CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA

CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA
179.


__ADS_3

"Ngelamun Na?" tanya Zavira yang menyadarkan Kirana dari lamunannya.


Kirana tersenyum. "Masuk Za...."


Zavira masuk sambil membawa Zaki putranya dalam gendongannya.


"Eeeh... ada dia juga, sini-sini.." panggil Kirana pada keponakannya.


Bocah berumur belum genap setahun itu pun berlari tertatih menghampirinya, Kirana membawa Zaki kedalam pelukannya.


"Gak keluar Na? tanya Zavira.


Kirana menggelangkan kepalanya tanpa menoleh ke arah Zavira, sebab ia sibuk bermain bersama Zaki.


"Na, gimana kalau nanti sore kita keluar, kita nyusulin Kiano di kantornya." ajak Zavira.


"Kalian aja, aku lagi males mau keluar."


Zavira berjalan menghampiri Kirana, sahabat sekaligus adik iparnya ini.


"Na.... kamu masih mikirin masalah Fachri ya?" tanya Zavira hati-hati.


Kirana tiba-tiba berhenti dari kegiatannya menggoda Zaki.


"Na... sekarang bukan hanya sekedar teman, kita udah jadi keluarga. Apa kamu mau membagi sedikit masalah mu pada ku, aku akan siap mendengarkan semua keluh kesah mu." pujuk Zavira.


Kirana tersenyum. "Aku tidak apa-apa Za, aku baik-baik saja."


Kirana kembali lanjut bermain bersama keponakannya. Tapi Zavira tahu jauh di dalam sana, ada kesedihan yang tersembunyi. Raut wajah Kirana yang selalu ceria, kini hanya ada kesedihan yang tersembunyi dibalik senyum manisnya.


"Na... kamu mau aku telponkan Fachri?"


Jantung Kirana seakan berdegup kencang saat ia mendengar nama Fachri disebut, namun dengan secepatnya ia menyingkirkan rasa itu.


"Tidak perlu.." jawab Kirana.


......


Fachri merasa frustasi, ia benar-benar belum berhasil mengungkap kebenaran masalah yang ia hadapi. Ia benar-benar muak dengan Luna yang masih berada dirumahnya, Fachri sudah jarang pulang kerumahnya. Ia lebih memilih kembali tinggal di apartemantnya.


Kedua orang tua Fachri sudah mulai mengkhawatirkan keadaan putranya, mereka takut Fachri kembali seperti dulu. Terjerat kedalam pengaruh narkoba dan alkohol.


"Pa, apa tidak sebaiknya kita menemui Tuan Kendra dan meminta bantuan pada mereka, Mama khawatir melihat keadaan Fachri sekarang ini." ucap Mia pada suaminya.


"Apa mereka mau membantu kita Ma? Setelah kejadian kemarin, Kirana juga tidak bisa kita hubungi, Kendra seolah-olah memutus komunikasi kita pada Kirana."


"Untuk itu kita harus menemui mereka, walau harus memohon pada mereka, Mama tidak peduli. Bagi Mama hubungan Kirana dan Fachri itu lebih penting."


"Tapi apa mereka masih mau menerima kita Ma? Kalau Papa lihat dari kemarahan Kendra kemarin, Papa rasa itu tidak mungkin."


"Kalau Papa tidak mau melakukannya, biar Mama sendiri yang akan menemui mereka. Mama tidak mau kehilangan gadis seperti Kirana, dan Mama juga tidak mau Fachri kembali seperti dulu." Mia meninggalkan suaminya yang hanya menatap punggung istrinya.


....


Keesokan harinya, Mia datang menemui keluarga Kendra, ditemani oleh suaminya.


"Maaf Nyonya, diluar ada tamu." ucap salah satu pelayan memberitahu majikannya.


Hummairah yang sedang berada ditaman belakang rumahnya, bermain bersama cucu semata wayangnya segera memberikan Zaki pada Zavira.


"Sama Mommy dulu ya, Oma lagi ada tamu." ucap Hummairah.


"Siapa yang datang Mi?" tanya Zavira.


"Ummi juga gak tau, Ummi liat dulu ya."


Hummairah pun berjalan keluar menuju ruang utama, ia pun terkejut saat tahu siapa yang datang menemuinya.


"Pak Reza, Bu Mia.." ucap Hummairah yang langsung menghampiri tamunya.


"Maaf Bu, kami mengganggu waktunya sebentar." ucap Reza.


"Tidak apa-apa Pak, silahkan duduk." Hummairah memeluk Mia dengan erat, dan membawanya duduk disampingnya.


"Apa kabar Bu?" tanya Mia.


"Alhamdulillah saya dan keluarga baik, anda sendiri bagaimana?"


"Saya juga baik, tapi tidak dengan Fachri."


"Maksudnya, Fachri sakit?"


"Fachri... sejak kejadian hari itu dia tidak pernah lagi pulang kerumah, dan pulang jika kami menyuruhnya untuk makan malam bersama, setelahnya ia kembali lagi ke apartementnya." jawab Reza.


"Bu, banti kami untuk menyelidiki kasus ini. Kami tidak mau kalau sampai Fachri kembali seperti dulu, ia sudah tidak lagi mendengarkan kami." ucap Mia lirih.


"Tapi, apa yang bisa kami bantu?" tanya Hummairah.


"Bantu kami bicara pada Fachri melalui Kirana, hanya Kirana yang bisa membujuk Fachri agar mau kembali kerumah." jawab Mia.


"Tapi apa alasan Fachri hingga ia tidak mau pulang kerumah?" tanya Hummairah lagi.


"Karena Luna masih berada dirumah kami." jawab Mia lirih.


"Apa? jadi Luna masih berada disana?"


"Luna tidak mau pergu dari rumah kami, sebelum Fachri mengakui semuanya. Tapi Fachri tidak akan pernah mau mengakuinya, karena Fachri tidak pernah berhubungan dengannya hingga sejauh itu." jawab Reza.


Saat mereka larut dalam pikiran masing-masing, tiba-tiba terdengar suara seseorang memberi salam.


"Assalammu'alaikum." ucap Kendra.


"Waalaikum salam." jawab mereka serentak.


"Mas, kok cepat pulangnya?" tanya Hummairah yang langsung berdiri menghampiri suaminya, mencium tangan suaminya. Kendra tersenyum mengusap kepala istrinya dan mengecupnya.


"Lagi ada tamu?" tanya Kendra.


"Iya... orang tuanya Fachri, duduk dulu ya, temani mereka ngobrol hal penting." bisik Hummairah.


"Apa kabar Pak Kendra?" tanya Reza berdiri dan bersalaman dengan Kendra.

__ADS_1


"Alhamdulillah baik, silahkan duduk kembali" ucap Kendra yang duduk disamping istrinya.


Hummairah pun mulai menceritakan tujuan tamunya yang datang ingin meminta bantuan mereka, menyelesaikan masalah yang sedang mereka hadapi.


"Sayan mohon Pak, saya mohon ijinkan Fachri dan Kirana bertemu. Setidaknya biarkan mereka saling bicara melalui telepon, saya rasa itu sudah cukup bagi Fachri. Mungkin Kirana bisa menahan semua ini, tapi tidak dengan Fachri. Dia sudah seperti orang yang hilang akal, ia hanya berada dikantor dan apartemennya. Tidak pernah kembali kerumah." jelas Mia dengan wajah memelas.


Kendra menghela napas sejenak, ia juga pernah merasakan apa yang Fachri rasakan saat ini. Saat ia dan Hummairah terpisah, Kendra juga seperti orang yang gika kerja. Bedanya saat itu Hummairah dan dia telah menikah, sedangkan Fachri dan Kirana belum.


Kendra juga tahu, apa yang Kirana rasakan saat ini. Meskipun tidak pernah sekalipun putrinya mencurahkan isi hatinya pada siapa pun, kecuali Kiano Kakak nya.


Tapi menurut Kiano, Kirana tidak pernah bercerita apa pun, baik pada dirinya maupun Zavira. Kirana menutup rapat rasa dihatinya dan terus berusaha tersenyum serta menghibur semua orang.


"Sayang, suruh pelayan memanggil Kirana." ucap Kendra.


Hummairah tersenyum dan segera memerintahkan salah satu pelayannya untuk memanggil Kirana di kamarnya.


....


Kirana sedari tadi sudah mengetahui kedatangan orang tua Fachri, tapi ia tidak berani untuk turun dan menemui mereka. Janjinya pada sang ayah lah yang menahan semuanya. Ia hanya bisa duduk dan menunggu berita baik atau bahkan keputusan yang terburuk sekalipun, ia sudah siap menerimannya.


Saat Kirana sedang larut dalam lamunannya, ia kembali tersadar saat mendengar suara ketukan pintu kamarnya.


Dengan langkah gontai ia berjalan ke arah pintu dan membukanya.


Ceklek...


"Maaf Non, Tuan menyuruh Non untuk turun." ucap pelayan.


Kirana hanya menjawang dengan menganggukan kepalanya, dan segera melangkah turun.


"Kirana... " ucap Mia yang langsung berlari memeluk Kirana tanpa mempedulikan sekitarnya.


Hummairah tersenyum melihat Mia yang erat memeluk Kirana.


"Bawa Mama Fachri duduk Na." ucap Hummairah.


Kirana menuntun Mia untuk kembali duduk.


"Na... Daddy langsung aja ya, orang tua Fachri minta bantuan kita untuk menyelesaikan permasalahan mereka, kamu pasti tau kan masalah apa itu, dan mereka juga meminta bantuan kamu untuk bicara Fachri." ujar Kendra menjelaskan pada putrinya.


Kirana masih tertunduk diam tanpa berani mengangkat kepalanya.


"Na, Mama mohon sama kamu. Tolong bicara pada Fachri agar mau kembali kerumah, Mama dan Papa takut ia kembalu seperti dulu." ucap Mia.


Kirana mengangkat sedikit wajahnya dan menatap Daddy nya.


"Kamu mau kan Na?" tanya Mia kembali.


Kirana masih diam dengan mata masih menatap kedua orang tuanya meminta persetujuan.


Hummairah menggenggam erat tangan suaminya, agar mengijinkan. Hummairah tahu apa yang terjadi pada putrinya selama ini.


Kendra yang selalu paham dan kalah jika sudah berhadapan dengan istrinya, akhirnya menganggukan kepalanya.


Mendapat anggukan kepala dari Daddynya, Kirana pun menoleh pada Mia dan menganggukan kepalanya sembari tersenyum.


Mia segera merogoh tas nya, untuk meraih ponselnya dan segera menelpon Fachri.


Tut.... Tut.... Tut....


"Nana harus ngomong apa?" tanya Kirana.


"Suruh dia kemari, bilang padanya Daddy ngajak ketemu." ucap Kendra.


Tidak lama kemudian terdengar suara Fachri menjawab telpon.


"Ya Ma..." ucap Fachri. "Fachri lagi rapat Ma, nanti Mama telpon lagi." Fachri ingin menutup panggilan, tapi ia segera menghentikannya saat mendengar suara lembut yang menyapanya.


"Assalammu'alaikum Kak.... "


Fachri terdiam mendengar dengan seksama dan meyakinkan dirinya jika ia tidak sedang bermimpi sekarang.


"Ini beneran kamu Na?" tanya Fachri menyakinkan lagi.


"Iya Kak, ini Nana. Baru aja beberapa hari, Kak Fachri udah lupa ya?"


"Gak, bukan begitu Na. Aku hanya ingin memastikan bahwa ini benar-benar kamu."


"Ini Nana Kak...."


Fachri terdiam sejenak, ia ingin sekali bertemu dengan Kirana langsung.


"Kamu baik-baik aja kan?" tanya Fachri.


"Iya, alhamdulillah... Kakak lagi sibuk?"


"Gak.... " jawab Fachri.


Mereka kembali terdiam.


"Aku... kangen kamu Na, aku ingin sekali ketemu kamu."


"Kak... hari ini kalau kamu tidak sibuk, kamu bisa kerumah kan?"


"Kapan?"


"Kalau bisa siang ini, Daddy ngajak makan siang bersama. Disini juga sudah ada Mama dan Papa."


"Baiklah, aku akan segera kesana."


"Kami tunggu ya."


"Aku sayang kamu Na." ucap Fachri lagi.


"Hemmm... Nana tau, udah dulu ya."


"Heemm... baiklah, aku akan langsung kesana sekarang."


Kirana menutup telponnya dan kembali menyerahakan ponselnya pada Mia.


"Fachri bilang apa? dia mau pulangkan?" tanya Mia.

__ADS_1


"Nana, cuma bilang apa yang Daddy suruh bilang." jawab Kirana polos.


"Sudah Ma, yang penting Fachri mau menemui kita. Nanti kita bisa bicara padanya jika ia sudah ada disini.


.....


Kayla kini hanya bisa pasrah dengan keputusan pengadilan, yang memenangkan keluarga Yan. Kayla hanya diijinkan bertemu sesekali, tapi dilarang membawanya.


Kayla hanya bisa menangis menatap kepergian Leon.


"Kita tidak bisa melawan mereka Kay, mereka bisa membeli segalanya." ucap Reno.


"Kay, pengadilan juga mengatakan kamu masih bisa menemuinya jika sewaktu-waktu kamu merindukan putramu." sambung Jihan.


Kayla masih menangis sambil memeluk baju yang terakhir kali dipakai oleh putranya.


Reno memberi kode pada istrinya untuk membiarkan Kayla sendiri.


.....


Luna pergi menemui Fachri di kantornya, ia berjalan dengan percaya diri mendekati meja recepsionis.


"Selamat siang Nyonya, ada yang bisa kami bantu?" tanya petugas receosionis.


"Selamat siang, saya ingin bertemu Pak Fachri." jawab Luna.


"Maaf, apa sebelumnya sudah bikin janji?"


"Untuk apa? bilang pada aku Luna calon istrinya ingin menemuinya." ucap Luna pongah.


Kedua recepsionis itu mengernyitkan dahi, dan saling berpandangan.


"Kalian tidak percaya?"


"Maaf bukan kami tidak percaya, tapi setau kami calon istri Pak Fachri adalah Mbak Kirana. Semua orang pasti tau itu." jawab salah satu dari mereka.


"Itu dulu dan sekarang calonnya adalah aku. Sekarang cepat katakan padanya aku ingin menemuinya."


"Maaf Nyonya, jika anda belum membuat janji anda tidak bisa menemui Pak Fachri."


Luna pun emosi dan menarik kerah baju salah satu dari mereka, dan menamparnya.


Plaak...


Wajah Luna memerah karena amarah, semua mata tertuju pada mereka.


Disaat bersamaan Fachri pun keluar dari lift khususnya, dan terkejut melihat ramai orang berkerumun.


"Ada apa ini?" tanya Fachri.


Semua menoleh ke arah Fachri, begitu pula Luna yang langsung berlari menghampiri Fachri. Namun secepat kilat Fachri menghindar.


"Fachri... pecat wanita ini, dia sudah kurang ajar padaku." ucap Luna lantang.


Fachri menatap ke arah petugas recepsionis yang tertunduk ketakutan, Fachri pun berjalan mendekatinya.


Tampak disudut bibirnya pecah.


"Apa yang terjadi?" tanya Fachri padanya.


"Nyonya ini ngotot ingin bertemu anda Pak, tapi saat ditanya bikin janji dia tidak bisa menunjukan nya dan...." ucapannya terpotong.


"Untuk apa aku harus membuat janji bertemu dengan calon suamiku sendiri." sambung Luna yang tidak terima.


Mendengar ucapan Luna seketika membuat Fachri mengeraskan rahangnya.


"Siapa nama kamu?" tanya Fachri


"Yuli Tuan." jawab petugas recepsionis itu.


"Pulanglah dan obati luka mu."


"Saya tidak dipecatkan Tuan?" tanya Yuli sedih.


"Tidak ada yang akan memecatmu, selaim aku."


"Terima kasih Tuan."


"Raka... antar staff kita berobat, buatkan ijin untuknya beberapa hari." ucap Fachri.


"Baik Tuan." jawab Raka sang asissten.


"Dan kamu... pergi dari sini." ucap Fachri.


"Tapi Fachri aku kesini ingin bertemu denganmu, dan mengajakmu makan siang." seru Luna.


"Aku akan makan siang bersama calon istri ku, tapi bukan kamu." Fachri melangkahkan kakinya tanpa menghiraukan teriakan Luna.


"Bilang pada semua staff termasuk securuti, jangan pernah mengijinkan wanita itu masuk dan datang lagi kemari." Fachri masuk kedalam mobil dan meninggalkan kantor menuju ke kediaman Kendra, menemui Kirana.


....


"Assalammu'alaikum." ucao Fachri gugup.


"Waalaikum salam." jawab mereka.


"Masuklah Nak..." ucap Hummairah.


Fachri melangkah masuk, kemudian menyalami mereka satu persatu.


Mata Fachri segera bergerak kesegala arah mencari seseorang.


Semua orang tahu Fachri sedang mencari keberadaan Kirana.


"Kita makan siang dulu yuk! udah siang, pasti udah pada laparkan? Ayo Bu.." ajak Hummairah pada Mama Fachri.


Mereka pun masuk kedalam ruang makan, disana mata Fachri menemukan sosok yang ia cari sedari tadi. Sesaat mata mereka beradu pandang, Kirana tersenyum sekilas kemudian kembali menundukan pandangannya.


Mereka pun duduk setelah Kirana selesai menata meja, mata Fachri tidak pernah beralih kemana pun selain Kirana yang saat ini duduk dihadapannya.


Kirana tahu ada begitu banyak kerinduan dimata Fachri.

__ADS_1


Fachri terus memperhatikan Kirana, ia juga melirik kearah jemari Kirana yang masih menggunakan cincin lamaran milik mamanya yang ia berikan dulu, karena permitaan dan pilihan Kirana sendiri.


Bersambung..


__ADS_2