
Kirana dan Fachri duduk ditaman belakang, mereka diijinnkan berbicara berdua untuk membicarakan masalah penting yang mereka hadapi saat ini.
"Kamu dirumah baik-baik aja kan Na?" tanya Fachri memulai obrolan mereka.
"Tentu saja, kamu sendiri bagaimana Kak? Aku dengar kamu tidak kembali ke rumah, kenapa Kak?"
"Mama sama Papa ngadu ke kamu?" tanya Fachri.
"Kalau iya kenapa?"
"Ya... gak kenapa-kenapa, cuma kasian sama mereka aja. Terutama Mama yang hampir setiap hari menunggu kamu pulang, masak makanan kesukaan kamu, dabl Papa juga selalu menunggumu untuk makan malam. Tapi sayangya kamu gak pulang, kan mereka jadi kecewa."
"Bukan aku tidak mau pulang kerumah Na, aku juga tidak mau mengecewakan mereka. Tapi, kamu tau sendiri dirumah sekarang tidak cuma ada mereka,tapi juga ada seseorang yang aku benci didalam hidupku."
"Luna?"
"Jangan sebut namanya dihadapanku Na... jangankan melihat wajahnya, namanya saja aku tidak mau mendengar seseorang menyebutnya."
"Sampai kapan kamu akan seperti ini?"
"Sampai dia pergi dari kehidupanku, dan tidak lagi mengganggu kehidupan kita."
"Kita?"
"Ya.... kamu dan aku, aku ingin pernikahan kita dilaksanakan sesuai jadwal yang telah kita sepakati."
Kirana tersenyum. "Selesai dulu masalah ini, baru kita membicarakan masalah kedepannya."
"Tapi kapan Na... aku lelah, kenapa harus kita. Kenapa bukan yang lain saja."
Fachri meletakan kepalanya kepundak Kirana, gadis itu ingin menghindar, terlambat kepala Fachri telah lebih dahulu mendarat dipundaknya.
"Kalau kamu lelah.... kamu masih boleh mundur kok Kak." ucap Kirana tersenyum.
"Maksud kamu?"
Kirana menghela napas. "Sekarang masih belum terlambat, jika kamu ingin mundur dan membatalkan semuanya."
Fachri terbelalak mendengar penuturan Kirana. "Maksud kamu, kamu ingin ninggalin aku gitu?"
"Gak gitu Kak, maksud aku..."
"Na... kenapa kamu jadi begini, aku hanya ingin kamu menunggu sampai aku bisa membuktikan pada semuanya tentang kesalapahaman ini." seru Fachri mulai emosi.
"Kapan Kak, kapan kamu akan menyelesaikannya. Semua orang juga butuh kepastian, Ummi, Daddy, Mama, Papa, dan seluruh keluarga besar kita."
"Tapi tidak dengan cara seperti ini Na..." suara Fachri meninggi membuat para orang tua menoleh ke arah mereka.
Kirana masih tetap tenang menghadapi amarah Fachri.
"Kak, kamu ingat dengan ucapan Daddy kan? Satu minggu sebelum hari H, sekarang hanya tinggal beberapa minggu lagi. Setelah itu..." Kirana menggantung kata-katanya.
Setelah itu apa Na.... apa yang Daddy katakan setelah lewat dari seminggu itu Na?"
Kirana kembali menghela napas panjang.
"Daddy.... Daddy akan mengirim ku kembali ke Swiss."
"Apa?" seru Fachri lagi.
Kirana menganggukan kepalanya.
"Tidak boleh.... aku tidak akan mengijinkan."
"Kenapa tidak boleh?" ucap Kirana menahan senyum.
"Sebab jika kamu pergi kesana, maka kamu akan menemukan seseorang disana dan orang itu akan membuatmu jatuh cinta padanya, dan dia nanti nya akan meminta mu untuk menikah dengannya."
Kirana terkekeh....
"Kenapa kamu tertawa, apa ada yang lucu?"
"Kamu..."
"Aku?" Fachri menunjuk dirinya sendiri.
"Iya.... pikiran kamu terlalu jauh Kak."
"Jauh bagaimana, pasti akan seperti itu kejadiannya."
"Ya sudahlah... intinya kamu harus pulang kerumah, kasian Mama dan Papa yang selalu mikirin kamu. Mereka takut kamu kembali seperti dulu."
"Itu tidak akan terjadi, aku masih tau batasannya. Aku sudah bisa mengontrol emosi ku, dan juga aku akan selalu teringat kamu saat aku ingin melakukan hal yang salah."
"Bagus kalau begitu."
"Tapi kamu harus janji, kamu gak akan kemana-mana sampai aku bisa menyelesaikan masalah ini."
"Jika kamu tidak bisa buktikan bagaimana?"
Fachri terdiam. "Aku pasti bisa menepati janji ku."
"Baiklah..."
Kirana tersenyum menatap Fachri.
"Na...." panggil Fachri pelan.
"Hemmm..." jawab Kirana menoleh.
"Peluk boleh gak?" tanya Fachri iseng.
"Gak boleh!!!" seru Kirana memutar posisi duduknya dan menjauh.
"Cuma peluk doang gak ngapa-ngapain."
"Gak... gak boleh pokoknya."
__ADS_1
"Dikit doang Na..." rayu Fachri.
"Dikit banyak sama hitungannya, pokoknya gak boleh." tolak Kirana serius.
Fachri semakin menjadi menganggu Kirana.
"Ya bedalah... kan cuma meluk doang, tangannya juga cuma di pundak kok."
Fachri mendekati Kirana sembari merentangkan tangannya.
"Apaan sih... aku bilangin Papa sama Daddy lho."
"Bilang aja sana.... palingan kita di kawinin."
"Apa sih, bahasanya dikawinin." Kirana hampir tergelak.
"Serius Na, aku pengen peluk kamu." Fachri kembali merentangkan tangannya.
"Gaaaak...." Kirana pun berlari masuk menghampiri Mia dan Hummairah.
....
"Sayang perlengkapan aku semuanya sudah?" tanya Kiano yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Sudah, semuanya aku jadiin satu dalam satu tas, jadi kamu gak perlu bingung lagi kalo mau nyari." jawab Zavira yang masih berbaring di tempat tidur bersama Zaki, sambil menyusuinya.
Kiano akan melakukan perjalanan keluar negeri, ia akan menghadiri rapat para pengusaha besar mewakili Daddy nya. Kiano memang baru dalam dunia bisnis, tapi kemampuannya tidak diragukan lagi. Kendra pun mengakui kemampuan putranya, untuk itulah ia ditunjuk Daddy nya langsung untuk mewakilinya disana.
Kiano memakai pakain santainya, celana pendek dan t-shirt biasa. Kiano mendekati istri dan putranya yang masih berbaring ditempat tidur. Ia mengusap kepala Zaki dan menciumnya.
"Ehmmm..." guma Zaki.
Kiano kembali menggodanya, Zaki pun mulai tidak konsen dan kesal karena kesenangannya terganggu.
"Daddy..." ucap Zavira lembut memperingatkan suaminya.
Bukan Kiano nama nya jika tidak jahil, ia masih menggoda putra kali ini Kiano mengecup kening istrinya.
Zaki melepas sejenak sumpalan mulutnya, kemudian memutar tubuhnya dan mendorong Kiano, kemudian kembali menyumpal mulutnya.
Kiano dan Zavira terkejut dengan reaksi Zaki, mereka tersenyum.
Tidak puas sampai disitu Kiano kembali menggoda putranya, kali ini ia menarik sumpalan mulut Zaki dan menutup dada Zavira dengan tangannya. Zaki mulai kesal akhirnya bocah itu menggigit tanganya.
"Aaaaahhkk....." teriak Kiano.
"Kenapa Mas..." tanya Zavira yang langsung duduk.
"Tangan aku digigit sama Zaki sayang." seru Kiano.
"Daddy jahil Mom..." jawab Zaki dengan Fasih.
"Memang Daddy kenapa nak?" tanya Zavira mengelus kepala putranya.
"Zaki masih mau mimik, tapi Daddy tutupin pakai tangannya." jelas Zaki.
"Sayang aku cuma becanda."
"Zaki masih haus tau..." timpal Zaki lagi.
"Kamu tuh udah gede, sudah harus stop mimik sama Mommy."
"Gak mau mimik lain, Zaki cuma mau mimik sama Mommy." jawab Zaki lagi.
"Ini mimik nya punya Daddy, kamu pakai botol aja sana." ujar Kiano.
"Daddy udah tua, gak boleh mimik sama Mommy. Daddy mimiknya pakai galon aja."
Kiano dan Zavira terkejut mendengar jawaban Zaki.
"Sayang aku dikatain tua... kamu harus belain aku." prote Kiano.
"No... Mommy pasti belain Zaki, karena ini Mommy nya Zaki."
"Mommy milik Daddy.."
"Milik Zaki."
Mereka pun bertengkar memperebutkan Zavira, sedangkan Zavira hanya menggelengkan kepalanya.
Tidak lama kemudian terdengar suara seseorang mengetuk pintu.
Kiano segera berjalan membuka pintu kamarnya.
Zavira segera menarik jilbabnya yang ia gantung di ujung tempat tidur.
"Ummi..." ucap Kiano.
"Zaki mana?" tanya Hummairah.
"Ada tuh lagi mimik sama Mommy nya, masuk Mi." Kiano membuka lebih lebar lagi pintu kamarnya.
Hummairah masuk dan menghampiri Zaki cucunya.
"Sayangnya Oma lagi apa ini?" tanya Hunmairah.
Zaki melepas sumbatan mulutnya dan berbalik menghadap Oma nya.
"Oma.. Daddy nakal." adu Zaki pada Oma nya.
"Daddy nakal kenapa sayang, ayo sini-sini duduk dekat Oma, ceritain."
Zaki pun duduk dipangkuan Oma nya.
"Daddy bilang Mommy itu, Mommy nya Daddy. Mommy itu Mommy nya Zaki kan Oma?" ucap Zaki polos.
"Iya itu Mommy nya Zaki, terus Daddy bilang apa lagi?"
__ADS_1
"Daddy bilang kalo mimik nya Mommy itu punya nya Daddy, itu milik Zaki kan Oma?" tanya Zaki.
"Iya itu punya nya Zaki, nanti biar Daddy mimiknya digalon." jawab Hummairah sambil melotot pada Kiano.
"Mi, Kiano cuma bercanda. Lagian nih anak pinter banget ya ngomonngnya." ujar Kiano.
"Zaki mau ikut Oma? dibawah ada Ummi Kirana." tanya Hummairah, kemudian Hummarah menatap koper yang tersandar di dinding.
"Itu koper apa Ki?" tanya Hummairah.
"Kiano mau ke Amrik Mi... ada rapat disana, biasa gantiin Daddy."
Hummairah menganggukan kepalanya. " Jam berapa kamu berangkat?"
"Nanti malam Mi, sekitar jam tujuh an." jawab Kiano.
"Ya sudah kamu istirahat saja... Zaki ikut Oma ya." ajak Hummairah..
Zaki mengangguk dan mengikuti langkah Oma nya keluar dari kamar.
Zavira segera berjalan mengikuti anak dan mertuanya, tapi langkahya terhenti saat Kiano menarik tangannya.
"Kamu mau kemana sayang?" tanya Kiano.
"Mau keluar, ngobrol sama yang lain." jawab Zavira.
"Kamu gak denger ya apa yang Ummi bilang barusan."
Memang Ummi bilang apa?"
"Ummi bilang, aku harus istirahat sekarang, biar nanti saat aku akan berangkat, aku segeran." Kianob manarik istrinya kedalam pelukannya.
"Ya udah, kalau mau tidur... tidur aja, aku gak bakal gangguin kok."
"Tapi aku mau kamu disini temani aku." ujar Kiano menggigit tengkuku Zavira. Ia pun membali badan Zavira dan mencium bibir ranum nan tipis milik istrinya.
Zavira membalas ciuma Kiano, lidah Kiano mulai menerobos masuk kedalam mulut Zavira dan menari-nari didalam nya.
Kiano perlahan membawa Zavira ke tempat tidur, dan merebahkan Zavira. Kiano kembali menciumi Zavira, tangan Kiano mulai menarik retsleting baju Zavira. Baju yang Zavira gunakan memang gamis dengan model beretsleting didepan, agar memudahkan nya menyusui Zaki jika putranya menginginkan.
Kiano pun ambruk disisi Zavira yang telah kelelahan, Kiano mengecuo kening istrinya kemudian menarik selimut, memeluk tubuhnya Zavira dan beranjak tidur.
....
"Aaakhhh...." suara erangan pelepasan terdengar didalam sebuah kamar hotel.
Tubuh seorang pria pun ambruk disisi wanitanya.
Pria itu segera berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri, wanita itu masih terlelap di tempat tidur.
Pria iti keluar dari kamar mandi, ia tersenyum melihat wanita itu terlelap.
Tidak lama kemudian terdengar suara ponsel wanita itu berdering.
Pria itu segera membangunkan wanita yang terlelap tadi.
"Luna... Luna, ponsel kamu berbunyi tuh." ucap nya.
Wanita itu adalah Luna dan kekasihnya Lucas, pria yang selama ini selalu menemani Luna dan memuaskan hasratnya di ranjang.
Perlahan Luna membuka matanya, ia pun meraih ponselnya dari tangan Lucas.
Tertera nomor itu adalah nomor panti penitipan anak. Setiap Luna keluar menemui Lucas, ia selalu menitipkan Andrew dipanti penitipan anak.
"Hallo..." ucap Luna parau.
"Maaf Nyonya ini sudah pukul lima sore, kami akan segera menutup panti. Apa Nyonya bersedia menjemput Andrew sekarang, soal nya di panti sudah tidak ada siapa-siapa, dan saya pun ingin pulang." ucap petugas panti.
"Baiklah... aku akan segera kesana." Luna segera bangkit dari tidurnya dan segera berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan diri.
Luna pun keluar dari kamar mandi, dan segera memakai pakaiannya.
"Kamu mau pulang?" tanya Lucas.
"Iya Lucas, tapi aku akan menjemput Andrew dahulu dipenitipan." jawab Luna.
Lucas berjalan mendekati Luna memeluk Luna dari belakang dan mengecup tengkuk Luna.
"Kamu ingat perjanjian kita kan?" ucap Lucas meremas dada Luna.
Luna membalik badannya dan menyerang bibir Lucas tanpa ampun.
"Aku akan menemuimu lagi besok." ucap Luna dengan nafas yang menderu.
"Baiklah, sampai jumpa besok disini." ucap Lucas kembali meremas dada Luna.
Luna tersenyum dan berjalan keluar meninggalkan Lucas di hotel.
Kirana menatap sinis pada Luna.
"Wanita bodoh.." ucap Lucas. Ia pun segera meraih ponselnya dan membuka galeri. Menatap wajah manis yang tersenyum di dalam ponselnya.
"Hai beb, apa kabar? Aku yakin pasti kamu sedang sedih sekarang, tapi tenang saja tidak lama lagi aku akan hadir untuk menghiburmu dan akan selalu ada disisi mu dan mendampingi mu." ucap Lucas pada photo yang ia jadikan gambar depan ponsel ya.
bersambung..
Maaf atas keterlambatan nya...
terus tinggalin jejak ya.
Vote yang banyak ya..
boom lima bintang jangan lupa yaa..
salam sayang author selalu.
I LOVE U ALL
__ADS_1