CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA

CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA
128.


__ADS_3

Kendra tertunduk lesu setelah mendengar kabar duka yang Ilham bawa setelah Kakek menelponnya, berita duka itu datang dari tanah suci. Ayah Firman telah meninggal dunia disana, jenazah nya juga telah dikebumikan disana atas permintaannya.


"Bagaimana ini Ham, bagaimana aku akan menyampaikan berita ini pada Istri ku Ham. Dia pasti akan sedih dan sangat terpukul." ucap Kendra lirih.


"Tapi jika kita tidak memberitahu nya sekarang, jika saat kepulangan Kakek dan Nanny ia juga pasti akan tahu, mungkin ia akan lebih terguncang lagi." tambah Ilham.


Kendra bersandar dikursi kebesarannya, air mata Kendra berlinang di pipinya. Kendra mengingat saat kebersamaannya bersama sang Ayah mertua, sosok nya yang bersahaja membuat siapa saja akan selalu mengingatnya.


Kendra selalu ingat apa saja pesan yang selalu beliau ucapkan, disaat terakhir pun Ayah masih sempat berpesan agar mereka akan selalu saling menyanyangi dan ia juga meminta Kendra agar selalu menjaga keutuhan keluarganya.


Kendra larut dalam ingatan nya tentang sosok Ayah mertuanya, hingga Ilham menyadarkan nya.


"Ken, lebih baik kita pulang dulu dan memberitahu Hummairah dan anak-anak mu." Ilham segera membawa Kendra pulang kerumah.


*****


Dirumah Hummairah sedang menyiapkan makan siang untuk buah hatinya pulang sekolah nanti. Saat sedang asyik memasak tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dan pecah.


Praaank.....


Hummairah yang terkejut segera menghentikan aktifitasnya, Hummairah memanggil pelayan agar menggantikan nya sebentar, dan ia akan melihat apa yang terjatuh tadi. Hummairah segera meninggalkan dapur dan kemudian menuju sumber suara.


Hummairah terkejut saat melihat photo nya dan Ayah yang telah terjatuh dan kaca dari figuranya hancur berderai. Hummairah berjalan mendekat dan segera memanggil pelayan, untuk membersihkan nya, sedangkan ia sendiri kembali ke dapur.


Hummairah meletakan photo nya dan sang Ayah di dalam leci lemari yang ada di ruang keluarga. Ia pun kembali kedapur melanjutkan pekerjaannya, hingga seorang pelayan menghampirinya.


"Maaf nyonya tuan besar Kendra sudah kembali bersama tuan Ilham." ucap pelayan memberitahu. Hummairah menganggukan kepalanya, dan segera menemui Kendra dan Ilham.


"Mas, Kak Ilham kok kalian udah pulang dari kantor? Duduk dulu aku akan bikinin teh." ujar Hummairah yang segera berjalan masuk, tapi ditahan oleh Kendra.


"Sayang, ikut aku sebentar." ajak Kendra yang memimpin Hummairah untuk duduk.


"Ada apa mas?" tanya Hummairah saat melihat wajah murung Kendra.


"Kak Ilham ada apa ini, kenapa kalian diam." Hummairah kembali bertanya pada Ilham.


Ilham diam tidak bersuara, Ilham justru menundukan kepalanya.


"Sayang, kamu yang kuat ya." ucap Kendra.


"Ada apa mas? Masa aku bertanya ada apa?" Hummairah kembali bertanya.


"Sayang, Ayah Firman....." Kendra tidak mampu lagi melanjutkan ucapannya, ia justru memeluk istrinya dengan erat.


Air mata Hummairah tiba-tiba berlinang, mata Hummairah menatap lirih ke arah Ilham. Ilham menganggukan kepalanya dengan mata merah.


"Ayah Firman telah meninggalkan kita sayang." ucap Kendra sambil memeluk erat tubuh Hummairah yang mulai goyah.


Tidak ada suara yang terdengar yang keluar dari mulut Hummairah, Ilham hanya melihat air mata Hummairah yang sedari tadi mengalir tiada henti.


"Kakek dan Nanny menelpon dan memberitahu ku Ra, Ayah meninggal tadi subuh waktu Arab Saudi. Saat selesai menunaikan ibadah sholat subuh berjamaah di mesjid, Ayah sempat dilarikan ke rumah sakit tapi nyawa Ayah tidak bisa tertolong lagi." jelas Ilham.


Air mata Hummairah kembali tumpah, tubuh Hummairah bergetar. Kini terdengar segukan yang keluar dari bibir Hummairah, Kendra semakin erat memeluk istrinya.


"Sesuai permintaan Ayah pada Kakek, malam sebelum beliau meninggal. Ayah meminta agar jenazahnya di makamkan disana, agar Ayah bisa dekat dengan Rasulullah." ucap Ilham lirih. Ilham pun kini tidak bisa lagi memendung kesedihannya.


Ayah Firman dikenal Ilham adalah orang yang ramah dan baik, ia juga taat pada Tuhan nya, dan juga sangat jujur dan bersahaja.


Ilham pertama kali mengenalnya saat ia melakukan KKN didesa nya, dan juga mulai mengenal Hummairah.


"Sayang kamu, kenapa diam. Katakan sesuatu, mengapa kamu hanya diam." Kendra mengguncang tubuh Hummairah. Hingga Kendra sadari bahwa Hummairah telah pingsan.


Kendra segera membopong istrinya ke kamarnya, sedangkan Ilham segera memberitahu keluarga dekat mereka dab keluarga yang ada didesa.


Sesampainya dikamar, Kendra meletakan tubuh istrinya diatas tempat tidur mereka.


Kendra menatap sedih ke wajah Hummairah.


"Sayang, kini aku mengerti mengapa Ayah berpesan seperti itu pada ku malam sebelum keberangkatannya." Kendra mengelus pipi Hummairah. "Aku berjanji pada mu, aku akan tunaikan permintaan Ayah yang terakhir." Kendra mengecup kening istrinya.


******


Kiano segera membawa Kayla pulang kerumahnya setelah gadis itu memberitahu keluarganya.


Kiano memacu kendaraannya dengan cepat hingga tanpa terasa mereka sudah tiba dikediamannya. Kiano dan Kayla tiba dirumahnya, disana keluarga dekat dan para tetangga sudah mulai berdatangan. Kiano memimpin tangan Kayla untuk masuk kedalam, Kiano mencari keberadaan Ummi nya.


Kiano menghampiri Medinah. " Ma, dimana Ummi." tanya Kiano.


"Diatas sayang, Ummi sama Daddy. Kamu dan Kayla lebih baik bantuin Mama ya." ujar Medinah.


Kiano dan Kayla mengikuti Medinah menuju kedalam.


Diatas Hummairah masih menangis segukan dalam pelukan Kendra. Tidak ada ratapan atau apapun yang keluar dari mulut Hummairah, yang terdengar hanya segukan dan air mata yang terus saja mengalir deras.


"Sayang, sudah ya. Gak baik terlalu bersedih, lebih baik kita turun sekarang dan menemui keluarga yang datang melayat. Tadi Ilham bilang ada orang-orang dari kampung juga." ucap Kendra membujuk Hummairah.


Hummairah menganggukan kepalanya, Kendra pun membantu Hummairah bangun dan menuntunnya ke kamar mandi.


Setelah mencuci muka, Kendra memasangkan jilbab untuk istrinya.


Kendra membawa istrinya keluar dari kamar, saat mereka turun semua mata tertuju pada Hummairah yang matanya telah sembab karena menangis.


Kendra menuntun langkah istrinya, menuju kebawah.


Kiano dan adik-adiknya menghampiri Ummi nya. Mereka pun duduk disamping Ummi dan Daddy, disana juga ada Kayla yang duduk disamping Kiano.


Keesokan harinya semakin ramai pelayat yang datang, tidak hanya dari warga dan tetangga sekitar, tapi juga para rekan bisnis Kendra dan Ilham. Tampak keluarga Kayla juga datang melayat. Kiano menyambut mereka, dan membawa kepada Daddy dan Ummi nya untuk diperkenalkan.


"Ummi, ini keluarganya Kayla. Papanya, Mamanya, dan ini mas Reno Kakaknya Kayla." tutur Kiano memperkenalkan satu persatu keluarga Kayla.


"Kami turut berduka cita nyonya Kendra, semoga amal ibadah Ayahanda anda diterima dan ditempatkan di tempat yang layak di sisi -Nya." ucap Papa Kayla.


"Aamiin.... terimakasih." jawab Hummairah lembut. "Silahkan duduk, Ki bawakan keluarga Kayla minuman." perintah Hummairah.

__ADS_1


Kiano menganggukan kepalanya, ia pun segera masuk kedalam.


Kendra menghampiri istrinya. "Sayang, kamu mau istirahat gak?" tanya Kendra.


"Gak mas." jawab Hummairah.


"Yakin?" tanya Kendra lagi.


Hummairah menganggukan kepalanya. "Mas ini kenalin keluarganya Kayla." Hummairah pun memperkenalkan kembali kepada Kendra. Papa Kayla serta Reno tampak bercengkrama hangat, sedangkan Mama nya menemani Hummairah dan duduk disampingnya.


Papa dan Mama Kayla melihat betapa besarnya cinta yang Kendra miliki untuk istrinya.


Tidak lama kemudian datanglah keluarga Sarah, mereka pun menghampiri Kendra yang sedang mengobrol bersama Papa dan Kakak Kayla.


"Tuan Kendra." sapa Papa Sarah.


Kendra menoleh dan tersenyum, kemudian menjabat tangannya. Mereka pun larut kedalam obrolan kembali, Papa Kayla dan Reno juga tampak tidak canggung lagi kepada Kendra dan keluarganya.


Mata sarah tampak mencari sesuatu, ia mengitari sekeliling aula besar dirumah keluarga Kiano.


Hingga akhirnya matanya menangkap objek yang ia cari, Kiano. Tapi Kiano sedang sibuk bersama Kayla membantu Medinah menyiapkan semuanya.


Tangan Sarah mengepal geram, ia tidak terima mengapa harus Kayla yang bisa dekat dengan keluarga Kiano. Kayla tampak sudah tidak canggung lagi memanggip Medinah dan Ilham dengan panggilan Mama dan Papa.


Sarah menghampiri Kiano yang sedang membereskan kemasan air mineral sisa para tamu.


"Hai Ki, apa kabar." sapa Sarah.


"Aku baik, kamu sendiri bagaimana?" tanya Kiano ramah. Dari awal memang Kiano menganggap Sarah adalah temannya, tidak lebih. Maka dari itu Kiano masih bersikap baik pada Sarah, Kiano juga masih menghargai keluarga Sarah terutama Papa nya adalah rekan bisnis dari Daddy.


Kiano pun berbincang sejenak dengan Sarah, sambil melakukan pekerjaannya. Sarah merasa senang ia mengira Kiano masih peduli padanya.


"Ki, Papa Ilham manggilin kamu." ujar Kayla yang tiba-tiba datang. Kayla lalu menyapa Sarah. "Hai Sar, kapan datang?" sap Kayla ramah.


"Dari tadi." jawab Sarah tidak suka.


Kiano yang tau akan situasi saat itu, segea membawa Kayla masuk kedalam.


"Kay, kamu temani Ummi aja. Aku kan ke Papa Ilham sekarang." pinta Kiano. "Sar, maaf aku gak bisa temani kamu. Aku permisi ya." Kiano pun berlalu bersama Kayla.


"Awas aja lu Kay, gaya lu udah sok kayak nona muda dirumah ini. Tunggu aja gue akan bikin perhitungan lagi sama lu." Sarah lun segera pergi dari tempat itu dan bergabung bersama yang lainnya.


Tidak lama kemudian sampai lah orang-orang dari kampung halaman Hummairah, bude Ayu dan Bilal orang yang bertugas menjaga rumah dan ternak juga datang untuk melayat.


Dan tidak ketinggalan Ardi beserta istrinya Ratna, mereka membawa serta Intan yang sudah dinyatakan sembuh dari stress nya.


"Gila Pak, rumahnya si Hummairah besar sekali ya Pak." ucap Ratna kagum.


"Iya Bu, Hummairah beruntung sekali ya Bu. Ini luasnya aja sama kayak luas pasar dikampung kita Bu." sambung Ardi.


Intan masih diam, ia enggan menanggapi sikap kedua orang tuanya. Intan mengitari sekitar ruangan rumah besar itu, hingga mata Intan menatap photo besar didinding rumah.


Photo keluarga yang masih lengkap, tapi mata Intan menatap wajah Kendra, didalam photo itu Kendra memang terlihat lebih tampan.


Apa lagi saat ini Intan sudah melihat Kendra, baginya Kendra semakin hari semakin terlihat tampan dan lebih matang. Intan semakin memuja dan menyukai Kendra.


Intan memberanikan diri mendekati Kendra yang sedang menghibur istrinya.


"Hai ken." sapa Intan.


Kendra dan Hummairah menoleh kebelakang, mata Kendra dan Hummairah membulat. Mereka tidak menyangka Intan masih berani menunjukan wajahnya dihadapan mereka.


"Kamu......" ujar Kendra ketus.


"Intan." Hummairah menyebut namanya.


"Hai, apa kabar kalian." tanya Intan.


"Ngapain kamu kemari." tanya Kendra tidak suka.


"Apa lagi, ngelayat sama seperti yang lainnya." jawab Intan.


"Kamu masih berani menunjukan wajah mu pada kami, setelah apa yang kau lakukan pada keluarga kami." tutur Kendra penuh kebencian.


"Mas, udah ya malu didengar orang." ujar Hummairah.


"Sayang , kamu tau kan aku benci sekali sama dia, setelah apa yang dia lakukan kepada kita dan Kiano."


Intan tersenyum, ia tidak peduli dengan ucapan Kendra yang memojokan dan terus menudingnya. Intan tidak bergerak dari posisinya, walau Kendra telah mengusirnya.


"Mas, kita pergi dari sini ya. Intan kami permisi dulu." Hummairah sengaja membawa Kendra pergi dari hadapan Intan, ia tidak mau kalau sampai Kendra mengamuk kembali. Sebab Kendra begitu membenci Intan, karena perbuatannya menculik Kiano.


Malam hari dirumah Kendra mengadakan tahlilan, Kayla masih membantu disana. Sedangkan keluarganya sudah pulang terlebih dahulu, warga desanya juga sudah pulang kedesa. Sebenarnya Hummairah masih ingin menahan mereka hingga malam setelah tahlilan selesai, tapi mengingat sifat Kendra ke Intan membuat Hummairah membatalkan niatnya. Hummairah tidak mau terjadi keributan yang ditimbulkan Kendra saat melihat Intan kembali.


Setelah tahlilan selesai, Kayla pun pamit pulang.


"Om, Tante Kay pamit pulang dulu." Kayla mencium tangan Hummairah.


"Terimakasih ya sayang atas batuannya seharian ini." ucap Hummairah.


"Iya Tante, sama-sama. Om Kay pamit ya." Kayla pamit pada Kendra.


"Iya, makasih ya. Ingat besok datang lagi ajak juga keluarga kamu, dan kirim salam untuk Papa kamu." ucap Kendra.


"Iya Om, nanti Kay sampaikan."


"Kamu diantar sama Kiano Kay?" tanya Hummairah.


"Iya Tante, Kiano nya lagi naik ke kamar." jawab Kayla.


"Hemmm.... ya sudah baiklah." tutur Hummairah tersenyum.


Kiano turun dari kamarnya, ia terlihat tampan dengan setelan casualnya. Kiano tersenyum dihadapan dua wanita yang selalu ada di hatinya.

__ADS_1


"Udah siap?" tanya Kiano pada Kayla.


Kayla menganggukan kepalanya, tiba-tiba Sarah menyela ucapan Kiano dan Kayla.


"Tunggu." Sarah berlari tergopoh menghampiri Kiano dan Kayla. "Ki, boleh aku ikut kalian, aku juga mau pulang."


"Kamu masih disini?" tanya Kiano heran.


"Tadi waktu orang tua aku pulang, aku masih mau disini." kawab Sarah.


"Udah Ki, antar sekalian kasia dia." ucap Hummairah.


"Ya udah ayo, Mi kita berangkat dulu ya!" setelah Kiano pamit, mereka pun berangkat.


********


Papa dan Mama Kendra telah tiba dibandara, Kiano di tugaskan menjemput Opa dan Oma nya. Tiba di bandara Kiano tidak sulit menemukan mereka, sebab mereka telah menunggu di pintu masuk. Mobil Kiano kembali melaju meninggalkan bandara.


Kiano tidak lupa untuk menjemput Kayla dirumahnya.


"Ini rumah siapa Ki?" tanya sang Oma.


"Rumah teman Oma." jawab Kiano santai. "Opa dan Oma nunggu bentar ya, Kiano turun dulu." Setelah mendapat anggukan kepala dari Opa dan Oma nya, Kiano pun turun dari mobil dan berjalan menuju rumah Kayla.


Kayla tersenyum manis menyambut Kiano, setelah Kiano berpamitan pada keluarga Kayla, Kiano pun pamit untuk membawa kayla ke rumahnya. Kiano dan Kayla tampak sumringah bercanda. Opa dan Oma nya pun menganguk mengerti.


Kayla masuk mobil. " Kay, kenalin ini Opa dan Oma ku. Papa dan Mamda dari Daddy." tutur Kiano memperkenalkan.


Kayla mengangguk dan mencium tangan kepada pasangan itu. Mereka tersenyum melihat wajah Kayla.


Mobil yang dikendarai Kiano tiba kediamannya, Ilham dan Medinah menyambut kedatangan Mama dan Papa Kendra.


"Dimana Hummairah?" tanya Mama saat turun dari mobil.


"Di kamar Ayah Tante." jawab Medinah.


Mama langsung berjalan masuk menuju kamar Ayah Hummairah.


Saat ini Hummairah sedang membereskan kamar milik Ayahnya. Memisahkan barang-barangnya, dan akan diberikan kepada yang membutuhkan.


Mama menerobos masuk dan melihat Hummairah sedang duduk memeluk baju milik Ayahnya. Hummairah menoleh saat suara pintu terbuka, air mata Hummairah kembali tumpah saat Mama berjalan mendekati Hummairah.


Mama duduk disamping Hummairah, memegang pundaknya kemudian memeluknya.


Tangis Hummairah kembali pecah saat sang mertua memeluk dan mengelusnya sayang.


Papa serta Kendra juga ikut masuk kedalam kamar.


"Ikhlaskan sayang, mungkin ini jalan terbaik untuk Ayah kamu. Selalu doakan Ayah kamu agar beliau tenang disana." ucap sang Papa mertua.


"Kendra, sebaiknya bawa istri kamu istirahat dikamar." perintah Mama.


Kendra mengangguk kemudian berjalan mendekati Hummairah.


"Arah pengen istirahat disini Ma." pinta Hummairah.


"Baiklah, Kendra lebih baik kamu temani istri kamu disini. Biar urusan diluar di handle oleh Ilham dan Medinah." tutur Mama.


"Mama dan Papa keluar dulu ya sayang, kamu istirahat disini. Kalau ada apa-apa panggul panggil kami." lanjut Mama.


Hummairah menganggukan kepalanya, Mama dab Papa pun keluar dari kamar dan meninggalkan Hummairah dan Kendra didalam kamar.


"Hummairah pasti kehilangan ya Pa, Mama jadi gak tega liatnya." tutur Mama.


"Iya Ma, sebab Hummairah sangat dekat dengan Ayahnya. Dan juga ia tidak melihat saat terkahir Ayahnya, mungkin itu yang bikin ia teramat sedih." sambung Papa.


"Kita harus menghibur menantu kita Pa, kalau nanti Papa pulang Mama tinggal ya! Kasiana menatu kita dia bakalan sedih terus karena gak ada temannya."


"Iya, terserah Mama, Papa ikut aja yang mana baiknya. Ayo kita kedalam, kita lihat apa mereka perlu bantuan kita."


Mereka pun masuk kedalam dan bergabung dengan Medinah dan Ilham.


*******


Satu minggu setelah kepergian Ayah Hummairah, rumah sudah lengang sebab Ilham telah membawa keluarganya pulang ke mansionnya.


Papa juga sudah pulang lagi ke Jerman, Kendra kesekolah Kiano untuk mengambil amplop Kiano.


Tinggallah Hummairah dan Mama mertuanya dirumah bersama pelayan.


"Sayang, kita pergi belanja yuk. Besok kan Nanny dan Kakek pulang, jadi kita bikin persiapan untuk besok." ajak mertuanya.


"Hummairah udah mesan kue sama Mama nya Kayla untuk besok Ma. Kalau untuk makanan lainnya, Arah serahkan sama Medinah aja bagaimana baiknya." jawab Hummairah.


"Baiklah, tapu kamu temani Mama shopping nya. Udah lama kita gak belanja bareng, berburu barang-barang diskon." pujuk Mama.


Demi menyenangkan hati mertuanya, akhirnya Hummairah mneyetujui pergi menemaninya berbelanja.


*********


Disekolah Kendra menjadi pusat perhatian Ibu-Ibu para orang tua dan wali murid. Kiano tidak bisa jauh-jauh dari sang Daddy, sebab lengah sedikit saja ia bakal kehilangan jejak sang Daddy.


"Ki, apa mereka selalu begini kalau setiap ada undangan pertemuan wali murid?" tanya Kendra yang mulai jengah.


"Gak pernah terjadi, sebelum Daddy datang." jawab Kiano menatap jengkel kepada Ibu salah satu murid, yang sedari tadi melambaikan tangannya ke arah sang Daddy.


"Masih lama gak sih Ki, Daddy khawatir sama Ummi kamu nih."tanya Kendra. "Lagian Kayla, bukannya nyuruh Papa atau Kakaknya yang datang, malah Mamanya." gerutu Kendra.


"Memang kenapa kalau Kayla ngajakin Papa atau mas Reno, lagian bentar lagi Dad palingan lagi nungguin kepala yayasan." Kiano menggeleng dengan ulah Daddy nya.


Tidak lama kemudian mereka pun disuruh masuk kedalam aula dan acara pengambilan amplop pun dilaksanakan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2