CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA

CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA
137.


__ADS_3

Ilham kembali dari kantor notaris dan langsung menuju ke rumah Kendra.


"Assalamualaikum." ucap Ilham memberi salam.


"Waalaikumsalam." jawab Hummairah dn Medinah serentak.


"Bawa suamimu duduk Me, aku akan bikin teh jahe untuknya." ucap Hummairah.


Medinah mengangguk dan segera menghampiri suaminya, ia menuntun Ilham untuk duduk di ruang tengah.


Hummairah membawa nampan berisi teh dan makana ringan, kemudian meletakan di atas meja.


"Diminum dulu Kak." Hummairah pun duduk di hadapan Medinah.


"Bagaimana, apa yang mereka akan lakukan untuk membantu kita?" tanya Medinah.


"Rasanya aku ingin menyerah dengan semua ini, aku lelah jika harus berhadapan dengan mereka yang tamak dan haus akan kekuasaan." keluh Ilham.


"Kak, kamu jangan seperti itu, kamu juga harus pikirin Nanny yang sudah mempercayakan semuanya padamu."


"Tapi aku merasa sedih saat mereka bilang aku tidak berhak atas semuanya. Aku tahu diri Ra, aku memang cuma anak yang Nanny pungut dan besarkan. Tapi sedikit pun di hatiku punya niat untuk menguasai bahkan memiliki semua yang Nanny miliki. Aku hanya membantu mengelola dan mengembangkannya, sebagai balasan ia telah menjaga dan membesarkan aku Ra." tutur Ilham lirih.


Medinah mengenggam tangan suaminya erat, ia mencoba menjelaskan bahwa ia selalu ada untuk suaminya.


"Kak, nanti aku coba ngomong sama Kendra. Setelah dia pulang baru kita pikirkan bagaimana caranya menyelesaikan masalah ini." hibur Hummairah. "Untuk sementara lebih baik kalian tinggal disini hingga Kendra kembali." Hummairah pun meninggalkan Medinah dan Ilham di ruang tengah.


"Apa tidak lebih baik kita kembalikan saja semua ini kepada Nanny dear." tanya Medinah pada suaminya.


"Aku inginnya seperti itu, tapi Nanny pasti tidak akan pernah menyetujuinya." jawab Ilham.


"Tapi sampai kapan kita akan seperti ini, setelah kita berikan apa yang mereka inginkan, mereka masih juga menginginkan apa yang kita miliki. Dan seolah mereka tidak pernah puas dengan apa yang mereka miliki." tutur Medinah.


"Sabarlah Me, aku akan cari jalan keluarnya. Aku mau istirahat dulu, kamu jaga anak-anak ya." Ilham pun naik ke atas menuju kamar yang biasa ia tempati jika sedang menginap dirumah Kendra.


Medinah menatap lirih punggung suaminya.


.....


Di Jepang Kendra sedang menghadiri perjamuan makan malam antar pengusaha besar dari seluruh dunia.


"Selamat malam Tuan Kendra." sapa seseorang kepada Kendra.


Kendra pun menoleh dan tersenyum saat tahu siapa yang menyapanya.


"Tuan Yan, apa kabar?" sapa Kendra hangat menjabat tangan pria paruh baya yang masih berkarisma itu.


"Kabar ku selalu baik. Oh ya, apa anda datang sendiri, mengapa tidak membawa Nyonya Tuan Kendra."


"Anak saya sedang menghadapi ujian, jadi mereka lebih membutuhkan Ibunya dari pada saya." jelas Kendra.


"Oh begitu, sayang sekali. Padahal ini pertemuan besar, semua orang bisa jadi saling mengenal jika hadir malam ini. Dan semua orang juga masih ada yang penasaran dengan sosok istri anda Tuan Kendra." lanjut Tuan Yan.


"Tidak perlu seperti itu, istri saya milik saya. Jadi tidak perlu orang lain mengenalnya cukup saya dan keluarga saya. Lagi pula istri saya tidak akan betah berlama-lama disini, dia wanita yang sangat pendiam dan pemalu." bela Kendra.


"Baiklah, sepertinya anda sangat mencintai istri anda. Sehingga anda tidak mengijinkan siapa pun untuk mengenalnya."


Kendra tersenyum. " Anda sendiri, apa anda datang bersama keluarga anda?" tanya Kendra.


"Ya, aku datang bersama istri muda ku yang ke 7." jawab Tuan Yan bangga. Tapi hampir membuat Kendra tersedak minumannya.


"Tujuh?" tanya Kendra kaget.


"Ya, aku memiliki tujuh orang istri, masing-masing berbeda ras dan keturunan. Dan yang ke tujuh ini dia berasal dari China, baru satu minggu kami menikah dan apa anda tau berapa usianya? 25 tahun." Tuan Yan tersenyum bangga.


Kendra tersenyum malu mendengar pernyataan dari rekan bisnis nya ini.


Saat Kendra melanjutkan obrolan bersama Tuan Yan, mata Kendra menangkap sosok yang begitu ia kenal, Kayla.


Kendra terus saja menatapnya, Kayla tampak datang bersama seseorang yang di menggandingnya.


"Ah.. itu putra ku dan calon istrinya." ucap Tuan Yan kepada Kendra menunjuk pasangan yang sedang berjalan ke arah mereka.


Mata Kayla pun terbelalak saat melihat Kendra berdiri di samping bos nya.


Kendra tersenyum tipis saat Kayla dan pasangannya menghampiri mereka.


"Kai, perkenalkan ini Tuan Kendra, pengusaha sukses dari Indonesia. Dia sudah sukses saat usianya lebih muda dari kamu, walau awal mulanya dia tidak mau meneruskan bisnis keluarga. Tapi akhirnya dia lah yang membesarkan perusahaan keluarganya." Tuan Yan memperkenalkan Kendra pada putranya.


"Hallo Tuan." Kai Zhou menjabat tangan Kendra, dan Kendra hanya mengangguk dan tersenyum.


"Dan ini adalah calon istriku Tuan." ucap Kai memperkenalkan Kayla pada Kendra. "Sayang kemarilah, jangan malu Tuan Kendra ini juga dari Indonesia, sama seperi mu.


Kendra tersenyum dan menerima uluran tangan Kayla yang tidak berani mengangkat wajahnya. Kendra masih memasang senyum di wajahnya.


"Baiklah, saya permisi dulu Tuan Yan, saya akan menyapa tamu yang lain." Kendra pun mengundurkan diri dari hadapan mereka, Kendra tidak mau Kayla lebih canggung lagi.

__ADS_1


"Aku ke toilet sebentar." Kayla pun pergi menjauh dari Kai Zhou dan Ayahnya.


Sepeningglan Kayla, Kai Zhou melirik Ayahnya dan tersenyum penuh kemenangan


"Kau lihat Papa, umpan kita berhasil. Aku yakin setelah ini Tuan Kendra akan membicarakan semua ini pada putranya. Dan aku hanya tinggal menunggu rencana kedua ku berhasil." ucap Kai Zhou tersenyum.


"Bagus nak, lakukan apa pun. Papa akan selalu mendukung mu."


.....


Kiano menatap tajam dan sinis pada gadis yang berteriak kepadanya.


"Siapa dia?" tanya Tristan pada Dion. Dan Dion hanya mengedikan bahu.


"Aku kemarin mencari mu di bandara, untuk mengganti ponsel mu yang rusak." ucap gadis itu.


Tap Kiano berlalu tanpa memperdulikan kehadirannya. Fachri dan Dion mengejar Kiano, sedangkan Tristan menghampiri gadis itu.


"Siapa kau, mengapa kau mengatakan kalau teman ku sombong." tanya Tristan penasaran.


Gadis itu pun menceritakan awal mula kisahnya bertemu Kiano, gadis itu diketahui bernama Zee. Kini Tristan tahu kenapa ponsel Kiano tidak aktif beberapa hari ini.


"Jadi nama pemuda itu Kiano, asak Indonesia?" tanya Zee pada Tristan.


Tristan mengangukan kepalanya.


"Aku pasti akan bisa menaklukan mu Kiano." ucap Zee dalam hati.


Kiano pulang ke apartemennya bersama Fachri, Fachri telah menghubungi Kirana dan menceritakan perubahan yang terjadi pada Kiano. Untuk itulah Kirana meminta Fachri menemani Kakaknya, sebab jika dekat Kirana lah yang selalu mendengar keluh kesah sang Kakak. Fachri pun mengiyakan permintaan Kirana.


"Gue nginep disini ya?" tanya Fachri meminta ijin.


"Terserah." jawab Kiano singkat dna langsung masuk ke kamarnya.


Malam hari, saat Fachri sedang mengerjakan tugas kuliah. Ia pun segera menghentikan kegiatannya saat ponselnya berdering dan tertera nama sang pemanggil "Queen Kirana".


Fachri pun segera menutup laptopnya dan menjawab panggilan telpon dari Kirana.


"Hallo.." ucap Fachri gugup.


"Hallo, assalamualaikum Kak. Kak Fachri lagi di mana?" tanya Kirana tidak kalah gugup.


"Lagi di apartemennya Kiano, ngerjain tugas. Ada apa Na?"


"Kak boleh Nana minta tolong?"


"Nana mau ngomong sama Kak Kiano."


Fachri terdiam, mungkin Kiano bisa sedikit lega saat ia membagi ceritanya pada sang Adik.


"Hallo, Kak.. Kak Fachri masih disitu kan?"


"Iya Na, aku masih disini. Sebentar ya." Fachri pun naik ke atas menghampiri Kiano di kamarnya.


"Ki, ada telpon dari Kirana." teriak Fachri dari luar kamarnya.


Tidak lama kemudian Kiano pun keluar. " Tumben tuh anak nelpon gue, biasa nya gue duluan. Makasih." Kiano kembali kedalam kamar dan menutup pintunya.


Fachri tersenyum dan turun kebawah, melanjutkan tugasnya.


Didalam kamar Kiano mengumpulkan keberanian untuk memulai bercerita pada Adiknya.


"Hallo Na, apa kabar." tanya Kiano basa basi.


"Tumben nanyain kabar gue, biasanya juga gak." ujar Kirana.


"Jangan marah dong, kalau lu marah sama gue nanti yang jadi tong sampah gue siapa?"


"Udah buruan ada apa?" tanya Kirana.


"Lhaa, lu yang nelpon kenapa jadi nanya ke gue."


"Oh ya lupa.Gue ada berita gembira." ujar Kirana semangat.


"Apa? lu dapat menang undian?" jawab Kiano asal.


"Bukan, gue di terima di Al- Azhar Kairo."


"Waah, hebat adek gue ternyata pintar juga ya."


"Ya dong gue!"


"Sombong, baru segitu juga." ujar Kiano.


"Biarain setidaknya gue bisa nyenengin hati Ummi kuliah di Mesir." ucap Kirana bangga.

__ADS_1


Kiano terdiam, ia jadi teringat akan permintaan Ummi nya dulu, agar ia bisa melanjutkan kuliahnya di Mesir.


"Kak, lu masih disana kan?" seru Kirana.


"Ya gue masih disini."


"Li ngelamun? ngelamunin apa, Kak Kayla?"


"Gak, ngapain ngelamunin dia, belum tentu juga dia mikirin gue."


"Lhaa... lu pasti bertengkar lagi. Masalah apa lagi kali ini?"


Kiano menarik napas panjang, kemudian mulai bercerita pada sang Adik masalah yang terjadi. Dan seperti biasa Kirana selalu mendengarkan curhatab sang Kakak dan memberikan saran dan semangat untuknya.


"Ya udah, lebih baik lu tenagin pikiran dulu. Biarkan dia introspeksi diri dan lu juga harus tau dimana kurangnya lu dimatanya dia. Nanti kalau udah tenang, baru deh lu coba hubungin dia lagi." ujar Kirana bijak seperti biasanya.


"Lega gue kalau udah cerita sama lu."


"Ya dong, Kirana..." seru nya.


"Eh, gimana hubungan lu sama si Fachri, dia udah nembak lu apa belum?"


"Lha kok jadi bahas gue."


"Udah lu gak usah pura-pura lagi, gue udah tau semua. Fachri anaknya baik kok, sopan juga."


"Aku gak mau pacaran, aku mau serius kuliah dulu. Setelah itu kalau ada yang mau, aku mau langsung ke jenjang yang serius. Aku mau jadi kayak Ummi, punya suami yang sayang padanya lahir dan batin. Aku gak mau, hanya gara-gara aku nanti Daddy dan kamu menderita di kemudian hari." ucapan Kirana seolah menampar keras wajah Kiano.


Ia ingat dulu bagaimana Ummi nya selalu berpesan padanya untuk tidak pacaran, pacaran hanya akan menambah dosa. Lagi pula tidak ada yang benar dalam pacaran, ternyata apa yang Ummi nya bilang itu semuanya benar. Ia pun kini sadar tentang kesalahan yang ia lakukan.


"Makasih ya Na, lu udah nyadarin gue." ucap Kiano


"Nyadarin apa? emang tadi lu tidur."


"Pokoknya lu emang adek gue yang paling best, gue sayang sama lu. Gue yakin semua cita-cita dan doa lu akan di didengar dan di kabulkan oleh Allah. Aamiin.... " doa Kiano.


"Eh udah dulu ya, gue mau nemenin Ummi sama Mama belanja."


"Ya udah, eh... lu beneran gak mau ngomong dulu sama Fachri." goda Kiano saat berada didekat Fachri.


"Apaan sih, kan udah dibilang tadi." seru Kirana.


"Gue yakin Na, si Fachri pasti nungguin lu selesai kuliah."


"Udah ah, Ummi udah manggil. Udah ya assalamualaikum." Kirana pun menutup panggilannya.


"Lha dimatikan." ujar Kiano. "Nih gue kembalikan, makasih ya." ucap Kiano.


Fachri tersenyum dan meraih kembali ponselnya.


"Seperti lu harus ekstra keras mengejar cinta Adik gue." ujar Kiano tersenyum.


"Kenapa? Apa gue punya saingan?" tanya Fachri cemas.


"Saingan? bisa dikatakan begitu."


"Siapa saingan gue?" tanya Fachri penasaran.


"Jarak dan waktu." jawab Kiano singkat.


"Jarak dan waktu? maksudnya."


"Setelah lulus ini Kirana akan lanjut kuliah di Mesir, dan lu harus nungguin dia hingga selesai kuliah. Dan itu pun kalau lu bisa nunggu, dan gak kecantol gadis lain." ujar Kiano lirih.


"Bagaimana jika aku bisa menunggu, tapi sebaliknya Kirana yang menemukan tambatan hatinya yang lain." tanya Fachri getir.


"Bearti kita senasib hahahaaa...." Kiano tertawa lebar.


"Tapi jika Kirana lanjut kesana saingan gue lebih hebat Ki, secara Kirana pernah cerita sama gue. Kalau dia pengen punya pendamping yang bisa memimpinnya dalam sholat, sedangkan gue apa. Gue buta jika harus jadi seperti itu, gue gak pernah dapat sedikitpun ilmu agama dari kedua orang tua gue. Mereka hanya tau mencari materi bukan mencari Tuhan, tapi pengasuh gue pernah ngajarin gue sedikit tentang itu, dan disekolah gue juga pernah belajar." kenang Fachri.


"Gue senang kalau lu sadar, tapi alangkah baiknya jika lu mulai belajar lagi dari sekarang. Jadi saat Kirana pulang dari Mesir nanti lu udah punya pegangan, dan dia juga gak akan nolak lu jika lu lamar dia." ujar Kiano segera berlalu dari hadapan Fachri.


"Aku janji Ki, aku akan menjadikan Kirana pendamping hidupku. Aku akan mulai hijrah dari sekarang, aku akan belajar kembali dari awal." janji Fachri


*Bersambung...


Hai... hai...hai...


Aku Icha Mawik, jangan lupa baca juga karya ku yang ke dua judulnya


MENGEJAR CINTA SANG ASISTEN.


jangan ragu untuk tinggalkan jejak like dab komen di tiap eps nya, vote dan boom lima bintang. Aku tunggu ya


Terimakasih..

__ADS_1


Salam sayang dari author selalu


I LOVE U ALL*


__ADS_2