
Kiano terdiam dan merenung di dalam kamarnya, penjelasan dari Kirana tadi seakan membawanya kembali kepada kejadian tiga puluh tahun yang lalu. Dimana ia dan Hummairah baru saja bisa saling menerima, saling mengakui perasaan mereka.
Kendra memang tidak pernah mempercayai adanya karma dan sebagainya, tapi kali ini sepertinya ia harus mulai memperhatikan setiap perbuatannya.
Kejadian masa lalu seakan masih lekat dipelupuk mata Kendra, dimana ia harus dipaksa berpisah dari istri yang ia cintai, hingga ia tidak bisa menemani sang istri saat melahirkan Kiano putra pertamanya.
Hummairah masuk kedalam kamar, melihat suaminya sedang merenung ia pun segera menghampirinya.
Hummairah memeluk Kendra dari belakang dan mengecup punggungnya.
"Ada apa hemmm..." tanya Hummairah lembut.
"Aku sedang berpikir..." jawab Kendra, sembari menarik tangan istrinya agar wanita itu yang semula berada di belakangnya, menjadi berada di depan dan menghadapnya.
"Mikirin apa?" Hummairah mengalungkan tangannya ke leher sang suami. "Pasti kamu lagi mikirin gimana caranya ngasi Kanayah adik, ya kan?"
Kendra terkekeh. "Asal... tapi emang kamu mau nambah anak lagi, kan kemarin bilangnya gak mau."
"Umurku hampir lima puluh, kalau sampai punya anak lagi, pasti kelihatan aneh."
"Gak apa-apa kalau kamu mau, aku kan masih kuat. Kamu juga masih muda kok, masih cantik kayak dulu sama seperti saat kita pertama bertemu." rayu Kendra.
"Hemmm... untuk saat ini, aku lebih baik mengurus cucu ku. Lagi pula aku masih punya bayi yang setiap harinya harus aku urus segala keperluannya."
"Bayi? Siapa?" Kendra bingung.
"Ya kamu, siapa lagi. Yang tingkahnya gak jauh berbeda dari Zaki, yang bisa jauh dari aku."
"Kamu ngatain aku bayi?"
"Iya, bayi tua ku yang tampan."
"Baiklah, jika aku bayi menurut mu. Sekarang sudah waktunya kamu memberi jatah makan malam untuk bayi tampan mu ini." Kendra pun menarik istrinya ketempat tidur, dan mulai aktifitas mereka. Cinta tidak mengenal usia, walau sudah tidak muda lagi, tapi cinta diantara Kendra dan Hummairah masih sama seperti saat mereka muda dahulu, bahkan sekarang cinta itu semakin subur.
....
Air mata Kayla tumpah saat ia mengetahui kalau putranya Leon dibawa pergi oleh Nyonya Yan, ia berusaha menelpon Kai Zhou dan siapa pun yang ia kenal dan berhubungan dengan keluarga Yan. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang menjawab panggilan Kayla.
Akhirnya Kayla memutuskan untuk datang kerumah Reno Kakaknya, dan akan mengadukan semuanya.
Kayla tiba disana dan di sambut oleh Jihan Kakak iparnya, yang menatapnya heran.
"Kay, ada apa?" tanya Jihan.
"Mbak.... dimana Mas Reno?" tanya Kayla yang masih menahan tangisnya.
"Mas Reno sedang dinas diluar kota, ada apa Key?" Jihan masih menatap heran pada adik iparnya. "Ayo kita masuk dan bicara didalam."
Kayla pun mengikuti arahan Kakak iparnya.
__ADS_1
"Duduk dulu Kay... sekarang katakan ada apa?" tanya Jihan.
Belum juga Kayla menjawab pertanyaan Jihan, tangis Kayla telah pecah terlebih dahulu.
"Kay, katakan ada apa? Jangan bikin Mbak bingung, dan dimana Leon?"
"Leon dibawa pergi Mbak..." jawab Kayla di tengah tangisnya.
"Apa.. apa maksud kamu, siapa yang bawa Leon?" tanya Jihan bingung.
"Leon dibawa oleh Nyonya Yan kembali ke Jepang."
Mata Jihan terbelalak, terkejut saat mendengar penjelasan dari Kayla.
"Apa maksud kamu Kay?"
"Leon dibawa oleh Nyonya Yan, Ibu nya Kai Zhou." jawab Kayla.
"Apa... bagaimana bisa Kay, bukan nya kamu selalu mengatakan pada bahwa Leon adalah anak kami?" tanya Jihan bingung.
"Dia tau Mbak, dia tau semuanya. Bahkan dia juga sudah melakukan tes DNA atas diri Leon dan Kai Zhou."
"Kay, tenangkan diri kamu. Sekarang kamu ceritakan bagaimana bisa dia membawa Leon.
flashback
"Oce..." jawab Leon yang masih belum fasih berbicara.
Ia pun mulai membereskan mainannya dan memasukannya kedalam box.
Kayoa tersenyum melihat putranya yang tertatih membereskan mainannya
"Sudah sayang?" tanya Kayla.
Leon menganggukan kepalanya.
"Waaah... anak Ibu pintar, sekarang kita berangkat. Are you ready?" ucap Kayla.
"Yes!" jawab Leon.
"Let's go..." lanjut Kayla.
Kaypa memimpin tangan mungil Leon dan menuntunnya masuk kedalam mobil.
Tiba-tiba Kayla dikejutkan dengan kedatangn tiga buah mobip mewah yang masuk kedalam halaman rumahnya.
Saat dilanda rasa heran, tiba-tiba Kayla terkejut saat melihat siapa yang keluar dari salah satu mobil itu.
"Nyonya...." ucap Kayla.
__ADS_1
"Aku harap kau tidak terkejut dengan kedatangan ku, kau tau apa tujuan ku hingga aku mau menginjakan kaki dirumah mu yang kumuh ini." ucap Nyonya Yan menghina Kayla.
"Nyonya mau apa?"
"Aku ingin membawa cucu ku kembali ke Jepang, dan tentu saja tanpa mu." Nyonya Yan berucap enteng.
"Tidak!!! dia bukan cucu Nyonya, Leon adalah putranya Mas Reno dan Mbak Jihan." elak Kayla.
Nyonya Yan tertawa sinis. "Kamu pikir aku sama seperti orang-orang sekitarmu yang mudah kau bodohi? Aku kesini tidak akan sembarangan lagi, aku juga membawa bukti tes DNA. Yang mengatajakan kalau Leon adalah putra dari Kai Zhou, yang tidak lain adalah cucu ku. Penerus keluarga ku."
Kayla meremas kertas hasi tes ditangannya, kemudian membuangnya.
"Saya tidak peduli pada apa yang anda bawa, saya tidak akan menyerahkan Leon pada keluarga anda." ucap Kayla.
"Baiklah, jika itu mau kamu." Nyonya Yan segera memberikan kode pada anak buahnya untuk merampas Leon dari Kayla.
Para bodyguard itu mulai memegangi Kayla kemudian membawa Leon dan memberikannya kepada majikan mereka.
"Tidak... kalian tidak boleh membawa putra ku, dia milik ku." teriak Kayla yang hampir menangis.
Tapi mereka tidak memperdulikan Kayla yang berusaha merebut kembali putranya.
Nyonya Yan segera membawa Leon masuk kedalam mobilnya dan pergi meninggalkan kediaman Kayla, tanpa menghiraukan tangisan Leon yang terus meronta.
"Langsung ke bandar, hari ini juga kita kembali ke Jepang." NyonyabYan memberikan perintah pada supirnya.
flashback off
Jihan terperangah mendengar cerita Kayla, ia pun memeluk Kayla, yang masih menangis tersedu.
....
"Kamu baik-baik aja kan? Daddy kamu gak apa-apain kamu kan?"
Kirana tersenyum membaca pesan dari Fachri, ia menghela napasnya pelan.
Kirana masih belum bisa menemui Fachri, Kirana adalah gadis yang penurut. Apalagi jika itu perintah orang tuanya.
Ia hanya bisa membaca pesan dari Fachri tanpa berani membalasnya.
Kirana paling hebat menyembunyikan kesedihannya, ia akan terlihat biasa saja jika sedang dikelilingi oleh keluarganya, dan akan menjadi pendiam jika ia sedang sendiri.
Yang memahami diri Kirana adalah Kiano Kakaknya, untuk itulah Kiano selalu menyuruh Zavira istrinya membawa Zaki untuk bermain bersama Kirana.
"Sayang, jangan lupa kamu temani Kirana ya! Aku yakin dia saat ini pasti sedang sedih." pesan Kiano pada istrinya sebelum ia berangkat ke kantor.
"Iya, aku tau. Kamu juga jangan terlalu memikirkan masalah Kirana ya, kamu fokus aja sama pekerjaan kantor. Sisanya biar aku yang urus." jelas Zavira panjang lebar.
Bersambung...
__ADS_1