
Masalah antara Fachri dan Luna menemui titik terang, Fachri mendapat laporan dari orang suruhannya yang mengatakan, jika Luna sering masuk kedalam hotel tersebut untuk bertemu dengan seorang pria. Tapi mereka belum mengetahui siapa pria itu, dan apa tujuannya memperalat Luna.
"Terus awasi dia, jangan sampai lengah, dan jangan sampai mereka curiga." ucap Kendra pada orang suruhannya dan Fachri.
Mereka menundukan kepalanya, kemudian keluar dari ruangan Kendra.
Kendra masih berada di kantornya bersama Kiano dan Fachri yang datang sesaat setelah Kiano menelponnya. Ia memeriksa beberapa fail, sedangkan Kiano dan Fachri asik berbincang.
"Ki... gua pengen nanya sesuatu sama Lu." ucap Fachri.
"Apa?" tanya Kiano.
"Lu kenal sama cowok yang sering kerumah lu, akhir-akhir ini?" ucap Fachri.
"Maksud lu si Lucas?"
Fachri menganggukan kepalanya. "Apa benar dia teman dekatnya Luna saat SMA?"
Kiano tampak berpikir sejenak. "Seingat gue, Kirana tuh gak pernah dekat sama temen cowok. Memang Kirana itu agak tomboi, tapi kalau berteman dia selalu sama cewek dan teman dekatnya ya Kayla."
"Tapi si Lucas pernah ngaku ke gue, saat Kirana memperkenalkan kami kemaren." ujar Fachri.
"Oh ya... tapi gue jadi inget dan baru nyadar. Setiap gue pulang makan siang, gue selalu ketemu dia, dan ngobrol sama Kirana."
"Sama.... gue juga gitu, beberapa kali gue kerumah lu, dia selalu ada. Awalnya gue kira kebetulan, tapi beberapa minggu ini kan gue sering kesana, jadi gue yakin itu bukan kebetulan lagi." jelas Fachri.
"Apa dia suka sama Kirana ya?" pikir Kiano.
"Awas aja kalau dia berani." kecam Fachri.
"Cieee..." goda Kiano
"Gue serius, apa pun yang terjadi gue gak akan lepasin Kirana dan gak akan biarin Kirana pergi jauh dari gue."
"Lu kok bisa sesayang itu sama Adek gue?"
"Gue sayang dia Ki... apa pun akan gue lakuin untuk dia, dia satu-satunya gadis yang akan menjadi istri dan ibu dari anak-anak gue nanti."
"Gue penasaran sama lu, kenapa lu milih adek gue Secara ya, jaman sekarang kebanyakan cowok termasuk gue, pasti suka yang sexy."
"Awal mulanya gue hanya mengaguminya, Kirana itu ramah, kadang cuek, kadang baiiiik banget, kadang galak banget." kenang Fachri.
"Dulu waktu masih sekolah, banyak lho temen seangkatan gue suka sama dia."
"Oh ya... apa ada yang berhasil?"
Kiano menggeleng. "Gak ada."
"Kenapa? dari sekian banyak masa tidak ada satu pun yang berhasil merebut hatinya."
"Seperti yang lu bilang tadi... Kirana itu GALAK."
Fachri mengernyitkan dahinya.
"Kirana itu galak banget, baru aja ada yang deketin belum apa-apa udah mundur duluan."
__ADS_1
"Kok bisa?"
"Di smackdown sama dia, pernah waktu SMP Ummi sama Daddy dipanggil menghadap kepala sekolah."
"Memangnya kenapa?"
"Dia menghajar anak ketua Yayasan hingga harus dirawat dirumah sakit."
"Apa?" Fachri menahan tawa mendengar cerita Kiano.
"Iya, dia gak terima saat dikatain tuh anak kalau anak perempuan gak boleh ikutan karate dan sebagainya. Sebab anak perempuan itu lemah."
Fachri tersenyum mendengar cerita Kiano sambil membayangkan Kirana remaja yang menghajar temannya.
Kendra yang sedari tadi menyimak percakapan mereka hanya tersenyum memdengar cerita Kiano.
"Sudah siang, ayo kita makan siang." ajak Kendra membuat kedua pemuda itu menghentikan obrolannya.
"Kita akan makan siang dimana Dad?" tanya Kiano.
"Kita akan makan siang dirumah, Daddy sudah janji pada Ummi mu untuk makan siang dirumah hari ini." jelas Kendra.
"Baiklah, kita pulang. Ayo Fachri." ajak Kiano
Mereka pun meninggalkan kantor dan kembali kerumah.
......
"Assalammu'alaikum." ucap mereka serentak saat telah tiba dirumah.
"Waalaikum salam." jawab Kirana yang langsung berdiri dan mencium tangan Daddynya.
"Ummi dimana?" tanya Kendra.
"Di atas." jawab Kirana.
"Selamat siang Om." sapa Lucas.
Kendra hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum ringan. Kendra pun langsung naik ke atas menuju kamarnya, begitu pula dengan Kiano. Ia juga berjalan menuju kamarnya, tapi tidak dengan Fachri yang masih menatap Lucas dingin. Fachri pun langsung duduk bersama mereka, ia duduk disamping Kirana tepat di depan Lucas sambil melipat tangannya di dada dan menatap Lucas tajam.
"Kakak dari kantornya Daddy?" tanya Kirana memecah kesunyian.
Fachri hanya menganggukan kepalanya dan tetap menatap Lucas yang ada di hadapannya.
"Baiklah Kirana, aku permisi dulu." ucap Lucas.
Kirana menganggukan kepalanya dan tersenyum tipis.
"Besok aku akan datang lagi." ujar Lucas sengaja.
Lucas pun berdiri dan segera berjalan menuju pintu utama dan menghilang, Kirana menarikb
napas lega. Ia pun menoleh ke arah Fachri dan tersenyum.
"Apa dia setiap hari mengunjungimu?" tanya Fachri.
__ADS_1
Kirana mengangguk.
"Dan setiap hari pula kamu menemaninya?"
Kirana kembali mengangguka dengan wajah bersalah, ia tahu Fachri pasti marah padanya.
"Maaf Kak, Nana gak tau mesti gimana lagi."
"Kami tinggal bilang pada pelayan kalau kamu tidak mau menemuinya." ucap Fachri dengan nada tinggi, ia mulai kesal dengan sikap Kirana yang terlalu lembut pada Lucas.
"Udah......." Kirana tertunduk.
Fachri mengehela napas kesal.
"Maaf..." ucap Fachri saat melihat raut wajah menyesal Kirana.
"Aku janji, jika besok Lucas datang lagi. Aku akan bilang padanya agar dia jangan datang lagi, aku gak mau terjadi kesalah pahaman diantara kita."
Fachri tersenyum lembut menatap Kirana.
"Maaf, aku udah berbicara keras padamu. Aku hanya tidak suka melihat ada orang yang dekat dengan mu selain aku dan keluarga."
"Iya, Nana paham "
"Ya sudah jangan dibahas lagi." ucap Fachri yang kembali duduk dengan tenang.
.....
"Sayang..." sapa Kendra pada istrinya saat tiba di kamarnya.
"Mas.. udah pulang.?" tanya Hummairah yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Kendra tersenyum dan berjalan mendekati Hummairah istrinya, Hummairah mencium tangan suaminya dan Kendra pun mencium kening Hummairah.
Hummairah membantu suaminya melepas jas dan meletakannya di sofa kamar, Kendra tersenyum, ia kemudian menarik Hummairah masuk kedalam pelukannya. Hummairah pun masuk kedalam pelukan hangat suaminya, dan balas memelukanya.
"Kamu harum sekali." Kendra menyesap wangi tubuh istrinya yang masih menggunakan kimono mandi. Tangan Kendra pun mulai nakal, ia menarik tali kimono, tapi dengan sigap Hummairah menahannya.
"Mau apa?" tanya Hummairah.
"Mau makan siang." jawab Kendra mengecup pundak istrinya.
"Tunggu dibawah aku berpakain dulu, setelah itu kita makan siang bersama."
"Aku mau makan kamu" ucap Kendra menatap wajah Hummairah dan mencium bibinya. Hummairah membalas menciumnya, Kendra memasukan lidahnya kedalam mulut istrinya dan bermain disana. Perlahan ciuman Kendra turun ke leher dan menggigit lembut dan meninggalkan jejak merah disana. Kendra mulai kembali menarik tali kimono istrnya.
"Maaas... kamu mau apa?" seru Hummairah.
"Apa lagi makan siang lah." jawab Kendra kembali menyerang bibir istrinya.
"Tapi anak-anak lagi nungguin dibawah untuk makan siang." ucap Hummairah.
"Aku akan bermain cepat." Kendra pun membawa tubuh istrinya ketempat tidur kemudian menidihnya. Kendra kembali menerjang Hummairah dan tidak lama kemudian mereka tiba dipuncak bersama-sama, Kendra pun ambruk disisi tubuh istrinya dengan napas yang tidak beraturan. Kendra tidak tahu mengapa setiap ia melihat istrinya, gairahnya selalu bangkit dengan usia yang telah lebih dari kepala lima, ia masih memiliki gairah yang sangat besar terhadap istrinya. Terkadang ia juga merasa kasihan pada istrinya, yang telah lelah seharian dirumah dengan rutinitasnya, juga harus melayaninya dimalam hari. Kendra menatap wajah Hummairah yang masih berada dalam dekapannya lekat kemudian mengecup keningnya.
Bersambung.
__ADS_1