CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA

CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA
126.


__ADS_3

Nanny mengutus pengacaranya terbang ke Swedia, untuk mengurus serah terima kuasa atas kepemilikan perusahaan. Nanny kembali mengurung diri didalam kamar, Ilham dan Medinah beserta anak-anaknya telah pulang ke mansion mereka, sedangkan Kakek dan Nanny masih ditahan oleh Hummairah untuk tetap tinggal dirumah mereka.


Setelah anak-anak dan suaminya berangkat, Hummairah membawakan Nanny sarapan ke kamarnya, Kakek dan Ayah duduk di teras belakang.


"Assalammu'alaikum." ucap Hummairah memberi salam. Ia pun masuk dengan membawa nampan ditangannya berisikan sarapan.


Nanny masih duduk didepan jendela kamar, matanya masih menatap keluar jendela.


Hummairah meletakan nampannya diatas meja, kemudian menatanya.


"Nanny, kita sarapan dulu ya." Hummairah menghampiri Nanny dan duduk disampingnya. "Ayo sekarang buka mulut Nanny." perintah Hummairah lembut.


Tapi Nanny hanya tidak bergeming.


Hummairah tidak kehabisan akal untuk mambuat Nanny membuka mulutnya.


"Nanny tau, kemaren Kendra ditipu oleh rekan bisnisnya." Hummairah menghela napas. " Mereka mengajak Kendra untuk bekerja sama, dan Kendra pun menginvestasikan uang perusahaan." Nanny menggeser sedikit posisinya. Hummairah kembali melanjutkan ceritanya. "Semua uang perusahaan habis dibawa lari."


"Kenap Kendra bisa seceroboh itu, bukannya ia selalu hati-hati dalam mengambil keputusan?" ucap Nanny tiba-tiba buka suara.


Hummairah tersenyum, dan mulai menyendok makanan dipiring kemudian menyuapkannya kemulut Nanny. Hummairah pun kembali melanjutkan ceritanya, dan Nanny selalu menyambung ucapan Hummairah. Tapi tanpa ia sadari mulutnya selalu terisi setiap ia berbicara.


Hingga tanpa ia sadari makanan dipiring telah kandas.


"Yup, sudah..." ucap Hummairah tiba-tiba.


"Sudah apa Rah?" Nanny bingung.


"Sudah selesai makannya." sambung Hummairah.


Nanny melirik ke arah piring.


"Kapan Nanny makannya Rah?"


" Barusan..... lho Nanny gak nyadar ya?"


Nanny menggeleng.


Hummairah tersenyum. "Dulu, waktu Arah lagi sedih Nanny juga kayak gini. Cerita panjang lebar, tapi tangan Nanny sambil nyuapi Arah. Sekarang, Arah juga gitu." ucap Hummairah


"Anak nakal." Nanny menarik telinga Hummairah.


"Hahahahaaa.... ampun Nanny, Arah janji ga gitu lagi." teriak Hummairah sambil memegang telinganya yang di tarik oleh Nanny. "Maaf Nanny." ucap Hummairah lagi.


Nanny menarik Hummairah dalam pelukannya. "Terimakasih ya Rah, kamu udah meringankan sedikit rasa sakit dihati Nanny."


"Nanny kita ini keluarga, sudah seharusnya harus saling menyayangi. Nanny sudah seperti Mama bagi Arah, jadi apa salah juka Arah sedikit menghibur Nanny." Hummairah memeluk Nanny lebih erat. "Arah sayang Nanny, jangan sedih lagi ya. Ada Arah disini."


Nanny tersenyum mendengar penuturan cucu menantunya. Tanpa mereka sadari Kakek mendengarkan percakapan mereka dari balik pintu, dan tersenyum.


******


Malam hari di kediaman Kendra, setelah selesai makan Kendra masuk ke ruang kerjanya. Sedangkan yang lain sibuk dengan urusannya.


Setelah merasa aman, Kiano berjalan menuju ruang kerja Daddynya.


Tok..... Tok....Tok...


Ceklek....


"Dad, boleh Kiano masuk?" tanya Kiano.


"Masuklah nak." Kendra memberi ijin.


Kiano pun masuk dan berdiri di depan meja kerjanya.


"Ada apa Ki?" tanya Kendra yang masih menatap layar di hadapannya.


Dengan mengumpulkan semua keberaniannya, akhirnya Kiano memberanikan diri mengucapkannya.


"Dad, Kiano ingin bikin pengakuan." ucap Kiano.


"Pengakuan apa Ki?" masih asyik dengan layar dihadapannya.


"Kiano kemaren nyium Kayla Dad." ucap Kiano cepat.


Kendra membulatkan matanya dan menghentikan aktifitasnya. Kendra menatap Kiano. "Kamu bilang apa tadi Ki, Daddy gak denger." ulang Kendra.


"Kemaren saat di sekolah Kayla masuk UKS, dan Kiano ikut nganterin. Dan disana cuma ada kami berdua, dan akhirnya.... kejadian deh, Kiano nyium bibir Kayla Dad." cerita Kiano.


Kendra berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri putranya. "Kamu serius?" tanya Kendra.


Kiano menganggukan kepalanya sembari memejamkan matanya, ia takut jika sampai Daddy memukulnya.


Tapi diluar dugaan, Daddy nya malah tergelak.


Kiano bingung dengan ulah Daddy nya, yang tertawa.


"Kenapa Daddy tertawa?" tanya Kiano bingung.


"Jadi Daddy harus apa?." Kendra balik bertanya.


"Daddy tidak marah?"


"Marah? Untuk apa?"


"Sebab Kiano ngelakuin yang dilarang oleh Ummi." Kiano tertunduk.


"Ki, untuk anak seumuran kamu itu wajar. Daddy juga dulu seperti kamu, ketakutan saat pertama kali. Tapi setelahnya, Daddy terbiasa." Kendra bercerita sambil terkekeh.


"Ini first kiss kamu?" tanya Kendra lagi.


Kiano mengangguk.


"Kayla bagaimana? Apa ini juga first kiss


untuknya?"


"Mungkin Daddy, soalnya saat Kiano cium dia diam aja." Kiano mengingat kejadian disaat oa mencium Kayla.


"Itu berarti yang pertama kali juga untuknya. Hebat nak, Daddy bangga pada mu."


Sekali lagi Kiano dibuat bingung.


"Tapi ingat Ki, jangan sampai kebablasan. Jika kamu sayang dia, cinta dia, jaga dia sebaik-baiknya. Karena jika kita mencintai dan menyayangi seseorang, kita tidak akan merusaknya. Dan jauhkan dia dari hal-hal yang akan mendatangkan keburukan untuknya. Daddy hanya bisa berpesan agar kalian bisa menjaga hubungan kalian, kalian masih muda, jalan kalian masih panjang. Jangan pernah sia-siakan masa muda kalian, kamu pahamkan maksud Daddy?" Kendra memegang pundak putra kebanggaannya.


Kiano mengangguk. "Kiano paham Dad, Kiano janji gak akan kecewain Daddy dan Ummi. Kiano akan menjaga dan mencintai Kayla seperti Daddy menjaga dan mencintai Ummi."


"Bagus, Daddy pegang janji mu.


"Tapi Dad...." Kiano kembali tidak bisa melanjutkan ucapannya.


"Tapi apa lagi Ki?"


"Ummi Dad, jika Ummi tau hal ini Ummi pasti murka sama Kiano Dad."


"Bagaiman kalau ini kita jadikan rahasia untuk kita berdua?" Kendra mengedipkan mata pada Kiano.

__ADS_1


Kiano mengangguk dan tersenyum tanda paham dan sepakat.


Saat mereka sedang asyik berbincang, Hummairah masuk membawa secangkir teh jahe kesukaan suaminya. Hummairah terkejut saat melihat Kiano berada disana.


"Sayang, kamu disini?" tanya Hummairah pada putranya.


"Kita lagi ngobrol masalah pria sayang." Kendra mencoba menjelaskan.


"Benar Ki?" tanya Hummairah bertanya pada putranya.


"Benar Mi, Kiano cuma nanya sama Daddy tentang usaha kecil. Kiano ingin mendirikan usaha sendiri." Kiano mencari alasan yang tepat. "Baiklah Dad, Kiano gak akan ganggu waktu Daddy sama Ummi. Kiano keluar dulu."


Kiano berjalan keluar.


"Ki, ingat apa yang Daddy ucapkan tadi."


Kiano menganggukan kepalanya dan melanjutkan langkahnya keluar dari ruang kerja Daddy nya.


Hummairah menatap Kendra penuh curiga.


"Ada apa sayang?" tanya Kendra sok polos.


"Apa yang kalian bicarakan tadi? Kamu tidak mengajarkan Kiano yang tidak-tidak kan?" tanya Hummairah penuh selidik.


"Sayang.... apa maksud kamu yang tidak-tidak? Aku dan Kiano sedang membahasa rencana Kiano yang kedepannya ia berencana ingin membuka bisnis kuliner."


"Benar?"


"Benar sayang, kamu kok jadi percayaan sama kau sih."


"Iya maaf, tuh teh nya minum nanti keburu dingin." tunjuk Hummairah.


"Aku gak mau teh."


"Lha, tadi kan bilangnya minta teh."


"Aku mau kamu....." Kendra menarik Hummairah hingga jatuh terduduk di atas sofa, kemudian dengan leluasa Kendra melahap habis bibir istrinya.


******


"Sar, lu harus bikin perhitungan sama Kayla. Tuh anak udah bikin kita diskors, dan kita terancam tidak lulus sekolah." ucap salah satu teman Sarah.


"Bener tuh Sar, dan gue denger dari teman satu kelas kita, Kiano udah jadian sama tuh cewek."


Mata Sarah menatap tajam ke arah temannya.


"Gue gak bohong Sar, dia bilang dia melihat sendiri Kiano dan si Kayla lagi ciuman di UKS."


Sarah mengepalkan tangannya, ia tak percaya jika ia bisa kalah dari Kayla. Ia selalu berusaha menarik perhatian Kiano sejak mereka sama-sama duduk di SMP hingga kini, tapi sedikit pun Kiano tidak pernah memperdulikan nya.


Sedangkan Kayla, gadis itu dengan mudahnya menaklukan hati Kiano. Sarah tidak akan membiaran hal itu terjadi begitu saja. Sarah akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.


*****


Kiano sedang berada di rumah Kayla, sambutan hangat dari Mama Kayla untuk Kiano membuat Kiano senang.


"Sebentarnya tante panggilkan Kayla." ucap Mama Kayla.


Kiano mengangguk dan duduk menunggu.


Tidak lama kemudian Kayla keluar dari kamarnya dan tersenyum kearah Kiano.


"Udah lama?" tanya Kayla.


"Baru aja, kamu udah sehat?"


"Iya, kamu gak sakit. Gimana luka kamy, udah baikan?"


"Luka begini gak ada apa-apa nya, kecil gini."


"Iya, sayangnya aku cewek yang kuat." kekeh Kiano.


"Apa? kamu bilang apa tadi?" tanya Kayla.


"Sayang nya aku."


"Idiih..... udah bisa ya, belajar dimana?"


"Sama kamu." Kiano menunjuk hidung Kayla.


"Ki, kita kan gak lama lagi lulus. Kamu rencananya mau lanjut ke mana?"


"Masih belum tau, belum ada planing. Kamu mau lanjut kemana?"


"Mungkin sama seperti kedua Kakak ku, lanjut di akademi militer."


Kiano tertegun mendengar penuturan gadis di dihadapannya.


"Kamu mau lanjut di akademi militer?"


Kayla menganggukan kepalanya dan tersenyum getir.


"Gak bisa masuk kampus lain Kay?"


"Mungkin bisa, tapi pasti kedua orang tua ku menginginkan kami semua mengikuti jejak mereka menjadi abdi negara."


"Mama mu dulu juga seorang?" Kiano bertanya lagi.


Kayla mengangguk. "Mama dulu seorang dokter di akademi, dan di sanalah mereka bertemu dan akhirnya memutuskan untuk menikah. Tapi kemudian Mama memutuskan mengundurkan diri, dan lebih senang menjadi istri seorang prajurit."


Kiano terdiam, ia menghela napas.


"Lakukan apa yang menjadi perintah orang tua mu, karena aku yakin itu yang terbaik untuk kamu." ucap Kiano.


"Kamu gak keberatan?"


Kiano menggeleng. "Aku akan nunggu kamu." ucap Kiano menggenggam jemari Kayla.


Setelah itu Kiano pun pamit pulang.


******


Beberapa hari kemudian, Kendra membawa seluruh keluarganya ke mansion Kakek.


Sebab besok Kakek, Nanny, dan Ayah Hummairah akan berangkat menunaikan Ibadah Haji.


Semua sibuk mengurus keperluan dan perlengkapan mereka selama disana.


"Kakek, disini Medinah dan Arah sudah siapkan semua perlengkapan Kakek. Nanny juga, dan Ayah juga, jadi kalian gak repor lagi. " ujar Hummairah.


Ketiga orang tua itu hanya mengangguk.


"Selama disana jangan lupa untuk menelpon kami, dan jangan sesekali bikin kami khawatir." tambah Medinah.


"Baiklah, karena semuanya sudah siap lebih baik kita beristirahat." ucap Hummairah.


Mereka pun masuk kedalam kamar masing-masing.

__ADS_1


"Rah." panggil Ayah.


"Iya Yah." Hummairah pun menghampiri Ayahnya.


"Nanti kalau Ayah tidak ada kamu baik-baik jaga diri dan keluarga kamu ya." ucap Ayah tiba-tiba.


"Ayah ngomong apa sih. Arah gak ngerti."


"Nak, orang bilang seseorang yang pergi berhaji itu sama saja dengan orang yang akan pergi menghadap Ilahi. Jadi Ayah harap kamu bisa menjadi istri yang sholehah untuk suamiu, Ibu yang baik untuk anak-anak mu, serta menantu yang berbakti untuk keluarga suamimu." Ayah menghela napas nya, tangan tua nya mengelus kepala Hummairah dan menciumnya. "Ini pertama dan terakhir kalinya Ayah mencium kamu nak, sejak kamu dewasa kamu mulai malu bermanja lagi sama Ayah. Ayah juga berharap kamu selalu dalam lindungan -Nya, doa Ayah disetiap sujud adalah untuk kebahagian mu nak."


Mata Hummairah telah bajir dengan air mata. "Ayah jangan ngomong gitu, Ayah akan baik-baik aja, dan Ayah akan selalu sama Arah." Hummairah pun masuk dalam pelukan Ayahnya.


Kendra yang sedari tadi mengintip diluar, tidak tahan akhirnya ikut masuk kedalam kamar Ayah.


"Masuklah nak Kendra." panggil Ayah.


Kendra pun masuk dan mendekati istri dan mertuanya.


"Lagi ngobrolin apa Yah, kok ada adegan nangisnya?" tanya Kendra.


Ayah tertawa terkekeh. "Ini sedang memberikan Hummairah wejangan."


"Benar sayang, tapi kok kamu nangis. Kenapa?" Kendra menangkup wajah Hummairah dan mengusap air matanya.


Ayah tersenyum melihat keharmonisan antara Hummairah dan Kendra.


"Ayah harap setelah Ayah tidak ada, kalian akan tetap seperti ini, saling menyayangi disaat dekat, dan saling menjaga dikala jauh."


"Tuh kan mas Ayah ngomong gitu lagi." tangis Hummairah pecah dalam pelukan Kendra.


"Sayang, maksud Ayah itu saat Ayah sedang pergi haji aja." hibur Kendra. "Sudah, lebih baik kita keluar sekarang, dan biarkan Ayah istirahat." Kendra pun membawa istrinya keluar dari kamar Ayahnya.


Didalam kamar Hummairah tidak bisa memejamkan matanya, ia masih mencari tahu arti dari setiap ucapan sang Ayah.


Hingga pagi menjelang mata Hummairah tidak juga kunjung terpejam.


Hummairah sudah berada di dapur, ia membantu para pelayan menyiapkan sarapan untuk semua orang. Tidak berapa lama Medinah juga datang membantu, kemudian disusul yang lain juga hadir di ruang makan.


Kiano pamit untuk menjemput Kayla, sebab Kakek dan Nanny meminta Kiano juga mengajak Kayla. Kiano pun segera melajukan mobilnya menuju rumah Kayla.


Tiba dirumah Kayla, gadis itu tampak sudah menunggu di teras rumahnya. Kayla pun segera menghampiri Kiano dan langsung masuk kedalam mobil.


"Gak pamit dulu?" tanya Kiano


"Mama lagi gak ada."


"Kemana?"


"Ke kompi bataliyon."


"Ngapain?"


"Beberapa hari lagi Papa dan Kak Reno pulang dari tugasnya, jadi ada semacam kegiatan gitu disana." jelas Kayla.


Kiano tampak mengerti. "Sudah siap?"


Kayla pun mengangguk.


Kiano segera melajukan mobilnya, kembali menuju mansion keluarga.


Semua telah siap, saat Kiano dan Kayla datang mereka langsung menuju asrama haji.


Seluruh keluarga ikut mengantarkan, sampai disana juga banyak keluarga yang ikut mengantarkan saudaranya. Tapi, hanya bisa mengantar hingga didepan pagar, setelah berpamitan dan bersalaman, Kakek, Nanny, dan Ayah. Mereka pun memutuskan untuk pulang.


Tapi dalam hati Hummairah ada rasa tidak ingin melepas sang Ayah pergi jauh, tapi Hummairah selalu berpikir yang baik, ia tidak mau berburuk sangka.


Dalam perjalanan pulang Hummairah hanya diam, Kendra yang menyadari hal itu mencoba untuk memberikan istrinya ruang untuk sendiri. Kendra sengaja langsung membawa keluarga nya pulang ke huniannya.


"Ummi kemana Dad?" tanya Kirana.


"Jangan gangu Ummi dulu, biarkan Ummi istirahat." Kendra memberitahu putra putrinya.


Kendra pun masuk kedalam ruang kerjanya.


"Kak Ummi kenapa?" tanya Kanaya.


"Gak tau, Ummi dari pergi hingga pulang kerjaan nya diem aja." jelas Kirana.


"Makanya kalian jangan ganggu Ummi dulu, biarkan Ummi istirahat." tambah Kiano.


Kedua adiknya pun menganggukan kepalanya dan berjalan masuk kedalam kamar mereka.


Kini tinggal Kiano dan Kayla di ruang tamu.


"Kita mau tetap disini, atau keluar jalan-jalan?" tanya Kiano.


"Keluar yuk, kemana kek gitu." ajak Kayla.


"Gimana kalau kerumah kamu, kan lagi gak ada orang." ucap Kiano sambil menaik-naikan alisnya.


"Gak mau." tolah Kayla cepat.


"Kan seru cuma tinggal kita berdua." goda Kiano.


"Seru apa, gak ada seru nya yang ada serem aku nya." oceh Kayla.


Kiano tertawa terbahak mendengar ocehan Kayla.


"Kamu tuh ya, kalo udah ngomel gak mau berhenti." Kiano mencubit hidung Kayla.


"Aaww.... sakit." teriak Kayla manja. "Jadi keluar gak?" tanya kayla lagi.


"Ya udah ayo, tapi bentar aku mau bilang sama pelayan dulu. Takut Ummi atau Daddy nyariin." ucap Kiano


Setelah berpesan pada pelayan Kiano pun mengajak Kayla untuk keluar.


Setelah seharian jalan-jalan, Kiano pun mengantar Kayla pulang.


Runah Kayla tampak ramai malam ini.


Kayla dan Kiano saling melempar pandangan, kemudian melanjutkan langkahnya.


Ting.... Tung....


Ceklek....


Pintu terbuka, mata Kayla membulat saat melihat siapa yang membuka pintu.


*Bersambung....


berikan bukti cinta kalian untuk author dengan memberikan Vote, like dan lima bintang rate agar karya author naik ranking.


juga jangan lupa untuk komen di setiap up nya.


terimakasih


**I LOVE U ALL***

__ADS_1


__ADS_2