CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA

CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA
120.


__ADS_3

Ilham baru tiba di rumah dengan wajah lelah, ia disambut oleh anak-anak, Kakek, dan Nanny.


Setelah bersalaman, Ilham langsung saja naik ke atas dan masuk kedalam kamar.


Nanny dan Kakek saling berpandangan kemudian kembali menatap ke Medinah.


"Apa yang terjadi Me, kenapa Ilham seperti itu?" tanya Nanny.


"Mungkin Ilham capek Ma, aku ke atas dulu ya." pamit Medinah yang kemudian menghampiri kedua putranya.


"Sayang, Papa lagi capek. Mama mau kalian berdua jangan ganggu Papa dulu ya, kalian main sama Oma dan Opa uyut oke?" jelas Medinah pada putranya.


Alif dan Alfian pun menganggukan kepala tanda mengerti.


Medinah pun berjalan menuju tangga dan naik ke atas.


Dengan perlahan Medinah membuka pintu dan masuk ke kamar. Ia melihat Ilham sedang berdiri di depan jendela kamarnya. Medinah kemudian mendekati dan memeluknya dari belakang.


Ilham yang sedang melamun dibuat terkejut kemudian tersenyum saat tangan Medinah melingkari perutnya.


"Lagi mikirin apa?" tanya Medinah yang masih memeluk dari belakang.


"Aku capek, mau istirahat." jawab Ilham memutar badannya menjadi menghadap Medinah.


"Mandi dulu, aku siapkan air mandi ya. Setelah itu baru tidur." Medinah pun berjalan menuju kamar mandi untuk menyiapkan air mandi untuk suaminya.


Tidak lama kemudian Medinah keluar membawa handuk mandi untuk Ilham.


"Udah siap, mandi dulu setelah itu baru tidur." ucap Medinah sembari memberikan handuk pada Ilham.


Ilham pun meraih kemudian masuk ke kamar mandi


Sementara Ilham mandi Medinah segera menyiapkan pakaian santai untuk suaminya.


Setelah semuanya dirasa cukup, Medinah turun kebawah untuk menyiapkan teh herbal untuk Ilham agar ia merasa lebih segar.


Ilham keluar dari kamar mandi, ia tidak mendapati istrinya di sana, tapi sang istri sudah menyiapkan pakain ganti untuknya.


Ilham segera memakainya dan duduk di sofa kamar.


Tak berapa lama Medinah masuk membawa nampan berisi teh hangat dan cemilan.


Setelah meletakam nampan tersebut, Medinah pun duduk di samping Ilham.


"Di minum teh nya, biar lebih enakan." ucap Medinah. Ilham pun meminum teh nya.


"Apa yang terjadi disana?" tanya Medinah


"Keponakan suami Mama ingin aku menyerahkan semua aset milik Mama kepada mereka, sebab aku tidak ada hak atas aset tersebut, sebab aku..... sebab aku... anak adopsi."


Medinah terkejut mendengar penuturan suaminya, tapi dia berusaha untuk tetap tenang, ia pun kembali tersenyum.


"Kamu menyerahkannya pada mereka?"


"Tidak.... tidak akan pernah. Aku tidak akan pernah menyerahkannya, itu milik Nanny bukan mereka."


"Dear, kalau menurut aku lebih baik kamu bicarakan ini sama Mama. Agar Mama tahu permasalahan nya, dan juga agar yang disana juga paham sama kamu, kenapa kamu mempertahan semuanya." jelas Medinah.


Ilham terdiam sejenak." Jadi aku harus cerita sama Nanny dan Kakek?" tanya Medinah.


"Lebih baik begitu, biar mereka tau apa yang terjadi. Soalnya saat kamu pulang tadi mereka bertanya kenapa kamu pulang- pulang kok kusut." ujar Medinah.


Ilham tersenyum tipis. " Baiklah, aku akan cerita pada Nanny nanti. Sekarang aku capek, mau tidur." ucap Ilham yang berjalan menuju tempat tidur.


"Mau Mama temani Papa?" tanya Medinah tersenyum menggoda.


Ilham pun ikut tersenyum sembari menggigit bibirnya sendiri.


"Kemarilah Mama, temani Papa tidur." jawab Ilham tidak mau kalah menggoda istrinya.


Medinah pun berjalan mendekat dan naik ketempat tidur kemudian berbaring disamping suaminya. Mereka pun tertidur sambil berpelukan.


Kiano kembali berjuang mendapatkan hati Kayla, kali ini ia langsung mendatangi Kayla di kelasnya.


Semua mata tertuju padanya saat ia tiba di depan kelas Kayla.


Mata Kiano menyusuri tiap sudut ruang kelas, untuk mencari sosok Kayla.


Akhirnya matanya menangkap sosok gadis yang telah mencuri perhatiannya selama beberapa bulan terakhir.


Kiano pun berjalan masuk kedalam kelas dan mendekati Kayla, dan langsung duduk di disampingnya.


"Hay." sapa Kiano


Kayla yang tersadar dari lamunannya, menoleh sekilas ke arah Kiano kemudian kembali menatap keluar jendela.


"Kamu gak ke kantin?" tanya Kiano.


Kayla masih menatap keluar jendela.


"Ngapain lu kemari?" tanya Kayla ketus.


"Nyariin kamu."


"Ngapain nyariin gue."


"Aku tuh mau....." ucapan Kiano terputus saat seseorang memanggil namanya.


"Kiano." panggil Sarah yang kemudian berjalan mendekati Kiano dan Kayla.


Wajah Kiano mendadak merah padam, menahan kesal. Bagaimana Kiano tidak kesal, setiap ia mendekati Kayla, Sarah selalu saja datang mengganggu usahanya.


"Kiano, kau cariin kamu kemana-mana, ternyata ada disini. Ngapain kamu disini?" tanya Sarah kepada Kiano sembari menjerling Kayla.


"Aku lagi ngobrol sama Kayla." jawab Kiano.


"Oh ya, apa yang kalian obrolkan, boleh aku ikutan?"


Kayla beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Kiano dan Sarah. Tapi langkah Kayla tertahan oleh Kiano yang menahan lengan Kayla.


"Kamu mau kemana?" tanya Kiano pada Kayla.


Kayla menghela napas kesal. " Gue mau ke kantin." jawab Kayla tanpa menatap wajah Kiano.


"Aku ikut." ujar Kiano juga mulai beranjak dari duduknya.


"Kiano, kamu mau kemana?" tanya Sarah.


"Ikut Kayla ke kantin." jawab Kiano.


"Aku gimana?" tanya Sarah mulai kesal.


"Terserah..." ucap Kiano berlari mengejar Kayla tanpa memperdulikan Sarah.

__ADS_1


"Kiano..." teriak Sarah.Dengan kesal dan penuh amarah Sarah meninggalkan kelas Kayla dan kembali ke kelasnya.


"Awas aja lu, akan gue balas apa yang lu lakuin ke gue Kay. Akan gue buat lu menyesal udah berurusan sama gue, lu belum tau siapa gue. Kiano cuma milik gue, hanya gue yang pantas untuk berada di samping Kiano. Gue akan singkirin siapa pun penghalang gue." janji Sarah penuh dendam.


Sementara itu Kiano terus mengejar Kayla dari belakang, tapi gadis itu sedikit pun tidak memperdulikan teriakan Kiano memanggil namanya.


Hingga akhirnya Kiano berhasil meraih lengan gadis itu dan menahannya.


"Cepat banget si jalan nya." ucap Kiano ngos-ngosan.


"Lu ngapain ikutin gue?"


"Kan tadi aku udah bilang, aku akan ikutin kamu."


"Sinting." ketus Kayla berjalan menuju toilet wanita. Tapi Kiano masih juga membuntuti Kayla. Hingga di depan pintu toilet.


"Mau ngapain lu?" tanya Kayla lagi.


"Kan aku bilang tadi, sebelum kamu bagi nomor ponsel kamu, dan mau berteman sama aku, aku akan terus ikutin kamu." jawab Kiano.


"Lu, mau ikut gue ke toilet juga?"


Mata Kiano membulat, kemudian menatap sekelilingnya. Ia di pelototi para siswi disana, Kiano bari menyadari bahwa saat ini ia sedang berada toilet wanita.


Dengan perlahan Kiano mundur langkah demi langkah, dan akhirnya tiba di depan pintu keluar toilet wanita.


Shiit...


Kenapa lu jadi begini si Kiano, ayolah dia hanya cewek biasa yang tidak tergila-gila pada pesona lu.


"Tidak, Kayla bukan gadis biasa. Dia gadis yang luar biasa, buktinya dia bisa bikin aku penasaran. Kayla,,,, Kayla,,, menarik.... Ummi doakan anak mu ini, dalam mengejar calon menantu untuk Ummi." ucap Kiano.


Di kantor, Kendra sedang berusaha menghitung kembali jumlah dana yang telah ia pakai. Setelah berulang kali ia menghitungnya bersama Ifan, dan selalu saja terdapat banyak ke kurangan disana.


"Bagaimana ini Fan, bahkan setelah aku menyatukan uang milikku pribadi dan uang milik Hummairah istriku, masih saja tidak mencukupi." tanya Kendra heran.


"Uang yang anda pakai itu memang besar Tuan, ini masih setengah nya."


"Bagaimana ini Fan, jika aku menutupi ini maka kita akan mulai dari nol lagi Fan."


"Itu lebih baik Tuan, dari pada perusahaan ini sampai bangkrut."


Kendra terdiam dan mencoba mencerna ucapan asistennya.


Ia memimijit pangkal hidungnya.


"Jadi kita harus mulai lagi dari awal Fan?" tanya Kendra lagi.


Ifan menganggukan kepalanya.


"Baiklah."


Kendra pun mengikuti saran dari asistennya. Dan kembali mulai menghitung dari awal lagi.


Hummairah sedang menyiapkan makan malam untuk keluarganya.


Putra putrinya sudah berada dirumah, hanya sang suami yang belum kembali.


Hummairah kembali teringat masalah yang sedang Kendra hadapi saat ini.


Saat Hummairah larut dalam lamunannya, kehadiran Kirana membuyarkan lamunannya.


"Ummi..... Ummi." panggil Kirana.


"Ummi lagi mikirin apa sih? Kok melamun?" tanya Kirana.


"Ummi pasti lagi kangen sama Daddy kan?" tanya Kanaya.


Hummairah dan Kirana tersenyum mendengar penuturan dari Kanaya. Hummairah mengelus sayang kepala putri bungsu nya.


"Sudah ayo kita makan, Kirana panggil Kak Kiano....."


"Kiano udah disini Mi." jawab Kiano yang sedang berjalan menuruni tangga.


Hummairah tersenyum menatap wajah putra sulung nya." Ya, sudah Kirana panggil Kakek, untuk makan malam ya."


"Daddy bagaimana, apa kita tidak menunggu Daddy?" tanya Kanaya, sebab Kanaya lebih dekat dengan Kendra.


"Daddy sibuk sayang, kalian duluan saja. Nanti Ummi yang akan menemani Daddy makan." ucap Hummairah memberikan penjelasan pada putra putrinya.


Ayah Hummairah hanya tersenyum.


Kendra pulang tepat tengah malam lagi, ia masuk kedalam rumah dengan kunci cadangan yang ia pegang sendiri.


Perlahan Kendra menaiki tangga dan masuk kedalam kamarnya.


Tapi tanpa Kendra sadari Kiano masih terjaga dan mengintip di balik pintu kamarnya.


Kendra masuk perlahan kedalam kamar, ia melihat sang istri telah tertidur pulas.


Kendra mendekati istrinya dan mengelus pipi Hummairah lembut.


Hummairah menggeliat dan perlahan membuka matanya, dan tersenyum melihat siapa yang ada dihadapannya.


Kendra mengecup kening Hummairah, dan menggesekan hidungnya pada hidung Hummairah sembaru tersenyum. Hummairah mengalungkan kedua tangannya ke leher Kendra dan mengecup pipi suaminya.


"Kenapa?" tanya Kendra.


Hummairah menggeleng. "Aku siapkan air hangat untuk mandi ya." ucap Hummairah bangun dari tidurnya.


"Aku bisa sendiri sayang, kamu tidur aja lagi." jawab Kendra.


"Gak, aku udah gak ngantuk lagi." Hummairah tetap bangun dan berjalan ke arah kamar mandi.


Kendra pun duduk di sofa dan mulai melepas jas dan atribut lain yang ia gunakan.


Tak lama kemudian Hummairah keluar dari kamar mandi dan memberikan Kendra jubah mandi.


"Gak mau ikutan?" goda Kendra.


"Kemana?"


" Temani aku mandi" jawab Kendra mengejipkan matanya nakal.


"Tidak, aku akan menyiapkan makan malam. Mau makan di bawah apa disini?"


" Disini saja, udah lama kita gak makan berdua." jawab Kendra.


"Hemmmm..... mulai lagi deh. Udah buruan sana." usir Hummairah.


"Beneran gak mau ikut mandi bareng aku, nanti kita main air dan gosok-gosokan." ucap Kendra nyengir.


"Apaan sih, gak. Udah aku mau kebawah manasin sayur." Hummairah pun keluar dari kamarnya setelah mendengar suara tawa lepas Kendra yang menggodanya dan berhasil membuat wajahnya merah padam.

__ADS_1


Hummairah segera memanaskan sayur dan lauk pauk untuk makan malam suaminya.


Saat sedang asyik sendiri dengan masakannya, ia di kejutkan dengan kehadiran Kiano.


"Astagfirullah.... sayang kamu belum tidur?" ucap Hummairah kaget.


"Belum Mi, lagi ngerjain project sekolah. Ummi ngapain?"


"Ini ngangetin sayur untuk Daddy makan malam."


"Daddy kok akhir-akhir ini lebih sering pulang tengah malam ya Mi, apa di kantor lagi banyak kerjaan?"


"Mungkin." jawab Hummairah singkat


"Tapi Daddy kan bos nya, lagi pula Daddy punya asisten dan sekretaris kan. Kenapa tidak mereka saja yang mengerjakan semuanya."


"Sayang, Daddy kamu memang pemimpin disana, tapi Daddy kamu harus memberikan contoh yang baik untuk semua karyawannya."


"Gak ngerti ah, pusing kalau harus dihadapkan dengan masalah kantor." ujar Kiano.


"Kamu akan tau setelah saatnya nanti, saat kamu sudah mampu dan menggantikan Daddy."


"Kiano gak mau kerja kantoran Mi."


"Lho kalau bukan kamu yang akan meneruskan perusahaan Opa uyut siapa lagi sayang?"


"Masih banyak cucu dan cicit Opa yang lain kan, Kirana dan Kanaya ada, si kembar juga ada."


"Jadi kamu serius gak mau nerusin perusahaaan Opa, jadi kamu mau usaha apa?"


" Gak tau belum kepikiran."


Hummairah menggelengkan kepalanya. "Kamu kesini mau ngapain tadi sayang?" tanya Hummairah.


"Lapar Mi, tapi gak mau makan nasi. Ada yang manis gak?" tanya Kiano.


"Tuh kayak nya ada di kulkas."


Kiano pun membuka kulkas mengambil apa yang ia inginkan dan kembali ke kamarnya, begitu juga dengan sang Bunda, Hummairah pun segera naik ke atas dan kembali ke kamar dengan membawa nampan berisi makan malam.


Didalam kamar Kendra sudah memakai pakian santainya yang biasa ia pakai tidur, yaitu boxer dan kaos singlet nya. Ia sudah duduk di sofa kamar, sambil memeriksa kembali laporan yang ia bawa pulang.


Hummairah masuk, meletakan nampan diatas meja dan menatanya, kemudian melepas jilbanya dan menggantungnya di belakang pintu kamar.


Setelah meletakan semuanya diatas meja, Hummairah pun mengambil handuk kecil dan duduk disamping Kendra.


Hummairah pun mulai mengeringkan rambut suaminya. Hummairah memberikan pijatan lembut dikepala Kendra, membuat Kendra memejamkan matanya.


"Bagaimana masalah di kantor, sudah beres?" tanya Hummairah.


Kendra tampak menghela napasnya, Hummairah tersenyum dan kembali memijat kepala suaminya.


"Mas, tadi waktu di dapur aku ditemani sama Kiano. Mas tau gak dia bilang apa, tentang perusahaan?"


Kendra tersenyum, Hummairah merasa kini suaminya mulai santai dan bisa diajak bicara.


"Dia bilang apa tentang perusahaan?" tanya Kendra mulai tertarik dengan cerita Hummairah.


"Dia bilang, dia tidak mau meneruskan perusahaan keluarga."


"Jadi?"


"Dia ingin mendirikan perusahaannya sendiri, hasil dari jerih payahnya sendiri."


"Memang dia ingin usaha apa?"


"Itu dia mas, saat aku tanya dia bilang belum memikirkan ingin usaha apa?"


Terdengar suara Kendra terkekeh.


"Kenapa kamu tertawa mas."


"Aku jadi ingat saat aku seumuran nya."


"Kenapa?"


Kendra memutar badannya menghadap Hummairah.


"Kamu tahu saat itu aku juga seperti Kiano sekarang, Papa dan Kakek memaksa ku untuk terjun ke dunia bisnis dengan mengembangkan perusahaan milik Kakek." kenang Kendra.


"Lalu?"


"Lalu, aku dengan keras kepalanya menolak mentah-mentah tawaran dari Papa dan Kakek, Nanny marah besar dan Mama, sampai shock dan masuk rumah sakit." Kendra kembali terkekeh.


Hummairah ikut tertawa, mendengar cerita suaminya.


"Mas kamu tau ada pepatah mengantakan, buah jatuh tak jauh dari pohonnya, dan itu seperti kamu dan Kiano." ucap Hummairah tertawa, dan kemudian bertanya kembali pada Kendra.


"Lalu, bagaimana sampai kamu menyetujui usulan Papa dan Kakek untuk memimpin perusahaan?" tanya Hummairah lagi.


"Kakek pernah berjanji padaku, bahwa itu adalah permohonan Kakek dan Papa untuk terakhir kalinya. Dan Mama juga memohon padaku saat itu, dengan kondisi Mama saat itu sangat tidak memungkin kan untuk aku menolak permintaannya."


"Dan kamu pun menyetujuinya?"


"Ya..... dengan terpaksa aku menyetujuinya." Kendra tersenyum menatap Hummairah.


"Dan kamu tau apa permintaan Kakek dan yang lain berikutnya?" tanya Kendra sambil menatap wajah istrinya.


"Apa?"


"Menikahi dengan mu." jawab Kendra kemudian mengecup bibir ranum milik istrinya. Hummairah membalas kecupan Kendra dengan lembut.


"Dan di awal kamu juga menolak nya kan?" ucap Hummairah.


"Ya, tapi setelah itu aku sadar bahwa apa yang menjadi pilihan orang tua selalu menjadi yang terbaik." Kendra kembali mengecup bibi Hummairah kali ini lebih lembut dari sebelumnya.


Setelah cukup lama mereka larut dalam permainan bibir mereka yang saling berpaut, mereka pun melepaskan pautan mereka.


"Sudah,,,,, kamu makan dulu ya." ucap Hummairah dengan wajah memerah.


Kendra pun menganggukan kepalanya.


Hummairah pun melayani Kendra, dengan menyajikan makanan di piring Kendra. Dan mereka pun makan malam bersama di kamar, seperti yang biasa mereka lakuka berdua.


*Bersambung....


jangan lupa boom like, vote, dan lima bintang rate.


aku tunggu..


Terimakasih


**I LOVE U ALL***

__ADS_1


__ADS_2