
"Fachri...." Pak Reza memanggil putranya. Pria paruh baya itu terus menerus memanggil nama putranya, tapu yang di panggil namanya belum juga muncul. Ia pun berjalan ke tangga dan naik ke menuju kamar putranya.
Ceklek...
Suara knop pintu dibuka.
"Fach....." ia lalu terdiam melihat pemandangan didepannya, putranya sedang melaksanakan sholat. Matanya masih tidak berpindah dari sosok Fachri yang masih tegap berdiri membelakanginya, seulas senyum terbit di wajahnya.
Ia pun kembali menutup pintu dan berjalan kembali kebawah, tapi langkahnya terhenti saat melihat seseuatu di atas meja kerja Fachri.
Pak Reza pun memutar langkahnya mendekati meja kerja Fachri. Ia melihat sebuah photo Fachri bersama seorang gadis manis berjilbab, Fachri tampak tertawa dan gadis itu tersenyum.
"Apa kamu yang membuat putra ku seperti ini?" Pak Reza menatap photo Kirana yang duduk disamping Fachri dengan kursi terpisah. Photo itu diambil saat mereka pergi bersama Kiano dan Kayla kemarin, saat mereka mampir untuk makan malam bersama disebuah cafe.
"Papa panggil Fachri." tanya Fachri yang baru saja turun dari kamarnya.
Pak Reza terkejut mendengar ucapan putranya, Fachri yang dulu kalau bicara padanya selalu menggunakan kata aku dan kamu, kini terdengar lebih sopan. Pria itu menatap putranya dengan seksama.
"Pa... kok bengong." Fachri kembali bertanya.
Pak Reza pun tersadar. "Ah.... iya, Papa cuma mau ngasi tau kamu, kalau Mama kamu sedang dalam perjalanan kesini."
"Tumben! Ada apa hingga Mama mau mampir kemari?" tanya Fachri heran.
"Mama mu akan menghadiri pertemuan, dan kamu juga harus ikut."
"Haah... gak, Fachri gak mau ikut. Fachri akan betah disana, lagian juga Fachri gak akan nyambung jika mgobrol sama orang-orang disana." tolak Fachri.
Reza menggelengkan kepalanya saat mendengar penolakan putranya.
"Disana kamu akan berkenalan dengan anak para pengusaha lainnya Nak, dan kamu juga akan punya teman disana."
Fachri tidak memperdulikan ucapan Papanya, dan kembali duduk di meja kerjanya. Reza mendekati putranya.
"Siapa dia Fachri?" tanya Reza.
"Siapa?" Fachri balik bertanya.
"Gadis yang bersama mu, di photo itu." tunjuk Pak Reza ke arah laptop Fachri.
Fachri terkejut. "Papa buka laptop Fachri?" tanya Fachri.
a"Gak, Papa gak buka laptop kamu. Tapi Papa gak sengaja liat tadi, laptop kamu nyala."
Fachri pun teringat saat ia sedang melaksanakan mengerjakan tugas kuliah dan buru-buru melaksanakan sholat ashar, ia lupa mematikan laptopnya.
Fachri tersenyum salah tingkah, saat Papanya bertanya soal Kirana.
"Namanya Kirana Pa, Adiknya teman kuliah Fachri."
"Jadi dimana dia sekarang, ajak dia kemari saat Mama mu tiba nanti."
"Tidak bisa Pa."
"Kenapa?"
"Sebab dia tidak ada disini, ataupun di rumahnya."
"Dimana dia? Jangan bikin Papa pusing dan bingung Fachri."
"Dia sedang kuliah di Mesir Pa."
"Apa! Jauh sekali Fachri?"
" Itu impiannya dan impian kedua orang tuanya. Tapi Fachri janji akan menunggunya kembali Pa, dan Fachri akan buktikan bahwa dia jodohnya Fachri."
Reza tersenyum mendengar penuturab putra semata wayangnya. "Bagus Nak, Papa akan selalu mendukung setiap keputusan mu."
"Makasih Pa."
.....
Di apartemen Kiano, Hummairah telah bangun segera menyiapkan sarapan untuk dua pria yang ia cintai.
Tidak lama kemudian Kiano sudah duduk di meja makan.
"Selamat pagi Mi." sap Kiano mencium pipi Ummi nya.
"Pagi saayang, ayo sarapan dulu!"
"Daddy belum bangun Mi?" tanya Kiano.
"Belum, mungkin Daddy kecapekan. Habis perjalanan jauh."
Kiano mengangguk dan ber oh ria, kemudian lanjut memakan sarapannya.
Kiano sedang menyiapkan bahan untuk skripsinya, ia benar-benar sibuk akhir-akhir ini. Ia bahkan tidak pulang untuk makan siang, dan akan pulang lewat dari waktu makan malam.
"Mi, Kiano berangkat dulu ya." Kiano pun mencium tangan dan pipi Ummi nya.
"Hati-hati ya Nak." Hummairah pun menatap punggung putranya. Ia tidak menyangka waktu cepat berlalu.
Setelah beres semuanya, Hummairah pun naik keatas untuk membangunkan suaminya.
"Mas.... Mas, bangun Mas. Sudah siang." ucap Hummairah sembari membuka tirai kamar.
Kendra menggeliat kedalam gulungan selimut, ia mengerjapkan matanya perlahan dan berusaha mengumpulkan semua kesadarannya.
Kiano tersenyum saat melihat istrinya sudah berdiri di depannya.
"Morning dear." sapa Kendra dengan suara parau dan tersenyum.
Hummairah tersenyum. "Morning." jawab Hummairah.
"Morning Kiss pliss!" pinta Kendra.
Hummairah tersenyum, kemudian mendekati suaminya dan memberikan kecupan dipipi suaminya.
"Terimakasih sayang." ujar Kendra bangkit dari tidurnya.
"Aku siapkan air hangat untuk kamu mandi ya." Hummairah pun masuk kedalam kamar mandi. Tidak berapa lama Hummairah pun keluar dari kamar mandi dan menatap ke arah Kendra yang sedang melakukan olahraga ringan di kamarnya.
Hummairah menatap kagum pada sang suami, walau sudah tidak muda lagi tapi Kendra selalu menjaga bentuk badannya dan kesehatannya.
__ADS_1
Sadar akan dirinya sedang diperhatikan oleh istrinya, Kendra tersenyum.
"Apa aku masih sexy sayang?" tanya Kendra.
Hummairah tersenyum. "Ya kamu masih sexy, lebih sexy dari siapapun." puji Hummairah.
"Aku mencintaimu." ucap Kendra kemudian mengulurkan tangannya. Hummairah tersenyum kemudian berjalan mendekati suaminya. Kendra menarik dan menenggelamkan wajah istrinya ke dada bidangnya, kemudian mengecup puncak kepala istrinya.
"Malam besok, akan ada pertemuan pengusaha disalah satu hotel. Aku berniat mengajak kamu dan Kiano kesana." ujar Kendra.
"Aku gak ikut ya, kamu pergu sama Kiano aja." Hummairah menolak dengan halus.
"Tapi kamu juga salah satu dari mereka, kamu juga seorang pengusaha hotel kan."
"Tapi kan..."
"Gak ada tapi-tapian, pokoknya kamu harus ikut besok. Sudah aku mau mandi dulu." Kiano pun masuk kedalam kamar mandi.
Hummairah terdiam dan menghela napas.
......
"Mi, bilang sama Daddy Kiano boleh gak, gak ikutan." rengek Kiano.
"Kalau Ummi bisa, Ummi juga gak mau ikut Ki!" ucap Hummairah.
"Lagian ngapain juga kita disana Mi, palingan clingak clinguk liatin lautan manusia yang saling pamer harta kekayaan mereka." keluh Kiano.
"Justru itu, kita perlihatkan pada mereka betapa sederhananya kehidupan kita." sambung Kendra yang baru saja kembali dari meeting diluar.
"Mas, kamu udah pulang." Hummairah menyambut suaminya. " Assalamualaikum." ucap Hummairah kemudian mencium tangan suaminya.
"Waalaikumsalam." balas Kendra mengelus dan mencium kepala istrinya.
Kiano tersenyum melihat keharmonisan kedua orang tuanya, ia mempunyai impian suatu saat nanti ia ingin dapat istri sholehah seperti Ummi nya, dan ingin memiliki keluarga seperti yang ia miliki sekarang ini.
"Kiano, jangan lupa nanti malam. Kamu juga sayang." Kendra pun masuk kedalam kamarnya.
"Bagaimana ini Mi." ucap Kiano
"Bagaimana lagi, kita harus ikut." jawab Hummairah.
...
Malam harinya, Kendra telah bersiap membawa keluarganya ke pertemuan itu.
Dengan wajah ditekuk Kiano turun dari kamarnya, Hummairah tersenyum melihat penampilan tampan putranya, walupun wajahnya sedikit masam.
"Sudah siap?" tanya Kendra.
Hummairah menganggukan kepalanya, sementara Kiano menyusul mengiringi langkah kedua orangtuanya.
Tiba di tujuan, Kendra membukakan pintu untuk istrinya. Hummairah turun disusul oleh Kiano dari sisi sebelahnya.
Saat masuk kedalam, semua mata menatap ke arah mereka. Terutama Hummairah dan Kiano, Hummairah tampil dalam balutan busana muslimahnya dengan warna yang senada dengan suami dan anaknya.
Hummairah menggandeng tangan putranya, Kendra berjalan didepan mereka. Kendra menyapa para rekan bisnis dan memperkenalkan keluarganya.
Gadis itu nampak menatap Hummairah dengan tatapan penuh kebencian, Hummairah hanya tersenyum dengan ulah Zee.
Tiba-tiba sebuah suara yang begitu Hummairah kenal terdengar menyapanya hangat.
"Ummi..." Fachri menghampiri Hummairah.
Hummairah tersenyum saat Fachri mendekati mereka.
"Kamu disini juga?" tanya Hummairah.
"Iya, dipaksa ikut."
Hummairah tergelak. "Sama, Kiano juga gitu."
"Dimana dia Mi?" tanya Fachri.
Hummairah menunjuk ke arah Kiano. Fachri melambaikan tangan ke arah Kiano yang sedang berdiri di pojokan.
Kiano pun kembali mendekati mereka.
"Disini juga lu?" tanya Kiano.
"Terpaksa!" jawab Fachri singkat.
"Gue juga, tapi gak apa-apa lah. Ada lu jadi gue ada temennya."
Tanpa mereka sadari dua pasang mata memperhatikan keakraban mereka.
Mereka adalah Reza dan Mia, Papa dan Mama Fachri. Kedua orang itu pun menghampiri putranya.
"Fachri." panggil Papanya.
"Papa, Mama." ucap Fachri.
Mereka pun mendekati Fachri dan keluarga Kendra.
"Ummi perkenalkan, ini Papa dan Mama Fachri." ucap Fachri memperkenalkan keluarganya.
Hummairah tersenyum dan menjabat tangan Mama Fachri, sedang Papa Fachri Hummairah hanya menangkupkan tangan dan menganggukan kepalanya sembari tersenyum.
"Tuan Kendra, apa kabar?" sapa Mama Fachri.
"Baik, senang bertemu anda lagi Nyonya Mia dan Tuan Reza." sapa Kendra hangat.
Mereka pun larut dalam obrolan yang panjang, hingga datanglah satu keluarga yang merubah semuanya.
Tampak Kai Zhou datang bersama keluarganya, serta tidak ketinggalan Kayla yang menggandeng tangan Kai Zhou. Dengan tersenyum, Kayla menyapa seluruh keluarga besar Kai Zhou.
Kiano tersenyum miris melihat perubahan pada diri Kayla. Fachri pun segera mengalihkan perhatian Kiano dengan memanggil kedua teman mereka Tristan dan Dion yang juga berada disana.
Mereka pun mencoba menghibur Kiano.
Hummairah sangat terkejut melihat penampilan Kayla, ia sama sekali tidak seperti Kayla yang dulu.
"Ayo sayang, kita sapa mereka." aja Kendra.
__ADS_1
"Tapi Mas..." tolak Hummairah.
"Kita lihat apa reaksi Kayla saat lihat kamu." Kendra pun pamit pada kedua orangtua Fachri.
"Selamat malam Tuan Yan." sapa Kendra ramah.
Mereka pun menoleh, mata Kayla terbelalak saat melihat Kendra dan Hummairah berdiri disamping mereka.
"Selamat malam Tuan Kendra, saya tidak menyangka kita akan bertemu disini." ucap Tuan Yan.
"Saya juga, ada sebagian orang yang tidak saya sangka akan bertemu disini." jawab Kendra.
"Siapa?" Tuan Yan bingung.
"Dia. Bagian dari keluarga anda juga." tunjuk Kendra kepada Zee dan orangtuanya.
Zee dan keluarganya terkejut mendengar penuturuan Kendra.
"Apa maksud anda Tuan Kendra?" tabya Tuan Yan.
"Putri mereka ini." tunjuk Kendra kepada Zee. "Kemarin telah menyinggung saya, dia bilang istri saya tuli, dan ingi mematahkan tangan dan kaki istrinya."
Semua mata kini menatap Zee dengan tajam.
"Mungkin istri saya tidak akan bercerita kepada saya, tapi jangan lupa saya selalu menyerta bodyguard untuk keluarga saya kemanapun mereka pergi."
Mata Zee kini membulat ia tidak mengira bahwa wanita yang ia singgung kemarin ternyata istri seorang yang sangat disegani.
"Tuan Kendra untuk itu kami minta maaf, kami berjanji akan mendidik anak kami lebih baik lagi. Tapi kami mohon, kembalikan usaha kami. Hanya itu satu-satunya harapan kami untuk kelangsungan hidup keluarga kami." Ayah Zee memohon kepada Kendra.
Kendra diam tidak bergeming, Hummairah mengelus lengan suaminya dan memohon.
Kendra selalu kalah dengan tatapa Hummairah.
"Baiklah, karena istrikua yang sangat baik hati ini. Aku akan membiarkan kalian tetap di perusahaan, tapi hanya sebagai karyawan." Kendra pun meninggalkan mereka.
"Bagaimana ini Papa, apa yang akan Tuan Kendra lakukan jika tau bahwa aku dan Kayla akan bertunangan." ucap Kai Zhou cemas.
"Jangan khawatir Kai, dia tidak akan mungkin melalukan itu." ucap Tuan Yan.
Pesta pun berjalan sangat meriah, mata Kiano masih tidak luput dari Kayla. Kayla berpura-pura tidak melihat Kiano.
Hingga dipenghujung acara, Tuan Yan oun segera mengumumkan rencananya.
"Tuan-Tuan, dan Nyonya-Nyonya serta para tamu semuanya. Di kesempatan kali ini saya akan mengumumkan berita bahagia. Putra tertua saya Kai Zhou akan segera bertunangan dengan kekasihnya Kayla."
Terdengar tepuk tangan dan sorak sorai gembira menggema di dalam aula hotel.
Kali ini Kiano tampak tidak bisa menyembunyikan rasa kecewa dihatinya.
Tapi dengan sigap teman-temannya serta sang Ummi segera menghampirinya.
Kayla terkejut mendengar pengumuman itu, ia sama sekali tidak tahu akan rencana keluarga Yan.
"Kai, kita perlu bicara." Kayla pun menarik lengan Kai Zhou dan membawa nya ke luar dari aula.
"Apa maksud dari semua ini Kai!"
"Apa lagi, kita bertunangan. Bukannya kamu udah nerima aku jadi pacar kamu kemarin?"
"Iya, tapi gak mesti secepat ini Kai."
"Kapan Kayla, sampai kamu berubah pikiran dan balik lagi mantan kamu yang gak berguna itu iya?"
"Kai Zhou, aku punya keluarga. Dan aku tidak bisa mengenyampingkan mereka."
"Kamu jangan khawatir, aku sudah memberitahu keluargamu, dan aku juga sudah mengutus orang untuk menjemput mereka."
"Kai, kamu udah bertindak terlalu jauh."
"Sudah cukup Kayla." bentak Kai Zhou, membuat Kayla terperanjat. Mata Kayla membulat ia tidak pernah mengira ada sisi keras dibalik perlakuan lembut Kai Zhou kepadanya.
"Maafkan aku Kay, aku terbawa suasana tadi. Sudah jangan dibahas lagi ya." Kai Zhou menarik Kayla kedalam pelukannya dna mengecup keningnya. Kayla masih gemetar ketakutan.
Kendra mengajak keluarganya untuk pulang, begitu juga dengan keluarga Fachri. Mereka juga memutuskan untuk pulang.
"Baiklah, nanti kapan-kapan kita makan malam ya Nyonya Kendra." ucap Mama Fachri.
"Iya, Mama Fachri. Jangan panggil saya Nyonya, panggil saja saya Hummairah."
"Ah... baiklah, nanti kita ketemu lagi." Mama Fachri mencium pipi Hummairah kiri dan kanan.
"Kiano." panggil seseorang.
Kiano pun menoleh, Kayla mendekati Kiano.
"Ki, apa kabar?" sapa Kayla.
"Baik, aku selalu baik." jawab Kiano santai tanpa melihat wajah Kayla.
"Ki, aku..."
"Oh ya Kay, selamat ya. Akhirnya jadi juga, gak sia-sia ya." ucap Kendra penuh makna.
"Ki, aku bisa jelasin sama kamu. Sebenarnya aku....."
"Sudah jangan di bahas lagi." ucap Kiano.
"Ki, kamu masih percaya sama aku kan. Aku gak mungkin..."
"Aku percaya pada apa yang aku lihat dan pada apa yang aku dengar. Sekali lagi, selamat untuk mu. Semoga lancar sampai tiba hari H nya."
Kiano pun berlalu meninggalkan Kayla yang merenungi kepergiannya.
Bersambung.
selalu tinggalkan jejak like dan komen ditiap up nya, Vote ranking dan boom lima bintang.
Terimakasih..
salam sayang author selalu
I LOVE U ALL
__ADS_1