
Kayla tidak sengaja bertemu Kiano disebuah Mall, tapi ia tidak berani mendekati Kiano. Ia terlalu malu untuk bertemu dan betatap muka dengan Kiano, setelah apa yang terjadi antara dirinya dan Kiano.
Kayla melihat Kiano keluar dari toko dan meneteng sebuah bungkusan, Kayla membalik tubuhnya agar Kiano tidak melihatnya.
Samar terdengar Kayla mendengar percakapan Kiano.
"Iya sayang, pesanan kamu udah aku beliin, nih aku lagi jalan pulang." Kiano melewati punggung Kayla, tanpa melihat kanan kiri Kiano berjalan lurus keluar Mall.
Kayla tersenyum lirih mendengar Kiano memanggil istrinya dengan sebutan sayang, dan ia juga membelikan pesanan istrinya.
"Betapa beruntung nya Zavira bisa menjadi istri Kiano." gumam Kayla.
Kayla pun melanjutkan langkahnya untuk berbelanja keperluannya.
.....
"Maaf Nyonya, ada tamu untuk Nona Kirana." ucap salah satu pelayan.
Kirana, Zavira berserta Ummi nya yang sedang bersantai di taman belakang.
"Kak Fachri Mbak?" tanya Kirana.
"Bukan Non, saya permisi dulu." pelayan itu pun berlalu setelah tugasnya selesai.
Kirana pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruang utama untuk melihat siapa yang datang.
"Salim." ucap Kirana terkejut.
"Assalamualaikum..." sapa Salim.
"Waalaikumsalam.." jawab Kirana singkat, ia masih terkejut dengan kedatangan Salim yang tiba-tiba ke rumahnya. Kirana tersenyum dan duduk di sofa dihadapan Salim.
"Apa kabar?" tanya Salim membuka pembicaraan.
"Alhamdulillah baik... kamu sendiri bagaimana?"
"Alhamdulillah semua baik... Oh ya, Aby dan Ummi mengirim salam untuk mu. Dan mereka mengatakan kapan lagi kamu akan berkunjung kesana." tutur Salim.
"Sepertinya aku tidak akan pergi kesana lagi." ucap Kirana serius.
"Kenapa?" tanya Salim terkejut.
Kirana terdiam sesaat, ia mengambil napas panjang. "Salim maaf.... aku sudah menjalin hubungan dengan seseorang, dan beberapa minggu yang lalu kami sudah proses lamaran. Dan beberapa bulan kedepan kami akan segera menikah."
Salim terkejut, raut wajahnya tampak kecewa. Tapi ia segera menyembunyikannya dengan senyum manisnya.
"Apa pemuda itu yang kemarin datang bersama orang tuamu saat kamu cidera kemarin?" tanya Salim ingin tahu.
Kirana hanya bisa menganggukan kepalanya.
Salim kembali tersenyum. "Beruntung sekali dia, bisa mendapatkan wanita baik dan sholeha seperti kamu, aku benar-benar terlambat dan kalah satu langkah."
Kirana tersenyum mendengar ucapan Salim. "Kamu juga baik... bahkan sangat baik, aku yakin akan ada banyak wanita baik diluar sana yang akan kamu temukan."
"Yah.... kamu benar, tapi tidak akan ada yang sesempurna dirimu." ucap Salim menghela napas.
Kirana menggelengkan kepalanya. "Aku tidak sebaik dan sesempurna itu, buktinya aku mengecewakanmu."
"Tidak.... seandainya aku lebih cepat kemarin mungkin aku yang akan kamu terima jadi pendamping kamu kelak."
Kirana tersenyum. "Kami telah mengenal cukup lama. Selama kami berjauhan, kami telah berkomitmen untuk selalu menjaga hati, dan dia juga berjanji padaku, saat aku selesai kuliah dia akan datang bersama orang tuanya."
__ADS_1
Salim tersenyum. "Salut untuk kalian."
Mereka pun terdiam hingga kedatangan seseorang dan membuyarkan lamunan mereka.
"Assalamualaikum..." ucap Fachri.
"Waalaikumsalam.." jawab Kirana dan Salim bersamaan.
Kirana tersenyum saat melihat kedatangan Fachri, dan Fachri pun membalasnya.
Tapi wajah Fachri kembali mengeras saat menatap Salim yang tersenyum melihat kecemburuan di mata Fachri.
"Pulang dari kantor Kak?" tanya Kirana.
"Gak, cuma ijin keluar sebentar. Ummi ada?" tanya Fachri.
"Ada dibelakang sama Zavira." jawab Kirana menunjuk ketaman belakang.
"Aku kedalam dulu ya." Fachri menatap Salim dan tersenyum datar.
"Apa dia...." tunjuk Salim
Kirana mengangguk dan tersenyum.
"Baiklah... aku pamit pulang ya." Salim beranjak dari duduknya.
"Kamu langsung pulang ke Kairo?" tanya Kirana.
"Ya, sebab tidak ada yang bisa membuat aku bertahan lebih lama lagi disini." jawab Salim tersenyum.
"Maaf...." ucap Kirana.
"Tidak.... tidak perlu meminta maaf, aku yang bersalah dalam hal ini."
"Ya..." jawab Salim singkat kemudian menjabat tangan Fachri erat.
"Baik, kita bisa sama-sama saya juga akan kembali ke kantor. Na, aku kembali ke kantor." ujar Fachri.
Kirana mengangguk dan tersenyum.
"Assalamualaikum..." ucap Salim dan Fachri bersamaan.
"Waalaikumsalam..." jawab Kirana tersenyum.
.....
"Selamat atas pertunangan anda dan Kirana Tuan Fachri..." ucap Salim memecah kecanggungan mereka.
"Terima kasih." jawab Fachri singkat.
"Anda sangat beruntung bisa mendapatkan gadis seperti Kirana."
"Aku tau." ujar Fachri singkat sembari tersenyum.
"Jaga dia selalu Tuan, jangan sampai senyum di wajahnya hilang. Sebab jika sekali saja senyum yang selalu terukir di wajahnya pudar karena anda, saya pastikan akan merebutnya dari tangan anda." tutur Salim jujur sembari tersenyum.
"Aku berjanji, aku akan tidak akan membiarkan anda merebutnya dari tangan ku." ujar Fachri.
"Sebaiknya begitu... Baiklah, saya pamit sampai ketemu lagi. Kalau pun diundang say pastikan akan datang pernikahan kalian." ucap Salim tulus.
"Pasti berikan kontak anda, saya sendiri yang akan langsung menghubungi anda jika tiba waktunya nanti." ucap Fachri.
__ADS_1
Mereka pun saling bertukar kontak, kemudian saling berjabat tangan. Kemudian Salim pun pergi meninggalkan kediaman Kendra dan kembali ke Kairo dengan perasaan kecewa, tapi ia tidak bisa memaksakan kehendaknya. Sebab ia percaya jika nanti akan ada hikmah dibalik semua ini. Mobil Salim pun kembali menuju bandara untuk langsung kembali ke tanah kelahirannya.
.....
Usia kandungan Kayla telah memasuki bulan ke sembilan, dan hanya tinggal menunggu waktu persalinan. Kayla sedang berbelanja membeli perlengkapan untuk bayi nya, ia telah mengetahui jenis kelamin bayi nya. Ia akan melahirkan bayi laki-laki, itulah ia berbelanja perlengkapan serba biru.
Mata Kayla kembali melihat pemandangan keluarga bahagia didepannya. Kembali ia melihat Zavira sedang berbelanja ditemani oleh mertua dan adik iparnya Kirana. Tanpa sengaja mata Kayla bertatapan dengan Kirana, gadis itu tersenyum padanya dan melambaikan tangannya. Kayla tersenyum dan menghampiri mereka.
Hummairah pun melihat kedatangan Kayla dan tersenyum. "Kamu belanja juga Kay?"
"Iya Mi." jawab Kayla tersenyum.
"Udah berapa bulan Kay?" tanya Hummairah lagi.
"Sudah bulan kesembilan Ummi."
"Oh yaa..." Hummairah berjalan mendekat dan mengelus perut Kayla. "Ummi doain, semoga persalinan nya lancar, bayi dan ibunya selamat dan sehat."
"Aamiin.." jawab yang lain bersamaan.
"Kamu udah berapa bulan Za?" tanya Kayla pelan.
"Masuk bulan ke tujuh Kak." jawab Zavira ramah.
Kayla melihat bentuk badan Zavira yang lebih berisi dari pada dirinya. Kayla tersenyum saat melihat Zavira yang sedari tadi mulutnya tidak berhenti mengunyah.
Saat Kayla larut dalam pikirannya sendiri, ia pun terkejut saat mendengar suara Kiano.
"Oh... pada disini, katanya tadi lagi makan." ucap Kiano.
"Kita semua masih kenyang, nih bumil lu nih sedari tadi gak berhenti makan, perut udah melendung gitu juga." celetuk Kirana.
"Biarin aja, dia makan apa yang dia suka. Ntar anak gue ileran gimana." seru Kiano tidak mau kalah. "Lu juga nanti kalau udah hamilnya pastu gini juga, gue pastiin si Fachri pasti kelimpungan ngadepin lu yang lagu ngidam."
Kiano mengecup pipi istrinya, Kayla sempat memalingkan wajahnya.
"Anak Daddy lagi ngapain ini." ujar Fachri mengelus dan mencium perut istrinya.
"Udah Kak, malu." ujar Zavira.
"Sama siapa, kan kamu istri aku." jawab Kiano santai.
"Tuh, ada temen kamu." Zavira menunjuk Kayla yang sedari tadi diam memperhatikan tingkah Kiano.
"Oh... hai, Kay apa kabar?" sapa Kiano ramah
"Baik.." jawab Kayla singkat.
Tiba-tiba Kayla mengalami kotraksi, hingga membuat panik semua orang.
"Kiano cepat bantu kita bawa Kayla kerumah sakit."
"Tapi Mi, kan Kiano bukan suaminya."
"Kiano kelamaan kalau kita panggil suaminya." ujar Hummairah.
"Kak, cepat Kak bantuin." tambah Zavira.
"Tapi kan aku bukan mahram nya sayang." elak Kiano lagi.
"Kak ini darurat, bukan saatnya pikirin muhrim atau bukan." cetus Kirana lagi.
__ADS_1
Akhirnya Kiano pun membawa Kayla kerumah sakit, besertia Ummi, istri,dan adiknya.
BERSAMBUNG