CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA

CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA
185.


__ADS_3

Setelah dilakukan rapat keluarga dan meyakin Kendra akan rencana pernikahan antara Kirana dan Fachri, akhirnya Kendra menyetujui untuk tetap melanjutkan apa yang telah mereka rencanakan. Semua bergembira mendengar Kendra dan Reza selaku kepala keluarga mengumumkan berita itu.


Tapi tidak rupanya tidak semua orang bergembira menyambutnya, Lucas mengamuk pada Luna dan berencana menggagalkan rencana Fachri dan Kirana. Luna yang kembali menemui Lucas di hotel tempatnya menginap, tapi tanpa Luna dan Lucas sadari orang suruhan Fachri telah mengintainya.


Mereka berhasil masuk ke dalam kamar Lucas dan memasang kamera dan merekam semua kegiatan mereka selama didalam. Lucas tidak mengetahui jika hotel tempatnya menginap kali ini adalah milik keluarga Kendra. Jadi dengan mudah mereka masuk ke dalam kamar tanpa melanggar peraturan.


"Kamu harus melakukan sesuatu, aku mau rencana mereka gagal. Aku mau Kirana, dan Fachri terserah mau mu." ucap Lucas.


"Aku telah berusaha Lucas, tapi sepertinya Fachri dan Kirana sangat sukar untuk dipisahkan. Kirana tidak seperti gadis bodoh yang langsung percaya apa yang aku ucapkan padanya kemarin." ujar Luna.


"Karena itulah aku menyukainya, dia adalah wanita impianku. Sudah lama aku menaruh hati padanya, dulu aku terlalu malu untuk mengakuinya, tapi sekarang aku tidak akan mensia-siakan kesempatan untuk memilikinya."


"Kita harus menyusun rencana Lucas, bagaimanapun juga kau harus membantuku membuat rencana." ucap Luna.


Lucas tersenyum licik, Luna berjalan mendekati Lucas dan mulai merayunya. Luna mencium bibir Lucas, sembari tangannya perlahan membuka kancing kemeja Lucas. Lucas tersenyum kemudian membalas ciuman Luna, dan mereka pun melakukannya lagi dan lagi hingga Luna benar tidak berdaya dan Lucas pun terkulai disamping Luna.


Tidak ada cinta diantara mereka, yang ada hanya rasa saling membutuhkan dan saling menguntungkan.


......


Kendra, Kiano, Fachri dan Kirana sedang berada di kantor. Mereka sedang menonton hasil pantauan kamera yang mereka pasang dikamar Lucas.


Pada saat adega dimana Lucas dan Luna bercumbu, Kirana menghambur lari ke kamar peristirahatan milik Daddynya yang berada di dalam ruangan itu.


Kendra dan Kiano tertawa melihat Kirana yang kabur, sedangkan Fachri tersenyum sambil menggaruk kepalanya. Kendra segera mematikan layar monitornya, ia jengkel memdengar desahan Luna, itu juga membuatnya jadi merindukan istrinya dirumah.


"Gila... mereka udah sejauh itu." ucap Kiano.


"Makanya gue gak yakin kalau Andrew itu anak gue, setelah lu liat sendiri kelakuan Luna."


"Eh... tapi kalau Luna disini, si Andrew kemana?" tanya Kiano.


"Bener juga, masa iya dia bawa Andrew kesana juga." lanjut Fachri.


"Pasti Andrew dititipkannya disuatu tempat." sambung Daddy Kendra.


"Kenapa kita tidak minta merek untuk mencari tahu dimana Andrew selama Luna bersama Lucas" pinta Fachri.


"Oke.. mulai besok aku akan memerintahkan mereka untuk mengawasi Andrew." ujar Fachri.


Kirana menjulurkan kepalanya keluar. "Udah selesai belom?"


"Lu kenapa, kok tiba-tiba kabur.?" tanya Kiano.


"Udah selesai apa belom?" tanya Kirana lagi.


"Udah dear, kamu udah boleh keluar." jawab Fachri.


Kendra dan Kiano saling berpandangan dan tersenyum saat mendengar ucapan Fachri.


Kirana pun keluar dan mendekati Daddynya, dan duduk disamping Daddynya.


"Kak Fachri disuruh pulang sama Mama." ucap Kirana.


"Oh iya.." Fachri menepuk keningnya. "Aku lupa, tadikan sebelum kesini Mama nyuruh bawa kamu kerumah."

__ADS_1


"Ngapain?" tanya Kirana.


"Mama nyuruh kamu milih desain perhiasan untuk hantaran nanti."


Kendra dan Kiano tersenyum mendengar penuturan Fachri.


"Kak, aku udah bilang aku gak mau terlalu banyak perhiasan, dan aku udah milih untuk cincinnya pake cincin milik Mama aja."


"Iya, tapi kamu tau Mama kan. Sebaiknya kamu katakan sendiri."


"Daddy.. Nana boleh pergi?" tanya Kirana pada Daddy Kendra.


"Jangan pulang terlambat." jawab Kendra.


Kirana mengangguk menciun tangan dan memeluk Daddynya. "Nana sayang Daddy."


Fachri pun pamit pada Kiano dan Kendra, setelahnya mereka pun keluar dari kantor dan menuju rumah Fachri.


......


Kiano dan Kendra bertemu klien di luar kantor, klien kali ini adalah seorang wanita cantik dan sexy. Kiano dan Kendra dibuat tidak nyaman dengan penampilannya. Wanita itu mengenakan dress diatas lutut super ketat, hingga setiap lekuk tebuhnya tercetak jelas. Dengan renda dibelahan dada super rendah, hingga belahan dadadnya terlihat dengan jelas.


Sesekali Kiano melirik Daddynya yang mulai tidak nyaman, wanita itu tampak sesekali mencoba menggoda Kendra.


"Baiklah Nona Gisel, saya akan mempelajari proposal anda terlebih dahulu. Jika nanti ada yang tidak saya pahami, saya akan menghubungi anda, dan begitu juga sebaliknya jika ada yang tidak ada anda pahami, anda bisa memberitahu kami." ucap Kiano memutuskan.


"Baiklah, ini kartu nama saya. Dan... kalau boleh, saya juga ingin meminta kartu nama anda Tuan Kendra." ucap Gisel.


Kendra tersenyum, kemudian memberikan kartu namanya pada Gisel.


Gisel tersenyum dan menyambut uluran tangan Kiano, tapi mata Gisel masih tertuju pada Kendra.


Mereka pun berpisah dan kembali ke tujuan masing-masing.


....


Tiba diruma Kendra langsung masuk ke kamarnya, ia membuka jas dan melemparkannya sembarang dilantai. Kendra juga melepas dasi dan kemejanya, kemudian celananya hingga tertinggal boxernya. Kendra pun masuk kedalam kamar mandi.


"Ki, Daddy kamu mana?" tanya Hummairah yang baru saja keluar dari dapur.


"Di kamar Mi." jawab Kiano singkat dan kembali bermain dan menggoda Zaki putranya.


Hummairah pun berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


"Ummi..." panggil Kiano.


Hummairah berhenti dan menoleh.


"Hati-hati... Daddy lagi tinggi." ucap Kiano.


"Tinggi apa? Daddy kamu mabuk ya?" Hummairah mulai berang.


"Gak... Daddy gak mabuk, Ummi liat aja di kamar." seru Kiano tersenyum.


Hummairah yang penasaran mempercepat langkahnya menuju kamar, saat tiba di kamarnya ia melihat hamparan jas, sepatu, kemeja, dasi, dan celana berserakan dilantai.

__ADS_1


"Apa ini? Mas... kamu dimana?" panggil Hummairah.


Tidak ada jawaban, tapi telinga Hummairah menangkap suara dari dalam kamar mandi. Hummairah pun berjalan mendekati kamar mandi dan membuka pintu.


Tiba-tiba tangan Hummairah ditarik masuk kedalam.


"Aaaaa..." teriak Hummairah.


Kendra langsung membungkam mulut Hummairah dengan bibirnya, Kendra memainkan lidahnya didalam mulut istrinya. Hummairah tidak bisa berbuat banyak selain mengikuti permainan Kendra.


Tangan Kendra mulai gerilya menjamah setipa bagian dari tubuh istrinya, perlahan Kendra melepas apa yang digunakan Hummairah. Kini Mereka sama-sama hanya menggunakan pakaian dalam, Kendra makin memperdalam ciumannya. Sebelah tangan Kendra menahan tubuh Hummairah, satunya lagi mulai meremas dada Hummairah.


Kendra membawa tubuh Hummairah ke atas ranjang, kemudian menindihnya. Mereka pun melakukan hubungan itu, hingga berkali-kali hingga Hummairah terkulai lemas dan Kendra pun ambruk disisi Hummairah dengan napas tidak beraturan.


Hummairah menatap wajah Kendra yang tersenyum kemudian mengecup keningnya.


"Katakan apa yang terjadi saat bertemu klien?" tanya Hummairah.


Kendra membalik tubuhnya dan duduk disamping istrinya.


"Meetingnya lancar, tapi..."


"Tapi, klien kamu itu seorang wanita cantik dan sexy."


"Kamu benar sayang, aku jadi panas dingin saat berada disana tadi."


"Dan kamu juga membayangkan yang tidak-tidak dengannya? Iya kan?"


"Kalau yang itu kamu salah."


Hummairah mengernyitkan dahinya.


"Saat itu aku teringat kamu dan membayangkan sedang bercinta sama kamu."


"Dasar otak mesum"


"Aku gak mesum sayang, aku pria normal yang bisa tiba-tiba bergairah saat melihat hal seperti itu. Tapi kamu harus merasa beruntung memiliki suami seperti aku."


"Kenapa?"


"Yaa... disaat ada wanita cantik berusaha untuk menggoda, aku malah teringat padamu."


Hummairah menggelengkan kepalanya kemudian beranjak bangun dan turun dari tempat tidur.


"Sayang kamu mau kemana?" tanya Kendra


"Mandi... sebentar lagi masuk waktu magrib."


"Aku ikut... kita mandi bareng.".


"Gak ada..."


Bukan Kendra namanya jika tidak berhasil membujuk istrinya, dan didalam kamar mandi kembali mereka melakukannya. Kendra seolah tidak pernah puas dengan tubuh istrinya, ia teru dan ingin terus menjamah istrinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2