
Hummairah segera memberi kabar pada keluarga Nathan tentang kabar gembira dari Kanayah, mereka pun menyambut gembira kabar bahagia itu. Mereka segera mempersiapkan segalanya, mula-mula mereka datang kembali untuk melakukan proses pelamaran, tidak ramai yang hadir dari keluarga inti Nathan, hanya kedua orang tuanya dan beberapa familynya, mereka lebih memilih hadir semuanya di pernikahan dan resepsi nanti.
Mereka disambut dengan hangat oleh keluarga Kendra, setelah selesai proses lamaran. Mereka pun membicarakan tentang resepsinya, keluarga Nathan hanya meminta tempo satu bulan. Janyah duduk di samping kedua Kakaknya, diam-diam Nathan selalu curi-curi memandang Kanayah.
"Ummi sama Daddy yakin dalam waktu sebulan bisa mempersiapkan semuanya? Waktu Kirana aja dulu, kita masih kayak orang kebakran jenggot nanganinnya." celetuk Kiano setelah rombongan keluarga Nathan pulang.
"Justru itu Ki, Ummi takut kejadian seperti Kirana terulang kembali, jadi Ummi memutuskan untuk mempercepatnya. Lagi pula keluarga Nathan juga tidak keberatan, mereka pun menyambut baik semuanya." jawab Ummi Hummairah.
"Ya iyalah.... Mama nya Nathan kan udah keder pengen jadiin Kanayah mantunya." tambah Kiano.
"Itu dia, ini juga bukan keputusan Ummi sendiri. Mama nya Nathan juga yang ngusulin."
"Pantes.." Kiano pun tertawa.
.....
Mama Nathan benar-benar senang, dia terus saja tidak ada habisnya menyebut nama Kanayah. Nathan dan Papa nya hanya saling pandang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Nathan, kalau ini cocok gak untuk Kanayah?" tanya Mama Nathan saat menunjukan sebuah set perhiasan.
"Ma.... Kanayah itu tipikal cewek sederhana, mana mau dia pakai yag gelamor begini." jawab Nathan.
"Wah... Nathan, ternyata kamu lebih mengenal Kanayah ya?" celetuk Papa sambil tertawa.
"Bukan gitu Pa, kita bisa lihat dari keseharianya saja. Dia itu anak orang kaya, tapi apa Papa dan Mama lihat bagaimana penampilannya. Tampilannya selalu sederhana, dan gak mencolok. bagi yang tidak mengenalnya dengan baik, tidak akan ada yang tau bahwa dia anak salah satu milyuner." jelas Nathan
"Yang dikatakan Nathan ada benarnya juga Pa." jawab Mama sambil berpikir. "Baiklah... Mama akan menghubungi Kirana, Kakak nya Kanaya."
"Untuk apa Ma?" tanya Nathan bingung.
"Mertuanya Kirana kan seorang desain perhiasan, Mama mau minta bantuan Kirana nyariin yang cocok untuk Kanayah. Mau cari yang simpel tapi masih terlihat elegan, soalnya sosok Kanayah itu sangat sederhana." ucap Kanayah.
Nathan dan Papa nya hanya menggelengkan kepalanya.
Kanayah merenung di dalan kamarnya, sesekali ia menghela napasnya kasar. Ia tidak mengira, jika ia akan menikah dengan seseorang yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia telah mencoba untuk menghindari semuanya, melupakan sosok calon suaminya. Tapi, entah mengapa hanya wajah itu yang selalu ada di dalam pikiran dan jiwanya. Bahkan disetiap sujud malamnya, ia selalu membayangkan sosok wajah itu selalu menghiasi malamnya. Maka saat itulah ia meyakini jika Nathan lah, calon imam yang telah dituliskan untuknya. Kanayah kembali menghela napasnya.
Tok... Tok... Tok...
Ceklek...
"Boleh gue masuk Nay?" tanya Kirana dibalik pintu.
"Masuk Kak." seru Kirana langsung duduk ditempat tidurnya.
"Ada yang mau gue omongin." ucap Kirana.
"Apa?"
Kirana pun mengunjukan sesuatu pada Kanayah.
"Ini apa?" tanya Kanayah bingung.
"Itu contoh perhiasan yang bakal didesain buat lu. Calon mertua lu, Mama nya si Nathan minta bantuan gue buat nanya ke lu yang mana lu suka."
Kanayah tampak membolak balik gambar desain perhiasan itu, tapi tidak ada satu pun yang membuatnya berselera.
"Gue gak suka." ucap Kanayah singkat.
"Serius... dari sekian banyak model disini, lu gak suka semua?"
"Iya serius gue."
"Jadi lu mau nya gimana?"
"Gue mau yang simpel dan sederhana, itu semua terlalu glamor dan mencolok. Gue gak suka, gue bukan kaum sosialita."
__ADS_1
Kirana tersenyum. "Baiklah, jadi lu gak ada yang lu suka nih?"
Kanayah menganggukan kepalanya.
"Oke... kalau begitu gue keluar dulu, mau ngasi tau Mama nya Nathan."
Kanayah menatap punggung saudarinya yang menghilang dari balik pintu.
Dibawah Kendra dan keluarganya sedang berkumpul.
"Sayang..." sapa Fachri melihat Kirana turun dari kamar Kanayah.
Semua menoleh ke arah Kirana.
Kirana duduk disamping suaminya.
"Gimana Na, Nay udah mutusin mau yang mana?" tanya Ummi Hummairah.
"Belum Ummi, Nay bilang dia gak suka model yang ada didalam."
"Jadi gimana?" lanjut Kiano.
"Ya, kita bilang aja kalau Nay gak suka model ini."
"Anak Ummi yang satu itu emang unik, lihat aja. Dari Ummi ngidamin dia aja udah aneh, sampai lahirpun, yang dua normal, dia cesar. Pas lahir masuk inkubator, alergi makanan, susu, dan beberapa jenis makanan lainnya." kenang Kendra.
"Iya ya Mas, Kanayah emang berbeda."
"Tapi dia gak pernah mau nyusahin kita sayang. Dia itu mandiri, sejak dini aja udah bisa menghasilkan uang."
"Serius Dad?" tanya Fachri tidak percaya.
"Iya... dia itu suka berniaga, dia biasanya meminta Ummi membuat sesuatu. Dia yang jual, nanti uangnya di bagi sama Ummi." tutur Ummi.
"Waah... ternyata Kanayah hebat ya." puji Fachri.
"Gak... gue gak gitu, gue tuh selalu bantuin dia nawarin ke teman-teman gue yang cewek. Wajar dong gue minta bagian gue."
Semua tergelak tawa mendengar cerita Kiano.
"Ke kamar yuk sayang, aku capek." bisik Fachri pada Kirana.
"Nana pamit ke kamar dulu ya, Kak Fachri capek katanya." ucap Kirana pamit.
"Iya sayang." jawab Hummairah.
"Lu Fachri alasan aja capek, pasti lu mau ngajakin adek gue maen bola kan? Secara lu kan belum cetak, beda ama gue yang udah calon dua." ledek Kiano.
"Lu tau aja Ki isi kepala gue.... Gue heran kenapa Kirana belum juga hamil. Kan gue nikah udah hampit setahun, sedangkan lu kan baru setor aja udah numpuk."
"Gue tokcer." semua tertawa lepas mendengar jawaban Kiano.
Hummairah dan Kendra hanya menggelengkan kepala.
"Kenapa lagi Mama kamu Nath?" tanya Papa Nathan.
"Palingan Kanayah lagi." jawab Nathan.
"Pa... bantuin Mama, Kanayah gak mau perhiasanny."
"Lho... kok bisa?"
"Itu dia, Mama kan nyuruh dia milih Kirana bilang dia gal milih yang mana pun malahan dia bilag kalau gak ada perhiasan juga gak apa-apa." ucap Mama.
"Benar Ma?" tanya Papa heran.
__ADS_1
"Pusing Mama Pa."
Nathan tampak berpikir sejenak, kemudian ia mengambil kunci mobil dan berjalan keluar.
"Kamu mau ke mana Nathan?" seru Mama.
"Keluar ada perlu." jawab Nathan.
Nathan pergi kesebuah tokoh perhiasan, ia masuk dan matany mulai menelusuri setiap sudut rak etalase.
Seorang pegawai toko menghampiri Nathan.
"Selamat siang Tuan, ada yang bisa kami bantu?"
"Aku ingin mencari set perhiasan untuk calon istriku." jawab Nathan.
"Boleh saya tau calon istri anda orangnya seperti apa?" tanya pegawai toko.
"Dia suka yang sifatnya sederhana dan simpel." jawab Nathan.
"Saya mengerti... mari ikut saya, saya akan tunjukan beberapa contoh."
Nathan menganggukan kepalanya dan mengikuti pegawai tokoh, pegawai itu lalu memerintahkan salah satu temannya untuk menunjukan beberapa contoh.
Nathan tampak memperhatikan satu persatu, hingga mata Nathan tertuju pada satu model dan langsung menunjuknya.
"Aku mau yang ini." tunjuk Nathan.
"Waah... anda hebat Tuan, pilihan anda adalah keluaran terbaru dan belum ada yang memilikinya."
"Aku mau, jangan di produksi lagi. Aku mau hanya aku pemilik satu-satunya, dan aku tidak mau ada yang sama." jawab Nathan.
"Baik Tuan."
"Aku mau ini siap dalan satu minggu."
"Baik Tuan, apa ada yang lain?" tanya pegawai tokoh.
"Aku mau sebuah cincin pernikahan, masih dengan tema yang sama. Simpel dan sederhana."
"Apa anda mau yang seperti ini?" tanya pegawai toko menunjukan contoh cincin.
Nathan menatap sesaat, kemudian tersenyum.
"Aku akan ambil yang ini juga."
pegawai itu tersenyum ramah
."Mau melakukan pembayaran cara apa"
Nathan mengeluarkan dompetnya, dan menyerahkan kartu saktinya.
"Terima kasih, sebentar saya akan memprosesnya." ucap pegawai itu tersenyum.
Setelah selesai melakukan pembayaran, Nathan pun keluar dari toko dan pulang.
.....
Hummairah sedang memilih untuk kartu undangan.
"Kamu serius Nay, gak mau preewed?" tanya Ummi.
Kanayah hanya menggeleng, dengan mulut terisi cemilan buatan Umminya.
"Iya Nay, gak perlu juga... Ngapain harus kayak gitu." celetuk Kirana.
__ADS_1
Kanayah menganggukan kepala cepat.
bersambung