
Nathan dan Mamanya mengantarkan Kanayah pulang ke kediamannya, Kanayah dan Mama Nathan duduk dibelakang, sedangkan Nathan duduk didepan sendirian berlaku sebagai supir mereka. Sesekali Nathan melirik ke arah kaca, mencuri pandang ke arah Kanayah dari kaca depan.
Nathan segera mengalihkan pandangannya saat mata mereka beradu, tatkala Kanayah tidak sengaja mendapatinya sedang memperhatikannya.
Tiba di kediamannya, Kanayah turun dan diikuti oleh Mama Nathan, setelah Nathan membukakan pintu untuk mereka. Hummairah dan Kendra menyambut mereka dengan ramah, setelah berbincang sejenak, mereka pun mohon undur diri dan pamit pulang.
Kanayah mengantarkan mereka hingga depan pintu.
"Nay, nanti kita pergi shoing lagi ya. Tante senang deh, sekarang Tante ada temennya kalau mau belanja, minta temani Nathan pasti bilangnya sibuk." ucap Mama Nathan.
"Iya Tante." jawab Kanayah singkat.
"Tante minta nomor ponsel kamu ya."
"Boleh Tante, sini ponselnya."
Kanayah pun menyebutkan nomor ponselnya, dan diam-diam Nathan juga mencatat dan menyimpan nomor Kanayah. Setelah mendapat nomor ponsel, mereka pun pulang.
Kanayah masuk kedalam dan langsung menuju kamarnya.
"Bie kamu ikut ya..." pujuk Fachri.
"Gak usah Kak, Nana nemanin Mama aja dirumah."
"Tapi aku lama lho disana."
"Berapa lama?"
"Tiga hari."
"Ya Allah Kak, cuma tiga hari juga. Ngapain juga aku harus ikut kesana."
"Kalau kamu ikut kan aku jadi ada temennya bie."
"Disanakan ada asisten kamu, sekretaris kamu."
Fachri berjalan mendekati istrinya, memeluk pinggangnya erat. Fachri meletakan kepalanya dipundak Kirana yang tidak menggunakan jillabnya. Fachri menghirup aroma tubuh Kirana, bibirnya mengecup ringan pundak Kirana.
"Tiga hari lama kalau kamu gak ada disamping aku." bisik Fachri.
Kirana tersenyum dan mengusap pipi suaminya. Kirana memutar tubuhnya dan tersenyum, ia juga mengecup pipi dan kening Fachri.
"Kamu pergi, Nana tunggu dirumah. Saat pulang nanti Nana nungguin kamu disini." Kirana menunjuk ranjang yang sedang mereka duduki sembari mengedipkan matanya.
Fachri tersenyum dan mencubit hidung mancung Kirana. "Kamu mulai nakal ya."
"Nakal kan kamu yang ngajarin." Kirana terkekeh.
"Tapi nakalnya cuma sama aku ya."
"Iya, nakalanya juga cuma sama kamu."
Fachri menarik Kirana dalam pelukannya.
"Kita main yuk!" ajak Fachri sembari mengedipkan matanya nakal.
"Main apa?" tanya Kirana berpura-pura.
"Kita main bola.... tapi sebelumnya, kita bikin kesebelasan dulu."
Fachri menarik Kirana berbaring di ranjang, kemudian menindihnya. Mencium tipa lekuk tubuh istrinya, Fachri perlahan melepas semua yang mereka gunakan dan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
Pertarungan pun diakhiri dengan napas yang menderu tidak beraturan. Fachri menjatuhkan dirinya disamping Kirana, dan menarik istrinya kedalam pelukannya.
"Aku mencintaimu." ucap Fachri mengecup kening Kirana.
Kirana tersenyum, memeluk erat suaminya dan memejamkan matanya. Mereka pun tertidur karena kelelahan.
Ditempat lain, disebuah kamar juga terdengar dehasan halus. Kendra sedang berpacu menuju puncak kenikmatan, sesekali terdengar erangan dari bibirnya. Sebelah tangan Hummairah meremas sprei dan terdengar lenguhan dari bibirnya.
__ADS_1
Ini adalah pelepasannya yang ke tiga kalianya, sedangkan Kendra masih memacu laju gerakannya. Tidak lama kemudian terdengar erangan yang keluar dari mulut Kendra. Ia telah mencapai puncaknya, dengan napas masih tidak beraturan Kendra melepas miliknya dan berbaring disisi istrinya.
"Aku akan merindukan saat ini di tiga hari kedepan." Kendra mengecup puncak kepalanya.
"Segera selesaikan dan cepatlah kembali." Hummairah mengecup pipi suaminya, dan beranjak bangun menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sementara dikamar sebelahnya, terdengar keributan antara anak dan Daddynya.
"Zaki... kamu main ke kamar Oma ya.." seru Kiano.
"Gak mau..." Zaki menggelengkan kepalanya.
"Kenapa... kan dikamar Oma seru, bisa main sama Opa juga."
"Kalau Zaki main ke kamar Oma, Daddy pasti mau peluk Mommy kan?"
"Aduh.... nih anak tau aja akal Daddy nya, anak siapa sih?" gumam Kiano.
"Daddy aja yang main ke kamar Oma, dan main sama Opa."
Mata Kiano membulat, mendengar ucapa putranya. Zavira menahan senyumnya.
"Sayang kamu senang sekali sepertinya?"
"Aku kenapa sih Mas?" tanya Zavira lembut sembari menutup mengatup mulutnya menahan tawa.
"Itu kamu tertawa."
"Aku tertawa salah, aku nangis nanti kamu dimarahin sama Ummi dan Daddy."
"Sayang bujukim Zaki ke Oma nya dong..." pinta Kiano.
"Ngapain... kasian Ummi, pasti Ummi lagi istirahat."
"Kamu boboin Zaki aja di kamarnya ya."
"Zaki baru aja bangun tidur, masa mau disuruh tidur lagi."
Tok... Tok..
Kiano dan Zavira saling berpandangan, saat mendengar pintu di ketuk.
Zavira segera berdiri dan membuka pintu.
Ceklek...
"Ummi..."
"Zaki mana?" tanya Ummi Hummairah.
"Ada... Abang Zaki, ada Oma." panggil Zavira.
Zaki pun berlari menuju pintu dan menghampiri Oma nya.
"Opa ngajakin jalan ke taman bermain, Abang Zaki mau ?" tanya Hummairah.
"Mau.. Oma, Zaki mau."
"Sekarang Abang Zaki ganti baju dulu, minta bantu sama Ummi. Oma tunggu di depan sama Opa ya."
Zavira pun segera mengantikan baju putranya, setelah selesai ia mengantarkan Zaki kepada mertuanya yang telah menunggu di depan.
"Opa... Abang Zaki udah siap." ucap Zaki.
"Sitampannya Opa sudah siap... kita pergi sekarang?"
"Let's go.."
"Oke, let's go..."
__ADS_1
"Kami pergi dulu ya Za, hati-hati dirumah." pesan Hummairah pada menantunya.
"Iya Mi." Zavira mencium tangan mertuanya.
Sepeninggalan mertuanya, Zavira kembali ke kamarnya. Ia melihat Kiano tertidur, Zavira segera membereskan mainan putranya. Setelah selesai ia meraih handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
Ceklek...
Suara pintu kamar mandi terbuka, Zavira menoleh.
"Mas.. ngapain?"
"Ya mandilah, ngapain lagi." Kiano melepas seluruh pakaiannya hingga tersisa boxernya.
"Iya, tapi nanti aja. Tunggu aku selesai."
"Aku mau nya mandi bareng, ngapain nunggu kamu selesai."
"Gak ada, pasti lain ceritanya."
"Tuh kamu tau, sudah diam"
"Mas, hupmmmm..."
Kiano membungkam mulut istinya, hingga pertempuran pun terjadi dikamar mandi.
.....
Nathan mempersiapkan keperluannya berangkat keluar negeri, untuk perjalanan bisnis.
"Coba kalau udah punya istri, pasti gak repot." celetuk Nyonya Sofia.
Nathan hanya diam tidak menggubris ucapan Mama nya. Ia masih melanjutkan memasukan pakaiannya kedalam koper.
"Berapa lama kamu disana?" tanya Tuan Jhonson pada putranya.
"Mungkin tiga hari Pa, itu pun kalau Nathan gak jalan-jalan dulu."
"Eh... Nath, kalau jalan-jalan jangan lupa beliin Mama oleh-oleh ya." seru Mama.
"Iya..." jawab Nathan singkat.
"Untuk Kanayah juga."
Wajah Nathan berbinar saat Mama nya menyebut nama Kanayah.
"Mau dibelin apa Ma?" tanya Nathan.
"Yang pasti jangan belikan bikini atau lingeri." sambung Papa.
Mereka pun tergelak.
"Itu akan aku belikan nanti, saat aku menikah dengannya."
"Waah... kamu mau menikah sama Kanayah?" tanya Mama semangat.
"Belum... Nathan pikir-pikir dulu deh."
"Jangan kelamaan Nath, kamu itu udah kepala tiga. Kalau ketua an, gimana kamu mau kasih kami cucu. Lalu siapa yang akan mewarisi dan meneruskan usaha Papa kamu."
"Ma... Nathan tidak setua itu, lagian walaupun umur Nathan udah empat puluh pun, Nathan masih bisa kok berikan Mama dan Papa penerus."
"Benar?" tanya Mama.
"Iya Ma."
"Baiklah... tapi kalau dijodohin sama Kanayah kamu mau kan?" goda Mama.
"Nathan pikir-pikir dulu deh."
__ADS_1
Bersambung