
"Den Fachri.. den.. den bangun den. Sudah pagi." ucap satpam membangunkan Fachri.
Fachri mulai perlahan membuka matanya, kemudian pemuda itu duduk, dan mencoba mengumpulkan kembali kesadarannya.
Setelah berhasil membuka mata, ia terkejut melihat Kirana sudah berdiri dihadapannya.
"Cuci muka dulu den.. " ucap satpam itu lagi sembari menunjuk kamar mandi didalam pos nya.
Fachri bernjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah merasa segar, ia pun kembali duduk ditempat semula ia datang.
Kirana duduk dihadapannya.
"Kamu gak pulang kerumah Kak?" tanya Kirana lembut.
Fachri menggeleng.
Kirana mengembuskan napasnya.
"Aku gak mau berada dia satu tempat sama dia." jawab Fachri.
Kirana beranjak dari duduknya. "Kita ngomong kedalam Kak."
Fachri mengikuti langkah Kirana, setelah mengucapkan terima kasih kepada satpam penjaga rumah Kirana. Fachri pun masuk kedalam.
"Kok sepi?" tanya Fachri heran.
"Ummi sama Daddy ke bandara, nganterin Kak Kiano sama Zavira kembali ke Mesir, Zavira kangen sama keluarganya di panti."
Fachri menganggukan kepalanya mengerti.
"Bearti Ummi tau dong aku tidur di pos satpam?" tanya Fachri.
"Ummi yang ngasi tau, kalau kamu ada disana tadi."
Kirana menyiapkan sarapan untuk Fachri.
"Kak Fachri mandi dulu deh, tuh dikamar mandi kamar tamu." tunjuk Kirana.
Fachri menganggukan kepalanya, kemudian berjalan masuk kedalam kamar.
Beberapa belas menit kemudian, Fachri keluar dari kamar tamu. Fachri menggunakan baju Kiano, dan kembali duduk di meja makan.
"Sarapan dulu Kak!" ajak Kirana.
Fachri pun mulai menyantap sarapan yang telah disiapkan Kirana, Fachri tampak lahap menghabiskan dua porsi besar nasi goreng.
"Kak... selesai kamu sarapan, temani aku kerumah kamu ya." pinta Kirana.
Fachri menghentikan sejenak suapannya dan menatap dalam kearah Kirana, kemudian menganggukan kepalanya.
Setelah selesai makan, Kirana dan Fachri pun berangkat pergi menemui orang tuanya.
.....
__ADS_1
Fachri telah tiba di rumahnya.
"Assalammu'alaikum." ucap Kirana.
"Kirana... kemarilah, bergabung bersama kami." panggil mama Fachri.
Kirana pun mendekati meja makan dan duduk disamping calon mertuanya, sedangkan Fachri berjalan masuk kedalam kamarnya.
....
"Bagaimana dengan yang ini Na?" tanya Mama Fachri.
"Yang mana aja boleh Ma, tapi cincin nya Nana mau tetap yang ini." tunjuk Kirana pada cincin yang melingkar dijari manisnya.
"Tapi itu kan sudah ketinggalan jaman Na." lanjut mama Fachri.
"Gak apa-apa, Nana suka yang ini. Nana berharap cinta Kak Fachri pada Kirana akan awet seperti cinta Mama, Papa dan Ummi dan Daddy." ujar Kirana tersenyum.
"Amiin... " jawab Mama dan Papa Fachri serentak.
Luna mengepalkan tangannya geram, ia sudah berada diantara mereka sedari tadi tapi sedikitpun tidak mereka hiraukan.
"Mama.." panggil Andrew pada ibunya Luna.
"Ya sayang..." jawab Luna.
"Andy mau jalan-jalan, dan beli mainan. Kemarin kan Mama janji setelah sampai dirumah Papa, kita akan pergi jalan-jalan dan membeli mainan yang banyak." ucapnya polos.
Semua yang ada disana tersentak mendengar penuturan Andrew, semua mata langsung tertuju pada Luna dengan tatapan tajam.
"Ya pasti Fachri Om, siapa lagi?" jawab Luna santai sembari melirik kearah Kirana yang masih berdiam diri.
"Apa maksud kamu Luna?" seru Mama Fachri sengit.
"Tante, Andrew adalah anak aku dan Fachri. Jadi wajar saja jika Andrew memanggilnya Papa." ujar Luna tidak kalah sengit.
"Andrew, kamu anak baik kan. Sekarang tante mau, kamu masuk kamar dulu ya." pinta Kirana lembut.
Andrew menurut dan masuk kedalam kamarnya.
"Sekarang katakan apa mau kamu?" tanya Mama Fachri.
"Tentu saja aku ingin Fachri bertanggung jawab pada Andrew dan menikah dengan aku." jawab Luna.
"Mimpi kamu.." sambung Fachri yang tiba-tiba hadir diantara mereka.
Semua tersentak mendengar penuturan Fachri.
"Aku tidak akan mengakuinya, sebab selama aku menjalin hubungan dengan mu, tidak pernah sekalipun aku menyentuhmu." ucap Fachri dingin.
"Oh ya, apa kamu lupa dimalam tahun baru dua minggu sebelum aku pergi. Kita mengadakan pesta di sebuah club, saat itu kau mabuk berat dan aku mengantarkan mu pulang ke apartemen mu. Kamu masih ingatkan pada pagi harinya aku tidur dipelukanmu?" Luna sengaja memancing Kirana untuk marah dan memutuskan hubungannya dengan Fachri.
"Itu tidak mungkin, aku tidak ingat sama sekali kejadian malam itu." sergah Fachri.
__ADS_1
"Jelas saja kau tidak ingat, kau dalam keadaan mabuk. Kau menggodaku dan akhirnya kita melakukannya atas dasar suka sama suka, sebab kau mencintaiku."
Luna terus saja memojokan Fachri, agat Kirana terpancing emosinya. Tapi Luna salah menilai Kirana, ia masih saja tetap diam memperhatikan mereka beradu argumen.
"Sudah cukup!!!" potong Papa Fachri.
Semua terdiam, Luna dengan pongahnya tetap mengatakan bahwa dirinya mengatakan kebenaran.
"Kita akan melakukan tes DNA, dan selama menunggu hasilnya Luna dan putranya akan tinggal dirumah ini. Setelah hasilnya keluar, jika anak itu terbukti bukan anak Fachri, maka Luna akan membawa anak itu jauh dari sini. Jika anak itu benar, maka aku akan membawanya, dan untuk ibunya aku akan memberikan kompensasi. Sebab aku tidak mungkin membatalkan pernikahan Fachri dan Kirana." ucap papa Fachri.
"Aku tidak setuju Om, jika Om mengambil putraku bagaimana dengan nasib ku. Aku mengandung dan melahirkannya serta membesarkannya. Aku tidak akan menyerahkan putraku, kecuali Fachri menikah dengan ku." jawab Luna.
"Itu tidak akan terjadi, Fachri tetap akan menikah dengan Kirana. Dan anak itu akan tinggal bersama kami, dan akan kami bawa ke Colorado." kini Mama Fachri yang ikut angkat bicara.
"Itu tidak mungkin, apa Kirana masih mau menikah dengan Fachri setelah dia tau betapa bejatnya perbuatan Fachri." ucap Luna
"Kami tau Kirana gadis yang pengertian, dia pasti akan menerima Fachri apa adanya, tanpa ada apa nya." jawab Mama Fachri.
"Oh ya... bagaimana dengan keluarganya? apa mereka juga akan tetap meneruskan hubungan ini jika tau kejadian ini?" ejek Luna.
"Itu akan menjadi urusanku, aku akan berbicara terus terang pada kedua orang tua ku. Aku yakin mereka pasti mengerti." jawab Kirana tersenyum.
Luna kalah telak dan tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia benar-benar tidak menyangka jika Kirana masih bisa bersikap setenang itu.
"Baiklah, sepertinya pembicaraan ini cukup sampai disini." Papa Fachri pun beranjak dan segera pergi dari ruangan itu disusul oleh istrinya.
"Na, ayo ikut kami. Kita akan melihat persiapan pernikahan kalian." ajak Mama Fachri.
Kirana tersenyum dan segera menghampiri calon mertuanya, dan mengikuti langkahnya diikuti oleh Fachri.
Luna mengepalkan tangannya.
"Kalian boleh senang-senang sekarang, lihat akan ada kejutab untuk kalian setelah ini. Aku ingin melihat apa kalian masih bisa sedekat ini jika tau yang akan terjadi setelah tes DNA nanti."
.....
Kendra dan istrinya berada dirumah, dan saat ini mereka sedang mandi bersama. Merendam tubub mereka didalam bak.
"Sepi ya sayang, kalau begini aku jadi pengen nambah pasukan lagi." celetuk Kendra sambil menggosok punggung istrinya.
"Jangan macam-macam, kalau Kanayah dengar dia bisa ngamuk lho." jawab Hummairah.
"Lho kenapa, kan bagus dia ada adek nya kan."
"Bagus kamu bilang, kamu tau sendirikan bagaimana Kanayah kalau lagi marah."
"Iya juga ya.. aku masih ingat saat masih disekolah dasar yang dia menghajar salah satu temennya yang bilang kalau kamu bukan pakai baju, tapi selimut." cerita Kendra sembari terkekeh.
"Eh iya lho, aku kalo ingat itu ketawa sendiri. Saking kesalnya si Kanayah sama tuh anak, orang tuanya tuh anak diomelin sama Nay." Hummairah hampir tergelak.
Kendra pun terkekeh jika mengingat kejadian itu.
"Udah yuk... aku udah kedinginan." ucap Hummairah beranjak keluar dari dalam bak dan segera berbilas.
__ADS_1
Bersambung