CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA

CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA
142.


__ADS_3

Kini tekad Kiano hanya satu ia ingin bersungguh-sungguh melanjutkan pendidikannya di Swiss, setelah selesai pendidikannya disini. Ia juga sudah merubah keputusannya. Ia akan meneruskan perusahaan milik keluarga, ia akan membuktikan bahwa ia mampu bangkit dari keterpurukan.


Kiano telah bangun, ia telah bersiap untuk menghadiri wisudanya. Hari ini selesailah sudah pendidikan Kiano disini, tanpa terasa lima tahun sudah Kiano berada di Amerika.


"Kamu sudah siap sayang?" tanya Hummairah pada putranya.


"Sudah Mi." jawab Kiano.


Hummairah tersenyum dan mendekati putra kebanggannya.


"Gak terasa ya, rasanya baru kemaren kamu berangkat kesini. Eh, sekarang udahbmau selesai aja." ucap Hummairah mengusap kepala Kiano.


"Kita berangkat sekarang Mi?" tanya Kiano.


Hummairah menganggukan kepalanya dan tersenyum, mereka pun berangkat.


.....


Hummairah telah kembali ke Indonesia, tapi Kiano langsung terbang kembali ke Swiss. Hanya beberapa hari Kiano berada dirumah, untuk mengurus semua keperluannya selama disana.


"Kita seperti pengantin baru lagi ya sayang?" tanya Kendra saat mereka di kamar setelah selesai makan malam.


"Hemmm... pengantin baru, baru tua." Hummairah terkekeh.


"Kamu... gak asik banget sih." rajuk Kendra.


Hummairah tergelak, melihat suaminya merajuk. "Aduh.... suaminya siapa ini." kini Hummairah tertawa puas setelah menggoda suaminya.


"Eh Mi, ngomong-ngomong Kirana udah hampir tiga tahun ya disana. Pulang-pulang hanya dua minggu, si Kanayah juga. Mereka kok betah banget ya disana." ujar Kendra.


"Ya , bagus kalau mereka betah. Dari pada kayak anak-anak lain diluar sana, belum berapa lama udah mau pulang aja." jawab Hummairah.


"Tapi, apa kamu gak kangen sama mereka sayang?"


"Kangen pastilah Mas, tapi mau bagaimana lagi, kalau kangen tinggal nungguin waktu mereka nelpon." jawab Hummairah sedih.


Kendra tersenyum dan berjalan mendekati istrinya. "Kitakan masih bisa bikinin adik untuk mereka." goda Kendra.


"Gak, aku gak mau hamil lagi. Kasian anak-anak, pasti mereka malu jika tau mereka bakal punya adik lagi." pungkas Hummairah.


"Lagian Mas, daripada kita program anak, lebih baik kita suruh Kiano yang nikah. Kita minta cucu dari dia." Hummairah tersenyum.


"Cucu? Bearti aku jadi Opa dong?" tanya Kendra.


"Terserah, mau Opa, mau Kakek terserah. Asal jangan jadi Daddy lagi." seru Hummairah.


"Oke, aku setuju. Kita Opa dan Oma aja ya?! ucap Kendra.


Hummairah menganggukan kepalanya. "Sekarang ayo tidur, hari sudah malam." ujar Hummairah naik ke tempat tidur dan mulai narik selimut.


"Tungguin sayang, aku ikutan." Kendra mengejar istrinya dan juga ikut naik ketempat tidur kemudian masuk kedalam selimut. "Sayang, sebelum tidur. Kita olahraga malam dulu yuk!" ajak Kendra.


"Olahraga untuk apa?" tanya Hummairah.


"Kita nyicil untuk adeknya Kanayah." Kendra menggesekan kepalanya ke kepala istrinya.


Hummairah terkekeh. "Tapi sayangnya, bendunganku lagi jebol Mas, jadinya banjir." Hummairah tertawa dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Apa! Kau lagi dapat tamu bulanan sayang?"


Hummairah mengangguk di dalam selimut.


"Tapi sayang ini si Unyil nya aku udah bangun lho." Kendra sedih.


"Boboin aja lagi." Hummairah pun tertawa puas setelah membuat suaminya manyun.


......


Fachri sedang berada di Prancis, ia melanjutkan pendidikannya disana. Hanya sesekali ia kembali, dan jika ia kembali Fachri pasti akan mampir ke rumah Kendra. Untuk menyapa keluarga keduanya itu.


Tapi belum pernah sekalipun ia bertemu Kirana, sejak gadis itu memutuskan untuk kuliah disana. Kalau pun Kirana pulang ke Indonesia, pasti Fachri yang tidak berada disana. Waktu liburan mereka tidak pernah ketemu, pasti salah satu dari mereka tidak ada. Namun mereka selalu berkomunikasi melalui dunia maya, jika waktu lengang salah satu diantara mereka akan menghubungi satu sama lain.


Seperti saat ini mereka sedang berselancar didunia maya, Kirana baru saja selesai menelpon Ummi dan Daddy, serta sang Kakak.


"Assalamualaikum Na." sapa Fachri.


"Waalaikumsalam Kak. " jawab Kirana sembari tersenyum. "Kakak gak pulang?" tanya Kirana.


"Kayaknya gak Na, kenapa?" jawab Fachri


"Gak, kalau aku bisa pulang bulan ini. Tapi cuma dikasi waktu 10 hari kak, tapi gak apa-apa deh lumayan buat ngilangin kangen sama keluarga." tutur Kirana.


"Sama aku kangen gak?" goda Fachri.


"Apa sih...." Kirana tersipu.


Fachri tersenyum saat melihat wajah Kirana memerah malu.


"Kapan pulangnya." tanya Fachri mengalihkan omongan agar Kirana tidak lagi salah tingkah.


"Mungkin minggu depan Kak, kenapa?"


"Gak... nanya aja." Fachri tersenyum. "Ada oleh-oleh untuk aku gak?" tanya Fachri.


"Ada.. aku bakalan ajak teman aku pulang."


Deg....


Wajah Fachri berubah saat Kirana bilang ia akan membawa temannya pulang. Ia jadi teringat akan kisah Kiano dan Kayla.


"Kak... kenapa, kok bengong?" tanya Kirana heran.


"Gak, gak apa-apa." Fachri tersenyum tidak nyaman.


"Nanti Kak Fachri rebut sendiri dari Kak Kiano ya..." Kirana tersenyum.


"Kok rebutan? Memang oleh-olehnya apa?" tanya Fachri penasaran.

__ADS_1


"Istri sholeha...." jawab Kirana.


Fachri tergelak. "Itu untuk Kiano aja.... aku kan udah punya kamu, untuk apa lagi." seru Fachri.


Kirana terdiam. "Kak, udah dulu ya. Nanti kita lanjut lagi. Assalamualaikum." Kirana pun memutuskan sambungannya.


Fachri tersenyum walau hanya sesaat, ia sudah merasa lega. Fachri hanya tinggal menunggu waktunya Kirana pulang, setelah itu Fachri tidak akan melepaskan Kirana lagi. Kali ini ia akan mengajak kedua orang tuanya, untuk melamar Kirana. Itu janji Fachri.


....


Satu minggu kemudian Kirana pun pulang kerumahnya, ia kembali bersama seorang temannya. Ia telah sampai rumah dan sedang istirahat. Ummi sibuk membuatkan Kirana makanan kesukaannya, sedangkan Daddy nya sedang berada diluar kota.


"Kirana sayang, ajak temannya makan Nak." seru Hummairah.


"Bentar Mi, antum turun makan duluan ya, nanti ana menyusul." ucap Kirana.


"Na'am." gadis itu pun turun dari kamar. Gadis itu bernama Zavira, gadis keturunan Arab. Zavira seorang gadis yatim piatu, kedua orang tuanya telah meninggal, sedangkan ia tidak punya sanak saudara yang lain. Ia dibesarkan di panti asuhan di sebuah kota kecil Mesir. Zavira bisa melanjutkan pendidikannya karena beasiswa dari negaranya, sebab Zavira adalah seorang Qori'ah dan Hafidzah terbaik di kotanya. Setelah selesai pendidikannya, Zavira akan dikembalikan ke panti asuhannya, dan akan bekerja sebagai guru di panti asuhan tempatnya dibesarkan.


Zavira adalah gadis yang tertutup dan pendiam, tapi setelah ada Kirana barulah ia mau sedikit membuka diri dan berteman seperti yang lainnya. Sebelumnya ia lebih banyak menghabiskan waktu di asramanya, memperbaiki hapalannya.


"Makan dulu sayang, sini duduk." ucap Hummairah.


Zavira hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum.


"Jangan malu-malu disini, anggap rumah sendiri. Ummi tinggal sebentar ya, kalau ada perlu apa-apa kamu tinggal bilang sama pelayan." Hummairah beranjak pergi naik keatas.


Tidak lama kemudian terdengar suara bel pintu.


Ting.... Tung....


Salah satu pelayan segera berlari membuka pintu. Itu Kiano, ia segera membeli tiket pulang setelah tau sang Adik kembali.


Kiano berlari saat melihat seorang gadis duduk dimeja makan. Tanpa pikir panjang lagi Kiano langsung saja memeluk dan mengangkatnya.


"Naaaa... gue kangen sama lu." Kiano memutar-mutar Zavira. "Kok lu pulang gak ngasi tau gu sih." lanjut Kiano.


Zavira berusaha melepaskan diri, tapi Kiano terlalu erat memeluknya. Dan Zavira juga sedang berusaha menelan makanan yang sedang ia kunyah saat ini.


Beruntung disaat yang tepat Kirana dan Ummi nya tiba.


"Kiano..." teriak Ummi nya.


"Ummi, Kiano kangen banget sama ni anak." Zavira terus saja berusaha melepaskan diri.


"Diam dulu kenapa sih!." lanjut Kiano. Hingga akhirnya Kirana menegurnya.


"Lu kenapa Kak!" seru Kirana.


Kiano pun terdiam, ia baru sadar ternyata Kirana sedang berdiri di tangga bersama Ummi nya. Mata Kiano membulat, perlahan ia melepaskan pelukannya. Kamudian dengan hati-hati ia menoleh ke arah sosok yang di peluknya sedari tadi.


Kiano pun secepat kilat melepaskan pelukannya saat ia tahu bahwa yang ia peluk bukan Adiknya.


Tak Ayal lagi, Zavira pun langsung naik keatas dan masuk ke kamar.


"Vi... " teriak Kiarana. "Elu si Kak." omel Kirana yang kemudian mengikuti sahabatnya masuk kedalam kamar.


Kiano termenung, ia bingung. Tapi kemudian sesuatu menyadarkannya.


"Aaaaah... Ummi sakit, ampun Ummi." teriak Kiano.


"Kamu tuh apa-apaan haah, udah pulang gak ngasi tau. Sekali pulangnya, maen peluk-peluk anak gadis orang." tutur Hummairah.


"Ampun Mi, Kiano gak tau. Kiano pikir itu Kirana, lagian mana Kiano bisa liat dengan jelas, dia kan pakai cadar Mi." jelas Kiano. "Lepasin Mi, nanti copot telinga Kiano nya." teriak Kiano.


Hummairah pun melepaskan tangannya dari telinga putranya.


"Ummi gak kangen sama Kiano?" Kiano membuka tangannya.


Hummairah pun langsung memeluknya, Kiano tersenyum betapa ia selalu merindukan sosok ini selama ia disana.


....


Didalam kamar Kirana. Zavira begitu shock mendapat perlakuan seperti barusan, seumur hidupnya ia tidak pernah dipeluk apa lagi lawan jenisnya Zavira benar-benar merasa ketakutan saat ini.


"Vi... antum gak apa-apa kan, maaf ya. Saudara laki-laki ana kadang memang suka gitu."


Zavira hanya mengangguk dan mengusap air matanya. Kirana pun memeluk sahabatnya itu. "Sekarang udah tenang kan? Kita lanjut makan lagi yuk!" ajak Kirana.


Zavira menggelengkan kepalanya. "Ana sudah kenyang." jawab Zavira.


Kirana pun tersenyum, ia mengerti Zavira masih perlu waktu sendiri. Akhirnya Kirana pun turun dan bergabung bersama Kakak dan Ummi nya.


"Parah lu, anak orang sampe ketakutan gitu." seru Kirana pada Kakaknya.


"Mana gue tau, lagian juga kan lu gak bilang kalo bakal datang bareng temen lu."


"Kalo temen gue sampe sawan, lu tanggung jawab " tutur Kirana.


"Enak aja, siapa suruh dia pake cadar dirumah. Gue kan jadi gak bisa bedakan." jawab Kiano tidak mau kalah.


Kirana dan Ummi nya hanya menggelengkan kepalanya.


....


Keesokan harinya, Zavira sedang duduk di teras atas bersama Kirana. Seperti biasa mereka selalu melakukan murotal sambung ayat, di asrama mereja selalu melakukan murotal untuk menyempurnakan hapalannya dengan melakukan sambung ayat.


Suara lantunan ayat yang dinyanyikan Zavira dan Kirana mampu mengusik alam bawa sadar Kiano.


Kiano bangun dan segera berjalan mencari sumber suara. Mata Kiano menangkap sosok cantik yang duduk bersama saudaranya, tanpa sadar bibir Kiano membentuk senyum saat melihat dengan jelas wajah Zavira. Kali ini tanpa sengaja gadis itu melepas cadarnya, Kiano begitu terpana melihat wajah putih mulus tanpa polesan apapun. Bibir merah muda alami, mata sendu, pipi yang kemerahan, bulu mata yang lentik, serta bentuk hidung yang mancung seakan menyempurnakan sosok yang sedang tersenyum di hadapannya.


Merasa ada yang memperhatikan, Zavira dengan sigap menyambar cadarnya.


"Kak..." seru Kirana.


"Sorry, gue gak bermaksud ngeganggu. Tapi....." Kiano tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


"Kak, lu gak apa-apa kan?" goda Kirana.

__ADS_1


Kirana tau bahwa sang Kakak sudah memperhatikan mereka sejak tadi.


"Gak, gue gak apa-apa... gue ke bawah dulu." Kiano pun segera pergi meninggalkan Kirana dan Zavira.


Dibawah Kirana sedang sibuk di dapur.


"Mi, sarapan Kiano mana?" seru Kiano yang masih berjalan turun ditangga.


Hummairah tersenyum dan meletakan pekerjaannya, dan segera menghampiri putranya.


Kirana dan Zavira turun dari atas, dan menghampiri Ummi nya.


Dan mereka pun sarapan bersama.


"Daddy kapan pulang Mi?" tanya Kiano.


"Mungkin hari ini." jawab Hummairah.


"Mi, hari ini Nana dan Zavira mau keluar." ujar Kirana.


"Kalian mau kemana?" tanya Hummairah.


"Mau ke toko buku Mi, nyari buku sama keperluan lainnya untuk disana." jawab Kirana.


"Kalian perginya cuma berdua?" tanya Hummairah lagi.


"Iya..." jawab Kirana singkat.


"Gak boleh." Kirana Heran.


"Ummi takut kalau kalian pergi berdua."


"Jadi?"


"Ummi akan suruh Kakak kamu untuk ikut sama kalian." ujar Hummairah.


Mata Kiano terbelalak. "Apa Mi?" Kiano terkejut.


"Kamu harus temani Adik kamu dan temannya belanja hari ini." perintah Hummairah.


"Gak seru kalau Kak Kiano ikut Ummi." seru Kirana. "Lagi pula Zavira masih shock sama Kak Kiano gara-gara kemaren."


"Kan gue udah minta maaf." jawab Kiano polos.


"Awas lu bikin temen gue ketakutan lagi." ancam Kirana.


Hummairah tersenyum melihat kedekatan putra dan putrinya, mereka masih seperti dulu.


Akhirnya Kirana dan Zavira pergi dengan di temani Kiano. Mata Kiano tidak lepas dari sosok Zavira yang selalu mencuri perhatiannya.


"Apa yang sedang gue pikirin." gumma Kiano.


"Kak, kita mampir makan dulu ya! Di cafe tempat kita itu." ajak Kirana.


"Cafe yang mana?" Kiano bingung.


"Cafe yang terakhir kita makan bareng sama...." Kirana tidak melanjutkan kata-kata nya.


Kiano terdiam, kemudian mengehela napasnya. Ia tersenyum kearah Kirana.


"Baiklah, kita kesana." jawab Kiano.


"Yakin?" tanya Kirana lagi.


"Iya gue yakin, soalnya hanya disana g enak menurut gue." tambah Kiano.


"Oke, Vi kita mampir ngopi bentar ya. Setelah itu kita langsung pulang." seru Kirana.


"Tapi Na, bisa cari mushola atau mesjid. *A*na mau sholat dulu." ujar Zavira.


"Oh Oke, Kak bisa cariin mesjid sekitar cafe. Kalau gak salah disana ada." Kiano pun melajukan kendaraan.


Tiba di cafe langganan mereka, tapi sebelumnya Kiano mengantar Zavira ke dalam cafe, sebab cafe itu menyediakan mushola kecil untuk para pegawainya.


"Na, itu temen lu asli Arab? Tapi kok bahasa Indonesia bisa bagus sih!" tanya Kiano saat Zavira sedang tidak bersama mereka.


"Hehehe.... penasaran ya?" kekeh Kirana.


Kiano memutar bola matanya karena kesak di ejek Adiknya.


"Lu suka sama dia ya?" Kirana kembali menggoda Kakaknya.


"Gak lah, siapa bilang." elak Kiano.


"Masa?"


"Terus kalau gue suka dia emang kenapa? Salah, kan gue normal masih suka sama cewek." ucap Kiano membela diri.


"Gak salah sih, cuma itu hati udah mantap belum?"


"Mantap gimana? Emang dulu gue kenapa!"


"Zavira itu yatim piatu Kak, di gak punya saudara satu pun lagi. Ia besar di panti asuhan saat kedua orang tuanya meninggal, dia kuliah juga dari beasiswa dari pemerintah di daerah nya. Selesai kuliah dia akan kembali ke panti, untuk jadi guru disana." cerita Kirana tentang sahabatnya.


Kiano tertegun mendengar cerita Kirana, Kiano pun berpikir betapa beruntungnya dia masih memiliki keluarga yang lengkap, orangtua, saudara, Opa dan Oma, serta keluarga mereka yang lain.


Sesaat kemudian Zavira pun menghampiri mereka.


"Pesan makan Vi, antum boleh pesan makanan sesukanya, akhi ana yang bayar." Kirana terkekeh.


Kiano kembali memutar bola matanya kesak dengan kelakuan sang Adik, yang selalu mengerjainya.


*Bersambung...


Terus tinggalkan jejak komen dan like disetiap eps nya, jangan lupa untuk VOTE ranking dan boom bintang rate untuk memberikan dukungan kepada author.


Terimakasih

__ADS_1


Salam sayang author selalu


**I LOVE U ALL***


__ADS_2