
Ada rasa sesal yang tersimpan di relung hati Samuel, Ia merasa gagal menjadi seorang Ayah. Disaat semua Ayah di dunia ini dengan bangga memuji anak anak mereka, Ia justru harus memendam semua rasa itu.
Hidup di bawah bayang bayang bersalah dimasa lalu, membuatnya harus membenci putrinya sendiri. Agar putrinya hidup dengan aman, tapi sampai kapan. Di usia nya yang semakin senja, Ia kerap kali merasa kesepian. Kehidupan yang Ia jalani menjadi hambar tatkala sang maut harus merampas belahan jiwa nya.
Kesalahan dimasa lalu yang Ia perbuat, membuatnya membenci dan menyalahkan dirinya sendiri.
Saat ini ingin rasanya Ia pergi menyusul sang anak, dan meminta maaf. Tapi, apakah Ia akan di maafkan. Pertanyaan itu terus mengiang dikepala Samuel.
Ia tersadar dari lamunannya saat Jessica masuk kedalam ruang kerjanya.
" Papa, kenapa Papa duduk di ruangan gelap begini ? " Tanya Jessica yang langsung berjalan menyusuri dinding untuk mencari saklar lampu, dan menghidupkan nya.
" Ada apa ? " Tanya Samuel enggan. Ia tahu anak tirinya ini hanya akan menemuinya saat Ia butuh uang.
" Papa, apa Papa sudah tahu kalau Medinah akan menikah ? "
" Kenapa kau ingin tahu "
" Pa, apa Papa yakin pria itu cocok dengan Medinah ? "
" Apa maksudmu ? "
"Kita semua tidak mengenal latar belakang keluarganya, apakah sepadan dengan kita. Atau hanya ingin memanfaatkan Medinah "
" Kenapa kau begitu khawatir Jessi, bukankah selama ini kau begitu membenci Medinah. Jadi untuk apa kau peduli padanya. "
" Aku tahu Pa, tapi sebagai saudara aku juga berhak untuk tahu calon suami dari saudaraku. "
" Sudahlah Jessi, jangan di bajas lagi. Medinah telah menentukan arah kemana Ia harus melangkahkan kakinya. "
" Tapi Pa..... " Ucapan Jessica terpotong.
" Cukup Jessi..... Jangan bahas masalah ini lagi, aku tidak peduli lagi. Apa pun keputusan yang diambil oleh Medinah, aku yakin itu adalah yang terbaik baginya. " Hardik Samuel
Jessica mengepal kesal, Ia gagal menghasut Ayahnya untuk membatalkan pernikahan Medinah.
Sebenarnya Ia telah jatuh cinta pada pesona Ilham. Dan dia juga sudah mengetahui latar belakang keluarganya.
Aku akan menggunakan segala cara untuk menggagalkan pernikahan Medinah, aku tak rela Ia hidup bahagia dengan semua keberuntungan yang Ia miliki.
Mengapa Medinah selalu bernasib baik, Ia terlahir dari keluarga kaya, mempunyai otak encer yang membanggakan, mempunyai teman teman yang tulus padanya. Dan sekarang, Ia mendapat suami yang begitu mencintainya dan terpenting kaya raya.
Jessica keluar dari ruang kerja Samuel, kemudian masuk kedalam kamar sang Ibu.
" Ma, " Rengek Jessica pada Ibunya
" Ada apa Jessi ? " Tanya Rebecca lembut
" Ma, aku suka sama Ilham "
Rebeca mengehentikan aktifitas nya, Ia yang sedari tadi berada di depan kaca untuk memoles dan merias diri.
" Ilham siapa ? "
" Ilham, calon suaminya Medinah "
__ADS_1
" Apa maksudmu Jessi, anak sialan itu mau menikah ? " Terdengar tawa mengejek dari Rebecca. " Pria bodoh mana yang mau menikahi nya ? " Kembali tertawa.
" Mama.... Mama itu tidak tau, kemarin Medinah dan Ilham mendatangi kantor Papa, untuk meminta restu Papa. Si Zian yang membawa dan mempertemukan mereka. " Jessica menjelaskan pada Ibunya.
" Benarkah, apa Papa mu merestui mereka ? "
Jessica menganggukkan kepalanya.
" Apa Papa mu berniat hadir disana ? "
Jessica mengangkat bahu " Tidak tahu, tapi Papa telah memberi selembar surat perwalian nikah untuk Medinah. Karena disana itu sangat diperlukan, kalau tidak ada itu mereka tidak bisa menikah. "
" Aku satu langkah tertinggal dari anak itu, aku tak mengira Ia begitu pintar. "
" Ma, bagaimana Ma. Mama bisa kan bantuin aku untuk mendapatkan dan merebut Ilham dari Medinah ? "
" Tenang sayang, nanti Mama pikirkan caranya. "
Sepertinya aku harus mengingatkan kembali kejadian 20 tahun lalu kepada kamu Samuel. Dengan begitu, kamu sendiri yang akan membatalkan pernikahan itu. Dan sebagai gantinya Jessica yang akan menikah dengan Ilham. Untuk menutupi malu keluarga mereka.
Aku harus menemuinya untuk membahas masalah ini.
*****
Pagi hari dikediaman Keluarga. Kendra dan Hummairah akan pergi keluar hari ini, mereka akan berkunjung kerumah mereka yang belum sempat mereka tempati.
" Sayang, semuanya sudah siap ? " Tanya Kendra.
" Sebentar, sedikit lagi. Ini lagi beresin perlengkapan Kirana. " Tangan Hummairah dengan cekatan membereskan semua.
" Kita akan mampir kesupermarket dulu, untuk belanja keperluan selama disana. "
" Tentu saja, apa yang perlu dikhawatirkan, Kirana ada bersama kita. Lagi pula kita hanya pulang kerumah kita sayang, bukan kemana mana. "
" Tapi kamu kan mesti ke kantor mas ? "
" Ya, aku akan ke kantor. Dan kamu menunggu aku dirumah. "
" Disini juga bisa kan ? "
" Ya, memang bisa. Tapi tidak sepenuhnya "
" Maksudnya ? "
" Aku ingin kita seperti dulu, baru baru menikah. Aku ke kantor pagi nya, kamu di rumah, dan saat pulang aku disambut didepan pintu dengan senyum manis kamu " Kendra mengenang masa dimana awal mula mereka menikah.
Hummairah menghela nafas panjang dan menghembuskan nya.
Mereka pun berangkat setelah sarapan pagi. Tak lupa mereka mampir di supermarket untuk membeli bahan makanan dan keperluan mereka.
Tiba disana, seorang penjaga gerbang tersenyum menyambut kedatangan mereka.
" Selamat datang Tuan, Nyonya, dan Nona kecil " Sapa penjaga itu ramah.
Kendra hanya menganggukkan kepalanya, lain hal nya dengan Hummairah Ia tersenyum pada penjaga gerbang, yang membuat Kendra kembali jengkel.
__ADS_1
Kendra turun dari mobil dan berlari kearah Hummairah untuk membukakan Hummairah pintu.
Hummairah menatap lekat bangunan itu, Ia mengingat saat pertama kali Ia datang kesini.
" Ayo masuk " Ajak Kendra yang merangkul bahunya.
Kendra membuka pintu, dan berjalan masuk, membuka tirai dan kain pelindung sofa.
" Duduklah, aku akan membawa barang barang masuk " Ucap Kendra yang berjalan menjauh.
Hummairah masih menatap sekeliling bangunan itu, setelah Kendra kembali dan mengunci pintu utama. Ia mengajak Hummairah untuk naik ke lantai atas, untuk meletak kan Kirana di atas kasur.
Setelah meletakkan Kirana di kasur, Kendra mengajak Hummairah berkeliling.
Hummairah berhenti, Kendra tersenyum kemudian menjelasakan.
" Ini kamar Kirana, " Hummairah masuk dan berdecak kagum. Kamar yang dominan berwarna pink itu tampak mewah dengan semua isi nya.
Kendra kembali mengajak Hummairah ke kamar Kiano, yang letakny tak jauh dari sana.
" Sebelah kanan kamar Kiano. Kamu mau liat ? " Kendra memimpin Hummairah masuk ke kamar yang akan di tempati putranya.
Kamar itu bernuansa biru, dengan ornamen galaksi seperti yang Kiano inginkan. Ia sangat suka menatap langit malam yang dipenuhi bintang.
" Kamu suka ? "
Hummairah hanya bisa menganggukkan kepalanya.
" Aku juga mu menunjukan sesuatu padamu " Bisik Kendra ditelinga Hummairah.
Kendra, memimpin tangan Hummairah menuju kamar utama. Yaitu, kamar mereka berdua.
Kendra membuka pintu dan membawa istrinya masuk kedalam kamar.
Hummairah kembali tertegun dan mengingat pertama kali Ia berada di kamar ini, dan menghabiskan malam bersama Kendra.
Kendra memeluk pinggang Hummairah dari belakang.
" Ap yang sedang kamu pikirkan ? "
Hummairah tersenyum.
" Ingat sesuatu ? Kendra melepas jilbab istrinya.
Hummairah membalik badan, kemudian mengalungkan tangannya ke leher Kendra.
" Aku ingat sesuatu, " Hummairah tersenyum sembari menggigit bibir bawahnya.
" Aah... Kamu membuat aku gemas sayang. " Ucap Kendra mengecup lembut bibir istrinya.
Saat mereka larut dengan kemesraan yang mereka ciptaka, semuanya harus terhenti saat merek mendengar suara Kirana menangis.
Kendra memejamka matanya menahan kesal, semey Hummairah tersenyum penuh kemenangan.
Hummairah segera bergegas menuju kamar Kirana.
__ADS_1
" Mengapa selalu saja, kemarin Kiano sekarang Kirana. Kalian tak bisa membiarkan Daddy kalian dengan kesenangan nya. " Gerutu Kendra kesa.
Bersambung