CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA

CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA
174. budayakan like dan komen tiap part nya terima kasih.


__ADS_3

Kiano kembali kerumahnya, dengan membawa beberpa kotak berisi kue yang ia beli di toko milik Kayla.


Tapi sebelumnya ia telah mampir ke sebuah yayasan yang ia dan istrinya kelolah, untuk membagikan kue yang ia beli, dan membawanya kembali ke rumahnya.


Dirumah ia disambut oleh Zaki yang berlari mengejarnya, Kiano segera mendekati putranya.


"Jagoan Daddy.... kangen ya?" ucap Kiano sembari membawa putra nya kedalam pelukan dan menggendongnya.


Zavira menyambut suaminya yang baru saja pulang, menghampiri dan mencium tangannya. Ia juga meraih bungkusan yang Kiano bawa.


"Apa ini Mas?" tanya Zavira.


"Itu kesukaan kamu dan Zaki."


"Kok banyak banget?" tanya Zavira heran.


"Udah kamu berikan itu sama pelayan, nanti dikamar aku jelasin." ucap Kiano.


Zavira pun mengangguk, ia berjalan menuju dapur dan memberikan kepada salah satu pelayan, untuk di salin kepiring dan dihidangkan.


Zavira mengikuti Kiano masuk kedalam kamarnya, tapi sebelumnya Zaki telah dibawa oleh Oma nya.


Tiba dikamarnya, setelah membantu suaminya melepaskan jas, dan membukakan dasi. Zavira memberikan segelas air hangat kepada Kiano.


"Terima kasih, sayang." ucap Kiano dan langsung menegak habis segelas air yang diberikan oleh istrinya.


Setelah meletakan gelas kembalibke atas meja, Zavira pun duduk disamping suaminya.


"Maaf ya..." ucap Kiano tiba-tiba.


"Maaf? Untuk apa?" tanya Zavira heran.


"Aku udah melanggar janji ku?"


Zavira mengernyitkan alisnya penasaran.


"Janji apa?"


"Tadi sepupang kantor aku mampir ke toko kue langganan kita, aku gak tau sumpah aku gak tau, kalau toko itu milik Kayla."


Zavita masih mendengarkan penjelasan dari suaminya.


"Lalu saat menunggu pesananku...." Kiano pun kembali bercerita awal kejadian hingga akhir. Zavira tampak masih mendengarkan dengan seksama.


"Maaf ya, sayang... aku gak tau harus berbuat apa. Tapi jujur gak ada lain, aku cuma mau nolong, dan aku juga akan melakukan hal yang sama jika itu terjadi pada orang lain."


Kiano tampak menundukan kepalanya, tampak guratan penyesalan diwajahnya.


Zavira menggeser duduknya lebih dekat, kemudian menggenggam jemari kekar Kiano.


"Aku percaya Mas..."


Satu kaliamat yang keluar dari mulut Zavira mampu membuat berseri wajah Kiano kembali.


"Terima kasih sayang..." Kiano langsung menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya.


Zavira tersenyum dan membalas pelukannya.


"Sudah sekarang, aku mau siapin air hangat untuk kamu mandi." Zavira beranjak.


"Sayang... kita mandi bareng ya?" pinta Kiano.


"Nanti Zaki gimana?"


"Zaki kan ada Oma nya sama yang lain, di bawah rame juga.


Akhirnya Zavira mengabggukan kepala, ia memang tidak pernah berkata tidak atau menolak jika suaminya sudah meminta.

__ADS_1


Kiano pun mengikuti langkah Zavira ke dalam kamar mandi, dan masuk kedalam bak mandi kemudian merendam tubuh mereka. Dari sinilah keintiman hubungan mereka.


.....


Kayla kembali didatangi Nyonya Yan dan para bodyguard nya, mereka ingin mengambil Leon dari tangan Kayla. Beruntung pada saat itu suara tangisan Leon berhasil memancing para tetangga sekitar, dan berhasil mengusir Nyonya Yan. Mereka juga berpesan pada penjaga komplek rumah, agar jangan memberi ijin orang luar masuk sembarangan.


Kayla memeluk Leon erat, bocah itu masih menangis dan ketakutan.


Reno dan Jihan tiba dirumah, bersama papa Kayla.


Kayla menceritakan semua kejadian pada Kakaknya, Reno pun memutuskan untuk membawa Kayla untuk tinggal di rumahnya untuk sementara waktu, dan Kayla pun menyetujuinya. Kayla akan tetap dirumah sampai keadaan benar-benar aman, ia msih takut untuk meninggalkan Leon bersama Jihan.


......


Fachri dan Kirana tiba di rumah Fachri mereka akan makan malam bersama kedua orang tua Fachri. Mama dan papa Fachri sedang duduk di ruang tamu, dan tampak mereka sedang menemani seseorang yang sedang berkunjung ke rumah mereka.


"Assalammu'alaikum.." ucao Fachri dan Kirana bersamaan.


"Waalaikum salam." jawab pasangan paruh baya itu.


"Ma.... nih mantu Mama udah Fachri bawa." ucap Fachri.


Tapi mama Fachri masih diam membisu.


Kirana yang paham ada sesuatu, akhirnya memberi kode pada Fachri untuk diam, dan berjalan mendekat.


Saat tiba di depan mereka mata Fachri membulat sempurna dengan mulut ternganga, ia begitu terkejut dan shock saat melihat siapa yang duduk bersama kedua orang tuanya.


"Mau apa lagi kamu disini?" ucap Fachri lantang.


Kirana pun terkejut saat mendengar suara Fachri yang meninggi, setelah Kira mengetahui siapa yang ada dihadapannya baru lah Kirana tahu dia adalah Luna.


Luna adalah mantan kekasih Fachri, lima tahun lalu Luna pergi meninggalkan Fachri tanpa kejelasan. Fachri berusaha mencari tahu keberadaan Luna, dan ingin membawanya kembali tapi ia tidak pernah bisa menemukan sosok Luna. Luna seolah raib ditelan bumi.


Fcahri telah menceritakan semua tentang masa lalunya bersama Luna kepada Kirana, ia tidak mau ada rahasia apa pun diantara mereka. Saat ditinggal pergi oleh Luna Fachri juga sempat terjerumus ke dunia malam, mabuk dan sempat menkonsumsi obat-obatan. Ia juga menjadi sosok yang tertutup, angkuh, dan sombong. Itulah sebabnya saat pertama Ia kenal dengan Kiano Fachri sedikit cuek, ia tidak terlalu ambil pusing dengan keadaan sekitarnya.


Saat pertama kali Kiano mengejak Fachri kerumahnya ia tahu entah kenapa ia mau menuruti Kiano dan ikut bersamanya.


Di sanalah pertama kali dalam hidup Fachri melihat keluarga yang hangat dan penuh kasing sayang, perhatian yang Fachri dapatkan selama berada dirumah Kiano membuat Fachri merasa keberadaannya dianggap. Dan saat kehadiran Kirana muncul juga membuat Fachri kembali memiliki semangat untuk hidup kembali normal.


Sikap Kirana yang cuek, dan ramah membuat Fachri terpikat dan jatuh hati pada pandangan pertama pada gadis berjilbab itu. Fachri sempat berkecil hati saat melihat Kirana yang sebegitu taatnya, ia juga merasa rendah diri dihadapan keluarga Kiano yang sangat dekat dengan Tuhan. Sedangkan dirinya dari kecil tidak pernah mengerti dengan hal-hal seperti itu, ia dibesarkan dengan limpahan uang bukan kasih sayang. Ia juga di asuh oleh pasangan pelayan yang dipercaya oleh kedua orang tuanya. Kedua pasangan pelayan itu kini telah pensiun, dan kembali kerumahnya menikmati hari tua mereka bersama anak dan cucu mereka.


Fachri masih terkesiap dengan sosok Luna dihadapannya, hingga gadis itu menyapanya.


"Hai Fachri apa kabar." saoa Luna.


"Bab... baik." ucap Fachri terbata.


Fachri menoleh kearah Kirana, dan mengulurkan tangannya.


Kirana tersenyum dan berjalan mendekat.


"Sayang, kamu udah lama?" tanya Mama Fachri saat Kirana mencium tangan dan wanita itu memeluk hangat calon menantunya.


"Baru Ma, bareng sama Kak Fachri tadi." jawab Kirana lembut.


"Ayo kita makan malam dulu Ma." ucap Papa Fachri.


Kirana melirik seseorang yang masih duduk manis disamping Luna.


"Maaf itu...." Kirana menunjuk kearah sosok manis itu.


"Ini putra ku dan..."


"Kita makan malam dulu, nanti baru lanjutkan obrolannya." ucap Papa Fachri memotong ucapan Luna, ia tidak mau merusak suasana dan terjadi kesalah pahaman antara Kirana dan Fachri, dan keluarganya dan calon besannya.


Tidak ada percakapan yang terjadi selama makan malam, hanya terdengar dentingan sendok dan garpu menyertai mereka.

__ADS_1


Kirana masih enggan berpaling dari sosok putra Luna, bocah berumur diperkirakan berumur tiga tahun itu tampak sangat menikmati makan malamnya.


Hingga acara makan malam usai, tidak terjadi percakapan diantara mereka. Kirana tahu bakal ada pembahasan panjang yang akan terjadi, ia pun memutuskan pamit undur diri.


Setelah berpamitan kepada kedua orang tua Fachri Kirana pun menyalami Luna dan putranya.


"Baiklah, saya pamit dulu." Kirana mengulurkan tangannya dan tersenyum.


"Oke.. hati-hati." jawab Luna menyambut tangan Kirana.


"Boleh aku..." Kirana minta ijin kepada Luna.


Luna menganggukan kepalanya.


Kirana berjalan mendekati putra Luna.


"Hai... namaku Kirana, boleh aku tau siapa namamu?" sapa Kirana ramah.


"Andrew.. dia sedikit pemalu." jawab Luna.


Kirana tersenyum dan kembali menghampiri Fachri.


"Kamu mau pulang sekarang sayang?" tanya Fcahri lembut menatap wajah Kirana.


Kirana mengangguk dan tersenyum. Fachri pun pamit pada kedua orang tuanya tanpa menghiraukan keberadaan Luna dan putranya.


Kirana dan Fachri berjalan beriringan hingga kedalam mobil. Kembali mereka terdiam selama dalam perjalanan pulang hingga tiba dirumah pun mereka masih berdiam diri.


"Baiklah, sudah sampai." Kirana melepas sabuk pengamannya dan berniat turun.


Tiba-tiba dengan keberanian yang entah datangnya darimana, Fachri menahan lengan Kirana. Mata Kirana pun membulat sempurna.


"Please Na, temani aku dulu disini." pinta Fachri.


"Kita turun aja Kak, gak enak dilihat." pujuk Kirana.


Fachri menuruti dan turun dari mobil, mereka pun berbincang di kursi taman.


"Ada sesuatu yang akan kamu jelaskan Kak?" tanya Kirana.


"Tentang apa?"


"Entahlah... mungkin tentang Luna dan putranya."


"Aku tidak tau, kenapa dia datang, dan siapa anak itu."


"Jadi..."


"Please Na... jangan berikan pertanyaan apa pun lagi."


"Baiklah.. kalau sudah tidak ada yang ingin dibicarakan, aku akan masuk. Kamu juga sebaiknya pulang, ini sudah malam, pasti akan ada banyak hal menunggumu dirumah." Kirana berjalan masuk dan meninggalakan Fachri sendiri di taman.


*bersambung..


kan... kan... godaan menjelang pernikahan dimulai...


jangan lupa untuk tinggalin jejaknya


dan vote sebanyak-banyaknya.


Boom lima bintangnya juga boleh yaa...


terima kasih


salam sayang author selalu


**I LOVE U ALL***

__ADS_1


__ADS_2