CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA

CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA
147.


__ADS_3

"Mengapa kau tidak memberitahukan masalah mu pada ku Ham, apa kau sudah tidak menganggap aku saudara mu. Apa kau pikir aku tidak bisa membantu menyelesaikan masalahmu, kau saudara ku Ham. Selain kau, Hummairah tidak punya siapapun di dunia ini Ham, bukankah kau telah berjanji pada Ayah kau akan selalu ada uuntuk kami Ham." Kendra memberondongi berbagai pertanyaan pada Ilham.


Saat Ilham kembali dari pekerjaannya, Kendra meminta Medinah dan Jessica untuk tidak memberitahukan kedatangan Kendra pada Ilham. Ilham sudah tidak dapat mengelak lagi, mau tidak mau ia harus berhadapan dengan Kendra.


"Kenapa kau diam Ham, aku hanya meninggalkan mu untuk menyusul Hummairah ke Amerika. Tapi tanpa pamit pada kami, kau membawa serta anak dan istrimu pergi dari rumahmu sendiri. Untuk apa kau bertahan disini, sementara kau bisa memiliki segalanya disana bersama kami."


Kendra terus bertanya tapi tidak sedikitpun Ilham membuka suara, ada rasa penyesalan dalam hati Ilham.


Ya, memang sebenarnya Ilham hanya mencari waktu yang tepat untuk pergi, tapi ia selalu tidak punya kesempatan. Tapi pada saat Kendra berencana menyusul Hummairah, saat itu juga Ilham berencana membawa keluarganya pergi ke Kanada.


Rencana awal ia dan keluarganya hanya ingin menjenguk mertuanya yang mengalami kecelakaan, tapi rencana berubah saat istri dari sepupu istrinya mengambil alih semua yang seharusnya menjadi milik Medinah, menjadi miliknya.


Sebenarnya bukan itu yang dipermasalahkan Ilham dan Medinah, tapi Papa Medinah yang mereka tahan. Untuk itu lah mereka masih bertahan disini, jika mereka sudah berhasil membawa Tuan Samuel keluar dari rumah besar itu, maka mereka akan segera membawanya kembali kerumah mereka.


"Maafkan aku Kend, aku terpaksa. Aku tidak tahan melihat Medinah menangis setiap malam, mengingat nasib kedua orang tuanya." ucap Ilham.


"Kenapa jadi seperti ini, bukankah sebelumnya Zian dan istrinya sangat baik pada kalian?" tanya Kendra.


"Mereka baik karena ada maksud terselubung, sekian puluh tahun mereka mendapatkan kepercayaan dari Papa, pada akhirnya mereka menujukkan sifat asli mereka." Ilham menghela napas kemudian melanjutkan ceritanya.


"Puncaknya saat Papa mengalami stroke pertama, Papa harus dirawat di rumah sakit. Mama merawatnya dirumah sakit, perusahaan dibawah kendalinya. Menurut cerita Mama saat itu, ia selalu membawa berkas yang harus Papa tanda tangani, tapi Mama tidak boleh melihat dan membawa berkas itu. Hingga saat Papa sehat dan sudah diperbolehkan pulang, saat dalam perjalanan pulang. Papa mendapat telpon dari orang kepercayaannya, ia melaporkan kalau Zian telah mengambil alis semuanya. Papa yang terkejut kembali mendapatkan serangan, sedangkan Mama yang sedang menyetir jadi tidak bisa konsentrasi lagi dalam menyetir, mobil mereka menarak pembatas jalan. Mama tewas ditempat, sedangkan Papa kembali mengelami stroke dan kini harus menghabiskan hidupnya di kursi roda."


Kendra berjalan mendekat dan menepuk pundak Ilham.


"Seharusnya lu ceritakan semuanya sama gue, kita ini satu keluarga." ucap Kendra.


"Gue tau, tapi gue tidak mau lu dan keluarga lu terlibat masalah lagi." ucap Ilham lirih.


"Gue akan bantu lu, gue akan mengambil kembali apa yang seharusnya jadi milik keluarga lu. " tutur Kendra penuh tekad.


"Tapi Kend, lu belum tau betapa liciknya Zian dan istrinya." Ilham coba menjelaskan.


"Lu tau gue kan!" Kendra menyeringai.


......


Kendra kembali ke hotel tempatnya menginap, ia merasa lelah akan hari ini.


Setelah menghubungi beberapa relasinya, untuk membantunya menyelesaikan masalah Medinah dan Ilham.


Kendra baru saja selesai mandi, masih mengenakan jugah mandi, Kendra meraih ponselnya dan segera melakukan video call bersama istrinya.


Tidak lama kemudian tampaklah wajah wanita yang ia cintai di layar ponselnya.

__ADS_1


Kendra tersenyum.


"Hai.." sapa Kendra.


"Assalamualaikum Mas. " ucap Hummairah tersenyum.


"Waalaikumsalam sayang, sedang apa?" tanya Kendra.


"Baru pulang dari bandara nganterin Kanayah pulang."


"Lho Kanayah udah pulang?"


"Iya, sebenarnya masih ada tiga hari. Tapi katanya akan ada inspeksi mendadak dis sekolah nya." jawab Hummairah.


"Jadi, tinggal kamu sendiri dirumah?" tanya Kendra penuh arti.


"Gak juga, ada pelayan." jawab Hummairah polos. "Oh ya, gimana urusannya?"


"Belum sayang, aku masih usahin bantu mereka."


"Baiklah, sudah dulu ya." Hummairah ingin mengakhiri pembicaraan mereka.


"Kok gitu? Gak kangen ya sama aku!" seru Kendra.


"Lho kok bisa?"


"Akan ada tamu penting di hotel kita yang baru, karena kamu gak ada terpaksa aku yang wakilin kamu nyambut mereka." jawab Hummairah menjelaskan.


"Kasian istriku, kau pasti lelah. Aku akan usahin secepatnya pulang setelah masalah ini selesai." ucap Kendra menatap wajah cantik istrinya.


"Udah ya!" ucap Hummairah.


"Iya deh, tapi nanti aku telpon lagi ya."


"Iya."


"I love u." ucap Kendra


"Love u too." balas Hummairah mengakhiri panggilannya.


Tok... Tok...


"Maaf Bu, tamunya sudah datang." ucap sekretarisnya memberitahu."

__ADS_1


"Baiklah, saya akan kesana sekarang." Hummairah pun beranjak dari duduknya dan melangkah mengikuti sekretarisnya.


"Mereka ada dimana sekarang?" tanya Hummairah pada gadis disampingnya.


"Mereka menunggu kita di restoran hotel kita." jawab gadis manis yang telah lama bekerja dengan nya.


Saat tiba di restoran hotel, alangkah terkejutnya Hummairah saat tahu siapa yang menjadi tamunya.


Itu adalah keluarga Yan.


"Hallo Nyonya Hummairah, apa kabar?" sapa Nyonya Yan.


Mereka datang satu keluarga, Tuan dan Nyonya Yan, serta Kai Zhou.


"Kabar baik, terimakasih. Silahkan." Hummairah mempersilahkan tamu nya duduk kembali.


Setelah mengobrol panjang lebar, membahas masalah perusahaan dan memuji prestasi keluarga mereka.


Hingga mereka tiba di puncak obrolan, dan akhirnya Nyonya Yan angkat bicara.


"Bagini Nyonya Hummairah, maksud kedatangan kami kemari sebenarnya bukan hanya membahas masalah kerja sama bisnis. Tapi lebih dari pada itu, kami bermaksud ingin mengembangkan bisnis kita ini menjadi satu, sebagai satu keluarga besar." ucap Nyonya Yan.


Hummairah menautkan alisnya.


"Maksud anda?" Hummairah yang mulai bisa membaca jalan pikiran dari lawan bicaranya.


"Begini Nyonya Hummairah, saya berencana ingin menjodohkan anak-anak kita Nyonya, antara Kai Zhou dan Kirana."


Mata Hummairah terbelalak, ia tidak menyangka Nyonya Yan bisa dengan santainya mengatakan ingin menjodohkan anak-anak mereka.


"Bagaimana Nyonya, apa anda setuju?" tanya Nyonya Yan.


Hummairah tersenyum. "Maaf Nyonya untuk masalah ini saya tidak bisa memutuskan sendiri. Saya juga tidak pernah ikut campur untuk masalah asmara mereka. Dan untuk Kirana saya tidak bisa memutuskan apapun tanpa meminta persetujuan darinya."


"Saya yakin Kirana pasti akan menyukai putra saya, Kai Zhou tidak hanya tampan dia juga lulusan terbaik di Jepang. Pengalamannya juga luas dalam hal apapun." tutur Nyonya memuji putranya.


Hummairah tersenyum kembali. "Tapi ngomong-ngomong Nyonya, bukan nya Kai Zhou sudah punya calon istri ya. Malahan kemarin Tuan Yan sendiri yang mengumumkan pertunangan mereka."


Wajah Nyonya Yan berubah kecut saat Hummairah membahas Kayla.


"Perempuan tidak tau diri itu tidak pantas menjadi istri dari seorang Kai Zhou, apa lagi jadi menantu keluarga Yan." ucap Nyonya Yan geram.


Hummairah tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2