CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA

CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA
104


__ADS_3

Medinah terbangun dan menatap sekeliling, ini adalah kamar tamu di rumah Papa nya. Mengapa Ia bisa tahu bawa ini adalah kamar tamu dirumah Ayahnya, sebab Ia dulu sering di suruh Rebeca untuk membersihkan kamar itu. Ia menoleh, disampingnya Ilham sedang terlelap dengan damai. Tak ingin mengganggu tidur suaminya, Ia pun berjalan berjinjit menuju kamar mandi.


Setengah jam kemudian Medinah telah selesai dengan ritual mandi nya, Ia pun segera berpakaian kemudian turun kebawah untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya.


Medinah menuruni tangga dan berjalan menuju dapur.


Para pelayan menyapanya dengan hormat.


" Ada yang bisa kami bantu Nyonya muda ? " Tanya salah seorang pelayan


" Aku akan membuat sarapan untuk suami ku "


" Anda tinggal bilang pada kami, dan kami akan segera menyiapkan nya untuk anda "


" Tidak perlu, aku bisa sendiri. Kerjakan tugas kalian kembali "


Medinah mulai membuat sarapan, para pelayan pun mulai kembali sibuk dengan tugas mereka masing masing


Samual keluar dari kamarnya dna segera menuju meja makan, Ia begitu terkejut melihat makanan yang tersaji di meja makan.


" Siapa yang membuat semua ini ? " Tanya Sam pada salah saty pelayan nya.


" Maaf Tuan, ini semua Nyonya muda Medinah yang menyiapkan " Jawab pelayan.


Sam terdiam, Ia tidak menyangka bahwa putrinya mewarisi kemampuan memasak dari mendiang sang Ibu.


Sam tersenyum, kemudian duduk di kursi utama.


Medinah kembali ke kamarnya, Ia segera membangunkan Ilham.


" Ham, bangun udah pagi " Medinah menepuk lengan kekar suaminya.


Ilham menggeliatkan tubuhnya, membuka perlahan matanya.


Senyum terukir di wajahnya saat Ia melihat Medinah. Ia pun segera duduk.


" Selamat pagi, dear " Ilham mengecup pipi Medinah


" Ayo bangun, Papa sedang menunggu kita untuk sarapan " Medinah segera bergerak menuju kamar mandi untuk menyiapkan air mandi untuk Ilham.


Ilham segera berjalan menuju kamar mandi, Medinah menyiapkan pakaian yang akan Ilham pakai.


Ilham keluar dari kamar mandi, Ia melihat Medinah masih berada di kamar.


Ada sesuatu yang ingin Medinah bicarakan pada Ilham, tapi Ia ragu apa Ilham akan mengijinkan nya.


Akhirnya Ia pun memberanikan diri untuk mulai mengatakannya.


" Ham " Medinah mulai buka suara


" Hemm " Jawab Ilham yang masih sibuk mengenakan pakaiannya.


" Apa aku boleh ngomong dan minta sesuatu ? "


Ilham mengehentikan aktifitas nya, kemudian berjalan mendekati Medinah.


" Kamu mau ngomong apa ? " Ilham meraih tangan Medinah dan membawanya duduk dipangkuan nya.


Medinah menarik nafas untuk mengumpulkan keberanian.


" Aku pengen pergi ke penjara, untuk menemui Mama Rebecca "


Ilham menautkan alisnya.


" Untuk apa ? "


" Aku tahu selama ini Mama Rebecca sudah bersalah, tapi bukan nya setiap orang punya kesempatam kedua untuk berubah "


Ilham terdiam, mencoba mencerna ucapan istrinya.

__ADS_1


" Ham, bantu aku bicara pada Papa ya. Aku ingin sekali bertemu dan berbicara sama Mama Rebecca "


" Baiklah, tapi kalau Papa tidak menyetujuinya, kamu harus bisa mengerti " Ilham membelai rambut Medinah


Medinah terdiam.


" Kamu tau kan bagaimana marah nya Papa sama Mama Rebecca, Papa begitu membenci Mama Rebecca. "


" Aku tau, tapi kan aku hanya ingin bertemu dan melihat keadaannya. "


Ilham memeluk pinggang istrinya erat.


" Kalau bukan karena Mama Rebecca, aku mungkin masih menjadi gadis manja yang cengeng, tidak setegar seperti sekarang ini. Kalau bukan karena Mama Rebecca kita tidak mungkin bisa dekat dan menikah. " Medinah menatap wajah Ilham lekat.


Ilham tersenyum dan mengecup kilas bibir Medinah.


" Sekarang aku tau, aku tak salah memilih kamu menjadi istri ku. Dan menjadikan kamu sebagai pendamping hidup ku dan menjadi Ibu dari anak anak ku " Ilham mengelus kepala istrinya.


Medinah tersenyum " Bantu aku yaa " Pinta Medinah memohon.


Ilham tersenyum devil.


" Ada dua syarat " Ucap Ilham dengan wajah licik.


" Hah... syarat ? Dua ? " Medinah tercengang


Ilham menganggukan kepalanya dan kembali tersenyum licik.


Medinah menghembuskan nafas kasar.


" Baiklah, cepat katakan apa syarat nya. "


" Pertama, aku mau mulai saat ini kamu berhenti memanggil Ilham "


" Jadi aku harus memanggil kamu apa ? "


Medinah bingung


" Bagaimana ? "


Medinah tampak berpikir dan menimbang.


" Baiklah, tapi kamu manggil aku apa ? "


Ilham tersenyum.


" Aku akan memanggil kamu Dear "


" Baiklah, syarat yang kedua "


" Syarat yang ke dua.... " Ilham tampak tersenyum dan menimbang.


" Aku akan mengatakan nya nanti, sekarang berikan aku ciuman "


Mendengar ucapan Ilham Medinah beringsut ingin beranjak dari pangkuan nya, tapi dengan sigap Ilham segera menangkapnya kemudian mengurung tubuh Medinah di dinding.


" Mau kemana huh ? " Ilham segera melahap bibir tipis Medinah dengan rakus nya.


Medinah membalas ciuman Ilham, mereka saling berpaut.


" Sudah cukup " Pinta Medinah dengan nafas yang terengah engah.


" Papa menunggu kita untuk sarapan "


Ilham tersenyum dan menyapu bibir Medinah dengan ibu jarinya.


" Baiklah, kau masih berhutang syarat ke dua pada ku " Ilham mengecup kilas bibir Medinah.


" Ayo kita sarapan, kalau tidak aku akan melahap mu sekarang " Goda Ilham.

__ADS_1


Merasa pun turun dan segera duduk di meja makan.


******


Ratna nekat pergi menemui Hummairah, untuk meminta Hummairah agar mau membujuk Kendra untuk menemui Intan.


Tok.... Tok... Tok...


" Assalammu'alaikum " Ucap Ratna


Tak lama kemudian terdengar suara dari dalam rumah.


" Waalaikumsalam "


Ceklek...


Hummairah membuka pintu.


" Bi Ratna "


" Ra, ada hal yang mau Bibi bicarakan sama kamu, boleh Bibi masuk "


" Eh iya, masuk Bi " Hummairah membuka pintu dan mempersilahkan Ratna masuk dan duduk.


Mereka duduk di ruang tamu.


" Ara bikinin minum ya Bi "


" Gak usah Ra, Bibi hanya sebentar " Tolak Ratna


" Gak apa apa Bi, sebentar ya "


Hummairah berjalan masuk menuju dapur, dan membuatkan Bibi nya secangkir teh.


" Diminum dulu Bi " Hummairah memberikan secangkir teh kepada Ratna.


Ratna meraih cangkir berisi teh tersebut dan meminum nya perlahan.


" Ra, apa kamu bisa bantu Bibi ? "


" Bantu apa Bi, kalau Ara bisa bantu pasti Ara bantu "


" Ini mengenai Intan Ra "


" Intan kenapa Bi ? "


".Intan semakin menjadi Ra " Ratna pun menceritaka semua nya pada Hummairah, termasuk perkataan Dokter yang merawat Intan, tak lupa Ratna pun melebihkan sedikit ceritanya agar Hummairah simpati pada nya dan mau menuruti keinginan nya.Sebab Ia tau Hummairah selalu mendengarkan apa yang Ia katakan, seperti dahulu.


Hummairah terdiam, ada rasa kasian dan ada rasa tidak.tega pada Bibirnya.


Disatu sisi Ia begitu membenci Intan atas perbuatan nya, dan disisi lain Ia juga kasihan pada Bibinya.


Sebagai seorang Ibu Bibinya hanya melakukan yang terbaik untuk anaknya, Ia juga berusaha melindungi keluarga nya.


Hummairah meghela napas penjang perlahan.


" Bagaimana Ra, kamu mau kan batu Bibi "


" Ara tidak bisa janji Bi, mas Kendra itu orang nya keras kepala. Sekali Ia bilang tidak ya tidak. "


" Tapi Kendra kan sangat mencintai kamu Ra, Bibi yakin dia pasti mendengarkan kamu dan menurut pada mu "


" Tapi, Ara tetap tak bisa janji Bi, Ara akan ciba ngomong sama mas Kendra. "


" Kau harus ngomong Ra, kau harus bantu Intan saudara kamu. Pokoknya kamu harus Ra, harus. Bibi tidak mau tau " Ratna setengah memaksa.


Hummairah bingung dan terdiam tak bisa berkata apa apa.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2