
Setelah beberapa tahun kemudian, kehidupan keluarga malik beserta anak cucu dan cicitnya amat bahagia. Terlebih satelah kelahiaran putri ketiga Kendra dan Hummairah, serta putra kembar dari pasangan Ilham dan Medinah.
Lengkaplah sudah kebahagian keluarga mereka.
Ilham dan Medinah diminta untuk tinggal dimension keluarga Malik, menemani Kakek dan Nanny.
Sedangkan Kendra dan Hummairah, mereka tinggal dihunian mereka yang Kendra bangun untuk keluarga kecilnya bersama Ayah Hummairah.
Hummairah lebih banyak menghabiskan waktu dirumah, mengurus segala kebutuhan mereka. Tak ada satu waktu pun yang ia lewatkan bersama anak- anak dan suaminya.
Sedangkan Kendra yang selalu sibuk seperti biasanya, ia masih mengelola perusahaan milik keluarganya.
Meskipun sibuk, Kendra selalu menyempatkan waktu untuk bisa berkumpul bersama keluarganya.
Setiap hari minggu Kendra selalu membawa istri dan anak-anaknya pergi jalan-jalan, meski hanya ke taman bermain atau pun pantai.
Jika Kendra akan mengadakan perjalanan baik dalam maupun luar negeri, dan itu bertepatan dengan masa liburan. Kendra selalu membawa serta keluarganya, ia tidak mau ketinggalan sedikitpun momen dengan anak-anaknya.
Seperti pagi ini Kendra sedang menikmati sarapan bersama keluarga kecilnya.
Hummairah sedang menyiapkan bekal untuk anak-anaknya, si bungsu Kanaya, saat ini berumur 10 tahun, ia duduk dikelas 4 sekolah dasar. Sedangkan Kirana berumur 13 tahun dan duduk di kelas VII, dan si sulung Kiano saat ini sedang menghadapi ujian akhir sekolahnya dikelas XII disebuah sekolah Islam terkenal dikota ini.
Hummairah tersenyum melihat kedua putrinya sarapan bersama Daddy nya, sedangkan si sulung baru saja keluar dari kamarnya, dan turun dan langsung menuju meja makan.
"Selamat pagi Ummi, Daddy." sapa Kiano.
"Selamat pagi Kakek. " sapa Kiano pada Kakeknya.
"Pagi sayang." jawab Hummairah
Sedangkan Kendra hanya diam dan menganggukan kepala.
Kakeknya tersenyum melihat cucunya kini sudah tumbuh besarn
"Ini sarapan nya sayang." ucap Hummairah memberikan piring berisi sarapan pada putranya.
"Bagaimana Ki, sudah memikirkan dimana kamu ingin melanjutkan kuliah ?" tanya Kendra membuka pembicaraan pada putranya.
"Masih belum tahu Dad, tapi kemarin juga ada tawaran dari Oxford. Kepala sekolah yang merekomendasikan Kiano untuk kesana Dad. Tapi Kiano belum memberikan jawaban." jawab Kiano datar.
Kiano memang mewarisi semua sifat pendiam dan dingin dari Kendra, ia tak banyak bicara dan lebih banyak diam jika tidak ada yang penting untuk dibicarakan.
"Oxford, itu di Amerika kan ? Tidak Ummi tidak akan ijinkan kamu untuk kuliah disana." Hummairah menyambung ucapan putranya.
Kendra dan Kiano terdiam sesaat dan saling berpandangan. Kendra memberi peringatan dengan mendelik tajam kearah Kiano putranya, agar tidak melanjutkan pembicaraannya.
Sedangkan Ayahnya hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat sikap posesif Hummairah terhadap putra sulungnya.
"Kenapa kalian terdiam, apa kalian merencanakan sesuatu?" tanya Hummairah curiga.
"Bukan begitu sayang." kendra segera berdiri dan mendekati belahan jiwanya.
Kiano, Kirana dan Kayana segera beranjak dari duduknya, mereka tidak mau mendengar drama pagi antara Ummi dan dan Daddy nya.
"Ayo kita berangkat sekarang." ajak Kiano pada adik-adiknya.
Mereka pun pamit pada kedua orang tuanya.
Lalu berjalan keluar menuju mobil yang sudah siap mengantar mereka ke sekolah.
"Pokoknya aku gak setuju mas, kalau Kiano mesti melanjutkan pendidikan diluar negeri." ucap Hummairah.
Kendra hanya tersenyum, ia malas meladeni permaisuri nya ini berdebat.
"Aku berangkat ke kantor dulu ya. " pamit Kendra.
Hummairah mencium tangan Kendra, dan Kendra mencium kening istrinya.
Kebiasaan yang tak pernah berubah, dan tak pernah mereka lupakan.
"Aku antar kedepan ya. " Hummairah membawakan tas Kendra dan berjalan disampingnya.
"Hati-hati dirumah, mungkin aku akan pulang sedikit terlambat." ucap Kendra.
"Kenapa ?"
"Aku dan Ifan akan keluar kota hari ini, meninjau proyek disana." ucap Kendra.
"Baiklah, hati-hati." jawab Hummairah.
Kendra pun masuk kedalam mobil, setelah menyala kemudian mobil itu pun berjalan meninggalkan halaman rumah besar itu.
Hummairah pun masuk kedalam rumah, dan memulai tugasnya yang lain.
Ayah sudah beralih ketaman belakang rumah menikmati udara pagi dibelakang rumah mereka.
"Ayah kenapa disini ? Disini kan dingin." ujar Hummairah.
"Ayah sedang menikmati udara pagi." jawab Ayah.
Hummairah pun duduk disamping Ayahnya.
"Kenapa kamu tidak mengijinkan Kiano untuk melanjutkan pendidikannya diluar negeri? " tanya Ayah.
"Arah masih belum bisa jauh dari Kiano Yah."
"Sampai kapan kamu bisa merasa bahwa kamu bisa jauh dari mereka. Mereka juga punya keingingan, mereka juga punya mimpi. Ya, Kiano putra mu yang mungkin akan selalu ada di dekat mu. Tapi bagaimana dengan Kirana dan Kayana, mereka akan tumbuh besar jadi gadis remaja. Yang bila sudah tiba waktunya mereka akan menikah dan memiliki kehidupan bersama suaminya. Apa kamu juga akan melarang mereka untuk ikut suami mereka nanti?"
"Arah akan membujuk mereka agar tidak jauh dari kami orang tuanya. " jawab Hummairah sembarang.
__ADS_1
"Sekarang Ayah bertanya padamu, apa dulu Ayah juga meminta mu untuk tidak jauh pergi meninggalkan Ayah? Dan kamu juga sempat ikut dengan keluarga suamimu keluar negeri, dan meninggalkan Ayah sendiri disini. Apa Ayah pernah menyuruh mu untuk tidak ikut mereka." ucap Ayah.
Hummairah terdiam, ia pun mengingat dimana dulu diawal pernikahannya bersama Kendra, dimana Kendra belum bia menerima kehadiran Hummairah yang seorang istri hasil perjodohan.
Disaat itu juga kekasih Kendra datang dari luar negeri, dan juga ikut tingga bersama-sama mereka.
Hingga hal itu diketahui oleh Kakek, dan memutuskan untuk membawa Hummairah keluar dari rumah itu dan menjauh dari Kendra.
"Kiano sudah dewasa, dia juga mempunyai keinginan seperi anak seumuran nya. Ia punya dunianya sendiri, dunia untuk mencari jati dirinya. Berteman dan bergaul bersama teman sebayanya, apa kamu pernah melihat Kiano keluar bermain bersama teman-teman nya."
Hummairah kembali terdiam mendengar penuturan dari Ayahnya.
Yang dikatakan Ayah benar, selama ini Kiano tidak pernah keluar rumah meski berkumpul dengan teman-teman disekolah maupun disekitar tempat tinggalnya.
Sepulang sekolah Kiano langsung pulang kerumah, melaksanakan kewajibannya mengerjakan tugas dari sekolah setelah itu ia bermain bersama adik-adiknya.
Hummairah seperti ditampar telak dengan ucapan sang Ayah. Ia menyangka selama ini ia telah membesarkan anak-anaknya secara benar.
"Arah tidak tahu Yah, Arah mengira apa yang Arah lakukan selama ini benar. Arah hanya ingin anak-anak kami menjadi anak yang akan menjaga nama baik orang tua dan keluarga besarnya." ucap Hummairah.
"Kamu tidak salah nak, cara didikan mu tidak ada yang salah. Kalian mendidik anak-anak kalian dengan ilmu agama yang akan menjadi bekal untuk kalian dan diri mereka sendiri kelak dihari akhir.
Mereka juga dapat pendidikan disekolah yang memang mengutamakan pendidikan agamanya."
Hummairah kembali terdiam.
"Kiano telah dewasa dengan ilmu agama yang telah kalian tanamkan padanya dari sejak kecil, itu akan menjadi bekal nya untuk menjalani kehidupan diluar rumah saat ia jauh dari kalian orang tuanya." Ayah menghela napas sejenak. "Tidak ada orang tua yang mampu berpisah dengan anaknya Ra, termasuk Ayah. Dulu saat kamu menikah, Ayah juga merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan sekarang. Takut, ragu apakah kamu bisa terbiasa dengan kehidupan diluar, apa lagi kamu yang saat itu seorang gadis kampung yang menikahi pria seperti Kendra. Dengan latar belakang keluarga kaya raya, kehidupan yang tidak akan sama seperti yang kita jalani di kampung. Ayah juga saat itu takut kalau-kalau keluarganya tidak memperlakukan mu dengan baik, mengingat kamu hanya seorang korban dari keserakahan Paman dan Bibi mu."
Hummairah juga mengingat itu semua.
"Ada rasa tak terima dihati Ayah saat itu, tapi Ayah juga tidak punya kemampuan dan keberanian menghadapi mereka. Ayah hanya bisa mendoakan mu siang dan malam disetiap sujud yang Ayah lakukan, disetiap doa yang Ayah panjatkan, Ayah selalu mendoakan agar kamu mendapatkan yang terbaik dalam setiap langkahmu." ucap Ayah lirih.
Hummairah mendengar ada nada kesedihan disetiap ucapan Ayahnya. Ia pun memutuskan untuk tidak mau lagi membahas masalah ini, ia akan melakukan seperti yang Ayahnya lakukan padanya.
Hummairah mendekati Ayahnya, kemudian menggenggam tangan keriput itu dan menciumnya.
"Terimakasih Yah, terimakasih atas semua doa Ayah untuk Arah. Arah akan selalu mengingat setiap pesan yang Ayah berikan pada Arah. Arah akan mendengarkan nasehat Ayah, Arah akan memberikan Kiano dan adik-adiknya menjalani kehidupannya seperti anak seusianya." janji Hummairah
Ayah tersenyum memandang wajah putri semata wayang nya.
"Ingat selalu pesan Ayah ya, anak itu ibarat pucuk bambu muda. Jika sejak dini kalian melanturnya maka ia akan mengikuti lekukan itu. " lanjut Ayah.
"Iya Yah, Arah akan ingat semua nasihat Ayah. " jawab Hummairah tersenyum.
"Kita masuk yuk Yah, Ayah harus banyak istirahat. Ayah kan lagi tidak enak badan. " ucap Hummairah menuntun Ayahnya berjalan ke kamar.
Lain cerita Kendra Hummairah, lain pula dengan Ilham Medinah.
Ilham kembai mengembangkan bisnis milik Ibu angkatnya, sedangkan Medinah juga sama dengan Hummairah menjadi ibu rumah tangga.
Medinah memutuskan untuk berhenti menjadi bidan, agar fokus membesarkan
Saat ini putranya berumur sepuluh tahun hanya berbeda dua bulan dengan Kanaya putri bungsu Kendra dan Hummairah, dan mereka juga bersekolah disekolah yang sama.
Putra kembar mereka diberi nama Alif dan Alfian.
Alif lebih sosoknya lebih pendiam dan tenang serta pengalah.
Sedangkan Alfian sosok yang rada bandel dan slengek-an.
Tapi mereka berdua saling menyayangi dan saling melindungi.
Kegiatan Medinah pagi hari tidak jauh berbeda dengan kegiatan ibu rumah tangga lainnya.
Mengurus keluarga yang tak hanya anak dan suami, Medinah juga merawat dan mengurus Kakek dan Nanny dirumah itu.
"Mama, dimana dasi Fian. " teriak Alfian yang turun berlari.
"Hati-hati sayang." teriak Medinah.
Alfian mendekati Mama nya, Medinah hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Fian, kemarin kan Mama udah bilang, kalau pulang sekolah ganti baju semua perlangkapan sekolah disimpan di tempatnya." ucap Medinah.
"Fian lupa Ma." elak Alfian.
Tapi mata Alfian menatap Alif sang Kakak yang telah rapi dengan seragam nya.
"Ma, punya Alif kok ada. Kenapa punya Fian gak ada ? " tanya Alfian sambil memakan sarapannya.
"Fian, Kakak kamu selalu mendengarkan apa yang Mama bilang. Sedangkan kamu,apa kamu dengar apa yang Mama bilang kemarin ? " tanya Medinah kesal.
"Fian dengar kok Ma, cuma.... "
"Cuma apa Fian? "
"Kadang Fian suka lupa Ma, apa yang Mama bilang."
Medinah mengehela napas kesal nya.
Tapi seketika wajah Medinah cerah saat Alif mendekatinya.
"Selamat pagi Ma." sapa Alif.
"Pagi sayang, ayo duduk dan makan sarapan mu. " ujar Medinah.
Alif pun duduk disamping saudaranya.
"Selamat pagi Alfin." sapa Alif.
__ADS_1
"Selamat pagi, Lif kamu tau gak dimana aku nyimpan dasi aku kemaren ? " tanya Alfian.
Alif pun mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"Ini! " Alif menunjukan sesuatu.
Alfian pun langsung menyambar nya dari tangan Alif.
"Ma... Mama liatkan ternyata Alif yang nyembunyiin dasi Fian Ma."
"Gak kok Ma, ini Alif temuin di depan pintu kamar Alif kemarin malam. Karena sudah malam, makanya Alif baru ngasi nya hari ini." jelas Alif.
"Kamu pasti bohongkan, kamu mau ngerjain aku kan ? " ucap Alfian
"Cukup Fia, selesai kan sarapan mu dan segera berangkat nanti terlambat." ujar Medinah.
Tuan Malik dan Nanny hanya tersenyum melihat tingkah laku lucu cicitnya.
Ilham saat ini memang sedang tidak berada bersama mereka, Il sedang diluar negeri mengurus proyek kerjasama nya dengan pihak asing.
Setelah selesai sarapan, mobil jemputan sekolah pun telah tiba.
Alif dan Alfian pun segera bergegas keluar, Medinah mengikuti dari belakang.
Didalam mobil itu telah ada Kiano dan adik-adiknya, mereka pun turun menyapa Medinah.
Sebenarnya itu bukan mobil milik sekolah, mobil itu milik Kendra yang ia pesan dengan khusus untuk menjadi bis sekolah, yang akan mengantar anak-anak mereka kesekolah.
"Selamat pagi Mama Medinah. " sapa Kiano mencium tangan Medinah dan diikuti kedua adiknya.
Hummairah dan Medinah memutuskan untuk memanggila mereka dengan panggilan yang sama untuk anak mereka.
Si kembar akan memanggil Hummairah dan Kendra dengan sebutan Ummi dan Daddy.
Begitu juga sebaliknya, Kiano dan kedua adiknya akan memanggil Medinah dan Ilham dengan sebutan Mama dan Papa.
"Hai duo Al. " sapa Kiano pada si kembar.
"Ayo segera berangkat." perintah Medinah.
Sebelum Alfian berdebat lagi dengan Kiano.
Kiano tersenyum melihat wajah kesal Alfian.
Setelah mereka pamit, mobil yang mereka tumpangi pun melaju meninggalkan kediaman keluarga Malik.
Di kantor, Kendra masih berkutat dengan laptopnya bersama Ifan asisten pribadi sekaligus orang kepercayaannya.
"Fan, jam berapa temu janji dengan pihak investor? " tanya Kendra.
"Jam dua tuan." jawab Ifan.
Kendra melirik jam tangannya, dan sekarang sudah pukul setengah satu siang. Ia baru teringat Ia dan Ifan belum makan siang.
"Fan, kamu pergi ke kantin, pesankan saya sesuatu. Jangan lupa untuk kamu juga." perintah Kendra.
"Baik Tuan." jawab Ifan menghentikan sejenak tugasnya, dan segera bergegas melaksanakan perintah lain Tuan nya.
Setelah selesai makan siang, Kendra dan Ifan melanjutkan pekerjaannya.
Tepat setengah dua Kendra dan Ifan pun meninggalkan kantor, untuk bertemu investor dan meeting diluar.
Diperjalanan Ifan tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi ia masih belum juga berani mengatakannya.
Akhirnya Kendra pun buka suara dan bertanya.
"Fan, apa kamu ada masalah ? " tanya Kendra.
"Tidak tuan." jawab Ifan gugup.
"Kamu yakin, aku perhatikan dari tadi kamu tidak tenang. Seperti ada hal yang ingin kau sampaikan, ada apa Fan. Kita sudah berteman lama, dan kamu juga sudah ikut aku lama. Katakan Fan, apa kamu punya masalah? " tanya Kendra lagi.
"Saya merasa curiga dengan investor kita kali ini tuan. "
"Curiga ? Curiga bagaimana maksudmu. " tanya Kendra.
Ifan pun menceritakan semuanya pada Kendra, tentang apa yang ia ketahui.
Setelah mendengar cerita Ifab, Kendra hanya tersenyum tipis.
"Biarkan saja mereka puas bermain dulu Fan, kita lihat seberapa hebat mereka." ujar Kendra.
*Bersambung.
Hai... Hai.... Hai...
Kendra dan Hummairah balik lagi, tapi kali ini ceritanya gak cuma cerita mereka aja ya...
Disini juga kan menceritakan tentang kehidupan anak-anak mereka.
Terutama Kiano yang telah beranjak remaja.
Terus ikuti lanjutan ceritanya ya...
jangan lupa VOTE, BOOM LIKE, DAN RATE BINTANG LIMA nya yaa...
aku tunggu...
**I LOVE U ALL***
__ADS_1