CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA

CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA
198.


__ADS_3

"Maksud Mama, Mama mau jodohin Nathan sama Kanayah?" protes Nathan.


"Nathan kamu jangan membantah, ini terbaik untuk kamu." ujar Sofia.


"Tapi Ma, Nathan masih ingin sendiri."


"Sampai kapan, sampai kamu tua dan sampai Mama dan Papa tutup usia gitu?"


"Ma... jangan bicara seperti itu, Nathan cuma belum siap untuk menjalin hubungan lagi."


"Kamu jangan terikat dengan masa lalu Nathan, lupakan dia."


"Maksud Mama?"


"Mama tau, kamu masih terikat dengan masa lalu kamu Nathan."


Nathan terdiam, ia memang masih belum bisa lepas dari masa lalunya. Kehilangan seseorang yang ia cintai.


"Lupakan dia Nathan, kamu harus fokus menata hidup kamu."


"Tapi Ma..."


"Tidak ada tapi-tapi Nathan."


"Apa yang Mama kamu bilang itu benar Nathan, lupakan dia. Hadapi masa depan kamu bersama Kanayah, dia jodoh yang terbaik untuk kamu." sambung Papa.


Nathan terdiam, ia mengembus napas panjang, Nathan naik ke kamarnya dengan langkah gontai. Ia menghempaskan dirinya diatas tempat tidur.


.....


Beberapa hari kemudian, Kendra dan Kiano kembali dari luar negeri. Zavira dan Zaki menyambut mereka, sedangkan Ummu Hummairah sedang di taman menjawab telepon.


"Ummi kamu mana Za?"


"Ada ditaman samping Dad, tadi lagi telponan sama Nyonya Sofia."


"Nyonya Sofia? siapa?" tanya Kendra bingung.


"Itu Dad, calon besan Daddy yang baru."


"Calon besan yang baru? Kamu jangan main-main Ki."


"Yaaah... Daddy payah, gitu aja gak ngerti."


Daddy Kendra makin kebingungan.


"Calon mertuanya Kanayah."


"Apaan sih bawa-bawa nama gue." gerutu Kanayah kesal.


"Cieee... bakalan sepi nih rumah kalau lu nikah, trus dibawa sama suami lu."


"Iiih... siapa yang mau nikah?" Kanayah menggelengkan kepalanya kesal.


"Tuh si nyokapnya si Nathan sering nanyain lu sama Ummi, dia bilang mau lu jadi mantu mereka."


"Mereka serius Ki?" tanya Kendra setengah tersenyum.


"Seriuslah Dad, mana ada yang berani main-main sama anak nya Kendra." Kiano terkekeh.


"Eeh... sudah pada sampai rupanya." Ummi Hummairah mencium tangan suaminya. Kiano segera memeluk dan mencium tangan Umminya.


"Telpon dari siapa sayang?" tanya Kendra pada istrinya.


"Dari Mama nya Nathan, Nyonya Sofia."


"Ada yang penting?"


"Besok mereka akan datang kerumah kita."


"Mau apa mereka?" tanya Kendra.


"Mereka mau melamar.... Kanayah untuk putra mereka, Nathan."


Uhuuk...


Uhuuk...


Kanayah terbatuk saat mendengar cerita Ummi nya.


"Kan.. kan... Kiano bilang apa Dad." sambar Kiano.


"Nay, gak mau. Kan Nay udah bilang kemaren Nay gak mau."


"Nay, dengerin dulu apa yang Ummi bilang." ucap Kendra.


"Mereka sangat menginginkan kamu Nay." ucap Ummi Hummairah.


"Tapi dia itu udah tua Mi."


"Gak apa-apa Nay, gue ama Zavira juga tua an gue, dan gue sayang sama dia. Daddy sama Ummi juga tua an Daddy, tapi coba lihat mereka. Masih bisa romantisan kan?" sambung Kiano.


Kendra melirik Kiano saat Kiano menyebutnya tua.


"Maaf Dad..."


"Diem lu.." bentak Kanayah.


"Nay, gak boleh begitu sama Kakaknya." ucap Hummairah.


"Tapi dia nyebelin Mi."


"Nay, kamu kan tau Kakak kamu gimana orangnya, dia paling suka becanda."


"Tapi becandanya kelewatan, Nay gak suka."


"Sudah... Za, bawa suami kamu masuk ke kamar." perintah Kendra.


Zavira mengangguk, dan mengajak anak dan suaminya ke kamar. Bukan Kiano namanya jika tidak jahil, ia masih sempat mengejek Kanayah.


"Lu nantangin gue." Kanayah berlari ke tangga mengejar Kiano, dan Kiano akhirnya berlari masuk kamar dan menguncinya.


Ummi, Daddy, dan Zavira hanya bisa menggelengkan kepala melihat ulah keduanya.

__ADS_1


"Nay.. sudah sayang, sini sama Daddy." pujuk Kendra.


"Dad, Nay gak mau nikah sama dia Dad. Dia udah tua." rengek Kanayah.


"Iya... nanti kita cari solusinya." hibur Kendra. "Sekarang Daddy mau ke kamar, istirahat capek."


Ummi dan Daddy pun berjalan naik ke atas dan masuk ke kamar.


Keesokan harinya, keluarga Jhonson datang ke kediaman Kendra, mereka disambut oleh Tuan rumah dengan ramah.


"Silahkan duduk Nyonya." ucap Hummiarah.


Disana juga telah hadir Kirana dan Fachri suamjnya.


Setelah berbincang panjang lebar dan merasa basa-basinya sudah cukup, akhirnya Nyonya Jhonson mengutarakan niatnya datang menemui keluarga Kendra.


"Begini Tuan dan Nyonya Kendra, mungkin saya tidak akan bertele-tele lagi, dan mungkin juga kalian semua sudah tau maksud kedatangan kami ke sini."


"Ya...


"Kami kesini ingin melamar putri kalian yang terkecil untuk jadi menatu kami."


Kendra dan Hummairah saling berpandangan, kemudian menatap Kirana dan Fachri. Selanjutnya mereka melirik ke arah Kiano dan Zavira. Mereka hanya tersenyum mendengar penuturan Nyonya Jhonson.


"Saya mohon agar kalian sekeluarga mau menerima kami, menjadi bagian dari keluarga kalian."


"Sebelumnya, kami juga ingin berterima kasih pada keluarga kalian atas kunjungannya. Cuma untuk masalah lamaran ini, sepertinya kami harus membicarakannya pada putri kami Kanayah." ucap Kendra.


"Kami mengerti, tapi saya harap kalian bisa membujuk Kanayah sekali lagi."


"Kami tidak janji, tapi pasti kami akan bicarakan pada Kanayah, dan kami juga akan coba membujuknya." ucap Kendra.


.....


Di kantornya, sedang berjalan mondar-mandir di ruangannya.


"Apa yang sedang terjadi disana ya, kira-kira Mama berhasil atau tidak?" gumam Nathan.


Ia kembali mondar-mandir.


"Jika Mama berhasil, maka..."


Nathan mengusap wajahnya kasar.


"Apa yang harus aku lakukan?"


Nathan pun segera memanggi asistennya, untuk masuk kedalam.


"Ada apa Nath?" tanya Roby asisten Nathan.


Roby adalah sahabat Nathan dari kecil, mereka tumbuh bersama dilingkungan yang sama. Roby adalah anak angkat keluarga Jhonson, umur Nathan lebih tua lima tahun dari Roby. Dan Roby sudah menikah. Roby adalah sosok yang agamis.


Ia dan istrinya menjalani ta'aruf selama tiga bulan, kemudian mereka menikah. Dan saat ini mereka telah dikaruniai putri kecil yang cantik.


"Roby, aku ingin bicara padamu. Ayo duduk." ajak Nathan.


Roby pun duduk.


"Ada apa Nath?"


Roby menaikan kedua alisnya, dengan sedikit membulatkan matanya.


"Jangan menatapku seperti itu?" gerutu Nathan kesal.


Roby kembali mendengarkan perkataan Nathan.


"Aku akan menikah.... kamu jangan memotong ucapan ku dulu."


"Baiklah.... lanjutkan."


"Aku akan menikah, dengan gadis piliha Mama."


"Jadi?"


"Aku ingin menolak, rencana itu?"


"Kenapa?"


"Aku tidak mencintainya."


"Jadi kalau kamu ingin menolaknya, kenapa kamu tidak langsung bilang pada orang tuamu, kenapa harus meminta pendapatku?"


"Kamu kan pengalaman masalah menikah dalam perjodohan."


"Nath, apa masalahmu masih ada sangkut pautnya dengan Katrina?" tembak Roby.


Mata Nathan membulat.


"Nath, sampai kapan kamu akan larut dalam masalalu. Lupakan dia, dia bukan yang terbaik untuk kamu."


"Tapi aku masih mencintainya Rob... sampai saat ini aku masih berharap dia kembali, dan aku akan menunggunya pulang."


"Dia tidak akan pulang Nath, dan dia juga tidak mencintaimu. Kalau dia mencintaimu, dia tidak akan meninggalkanmu, dia akan tetap bersama mu."


"Tapi Rob..."


"Sudah Nath, sudah saatnya kamu bangun dari mimpi dan hadapi kenyataan."


"Apa yang harus aku lakukan Rob?"


"Terima saja dan jalani, jika kamu masih belum yakin. Ajak gadis itu berbicara, ceritakan semua kelebihan dan kekuranganmu padanya. Jika dia memang gadis yang baik, dia akan menerima segala apapun itu yang ada pada dirimu."


.......


"Bagaimana ya Pa, apa Kirana berhasil membujuk Kanayah ya?" ucap Sofia cemas.


"Berdoa saja Ma, mudah-mudahan Kirana berhasil menyakinkan adiknya." jawab suaminya.


Nathan kembali dari kantornya, Ia melihat Mama dan Papanya masih duduk di ruang tengah.


'Kalian belum tidur?" tanya Nathan.


"Belum.... Mama kamu gak bisa tidur." jawab Papa.

__ADS_1


"Mama mikirin apa?" tanya Nathan lembut dan duduk disamping Mamanya.


"Mama lagi mikirin jawaban dari Kanayah, saat ini Kirana Kakaknya sedang membujuknya."


"Mama jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja."


"Kamu... bilang apa, Nath?"


"Nathan mau menerima rencana Mama."


Mama dan Papa Nathan terkejut mendengar penuturan Nathan.


"Kamu serius Nath?"


"Iya Ma, Nathan akan coba."


Mama Nathan langsung memeluk putranya, menciumi wajah putranya dengan sayang."


Nathan tersenyum getir, dalam hatinya ia masih belum bisa membuka hatinya, tapi melihat senyum kedua orang tuanya, terutama sang Mama Nathan mengubah pola pikirnya.


.....


"Nay... boleh gue masuk?" tanya Kirana.


"Masuk Kak."


"Lagi apa?"


"Gue lagi memeriksa laporan dari bisnis online gue."


"Oh ya... gimana, lancar."


"Alhamdulillah lancar Kak, ini lagi luncurin produk baru."


"Oh ya?"


"Iya, gue minta bantuan sama Ummi untuk bantuin gue."


"Bantuan apa?"


"Ummi kan punya tailor dan perusahaan garmen, nah gue bakal beli bahan dari pabrik Ummi, Ummi yang desain, tailor Ummi yang ngerjain, terakhir gue yang masarin."


"Itu sih enakan elu.." Kirana melempar bantal pada muka Kanayah dan bercanda di tempat tidur.


"Nay, lu mikirin ucapa Ummi kemari gak?" tanya Kirana.


"Yang mana?"


"Itu, yang rencana mau jodohin kamu sama Nathan."


"Gak... kenapa?"


"Gak kenapa-kenapa sih... cuma menurut lu, Nathan itu orangnya gimana?"


"Gak tau juga."


"Lho bukanya lu sering sama Mamanya."


"Kan gue sama Mamanya, bukan sama dia."


"Maksud gue, emang dia gak pernah menyapa lu gitu?"


"Seingat gue gak tuh."


"Kalau menurut gue nih, Nathan itu orangnya ramah, murah senyum, mudah bergaul sama yang lain. Dia juga cepat akrab dengan keluarga kita ya kan?"


Kanayah hanya mengangkat bahunya.


"Nay, kenapa lu gak coba untuk menerima dia?"


"Nerima dia? maksudny?"


"Ya seperti rencana Mamanya dan Ummi."


"Menikah dengan dia gitu?"


Kirana menganggukan kepalanya.


"Gak mau gue."


"Kenapa lu gak mau?"


"Lu tau kan dia itu tua, umurnya jauh dari gue."


"Umur itu bukan patoka Nay, gue sama Kak Fachri beda 5 tahun, Zavira dan Kak Kiano beda 7 tahun. Yang lebih lagi Ummi dan Daddy, usia mereka terpaut 10 tahun. Mereka baik-baik aja kan, malah hubungan mereka langgeng sampai sekarang."


Kanayah tampak berpikir.


"Nay, coba jalani dulu. Cari tau bagaimana dia, dan jangan lupa minta petunjuk-Nya." Kirana berjalan keluar meninggalkan Kanayah di kamarnya.


Kirana terdiam dan nampak memikirkan ucapan Kakaknya tadi.


...


Setelah memikirkannya matang-matang, Kanyah pun mengambil keputusan. Ia segera menwmui Umminya.


Tok... Tok...


Kanayah pun masuk setelah dapat ijin dari dalam.


"Mi..." sapa Kanayah.


"Nay.... masuk sayang." ucap Ummi nya.


"Mi, Nay ingin bilang sesuatu."


"Ya... ada apa Nay?"


"Mi... Nay, mau menikah dengan Nathan."


Mata Ummi Hummairah membulat dengan mulut ternganga.


"Kamu serius Nay?"

__ADS_1


Kanayah menganggukan kepalanya, Ummi lansung memeluk Kanayah.


Bersambung.


__ADS_2