CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA

CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA
190


__ADS_3

Luna akhirnya keluar dari rumah Fachri, Reza dan istrinya memilih tidak melaporkannya kepada polisi asal Luna berjanji tidak akan menganggu kehidupan mereka. Terutama Fachri dan Kirana, jika sampai Luna sampai menganggu hubungan Fachri dan Kirana, maka tidak ada pengampunan lagi bagi Luna.


Luna naik taxi dan menuju hotel dimana Lucas menginap, ia juga membawa serta Andrew bersamanya.


Ting... Tung...


Luna menekan bel kamar Lucas.


Ceklek...


Lucas membuka pintu dan Luna menerobos masuk kedalam kamar sambil menyeret koper dan Andrew.


"Luna... apa yang terjadi, kenapa kamu datang kesini dan membawa koper dan anak kamu?" tanya Lucas.


"Lucas... kamu harus bantu aku." ucap Luna saat tiba di kamar Lucas.


"Bantu apa?"


"Aku diusir oleh keluarga Fachri, mereka telah tau semua kebohongan yang aku lakukan."


"Apa?" Lucas terkejut mendengar pengakuan Luna.


"Ya Lucas, aku diusir dan aku tidak punya tempat tinggal. Aku akan tinggal disini bersama kamu, aku tau kamu pasti tidak akan menolak aku kan?"


"Apa?? kamu mau tinggal disini, sama aku dan anak kamu?"


"Iya Lucas."


Lucas tampak menimbang sejenak.


"Baiklah, kamu dan anak kamu boleh tinggal disini. Tapi dengan syarat, anak kamu tidak boleh menyentuh satupun barang-barang milik ku yang ada disini, dan aku juga mau kalau aku sedang berada disini usahan anak mu jangan menunjukan wajah nya dihadapanku. Jujur aku akui, aku tidak suka anak-anak, apa lagi anak itu nakal." Lucas pun berjalan keluar kamar dan meninggalkan Luna dam putranya didalam kamar.


.....


"Assalammu'alaikum." ucap Fachri dan Kirana bersamaan.


"Waalaikumsalam... Kirana, Fachri kalian udah pulang?' ucap Ummi Hummairah.


"Iya Mi." jawab Kirana sambil mencium tangan Ummi nya, diikuti oleh Fachri.


"Kalian udah sarapan?"


"Udah tadi dirumah Mi." jawab Fachri.


"Kami ke kamar dulu ya Mi." pamit Kirana yang langsung berjalan menaiki tangga.


"Fachri ke atas dulu ya Mi." ucap Fachri menyusul Kirana.


"Waah... ada kemajuan, biasanya Kirana akan menahan Fachri di bawah dan dia yang akan naik sendiri ke kamarnya. Ini kok... apa jangan-jangan mereka udah. Astagfirullah... apa yang aku pikirkan, kalau pun mereka udah. Kan, mereka udah sah sebagai suami istri, udah halal kan." gumam Hummairah sendiri sembari mengelengkan kepalanya.


Sementara di kamar Kirana.


"Kakak mau pakai yang mana?" tanya Kirana pada Fachri yang sedang berada di kamar mandi.


"Terserah kamu dear, kamu pilih yang mana kamu suka, pasti akan aku pakai." jawab Fachri yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk.


Mata Kirana terbelalak saat melihat Fachri bertelanjang dada, ia belum terbiasa dengan semua ini. Kirana kadang masih suka malu jika melihat Fachri dalam keadaan seperti ini.


"Kamu kenapa dear?" tanya Fachri bingung.


"Ah... gak, aku gak apa-apa..." jawab Kirana memalingkan wajahnya. "Ini... pakai yang ini saja, aku siapin dasi sama jas nya."


Kirana beranjak dan berjalan menuju lemari penyimpanan jas.


Fachri yang tahu jika istrinya masih malu-malu, segera berjalan mendekat dan memeluk istrinya dari belakang. Kirana terkejut dan reflek memberontak kemudian memilaskan tangan Fachri.


"Aaawww... dear, kamu mau patahin tangan aku?" ringis Fachri.

__ADS_1


"Kaak... kamu ngagetin." suara Kirana terdengar bergetar.


"Kenapa dear?"


"Maaf Kak, aku hanya belum terbiasa." jawab Kirana menundukan kepalanya.


Fachri tersenyum dan menarik Kirana dalam pelukannya, Kirana menolak.


"Kenapa lagi dear?" tanya Fachri.


"Kamu.... kamu pakai baju dulu." jawab Kirana dengan wajah bersemu merah.


Fachri terkekeh.


"Dear, tadi malam aku polos kamu biasa aja. Malah kamu mendesah saat berada di bawahku." goda Fachri.


"Kaak...."


Fachri menarik kembali Kirana dalam pelukannya, dan mengecup puncak kepalanya.


"Maaf.." ucap Kirana lirih.


"It's oke, aku paham dan mengerti. Kamu hanya belum terbiasa kan?" Fachri membelai wajah Kirana, perlahan ia mengecup bibir tipis Kirana.


Sejenak Fachri melepas pagutannya, dan menatap wajah Kirana.


"Sepertinya aku harus membuatmu terbiasa dengan semua ini." ucap Fachri kemudian kembali ******* bibir Kirana.


Perlahan Kirana membalas ciuman Fachri dengan membuka mulutnya dan membiarkan lidah Fachri masuk kedalamnya. Mereka pun larut dalam suasana penuh cinta hingga tubuh mereka lunglai tidak berdaya, Fachri menjatuhkan tubuhnya disamping Kirana. Kemudian menarik selimut dan membawa Kirana dalam pelukannya. Mereka pun tertidur karena kelelahan.


.....


"Menikahlah dengan ku Kay?" ucap Juna pada Kayla saat ia mengajak Kayla makan malam.


Juna memang merencanakan akan melamar Kayla malam ini, saat ia mengajak Kayla makan malam dirumahnya. Juna telah lama memendam perasaannya pada Kayla, selama ini ia terus berusaha untuk menahannya, tapi kali ini ia sudah tidak mampu lagi. Semakin hari rasa cintanya semakin besar, hingga ia sendiri tidak bisa lagi jauh dari Kayla.


"Aku mohon Kay, sudah lama aku memendam perasaanku padamu."


"Tapi Tuan, anda tau saya siapa kan?" ucap Kayla.


"Aku tau siapa kamu, dan aku tidak peduli. Aku akan menjadi Ayah yang baik untuk anak mu, dan aku yakin kamu juga akan jadi Ibu yang baik untuk anak ku. Kita akan membesarkan anak-anak kita bersama Kay, kemudian memiliki anak lagi agar kelurga kita menjadi kelurga yang utuh dengan anak-anak yang banyak."


Kayla menangis haru, ia tidak menyangka jika akan menemukan pria sebaik Juna, ia sudah menceritakan semua perjalanan hidupnya pada Juna. Dan hanya Juna yang bisa memahami dirinya.


"Kay, aku menunggu jawaban dari mu. Aku harap jawabannya tidak membuat ku kecewa."


Kayla tersenyum kemudian menganggukan kepalanya, Juna tersenyum dan segera berjalan ke arah Kayla dan memeluknya erat.


"Aku mencintaimu Kay, aku sangat mencintaimu." Juna mengecup kening Kayla.


"Terima kasih Tuan... terima kasih." ucap Kayla.


"Terima kasih untuk apa Kay?"


"Untuk semua yang anda lakukan untuk saya, dan anda mau menerima kehadiran saya dihidup dan ditengah keluarga anda."


"Mulai saat ini jangan panggil aku Tuan lagi."


"Jadi aku harus memanggil anda apa, Tuan." tanya Kayla dengan menekan kata Tuan.


"Panggil aku sayang, dan aku akan memanggilmu dengan beib."


"Baiklah Tuan sayang." goda Kayla.


Juna kembali memeluk Kayla dengan erat.


.....

__ADS_1


Derrt....


Derrt...


Suara getar ponsel Fachri yang terletak di meja nakas samping tempat tidur.


Fachri mengerjapkan matanya, dan membukanya perlahan. Dengan hati-hati Fachri tangan Fachri meraba meja dan meraih ponselnya.


Fachri menatap wajah teduh istrinya yang masih terlelap dalam pelukannya, Fachri mengecup kening Kirana kemudian


itu."


Fachri menepuk keningnya, ia benar-benar lupa jika hari ini ia ada janji pada Mamanya ingin melihat ballroom hotel untuk tempat resepsi dirinya dan Kirana.


"Fachri kamu masih disana kan?"


"Masih Ma, Fachri masih disini."


Kirana terbangun, kemudiab menatap Fachri dan mencari tahu siapa yang menelpon.


Fachri menjawab dengan memberi kode, Kirana mengangguk dan kembali masuk kedalam pelukan Fachri.


"Dimana menantu Mama Fachri?" tanya Mia.


"Lagi tidur Ma... kecapekan katanya." jawab Fachri setengah tertawa.


"Oh.... baiklah, suruh dia istirahat, dan segera berikan Mama cucu."


Fachri terkekeh mendengar ucapan Mamanya.


"Ya sudah kalau begitu, Mama tutup dulu. Mama tunggu kamu disini, kalau menantu Mama masih tidur, biarkan saja dia istirahat."


"Iya Ma." Fachri menutup telponnya.


"Mama kenapa Kak?" tanya Kirana mendongakan kepalanya.


"Mama lagi nunggu aku di ballroom hotel tempat resepsi kita digelar nanti."


"Jam berapa sekarang?" tanya Kirana.


"Setengah dua." jawab Fachri.


"Ya Allah Kak, ini udah hampir habis waktu dzuhur." Kirana beringsut untuk bangun, tapi ditahan oleh Fachri.


"Kamu mau kemana dear?"


"Aku mau mandi, dan sholat."


"Bareng ya!"


"Gak mau, yang ada makin lama."


"Gak akan, aku kan juga buru-buru."


"Janji ya?"


"Iya sayang."


"Baiklah." Kirana menurunkan kakinya, tapi kemudian Fachri menggendong dan membawanya masuk ke kamar mandi.


"Kaak... katanya cuma mandi."


"Aku bo'ong."


Kirana hanya bisa pasrah dengan kelakuan Fachri, mereka pun kembali mereguk manisnya madu cinta.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2