sebanyak yang kamu butuhkan, tapi setidaknya ini bisa mengurangi jumlah yang banyak tadi."
"Tapi sayang..... "
"Sayang ini milik kamu. Kamu gak seharusnya kayak gini, aku masih bisa menangani nya."
"Dan membiarkan kamu pulang malam setiap hari, dan tidak dapat beristirahat dengan tenang dirumah? Gak, aku tidak mau. Aku mau kamu pakai uang ini dan bayar gaji karyawan secepatnya." ucap Hummairah tegas.
Kendra terkejut mendengar penuturan istrinya.
"Sayang, kasi aku jawaban yang jelas dari mana kamu bisa dapat uang sebanyak ini?"
Hummairah tersenyum, kemudian menceritakan semuanya pada Kendra.
Sebenar nya sejak pertama kali ia menikah dengan Kendra, Kakek, Nanny, Mama, Papa Kendra selalu memberikan nya uang saku setiap bulan, dengan nominal yang berbeda setiap orang nya.
Awal mulanya Hummairah ingin mengumpulkan uang tersebut untuk biaya melanjutkan pendidikannya.
Tapi ia tidak menyangka jika biaya kuliahnya juga di biayai oleh keluarga suaminya, padahal saat itu sang suami tidak ada disisi nya.
Kemudian Hummairah juga berjuga berfikir untuk modal Ayahnya beternak dan budidaya ikan di kampunh, itu pun juga keluarga mertuanya yang membantu. Hingga akhirnya Hummairah memutuskan uang nya akan dipakai untuk ongkos haji sang Ayah, tapi sekali lagi Hummairah dibuat diam sebab itu juga di tangung oleh Kakek.
Kendra tercengang mendengar cerita istrinya.
"Dan seperti nya, mungkin ini waktunya untuk uang ini digunakan." ucap Hummairah
"Aku tidak kalau seluruh anggota keluarga ku teramat sangat sayang padamu." ujar Kendra.
"Kan aku menantu idaman." jawab Hummairah tertawa renyah.
Kendra pun tertawa mendengar pengakuan narsis istrinya.
"Narsis sekali." ucap Kendra.
Membuat Hummairah terkekeh.
"Tapi serius lho mas, pakai ini aja untuk membayar gaji para karyawan. Tak lama lagi tanggal gajian mereka, dari maa kamu akan mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat."
Kendra tampak menimbang sebelum mengambil keputusan.
"Sudah jangan dipikirkan lagi, yang terpenting gaji karyawan mas. Mereka punya keluarga yang selalu menunggu mereka pulang membawa sesuatu saat tanggal itu. Lagi pula akan membutuhkan waktu lama untuk mencairkan uang sebanyak itu di bank."
"Tapi juga akan repot kalau harus mentransfer satu persatu ke rekening mereka sayang." jelas Kendra.
"Kasi pakai amplop aja mas, kan beres."
"Tapi sayang, mereka pasti akan bertanya kenapa."
"Gak akan, jika aku yang bagikan." ucap Hummairah santai.
Kendra hanya menggelengkan kepalanya, ia akan menuruti ide dari istrinya.
Karena selama ini dia tahu bahwa apa yang Hummairah katakan hampir semuanya benar.
"Eh, mas satu hal lagi." ucap Hummairah tiba-tiba.
"Apa?"
__ADS_1
"Jangan sampai masalah ini sampai diketahui baik Kakek, Nanny, Papa dan Mama. Aku tidak mau sampai mereka sedih, aku mau di usia senja mereka menikmati kehidupan tanpa adanya beban."
"Baiklah."
"Ayo kita turun, kasian anak-anak udah nungguin." Hummairah pun menarik tangan Kendra.
Tapi Kendra menarik kembali tangan Hummairah, hingga masuk dalam pelukannya.
Kendra menghadiahi wajah istrinya dengan ciuman bertubi-tubi.
"Mas, udah....." pinta Hummairah
Kendra pun menghentikan aksinya.
Tapi tidak juga melepaskan pelukannya.
"Terimakasih ya." ucap Kendra.
"Untuk apa?"
"Terimakasih untuk selalu ada untuk ku, selalu menemani di saat tersulit sekalipun, mau menjadi istri dan Ibu dari anak-anak ku, aku mau kita menghabiskan waktu di hari tua nanti bersama." ujar Kendra sambil menangkup wajah istrinya.
"Iya, aku juga mau berterimakasih, sebab kamu mau menerima aku gadis kampung yang bodoh ini jadi istri mu. Aku merasa beruntung bisa dapat suami dan keluarga seperti keluarga ini."
"Aku yang beruntung mendapatkan dan menjadikan kamu istri ku, kamu wanita baik, pintar, dan sholehah yang pernah aku kenal.
Hanya kamu yang bisa menghadapi ego nya aku, dingin nya aku, serta keras nya aku. Aku selalu kalah dihadapan kamu sayang, aku tidak berkutik jika sudah kamu yang berbicara. Aku menyesal dulu udah jahat sama kamu, tapi kamu selalu berbuat baik padaku."
"Aku kan udah bilang, aku di ajarkan untuk selalu berbuat baik, meskipun orang itu pernah jahat padaku."
"Aku makin sayang, makin cinta sama kamu." rayu Kendra.
"Aku tau." jawab Hummairah tertawa bangga.
"Boleh dong kita bikin satu lagi Kendra kecul, untuk temannya Kiano." bujuk Kendra.
"Aah, jangan sekarang nanti saja anak-anak udah nungguin di bawah ayo." Hummairah menarik tangan Kendra untuk keluar dari kamar dan turun kebawah.
Sampai dibawah hanya tinggal Kiano dan Kakek nya.
"Lho kok tinggal berdua?" tanya Hummairah.
"Kirana dan Kanaya udah berangkat duluan, mau pamit takut terlambat kalau harus menunggu Ummi dan Daddy nya turun." jawab Ayah.
"Kamu Ki, kenapa belum berangkat. Ini kan sudah terlambat sekali." tanya Hummairah.
"Kiano kan udah free Mi, udah selesai ujian. Jadi mau datang terlambat juga gak masalah." jawab Kiano.
"Lantas kamu nunggu siapa?" tanya Hummairah lagi.
"Nungguin Daddy."
Kendra menatap putranya sejenak, kemudian melanjutkan sarapannya.
"Ngapain nunggu Daddy?"
"Mau nebeng sampai halte."
"Itu kan lain arah kesekolah kamu Ki. Ayo jujur sama Ummi ada apa ini?"
Kiano hanya tersenyum tidak menjawab pertanyaan Ibunya.
Tapi Kendra yang paham, akhirnya menengahi ketegangan itu
"Sayang aku udah selesai, ayo Ki kalau mau nebeng Daddy." aja Kendra pada putranya.
Hummairah hanya menggeleng tidak mengerti.
Ayahnya hanya tersenyum.
"Apa Ayah tau sesuatu?" tanya Hummairah yang mendapati Ayahnya tersenyum diam-diam.
"Tidak." jawab Ayah singkat kemudian berjalan menuju taman belakang tempat favorit Ayah di pagi hari.
Kiano tiba di halte, tapi ia tidak melihat Kayla lewat didepan halte tersebut. Akhirnya ia pun memutuskan untuk naik kendaraan umum menunu sekolah.
Sampai di sekolah, Kiano langsung menuju kantin karena biasa nya Kayla ada disana.
Benar dugaan Kiano, Kayla sedang duduk sendiri menikmati makanan yang ia pesan.
Kiano pun segera menghampiri dan duduk di kursi depan Kayla.
"Aku duduk sini ya." ucap Kiano meminta ijin.
Kayla hanya diam dan tetap fokus menikmati pesanannya.
Kiano pun segera memesan minuman untuk dirinya sendiri.
Kayla masih tidak menghiraukan keberadaan Kiano, ia masih asyik dengan dirinya sendiri.
Kayla terlalu malas meladeni pria dihadapan nya ini, ia tidak mau jika nanti Sarah dan teman-teman nya kembali datang dan membuat keributan.
Tapi Kiano yang penasaran tidak betah berlama-lama berdiam diri tanpa mendengar suara gadis disampingnya.
Saat mereka asyik dengan kediaman, tiba-tiba Sarah datang dan menghampiri meja mereka.
Sebenarnya Sarah telah dahulu memperhatikan langkah Kiano dari pintu gerbang tadi, ia pun diam-diam mengikuti Kiano hingga ke kantin dan duduk di samping Kayla.
Sarah sudah tidak mau mencari masalah dengan Kayla, bukan dia takut atau apa. Terlebih Sarah sudah terlanjur malu karena sudah di dipermalukan oleh Kayla di kantin kemarin.
Jadi saat ini Ia hanya mencaru jalan aman, dengan cara membawa Kiano jauh dari Kayla.
Sarah dab Kiano telah berteman dari mereka duduk di bangku SMP, dari semenjak itu pula Sarah sudah menyukai Kiano.
Dan kebetulan orang tua Sarah juga berteman baik dengan Kendra.
Sebab itulah Sarah selalu mengaku didepan teman-teman nya kalau ia dan Kiano adalah sepasang kekasih yang telah di jodohkan.
Bersambung
__ADS_1