CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA

CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA
139.


__ADS_3

"Nana berangkat dulu ya Kak Fachri. Titip Kak Kiano sama Ummi juga ya, jangan biarin Kak Kiano sendirian. Dia itu sebenarnya cengeng, berlagak sok kuat aja." ucap Kirana tersenyum saat berpamitan pada Fachri.


"Iya... kamu disana hati-hati ya Na, belajar yang rajin. Banggain kedua orang tua kamu, buat perjuangan orang tua mu tidak sia-sia." Fachri masih mengenang ucapan perpisahan saat ia melepas kepergian Kirana ke Mesir.


Kiano dan Fachri telah kembali ke Amerika dan menjalani kegiatan seperi biasanya.


Pagi ini Kiano kembali dihampiri Zee, gadis itu semakin di buat penasaran oleh sikap dingin dan cuek Kiano.


"Ki, tuh cewek kemaren dateng lagi nyamperin lu." bisik Tristan saat melihat Zee berjalan menghampiri mereka.


Kiano dan Fachri serentak menoleh sekilas, kemudian menoleh kembali ke arah semula.


"Hai..." sapa ramah Zee. "Boleh gabung disini?" tanya Zee kepada mereka.


"Boleh.... boleh duduk aja." ujar Tristan.


Zee pun duduk tepat dihadapan Kiano, mata Zee tidak luput dari wajah Kiano yang sama sekali tidak mau meliriknya.


Zee pun memulai obrolannya, tapi hanya Tristan dan Dion yang bicara padanya, dan Fachri hanya sesekai jika giliran ia di tanya.


Tapi tidak dengan Kiano, jangankan untuk bicara melirik sekali pun ia tidak, mata nya fokus ke layar laptopnya.


Kiano membereskan peralatannya. "Aku duluan." Kiano pun beranjak dari duduknya dan berjalan kembali ke kelas.


"Aku juga deh." Fachri berlari mengejar Kiano yang telah jauh.


Zee hanya bisa menatap punggung Kiano.


"Kenapa teman kalian itu susah sekali didekati." tanya Zee geram dan kesal.


"Maaf, dia baru saja dikecewakan oleh kekasihnya yang dipacarinya lebih dari 5 tahun ini." Tristan memberi penjelasan pada Zee.


"Iya, mungkin dia masih trauma dengan semuanya yang terjadi." sambung Dion.


"Tapi kan aku kan gak kayak gitu, lagian aku cuma mau kenal dan berteman aja sama dia." ungkap Zee.


"Dan maaf ni ya, maaf sekali. Kiano tidak suka dengan perempuan dengan penampilan terbuka kayak gini." ujar Dion.


"Kenapa dengan pakaian ku, ini kan lagi trend saat ini." protes Zee


"Lu tau kenapa Kiano kenapa Kiano beranjak dari duduknya tadi."tanya Tristan.


Zee menggelengkan kepalanya tidak tahu.


"Sebab lu tadi bahas masalah perempuan berjilbabkan, dan lu ngatain mereka kuno, gak gaul dan sebagainya. Lu tua gak kalau Mama dan kedua adiknya menggunakan jilbab, makanya dia pergi tadi mungkin dia tersinggung dengan ucapan lu." jelas Tristan.


Zee terdiam, dan masuk dalam pikirannya dan membiarkan Tristan dan Dion pergi meninggalkannya.


"Gue yakin si Zee suka sama Kiano." ujar Dion.


"Tapi lebih yakin Kiano gak suka sama dia." sambung Tristan.


"Kelihatannya sih begitu, gue heran kok Kiano gak mau sama Zee. Secara Zee itu cantik gak kalah cantik dari Kayla, sexy pula. Kalo gue udah gue bawa tinggal dirumah gue." ujar Dion berpikiran kotor.


"Itu lu, bukan Kiano. Tapi kalau gue jadi Kiano, gue juga gak mau tuh sama cewek yang kayak gitu." ucap Tristan.


"Kenapa, bukannya lu suka sama yang sexy." tanya Dion.


"Memang gue suka sama yang sexy, tapi hanya untuk happy-happy aja. Kalau untuk pendamping dan Ibu dari anak-anak gue nanti, setidaknya gue mau cari yang baik untuk menuntun gue dan anak-anak gue nantinya."


"Ciih.... jauh banget pikiran lu udah kesana aja. Udah kebelet ya, berat di ujung?" kelakar Dion.


"Bukan begitu, sebrengseknya seorang cowok dia pasti mencari yang baik untuk jadi wanitanya. Dia gak bakalan mau sama cewek yang boleh dikatakan murah, yang mau aja di bawa dan di ajak siapa aja. Tapi gak semua ya cewek seperti itu, ada juga yang nakal, tapi, dia bisa menjaga dirinya dan tidak ikutan." jelas Tristan panjang lebar.


Dion tampak menganggukan kepalanya mengerti dengan apa yang dikatakan sahabatnya.

__ADS_1


........


Tangan Kendra mengepal dengan rahang yang mengeras, saat mendengar cerita Ilham tentang kejadian beberapa hari yang lalu. Hummairah memang tidak menceritakannya kepada sang suami, ia tahu sifat Kendra. Ia tidak akan pernah terima jika tau dirinya dapat perlakuan seperti itu.


"Jadi lu berikan semuanya pada mereka Ham?" tanya Kendra pada Ilham.


"Mau bagaimana lagi Kend, Kiano sudah menggila saat ia melihat Ummi nya jatuh di dorong oleh salah seorang dari mereka." kenang Ilham.


"Lantas apa yang Nanny katakan saat ia tau." tanya Kendra lagi.


"Nanny mendukung semua keputusan yang gue lakuin, Nanny gak mau kejadian ini terulang kembali suatu saat nanti." lanjut Ilham.


"Baiklah, tapi aku akan melakukan sesuatu yang akan membuat mereka jera sebab berurusan dengan keluarga ku. Aku akan memberi mereka pelajaran, karena sudah berani menyentuh istri ku." mata Kendra berkilat merah.


Kendra menelpon seseorang dan memerintahkan seseorang. "Kirimkan aku data seluruh keluarga Martin, aku mau dalam waktu dua jam data itu sudah kalian serahkan padaku." Kendra menutup telponnya dan tersenyum iblis.


"Kend, apa yang akan lu lakukan pada keluarga itu, nanti apa tanggapan Nanny kalau dia tau." tanya Ilham khawatir.


"Tenang Ham, gue cuma nyentil mereka sedikit." jawab Kendra tersenyum penuh arti.


"Gue gak percaya!" Ilham melempar bantal sofa ke arah Kendra, dan segera keluar dari ruangan Kendra. Terdengar suara tawa Kendra memenuhi ruangannya.


......


Fachri menatap layar laptop nya, wajah Kirana ia jadikan penghias sebagai gambar latarnya. Fachri tersenyum nenatap wajah itu, hingga ia disadarkan oleh seseorang yang menghampirinya.


"Cantik, siapa dia Ii?" tanya Papa nya Fachri yang sedang datang mengunjunginya di apartemennya. Papa Fachri sekarang memang lebih sering menghampiri Fachri, walau hanya sekedar melihat keadaan putra semata wayangnya.


Dengan gelagapan Fachri mencoba menutup laptopnya. "Papa, sejak kapan Papa ada disana?"tanya Fachri gugup.


"Sedari tadi saat kamu menatap wajah itu. Siapa dia Fachri, apa dia yang berhasil mengalihkan semua perhatian dan dunia kamu?" tanya Papa nya penasaran.


"Bukan siapa-siapa." jawab Fachri singkat. Lalu bergegas membereskan laptop nya dan beranjak naik ke kamarnya.


"Fachri kenapa kamu gugup, memang sudah seharusnya kamu memikirkan hal itu. Umur kamu sudah cukup, dan kami Mama dan Papa kamu sudah mulai tua. Kami juga pengen seperti lain, di usia kami ini kami sudah duduk dirumah dan bermain bersama cucu kami." jelas Papa.


Papa Fachri menghela napas panjang. "Kami lakukan ini untuk masa depan kamu, penerus kami. Jika pada masanya kamu telah berumah tangga, kami akan istirahat dan duduk dirumah. Gantinya kamu lah yang harus menerus kan untuk mengelola usaha yang kami tinggalkan untuk kamu." jelas Papa Fachri panjang lebar.


"Tapi kenapa sejak kecil kalian tidak pernah peduli pada ku." Fachri menahan napasnya agas tidak tersengal. "Bahkan kalian menitipkan aku pada pembantu, bahkan disaat aku sakit kalian tidak pernah ada disampingku untuk merawat dan menemaniku." kenang Fachri.


"Bukan begitu Fachri, kami....." ucapan Papa Fachri terpotong saat suara ponsel Fachri berdering.


Fachri menjawab panggilan dari Kiano.


"Hallo, assalamualaikum Ki." ucap Fachri.


"Waalaikumsalam, Fachri bisa bantu aku sekarang?" tanya Kiano.


"Bantu apa Ki?"


"Jemput Ummi di bandara, Ummi datang sendiri. Gue lagi ngerjain tugas dari dosen pembimbing."


"Oh ya udah Ki, bilang Ummi suruh tunggu di depan aja, nanti aku yang jemput. Aku langsung Otewe ya Ki. Assalamualaikum." Fachri menutup telponnya, dan menyambar kunci mobilnya dan bergegas keluar dari apartemen.


"Kamu mau kemana Fachri terburu-buru begitu."


"Jemput Ummi Fachri Pa, beliau baru datang dan sekarang sedang menunggu di bandara. Nanti aja tanya nya Pa, Fachri pergi dulu Assalamualaikum." Fachri mencium tangan Papa nya.


"Waalaikumsalam." Papa Fachri terkejut melihat tingakah Fachri. "Siapa gadis itu, dan siapa yang Fachri panggil Ummi. Apa mereka yang membuat Fachri berubah menjadi seperti ini sekarang. Aku harus cari tau." ucap Papa Fachri.


Fachri tiba di bandara, ia turun dari mobilnya. Matanya mencari kesana kemari, menyusuri setipa sudut pintu masuk bandara.


Hingga ia melihat seseorang yang sedang duduk sendiri di pojok, wanita itu memakai busana muslimah menutup ujung kepala hingga kakinya. Ia juga memakai niqab untuk menutupi wajahnya, dengan langkah pasti Fachri mendekati wanita itu.


"Ummi." sapa Fachri.

__ADS_1


"Fachri." jawab wanita itu berdiri. "Kok kamu yang jemput Nak?" tanya Hummairah.


"Kiano lagi ada tugas tambahan dari dosen, jadi td dia nelpon minta tolong jemput Ummi." Fachri menjelaskan.


"Oh gitu, ya udah yuk kita pulang ke apartemennya Kiano." Hummairah pun berdiri dan menarik koper nya.


"Biar Fachri aja yang bawa." pinta Fachri.


"Baiklah."


Mereka pun naik modil dan meninggalkan bandara menuju apartemen Kiano.


Sesampainya di apartemen Kiano, Fachri membuka kan kunci pintu dan membawa masuk barang bawaan Hummairah.


"Terimakasih ya Fachri." ucap Hummairah.


""Iya Mi. eh maksudnya Tante." jawab Fachri malu.


Hummairah tersenyum. "Gak apa-apa kamu boleh panggil kok panggil Ummi, temannya Kiano bearti anaknya Ummi juga." jelas Hummairah.


Fachri tersenyum senang. "Terimakasih Ummi, kalau Ummi ada perlu, ini nomor telpon Fachri. Ummi telpon aja, Fachri pasti langsung ke sini." ujar Fachri.


"Iya, nanti Ummi telpon kalau Ummi perlu sesuatu." seru Hummairah.


"Kalau gitu Fachri permisi ya Ummi. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." jawab Hummairah.


Fachri pun keluar meninggalkan apartemen Kiano. Hummairah mulai membereskan barang bawaannya dan barang pesanan Kiano.


Sore hari Kiano baru kembali ke apartemennya, Kiano mengajak serta ke dua temannya Tristan dan Dion. Sedangkan Fachri berhalangan hadir sebab di apartemennya ada Papa nya.


"Assalamualaikum." ucap Kiano memberi salam.


"Waalaikumsalam, sayang udah pulang?" sapa Hummairah.


Kiano pun masuk dna langsung memeluk dan mencium tangan Ummi nya.


"Datang sama siapa?" tanya Hummairah.


"Ini Tristan, dan ini Dion." Kiano memperkenalkan kedua temannya.


"Fachri kemana, kok gak ikut?" tanya Hummairah.


"Fachri lagi ada Papa nya Tante, makanya dia gak ikut." jawab Tristan.


"Oh baiklah, ya sudah segera cuci tangan kalian. Ummi ada masak kesukaannya Kiano, kita makan sama-sama."


"Mimpi apa gue, udah lama banget gue gak makan makanan buatan rumah." celetuk Tristan.


Membuat Dion dan Kiano tertawa, mereka pun makan bersama tanpa kehadiran Fachri bersama mereka.


*Bersambung.


Hai... hai... hai...


aku Icha Mawik..


jangan lupa baca juga karya ke dua ku ya judulnya MENGEJAR CINTA SANG ASISTEN


tinggalin jejak dengan like dan komen disetiap eps nya.


jangan lupa VOTE dan Boom LIMA BINTANG untuk ngedukung author dan karya nya naik ranking.


Terimakasih

__ADS_1


salam sayang author selalu.


**I LOVE U ALL***


__ADS_2