
"Mas." panggil Hummairah lembut pada
suaminya yang masih berada diruang ganti.
"Ya sayang, ada apa?" tanya Kendra sembari mendekati istrinya kemudian memeluknya.
"Ini." Hummairah memberikan sebuah buku tabungan lagi.
"Apa ini sayang?" tanya Kendra bingung.
"Ini tabungan aku, dari penghasilan hotel kita." jawab Hummairah menjelaskan.
"Tapi untuk apa?" tanya Kendra masih bingung.
Hummairah melepaskan pelukan suaminya dan mengajak pria itu duduk disofa.
"Mas, aku tahu uang yang dari aku kemarin tidak cukup untuk menutupi kerugian uang perusahaan. Jadi, lebih baik kamu pakai ini untuk menutupi kekurangannya, dan sisa nya bisa kamu simpan sebagai dana cadangan perusahaan." jawab Hummairah menjelaskan.
"Tidak sayang, yang kemarin cukup." ujar Kendra berbohong.
"Akting bohong kamu jelek mas." jawab Hummairah. " Mas, kita ini suami istri apa salah nya kamu jujur sama aku." lanjut Hummairah.
Kendra terdiam dia memang tidak bisa menyembunyikan apa pun pada wanita yang telah menemaninya selama belasan tahun ini.
Kendra menarik napas panjang, kemudian mengembuskan perlahan.
"Sayang, kamu gak perlu lakukan semua ini. Aku masih bisa mengatasinya, aku bisa mengajukan pinjaman ke bank." jelas Kendra.
"Kalau mengharuskan kamu meminjam uang pada bank, aku tidak setuju. Lebih baik kamu gunakan uang ini untuk menutupinya." ujar Hummairah tegas.
"Tapi itu uang milik kamu, dari usaha yang Kakek berikan pada kamu untuk Kiano dan adik-adiknya nanti. Lagi pula sewajibnya aku yang memberi mu bukan sebalik nya." jelas Kendra.
"Mas, aku ingatkan sekali lagi. Kita ini suami istri, uang kamu memang juga milik ku dan kamu wajib memberikan hak ku, dan uang aku tetap menjadi milik ku. Tapi apa aku akan membiarkan suami ku dalam masalah sulit seperti sekarang ini. Mas jangan egois, aku tidak akan membiarkan kamu melewati masa krisis ini sendirian."
"Kami juga ada disini Dad." ucap Kiano tiba-tiba.
Kendra dan Hummairah terkejut mendengar suara dari balik pintu kamar mereka, yang lupa mereka tutup rapat. Kiano, Kirana, dan Kanaya masuk kedalam kamar orang tuanya.
Kiano, Kirana, dan Kanaya tidak sengaja mendengarkan pembicaraan kedua orang tuanya. Mereka pun kini mengerti mengapa Daddy nya sering pulang tengah malam.
Mereka pun kembali ke kamar masing-masing dan mengambil buku tabungan mereka.
"Dad, ambil ini dan gunakan untuk menjayakan kembali perusahaan Opa uyut." ucap Kiano menyerahkan buku tabungan miliknya pada Kendra.
"Milik Nana juga Dad, Nana juga belum membutuhkannya." ucap Kirana.
"Aya juga belum perlu, lebih baik Daddy pake aja dulu." Sambung si bungsu Kanaya.
Air mata Kendra menitik menyaksikan ketulusan putra putrinya. Kendra merangkul ke tiga buah hatinya kemudian memeluknya. Hummairah juga ikut memeluk suaminya.
"Inilah arti keluarga yang sesungguhnya mas." ucap Hummairah disela isak nya.
Kendra menganggukan kepalanya dan melepaskan pelukannya, kemudian menatap satu persatu buah cintanya.
"Kamu benar sayang, aku bangga menjadi Daddy dari anak-anak seperti mereka." ucap Kendra.
Saat mereka larut dalam suasana haru.
"Apa sudah selesai? Ini sudah hampir pukul tujuh, Aya sudah lapar sekali. Lagi pula Aya masih dalam masa pertumbuhan dan sekarang waktunya Aya memberi nutrisi untuk tubuh Aya." celetuk Kanaya.
Semua pun tertawa mendengar celetukan Kanaya. Diantara mereka bertiga bersaudara memang Kanaya yang selalu membuat anggota keluarganya tertawa.
"Baiklah, ayo kita turun sarapan dulu." ajak Hummairah.
Mereka pun turun kebawah menuju ruang makan dan sarapan bersama.
"Kamu gak kemana-mana hari ini sayang?" tanya Hummairah pada Kiano.
"Males Mi, enakan dirumah." jawab Kiano.
"Tumben...." celetuk Kirana.
"Apa sih anak kecil." ujar Kiano
Kirana hanya merucutkan bibirnya, Kiano tersenyum melihat ulah adiknya.
"Oh ya, Mi nanti siang jika ada yang datang nyariin Nana suruh masuk ya." pesan Kirana pada Ummi nya.
"Kamu ada janji sayang?" tanya Hummairah.
"Siapa tuh?" goda Kanaya.
Mata Kendra dan Kiano melotot kepada Kirana.
"Kirana ada pesan barang." jawaban Kirana membuat Kendra dan Kiano menyipitkan matanya, membuat Kirana tersenyum geli.
**************
Ilham ditemani Medinah menemui Kakek dan Nanny diruang keluarga, Ilham pun mulai menceritakan masalah yang terjadi di Swedia.
Nanny nampak kesal dengan ulah dari keluarga mendiang suaminya.
"Jadi baiknya kita bagaimana sekarang?" tanya Kakek.
"Ilham menyerahkan semua keputusan pada Nanny Kek, bagaimana keputusan Nanny."
"Tapi kalau menurut kamu bagaimana Ham?" tanya Nanny.
"Kalau menurut Ilham dan Medinah lebih baik kita serahkan saja pada mereka, kita juga tidak bisa memantau langsungkan. Dan lagi pula jika dari sekarang kita serahkan, mereka tidak akan menuntut lagi hak mereka." ucap Ilham.
Kakek dan Nanny saling menatap, kemudian kembali menatap Ilham dan Medinah.
"Kamu yakin?" tanya Nanny.
"Ilham yakin Ma." jawab Ilham.
"Baiklah, besok Mama akan terbang ke Swedia dan menyuruh pengacara kita membuat surat kuasa untuk mereka, dan juga surat perjanjian untuk mereka agar mereka tidak mengganggu kit lagi di kemudian." ucap Nanny.
"Mama ingin pergi sendiri?" tanya Medinah.
"Mau bagaimana lagi, apa kamu menemani Mama?" tanya Nanny pada Medinah.
Medinah melirik ke arah Ilham. Ilham tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Baiklah, Mama akan pesan tiket malam ini. Kamu persiapkan semuanya."
" Tapi bagaimana dengan si kembar?" tanya Ilham.
"Mereka pasti akan cariin kamu Baby, dan aku gak begitu paham dengan mereka." ucap Ilham.
"Bagaimana kalau panggil mereka kemari, dan kita bilang pada mereka." usul Nanny.
Ilham pun menyuruh salah satu pelayan untuk memanggil putra nya.
Tidak berapa lama mereka pun datang menghampiri keluarganya diruang keluarga.
__ADS_1
"Alif, Alfian besok Mama akan ikut Oma ke Swedia. Dan kalian kan tinggal sama Papa dan Opa uyut bagaimana?" tanya Medinah.
Alif dan Alfian saling berpandangan satu sama lain.
"Kita ikut gak boleg Ma?" tanya Alfian.
"Tidak boleh, ini bukan liburab. Oma lagi ada urusan dan Mama harus menemaninya." ujar Medinah memberi penjelasan pada putranya.
"Kita ke rumah Ummi Arah aja deh." ujar Alfian
"Iya Ma, kita ke rumah Ummi Arah. Disana kan ada Kak Kiano, disana juga ada Kakek Firman yang suka cerita sama kita." Alif membenarkan.
"Tapi sayang, nanti kasian Ummi Arah dia pasti kerepotan." jawab Medinah.
"Telpon dulu Ma, tanyain Ummi kita boleh gak mengungsi kesana." ujar si kembar.
Akhirnya Medinah menyerah dan menelpon Hummairah, Medinah pun bercerita dna Hummairah menyambut si kembar dengan senang hati. Setelah menjelaskan panjang lebar, akhirnya di putuskan bahwa si kembar akan di bawa ke rumah Hummairah.
Mereka berdua pun melonjak kegirangan, mereka pun naik ke kamar masing-masing untuk membereskan barang-barang mereka.
"Kakek juga mau ikut kerumah Kendra." ujar Kakek.
"Mas juga mau kesana?" tanya Nanny.
"Iya, aku sudah lama tidak maen kerumah mereka." ujar Kakek.
Si kembar pun turun dari kamarnya siap dengan bawaannya. Setelah siap mereka pun berangkat menuju Kendra.
***********************
Kiano sedang santai di balkon kamarnya, adik-adiknya sedang sibuk dikamar mereka. Daddy dan Ummi nya sedang bersantai di taman belakang dekat kolam renang.
Tiba-tiba mata Kiano menangkap sosok yang sangat ia kenali, Kiano terus mengamati sosok tersebut dari atas merasa cukup yakin Kiano pun turun menemuinya.
Dan benar dugaan Kiano, itu Kayla.
Gadis itu sedang berdiri di depan pagar rumah dan sedang di introgasi oleh satpam rumah. Kiano pun segera menelpon pos satpam, memberitahu agar satpam membiarkan gadis itu masuk.
Kayla pun melajukan motor nya masuk ke halaman rumah besar itu. Kayla begitu mengagumi rumah besar itu. Kiano masih mengintai dari kamera pengawas rumah yabg terpasang disetiap sudut.
Kayla memencet bel tapi Kiano sengaja belum membukakan pintu untuk Kayla, wajah Kayla mulai terlihat kesal,tapi Kiano sengaja mengerjai nya.
Hingga akhirnya Kiano pun membuka pintu rumah nya.
Saat pintu terbuka wajah Kayla yang awalnya senyum berubah menjadi tercengang. Mulut Kayla menganga melihat siapa yang ada dihadapannya.
"Kamu, kok ada disini?" tanya Kayla heran.
"Kenapa? Gak boleh aku ada disini?" jawab Kiano.
Kenapa hidup gue harus berputar disekitar cowok ini sih.....
"Hallo..." Kiano mengibas-ngibaskan tangannya. "Melamun?"
Kayla menarik napas mencoba menahan rasa kesalnya pada Kiano. "Gue nyari yang namanya Kirana, dia pesan baju sama gue." jelas Kayla.
"Oh.... dia.... "
"Ada tamu Ki?" tanya Ummi nya.
"Iya Mi." jawab Kiano.
"Siapa?"
"Calon menantu Ummi." jawab Kiano lantang.
Kiano terkekeh senang, ia berhasil membuat Kayla kembali kesal.
"Suruh masuk sayang, kasian diluar panas." ujar sang Bunda.
"Ayo masuk." ajak Kiano.
"Gak terimakasih, gue cuam mau nganterin pesanannay Kirana." elak Kayla.
"Kalau mertua nyuruh masuk itu ya masuk." ucap Kiano lagi. Dan kali ini berhasil membuat wajah Kayla memerah.
"Siapa sayang?" tanya Hummairah pada Kiano dan menghampiri putranya.
"Ini yang dipesan Kirana tadi." jawab Kiano.
"Oh... masuk dulu Nak, ayo!" ajak Hummairah.
"Gak makasih Tante saya....." ucapan Kayla terpotong oleh Kiano.
"Mau jadi menantu yang baik gak, dengerin mertuanya." ucap Kiano terkekeh.
Mata Kayla kembali melebar dan melotot kepada Kiano.
Pemuda itu tertawa, dia puas telah mengerjai Kayla. Hummairah hanya bisa menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
Kayla pun masuk mengikuti langkah Nyonya rumah. Kayla mengagumi interior rumah itu, tapi mata Kayla tertarik pada photo seorang wanita berjilbab menggendong bayi laki-laki.
Semua orang bisa menebaknya itu adalah Kiano.
"Kak Kayla." sapa Kirana.
Kayla tersenyum melihat Kirana yang turun dari tangga.
"Udah datang barangnya Kak?" tanya Kirana
"Iya, ini." jawab Kayla memberikan bungkusan paket pada Kirana.
Dengan sumringah Kirana menerima bungkusan itu. Kiano diam-diam memperhatikan Kayla dari dalam, dan perhatian Kiano itu diketahui oleh Ummi nya.
"Na, suruh Bibi bikinin minum untuk tamu nya." perintah Hummairah.
"Gak usah Tante, saya udah mau pulang kok." tolak Kayla sopan.
"Gak apa-apa sayang, ayo duduk dulu kita minum yang segar-segar." ajak Hummairah
Kayla menggaruk leher tidak gatal, Kiano tersenyum melihat ulah gadis itu.
Mereka pun berbincang hangat, Kayla sudah bisa menyesuaikan diri saat sedang berbicara dengan Hummairah. Mata Kiano tidak luput sedetik pun dari wajah Kayla.
Saat sedang asyik nya berbincang, terdengar bel pintu berbunyi.
Kiano berjalan keluar dari dalam.
"Biar Kiano aja Mi." ucap Kiano berjalan sembari menjerling pada Kayla.
Kiano pun membuka pintu dan terlihat keluarga besar keduanya sudah tiba.
"Mi, ada Mama Medinah dan Papa Ilham." teriak Kiano.
"Suruh masuk sayang, duduk dulu jangan kemana-mana." perintah Hummairah.
__ADS_1
Hummairah pun menemui mereka di ruang tamu utama.
"Kendra dimana Ra?" tanya Ilham.
"Ada di belakang Ka, masuk aja." jawab Hummairah memberitahu.
Ilham pun berjalan masuk kedalam menemui Kendra.
Ilham melirik Kiano dan Kayla yang duduk diam.
Kayla salah tingkah karena hanya tinggal berdua bersama kiano.
Aduh......
Gue jadi terjebak disini, mana si Kiano nyebelin lagi.
Kiano menghampiri Kayla yang sedang gelisah.
"Kamu mau pulang?" tanya Kiano.
Kayla menganggukan kepalanya.
Kiano tersenyum tipis.
"Ayo!" ajak Kiano.
"Kemana?" tanya Kayla.
"Ke kamar ku." jawab Kiano asal.
Plaak....
Kayla menampar lengannya, Kiano meringis mengusap lengannya yang terasa pedas.
"Sakit tau, becandanya kelewatan." jawab Kiano meringis.
"Kamu tuh yang becandanya kelewatan." kesak Kayla.
Kiano tersenyum dan berjalan ke arah depan dan diikuti Kayla dari belakang.
Melihat Kayla berjalan mendekat Hummairah pun bertanya.
"Mau kemana sayang?" tanya Hummairah.
"Kayla mau pulang Mi." jawab Kiano.
Ilham, Medinah, Kakek, dan Nanny saling berpandangan, kemudian melihat wajah Kiano penasaran dna penuh tanya
"Siapa dia sayang?" tanya Nanny pada Hummairah.
"Calon mantu Ummi dan Mama Oma." celetuk Kiano.
Plaak.
Tangan Kayla reflek menampar lengan Kiano lagi, Kiano meringis sambil tersenyum.
Hummairah hanya menggelengkan kepalanya.
"Saya pamit dulu Tante." pamit Kayla mencium tangan kesemua anggota keluarga, Hummairah juga memperkenalkan satu persatu anggota keluarganya.
Setelah selesai berpamitan, Kayla pun undur diri, Kiano mengantarnya ke depan.
"Gue pamit pulang dulu ya." ucap Kayla kikuk.
"Ngomongnya jangan pakai lu gue dong, gak enak denger nya." pinta Kiano.
"Mau nya pakai apa? Pakai ayam biar enak?" jawab Kayla asal.
Kiano terkekeh dan menggelengkan kepalanya.
Kayla pun menyalakan motornya.
"Gue pulang ya."
"Tuh kan pake gue lagi."
"Jadi mau gimana?"
Kiano berjalan mendekat dan membetulkan helm yabg digunakan Kayla.
"Pake aku kamu dong." pinta Kiano halus.
Kayla terdiam mendengar permintaan Kiano dan mendapat perlakuan lembut darinya.
"Hati-hati ya." ucap Kiano lagi setelah memasangkan dengan benar helm Kayla.
Kayla hanya bisa menganggukan kepalanya, untuk menghilangkan rasa canggung. Kayla pun melajukan motornya dan menghilang dari balik gerbang utama.
Kiano berjalan masuk kedalam rumah kembali, dan bergabung dengan yang lain.
"Siapa gadis cantik tadi ki? tanya Kakek.
"Nama nya Kayla Opa, dia teman sekolah Kiano." jawab Kiano.
"Cuma teman, bukan calon mantu?" goda Kakek.
Kiano pun tertawa lepas di ikuti anggota keluarga yang lain.
"Kak Kiano gak bakalan berani deketin Kak Kayla kalau tau siapa keluarganya Kak kayla." ujar Kirana.
Semua terdiam, dan menatap Kirana.
"Koka gitu?" tanya Hummairah.
"Kak Kayla itu anak pensiunan Tentara, dia tiga bersaudara Kak Kayla anak paling bontot.
Kakaknya yang pertama seorang Brimob, yang kedua TNI. Kak Kayla bercita-cita pengen jadi Dokter." jelas Kirana.
"Sok tahu, kamu dapat dari mana?" ejek Kiano memancing adiknya agar bercerita lagi.
"Tahu lah, kan anak Kakak nya Kak Kayla yang Tentara itu kan teman sekolah Nana Kak." jawab Kirana.
"Terus, kamu pesan itu sama dia dari mana ngubunginnya?" tanya Kiano lagi.
"Nana kan ada nomer ponselnya."
Senyum Kiano terkembang di wajahnya.
*Bersambung.
berikan tanda cinta kamu untuk author dengan like dan komen disetiap episod nya,
jangan lupa juga Vote, dan boom lima bintang rate.
terimakasih
__ADS_1
**I LOVE U ALL***