
Sudah hampir 3 tahun Kiano berada diluar negeri untuk menuntut ilmu, baru kali ini Kiano bisa pulang untuk liburan. Dan pada saat bersamaan Kayla juga sedang liburan, mereka memutuskan untuk kembali ke tanah air untuk menghabiskan waktu.
Kiano sedang membereskan barang bawaannya, tidak banyak yang Kiano bawa. Ia hanya membawa beberapa oleh-oleh untuk keluarganya. Fachri menghampiri Kiano yang sedang sibuk mengepak barang bawaannya.
"Kau jadi pulang hari ini Ki?" tanya Fachri yang duduk di sofa.
"Ya, kamu sendiri. Apa kamu tidak pulang liburan kali ini? Kamu tidak merindukan keluarga mu? tanya Kiano pada Fachri.
"Aku tidak tahu Ki, apa mereka masih menghargai kehadiran ku apa tidak. Sebab setiap aku pulang, hanya bibi pengasuh dan suaminya yang menyambut ku." Fachri menghela napas sedih.
Kiano merasa kasihan pada sahabat nya ini, maka Kiano pun memiliki ide untuk menghibur Fachri.
"Fachri, bagaimana jika kamu ikut pulang bersama ku." usul Kiano.
"Maksudmu pulang kerumah mu?" tanya Fachri lagi.
"Yup, kami bisa ikut aku pulang kerumah ku dan liburan bersama kami." lanjut Kiano.
"Tapi, keluarga mu. Apa mereka tidak keberatan dengan kehadiran orang lain di tengah-tengah mereka?"
"Keluarga ku semuanya welcome, jadi santai saja."
"Tapi, aku masih merasa tidak enak. Aku...." ucapan Fachri terpotong oleh Kiano.
"Kamu yakin gak mau ikut? Kamu gak penasaran sama Kirana?" Kiano menaikan alisnya dan tersenyum.
Fachri terdiam saat Kiano menyebut nama Kirana, Fachri memang merasa penasaran pada sosok Kirana. Nama gadis itu telah berhasil menguasai relung hati Fachri, meski Fachri belum pernah melihat dan bertemu secara langsung, tapi Kirana mampu mengalihkan dunia Fachri.
Fachri tersenyum tipis. "Ki, apa kamu serius jika aku ikut keluarga mu tidak akan merasa keberatan?" tanya Fachri lagi.
Kiano tertawa mendengar penuturan Fachri. "Apa kamu berubah pikiran?" tanya Kiano lagi.
Fachri tersenyum dan menganggukan kepalanya tanda setuju.
"Sekarang bereskan barang bawaan mu, kita akan berangkat siang ini." ucap Kiano.
Fachri pun bergegas menyiapkan perlengkapannya, Fachri tidak lupa memberitahu kepada pengasuhnya bahwa ia akan pulang liburan kali ini.
Setelah semuanya siap, Kiano dan Fachri segera menuju bandara.
.......
Hummairah telah bersiap menyambut kepulangan putra kesayangannya besok, ia akan memasak makanan kesukaan putranya.
Medinah dan Mama membantu Hummairah menyiapkan semuanya. Mama yang mendengar Kiano akan pulang lansung terbang dari Jerman.
"Kiano ikut penerbangan ke berapa Rah?" tanya Mama.
"Penerbangan pertama Ma, dari sana Kiano bertolak pukul 10 pagi ini. Dan kemungkinan akan tiba pada besok malam." jelas Hummairah.
Terpancar senyum bahagia di wajah Hummairah saat mendengar kabar kepulangan putranya.
"Sudah berapa lama Kiano tidak pulang Rah?" tanya Mama lagi.
"Tiga tahun Ma, dan selama itu putra Arah tidak pernah memeluk putra Arah Ma. Arah yakin ia pasti semakin tampan." Hummairah tersenyum membayangkan wajah putranya.
"Sayang...." panggil Kendra yang berada di dalam kamar.
"Rah, suami kamu manggilin tuh!" ucap Mama memberitahu.
Hummairah tersenyum dan berjalan menghampiri suaminya.
"Sayang...." panggil Kendra lagi.
"Ya Mas, aku datang." Hummairah pun masuk kedalam kamar dan mendekati suaminya.
"Semenjak berita Kiano akan pulang, kamu melupakan aku sayang." rungut Kendra.
Hummairah tersenyum. "Kamu cemburu pada anak sendiri Mas?" tanya Hummairah menggoda suaminya. "Ada apa? Apa ada yang kurang?" tanya Hummairah.
Kendra memeluk Hummairah dan menghujani wajah dengan ciuman.
Cup...
Cup...
Cup...
"Sudah... sudah, sudah cukup." Hummairah menghentikan kegilaan suaminya di pagi hari.
"Sudah siap?" tanya Hummairah.
"Oke..." Kendra pun menggandeng tangan istrinya dan keluar dari kamar.
Di ruang makan, Kanaya dan Oma nya telah duduk menunggu pasangan yang selalu mesra ini.
"Daddy sama Ummi kok lama sih, Naya udah laper Ummi." protes Kanaya.
"Baiklah sayang anak Daddy, kami minta maaf kita makan sekarang ya!" ucap Kendra mencium kening Kanaya.
Hummairah tersenyum melihat tingkah suaminya jika sudah berurusan dengan si bungsu Kanaya. Kanaya memang lebih dekat dengan sang Daddy, dari pada Ummi nya.
Tapi baik Kendra maupun Hummairah tidak pernah membedakan diantara ketiga anak-anaknya.
"Kirana belum pulang sayang?" tanya Kendra pada Hummairah.
"Belum, mungkin lusa baru pulang." jawab Hummairah.
"Sudah berapa lama Kirana pergi?" tanya Kendra lagi
"Hari ini pas satu minggu Mas." jawab Hummairah yang sambil menyiapkan bekal untuk Kanaya. Perut Kanaya memang sedikit lebih sensitif, jika salah makan maka Kanaya akan mengalami diare hebat dan berujung dirawat dirumah sakit.
Untuk itu baik Hummairah atau pun Kendra selalu menjaga jenis makanan untuk Kanayah.
"Nayah udah selesai Ummi." ucap Kanayah.
"Baiklah sayang, Daddy juga sudah selesai. Tunggu Daddy di mobil, Daddy yang akan mengantarkan mu ke sekolah." tutur Kiano.
Kanayah pun segera pamit apada Oma nya.
"Nayah pamit ke sekolah dulu ya Oma." ucap Kanayah kemudian mencium tangan Oma dan kedua pipi Oma nya.
"Mi, Kanayah berangkat dulu ya." Kanayah mencium tangan serta mencium kedua pipi Ummi nya, Kanayah pun jalan terlebih dahulu dan menunggu Daddy di mobil.
"Kendra berangkat dulu ya Ma." ucap Kendra pamit pada Mama dan mencium tangan Mama.
"Arah anterin Mas Kendra dulu ya Ma." Hummairah beranjak dari duduknya dan mengikuti langkah suaminya.
__ADS_1
"Hati-hati dirumah, kasi tau aku jika ada apa-apa." Kendra selalu mengingatkan istrinya. Tapi seperti biasa, Hummairah hanya mengangguk dan tersenyum.
Kendra mengecup kening istrinya, Hummairah pun mencium tangan suaminya.
Kendra masuk kedalam mobil, setelah pamit kesekian kali pada sang istri barulah mobil yang Kendra kendarai keluar dari halaman rumah besar mereka.
.......
Kiano dan Fachri sudah berada di dalam pesawat sekarang, wajah Kiano tampak bahagia.
"Aku perhatikan kamu gembira sekali hari ini, apa ini karena kamu pulang dan bertemu keluarga mu, atau kamu gembira sebab kamu akan bertemu dengan Kayla?" tanya Fachri.
Fachri memang sudah mengetahui hubungan antara Kiano dan Kayla, Kiano telah menceritakan kisahnya dan Kayla pada Fachri. Antara Tristan, Dion, dan Fachri, Kiano lebih dekat dengan Fachri. Fachri lebih dewasa dari kedua temannya, untuk itu Kiano lebih nyaman bercerita pada Fachri dari pada kedua temannya yang lain.
Subuh pesawat Kiano baru mendarat di bandara, sempat mengalami penundaan beberapa saat sebelum berangkat.
Rasa lelah diwajah Kiano sirna saat taxi yang membawa mereka memasuki halaman rumah.
Kiano segera membangunkan Fachri yang tertidur selama perjalanan dari bandara.
Hummairah yang baru saja selesai melaksanakan kewajibannya,segera turun kebawah saat mendengar suara mobil yang berhenti didepan rumah. Hummairah berjalan setengah berlari menuju pintu, ia masih mengenakan mukenah nya.
Hummairah pun membuka pintu.
Saat pintu terbuka, mata Hummairah menatap wajah yang selama beberapa tahun ini tidak ia lihat secara langsung.
Sosok yang selalu ia rindukan, yang selalu ia sebut namanya disetiap doanya. Hummairah tidak mampu lagi membendung rasa rindu dihati untuk memeluk putranya.
Kiano menunduk dan meraih tangan Ummi nya dan menciumnya, saat Kiano mengangkat wajahnya Hummairah pun langsung memeluknya. Hummairah menangis haru saat ia memeluk putranya, Kiano kini jauh lebih berisi dan tinggi. Sedangkan wajahnya cenderung lebih mirip Kendra dari pada Hummairah.
Mata coklatnya yang menatap dingin dan angkuh, kulit putih bersih. Semua yang ada pada Kendra sekarang diwarisi oleh Kiano.
"Kamu baik-baik aja kan sayang?" Hummairah membuka suara.
"Seperti yang Ummi lihat, tidak ada yang kurang dari Kiano Mi." jawab Kiano memutar tubuhnya.
Mata Hummairah menatap seseorang yang berdiri dibelakang Kiano.
"Siapa dia Nak?" tanya Hummairah menunjuk Fachri.
"Oh ya, Kiano lupa. Ini Fachri Mi, teman kuliah Kiano disana. Fachri juga berasal dari Indonesia, dan sekarang dia ikut Kiano berlibur dirumah kita." Kiano memperkenalkan Fachri.
Fachri menatap Ibu dari sahabatnya, Fachri berjalan mendekat. Hummairah segera menangkupkan tangannya, Fachri tersenyum.
"Apa kabar Tante, maaf akan merepotkan keluarga Tante selama liburan nanti." tutur Fachri sopan.
"Tidak Nak, ayo masuk. Kalian pasti lelah, Tante akan siapkan sarapan, setelah itu kalian bisa langsung istirahat." Hummairah pun mengajak keduanya masuk kedalam.
Satu persatu penghuni rumah bangun dan bergabung di meja makan, Kanayah segera turun saat mendengar sang Kakak telah pulang.
Kiano pun segera mengenalkan satu persatu keluarganya pada Fachri. Setalah Ummi nya, Kiano memperkenalkan Daddy dan Oma nya.
Tidak lama setelah itu Daddy nya pun berangkat ke kantor.
Tiba-tiba terdengar suara dari atas.
"Kakaaak..." teriak Kanayah dari pagar atas. Kemudian berlari turun menghampiri Kiano.
"Mana oleh-olehnya?" tanya Kanayah.
Wajah Kanayah cemberut di goda oleh Kakaknya, hingga mata Kanayah menatap seseorang yang duduk disamping Kakaknya.
"Dia siapa?" tunjuk Kanayah kearah Fachri.
"Dia teman Kakak kuliah disana, dan dia ikut kesini karena penasaran dengan Kak Kirana." bisik Kiano ada Kanayah.
"Apa!!! Penasaran sama si galak itu?" tutur polos Kanayah. Kirana memang terkenal galak dan sedikit bandel.
"Apa lu bilang, lu bilang gue galak." sahut seseorang dari depan pintu.
"Ummi, Oma, Kak Kiano dan Kak Fachri. Nayah berangkat sekolah dulu ya." Kanayah segera melarikan diri dari Kirana.
Semua menoleh kearah sumber suara, Kirana sudah berdiri di depan pintu ruang tengah. Kirana berjalan perlahan masuk, wajah lelah terpampang jelas diwajah nya.
Fachri menatap wajah Kirana penuh kagum, gadis berjilbab itu tampak masih terlihat cantik meski dalam keadaan lelah.
Seluruh anggota keluarga Kiano yang wanita menggunakan hijab, termasuk Kirana dan Kanayah.
"Baru pulang sayang?" tanya Oma pada Kirana.
"Iya Oma, capek banget..." rengek Kirana mecium tangan Oma nya kemudian berjalan ke arah Ummi nya.
"Lu gak mau cium tangan gue?" tanya Kiano yang selalu berbicara santai jika bersama Kirana.
"Ada oleh-oleh gak?" tanya Kirana.
"Ada, spesial buat lu." ujar Kiano
Wajah Kirana langsung segaf saat mendengar hadiah spesial. "Mana?" tanya Kirana mengulurkan tangannya.
"Ini!" Kiano menunjuk kearah Fachri.
Mata Kirana membulat saat melirik ke samping kanan Kakaknya, seseorang yang sedari tadi memperhatikannya.
"Ini dia orangnya yang selalu nanyain lu saat gue disana, dan yang selalu gue ceritain ke lu di setiap kita telponan." jelas Kiano.
Kirana menarik tangannya yang sedari tadi mengulur, kemudian mengangkatnya dan langsung menyapa Fachr. "Hai!..." sapa Kirana menghilangkan rasa canggung nya.
"Hai!" balas Fachri tersenyum.
"Nana ke kamar dulu ya, mau mandi dan tidur." Kirana pun berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
"Na, nanti sore temanin gue ke rumahnya Kayla." ucap Kiano.
"Ngapin?" Kirana berhenti saat tiba di depan kamarnya, kemudian menjulurkan kepalanya kedepan pagar lantai atas.
"Nemuin dia lah, masa gue nemuin Kakak nya."
"Ya kali, eh tapi emang mbak Kayla pulang juga?" tanya Kirana lagi.
"Iya, kita janjian soalnya. Tapi gie males pergi sendirian, kalo ada lu kan aman gue."
"Ntar lu berdua gue jadi obat nyamuk gitu? Males ah..." Kirana melanjutkan langkahnya.
"Tenang lu gak sendiri, gue bakalan ajak Fachri juga." Kiano menoleh k arah Fachri.
"Fachri siapa?" Kirana bingung.
__ADS_1
Kiano menepuk keningnya, ia lupa memperkenalkan mereka secara langsung.
"Ini, Fachri. Gue lupa ngenalin lu berdua ya." Kiano tertawa. "Ayo turun dulu, gue kenalin lu berdua dulu." Kiano melambai adiknya.
"Nanti aja, Nana capek mau istirahat dulu." Kirana pun masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu kamar.
"Sorry ya, adik ku memang kayak gitu." Kiano mendekati Fachri.
"It's oke, aku faham. Dia pasti lelah, dan aku rasa aku juga ingin istirahat dulu. Memulihkan tenaga untuk keliling nanti sore."
Kiano pun mengajak Fachri untuk istirahat di kamarnya. Hummairah dan mertuanya sedari tadi hanya bisa diam dan menggeleng dengan ulah Kiano dan Kirana.
Rumah terasa kembali ramai saat Kiano dan Kirana berada di dalamnya.
......
Kayla tiba di rumahnya kemarin, tapi Kayla tidak pulang seorang diri. Ia mengajak temannya yang belum pernah sama sekali ke Indonesia. Papa dan Mama Kayla sebenarnya kurang setuju jika Kayla membawa pemuda itu kerumahnya, apa lagi Reno tahu bahwa saat ini adiknya sedang menjalin hubungan dengan Kiano.
Tapi Kayla yang keras kepala tetap saja membawa Kai Zhou bersama nya. Mama dan Papanya Kayla akhirnya tidak mungkin mengusir tamu yang sudah terlanjur datang.
"Kay, Papa kamu ingin bicara." ucap Mama Kayla.
"Istirahatlah dulu Kai, nanti aku akan mengajak mu jalan-jalan." ujar Kayla.
Kayla pun berjalan mengikuti Mama menuju kamar Papa dan Mama nya.
"Kay, kenapa kamu bawa dia?" ucap Papa tanpa basa basi lagi.
"Pa, dia teman Kay. Dan dia sama sekali belum pernah ke Indonesia, jadi gak ada salahnya kan Kay mengajak nya. Lagi pula Kai banyak membantu Kayla selama disana Pa." tutur Kayla.
"Tapi kamu tau, Kiano juga pulangkan. Apa pendapatnya saat ia tau kamu membawa seorang pria pulang bersama kamu." tambah Mama.
"Pa, Ma kalian tenang saja. Kayla akan berbicara pada Kiano nanti, dia pasti mengerti." Kayla mencoba meredam kemarahan Papanya.
"Kamu ingin dia mengerti akan kamu, sementara kamu, apa kamu bisa mengerti jika jadi dia?" tanya Papa yang mulai emosi.
"Pa... Papa tenang saja, Kayla akan berbicara sama Kiano nanti. Sore ini Kayla udah janjian mau jalan sama dia Kirana, dan temannya. Kiano pasti gak akan keberatan kok Pa, Papa percaya deh ucapan Kayla."
"Jika sesuatu terjadi nanti, jangan bilang kami tidak memperingatkan kamu Kay." Papa kayla pun keluar dari kamarnya dan masuk ke ruang kerjanya.
"Papa kami benar Kay, jangan pernah mengundang angin jika tidak ingin terjadi badai." Mama kemudian menyusul Papa ke ruang kerjanya.
Kayla dilema, ia tidak mungkin mengusir Kai Zhou kembali ke Jepang, atau menyuruh pemuda itu menginap di hotel sedangkan Kai Zhou sama sekali tidak tahu Indonesia.
Kai Zhou yang belum fasih berbahasa Indonesia, tapi sangat antusias belajar bahasa Indonesia.
Kai Zhou adalah pemuda berkebangsaan Jepang, menjadi teman Kayla saat gadis itu pertama kali menginjakan kakinya di negeri sakura tersebut. Kai Zhou juga banyak membantu Kayla selama disana.
Kai Zhou sebenarnya menyukai Kayla dari sejak pertama kali mereka bertemu, tapi Kayla selalu menghindari Kai Zhou dan mengatakan ia telah memiliki seseorang.
Tapi Kai Zhou tetap tidak mau menyerah mendekati gadis itu, walau hanya menjadi temannya, berada di dekat gadis itu sudah membuat Kai Zhou senang.
Pukul 4 sore Kiano, Fachri, dan Kirana berangkat kerumah Kayla. Kiano tidak mengetahui jika Kayla akan membawa Kai Zhou pulang bersamanya.
Kiano telah mengetahui dan mengenal Kai Zhou dari Kayla yang sering menceritakannya pada Kiano.
Sebenarnya ada rasa tidak nyaman dihati Kiano saat melihat kebersamaan Kayla dan KaiZhou, tapi Kayla selalu mengatakan akan selalu menjaga hatinya untuk Kiano. Maka Kiano pun membuang jauh-jauh rasa curiganya, meskipun ia tahu jika Kai Zhou menyukai Kayla.
Empat puluh lima menit kemudian, mobil Kiano berhenti tepat di depan rumah Kayla.
Kayla segera berlari keluar menyambut Kiano dengan senyum manisnya.
Kiano, Fachri, dan Kirana turun dari mobil, Kayla segera menghampiri mereka.
"Apa kabar?" tanya Kayla pada Kiano dengan senyuman.
"Gak boleh peluk lho kak." Kirana mengingatkan.
"Iya, gue tau." jawab Kiano.
Fachri tersenyum mendengar ucapan Kirana.
"Kenalin ini teman aku Fachri." ucap Kiano.
Fachri berjalan maju dan mengulurkan tangannya, Kayla menyambut uluran tangan. Fachri.
"Hai.. ayo masuk." ajak Kayla menarik tangan Kirana.
Didalam Papa dan Mama Kayla sedang duduk di ruang keluarga.
"Pa, Ma ada Kiano." Kayla memberitahu kedua orang tuanya.
Pasangan itu pun keluar dan menyambut Kiano, Fachri dan Kirana dengan hangat.
"Apa kabar Ki?" tanya Papa Kayla.
Kiano meraih tangan Papa Kayla dna menciumnya, dan itu dikuti oleh Fachri dan Kirana.
Saat mereka sedang berbincang, Kai Zhou pun keluar dari kamar milik Reno.
Mata Kiano membulat saat melihat siapa yang keluar dari sana. Rahang Kiano mengeras, tangannya mengepal erat. Kiano saat ini sedang menahan amarahnya pada Kayla.
Semua yang ada diruangan itu tahu perasaan Kiano sekarang.
"Bisa kita bicara." ucap Kiano pada Kayla Kiano beranjak dari duduknya. "Permisi sebentar Om, Tante." Kiano lun berjalan menuju teras. Kayla mengikutinya dari belakang.
"Jelaskan padaku Kay." pinta Kiano.
"Sebelumnya aku ingin minta maaf padamu mengenai Kai Zhou, tapi ia memaksa ingin ikut pulang dengan ku. Dia bilang ingin ke Indonesia, ia belum pernah sama sekali ke sini." Kayla coba menjelaskan.
"Tapi kamu tidak harus menuruti permintaannya kan, kamu bisa menolak dengan berbagai alasan." ucap Kiano protes.
"Gak bisa Ki, dia sudah banyak membantu aku selama disana. Dia adalah teman pertama aku selama disana, dan aku juga janji akan membawanya jalan-jalan malam ini."
"Oh jadi itu alasannya, baiklah. Aku pulang." Kiano pun masuk dan langsung berpamitan pada kedua orang tua Kayla.
"Fachri, Kirana kita pulang. Om, Tante Kiano permisi pulang dulu ya. Assalamualaikum." Kiano mencium tangan kedua orang tua Kayla dan langsung masuk kedalam mobil.
Kirana dna Fachri pun mengikuti langkah Kiano dari belakang.
Fachri dan Kirana saling berpandangan, kemudian Fachri memberi kode kepada gadis itu agar mencairkan suasana hati Kakaknya.
"Kak, kita ke cafe depan sekolah yuk! Udah lama kita gak ngopi." pujuk Kirana.
Kiano mengangguk dan memutar mobilnya menju cafe di dekat sekolahnya dahulu.
Bersambung.
__ADS_1