CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA

CEO DINGIN DAN GADIS SHOLEHA
201.


__ADS_3

Kanayah terbangun tepat pukul tiga dini hari, kebiasaan yang sering ia lakukan setiap harinya.


Ia menggosok matanya, dan menggeser sedikit posisinya. Sebuah tangan dan kaki besar merangkul erat tubuh kecil Kanayah. Mata Kanayah membulat saat ia dijadikan seperti guling oleh orang disebelahnya.


"Ini manusia apa raksasa sih, gede banget." Kanayah berusaha melepaskan diri. Tapi pelukan itu semakin erat, kini Kanayah tidak bisa bergerak.


Sebenarnya Nathan menyadari jika Kanayah telah bangun, hanya dia ingin menjahili istrinya. Nathan menahan senyumnya saat ia dikatai raksasa oleh Kanayah.


Kanayah kembali mencoba melepaskan diri, tapi Nathan kembali mengerjainya. Kanayah belum menyerah dan Nathan juga masih belum puas mengerjai istrinya. Hingga akhirnya Kanayah mengetahui, jika Nathan sedang berpura-pura tidur.


Kanayah mengangkat tangan Nathan dan mengarahkannya kemulut, kemudian ia pun menggigitnya.


"Aaaaaaaahkkk..." teriak Nathan meringis.


"Rasain." ucap Kanayah yang langsung berlari masuk ke kamar mandi.


"Pake gigit, itu cewek apa kucing sih?" gerutu Nathan mengusap tangannya.


Dua puluh menit kemudian, Kanayah keluar dari kamar mandi. Kanayah melotot pada Nathan yang masih tergulung selimut.


"Dasar raksasa" gumam Kanayah.


Ia pun segera menunaikan kewajibannya, karena telah masuk waktu subuh.


Setelahnya Kanayah lanjut melantunkan mengaji. Nathan menajamkan pendengarannya saat mendengar Kanayah melantunkannya dengan merdu. Tidak merasa tergannggu malah Nathan kembali menarik selimut.


Nathan membuka matanya ketika ia merasa, suasana dikamar itu telah sepi.


"Udahan ngajinya?" tanya Nathan.


"Udah.." jawab Kanayah singkat.


"Dikit banget."


"Mau banyak baca sendiri." jawab Kanayah beranjak keluar kamar.


"Kamu mau kemana?" tanya Nathan heran.


"Kebawah datengin Ummi dan yang lain."


"Sayang.. kamu lupa kalau kita lagi di hotel?"


Mata Kanayah membulat, ia lupa.


"Aku mau joging." ucap Kanayah menghilangkan malunya.


"Jogging apaan sayang... masih gelap gini?"


"Terserah aku..." jawab Kanayah tetap keluar.


Nathan tersenyum melihat tingkah istri kecilnya.


.....


Kanayah masuk kembali ke kamarnya, Nathan telah terbangun dan duduk hanya menggunakan underware boxernya. Ia melirik ke arah Kanayah yang baru saja tiba.


"Sudah jogingnya sayang?" tanya Nathan.


Mata Kanayah membulat saat melihat pemandangan indah dihadapannya. Tubuh proposional Nathan terpampang jelas di matanya.


Nathan berdiri dan berjalan mendekati Kanayah yang masih berdiri mematung.


"Sudah puas melihatnya sayang." bisik Nathan ke telinga Kanayah.


Kanayah segera tersadar dan memilih meraih handuk dan masuk ke kamar mandi.


Nathan tersenyum melihat wajah istrinya yang merah padam karena ulahnya.


Tidak lama kemudian, Kanayah pun selesai mandi dan telah berpakian lengkap.


Ia menuju balkon untuk sarapan, Nathan menghampirinya dan duduk dihadapannya.


"Aku mau pulang, bosen disini." ucap Kanayah.


"Iya, setelah ini kita pulang."


"Bener ya."


"Iya... bawel banget sih. Udah aku mau mandi dulu." Nathan beranjak dari duduknya dan masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Setelah selesai dengan ritual mandinya, Nathan tampak lebih segar. Kembali mata Kanayah disuguhkan pemandangan yang menggugah iman.


"Aku sexy kan?" celetuk Nathan.


Kanayah memutar matanya dan bergidik.


Nathan kembali tersenyum dengan ulah istrinya.


Mereka telah bersiap dan segera meninggalkan hotel.


......


Kendra tampak tidak berselera sarapan pagi ini, ia pun enggan ke kantor.


Anggota keluarga yang lain masih berada dirumah mereka.


"Kenapa Kend, kamu merindukan putri kecil mu?" tanya Ilham.


"Iya Ham... aku rindu Kanayah, biasanya setiap pagi dia paling suka cerewetin aku. Daddy tidak boleh begini, Daddu tidak boleh begitu, Daddy...."


"Daddy tidak baik ngomongin orang, dosa..." terdengar suara yang sangat familiar ditelinga Kendra. "Lihat Ham, aku merasa aku mendengar suaranya."


Ilhan tersenyum. "Kend, kamu gak salah denger, tuh putri kesayangan kamu."


Mata Kendra melihat Kanayah yang sudah berdiri didepan pintu, Kendra segera berlari menghampiri anak kesayangan nya dan memeluknya.


"Kamu baik-baik aja kan?" tanya Kendra.


"Ya gak apa-apa lah, emang kenapa?" jawab Kanayah heran.


"Ayo masuk."


Kendra pun membawa Kanayah masuk.


"Mas.... mantunya gak disuruh masuk juga?" ucap Hummairah.


Kendra menepuk keningnya, ia lupa pasal Nathan yang datang bersama Kanayah.


"Masuk Nath." ajak Kiano.


Kanayah dan Nathan menghampiri para tetua kelaurga Kake, Nanny, Oma, dan Opa nya.


"Alif lagi ke rumahnya Kirana, biasa janjian sama Fachri mau kebengkel mobilnya Fachri. Kalau Fian, keluar gak tau ke mana?" jawab Medinah.


"Kak Nana belum datang?"


"Belum sayang, katanya dia mau nemenin mertuanya ke dokter untuk cek up." jawab Ummi.


Kanayah hanya mengangguk.


"Kalian udah sarapan?" tanya Daddy.


"Udah tadi di hotel "


"Nay... bikinin minum untuk suaminya." ucap Ummi yang melihat Nathan hanya diam melihat keluarga mereka. Nathan tersenyum tipis dan menatap Kanayah dengan tatapan jahil.


Kanayah melotot pada Nathan. Ummi hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol kedua anak menatunya.


Kanayah naik ke kamarnya dan ikuti oleh Nathan. Nathan merebahkan tubuhnya di atas ranjang kamar Kanayah.


"Kamar nyaman." puji Nathan.


Kanayah tidak memperdulikan Nathan yang terlelap di kasurnya. Setelah semuanya sesesai, Kanayah pun turun ke bawah berkumpul dengan keluarga lain. Kirana dan suaminya telah tiba, sikembar juga telah kembali.


"Nathan mana Nay?" tanya Ummi.


"Di kamar Mi, tidur."


"Waah... ngantuk banget, lu bikin Nathan lembur tadi malam Nay?" goda Kiano.


"Apaan sih, lembur apaan?"


"Cieeee, Nay udah gede." goda Kiano, membuat semua anggota keluarga tertawa dan berhasil membuat wajah Kanayah merona merah dan kesal.


.....


"Maaf semuanya, ada yang mau saya omongin." ucap Nathan disela makan malam.


"Ada apa Nath?" tanya Ummi Hummairah.

__ADS_1


Nathan melirik ke arah Kanayah yang menundukan wajahnya.


Natham mengambil mengatur napas, dan mulai untuk kembali bersuara, semua masih menunggu Nathan.


"Saya akan membawa Kanayah pulang kerumah saya, malam ini juga." ucap Nathan.


Kanayah menggigit bibir bawahnya.


Semua terperangah.


"Tapi kami semua masih berkumpul disini Nath..."


"Mas..." Hummairah memberi kode pada suaminya dan tersenyum pada Nathan. "Boleh, tapi besok kembali kesini ya, karena Kakek, dan Nanny serta Papa Ilham dan Mama Medinah disini, kita lepas kangen dulu sama mereka. Kita semua jarang lho bisa kumpul lagu begini, palingan nanti kalau sikembar menikah. Itu pun pasti kita semua yang datangin mereka disana." ucap Ummi Hummairah lembut.


"Iya Mi, besok saat akan pergi ke kantor, saya akan mengantar Kanayah kesini."


"Baiklah... ayo lanjutkan makannya."


Mereka pun melanjutkan makannya, Kakek dan Nanny tersenyum mendengar penuturan Nyonya rumah.


Setelah makan malam, Nathan pun pamit membawa Kanayah pulang.


Kendra memeluk erat Kanayah.


"Bilang Daddy kalau Nathan jahatin kamu ya."


"Daddy apaan sih, siapa yang mau jahatin Nay Dad. Yang ada Nay yang ngebully Nathan." sambung Kiano.


"Betul tuh Dad... Daddy kan tau anak Daddy yang satu ini kan Samsonwati." sambar Alfian.


"Diem lu..." ujar Kanayah kesal.


"Belum tentu suaminya negbully dia, kalian duluan yang ngebully. Tenang Nay, Daddy belain kamu." ucap Kendra.


Semua tertawa mendengar ucapan Kendra membela putri kesayangannya.


"Disini aku sedih, sebenarnya aku anak siapa sih?" celetuk Kirana.


"Kenapa?" tanya yang lain berbarengan.


"Ya iyalah..... Kak Kiano putra kesayangannya Ummi, Kanayah putri kesayangannya Daddy. Lhaaa gue????"


"Sayang.. kamu kan kesayangannya aku." sambung Fachri yang langsung memeluk erat istrinya serta mengecup pipi Kirana.


Disambut gelak tawa anggota keluarga lainnya.


Akhirnya Kanayah dan Nathan pun pamit, Nathan membukakan pintu mobil untuk Kanayah.


Setelah memasukan semua barang Kanayah, mobil mereka pun meninggalkan perkarangan luas rumah keluarga Kendra.


Tiba di rumah, Nathan dan Kanayah disambut oleh kedua orang tua Nathan.


Mama Nathan tampak antusias menyambut Kanayah.


"Kami istirahat dulu Ma, nanti kan masih ada waktu." ucap Nathan membujuk Mama nya.


"Baiklah... besok pulang cepat ya, kita ngobrol lagi."


"Iya Ma." jawab Kanayah.


Nathan pun mengantar istrinya ke kamar.


"Istirahatlah, aku akan ke ruang kerja." ucap Nathan meraih laptopnya.


Kanayah mengangguk dan masuk ke kamar mandi. Nathan tersenyum dengan tingkah cuek istrinya.


Tepat tengah malam Nathan kembali ke kamarnya, ia melirik sekilas pada Kanayah yang telah pulas bergulung selimut.


Setelah mencuci muka dan menggosok giginya, Nathan pun berjalan mendekat dan naik ke atas ranjang.


Kanayah menggeliat dan merubah posisinya menghadap ke arah Nathan.


Nathan memperhatikan setiap sisi wajah Kanayah. Bulu mata panjang dan lentik, hidung mancung meskipun berukuran kecil, bibir tipis, dan pipi sedikiy chubby, rambut hitam ikal bergelombang dengan kulit putih bersih sebab jarang terpapar matahari langsung.


Nathan gemas melihat Kanayah dalam posisi tidurnya, ia pun meraih ponselnya kemudian mengambil photonya. Otak nakal Nathan sedikit bekerja, ia membuka kamera ponselnya. Kemudian mendekatkan wajahnya kearah Kanayah.


Nathan mengecup sedikit bibir Kanayah lalu mengambil gambarnya, ia tersenyum saat melihat hasilnya. Tapi ada yang aneh, Nathan merasa kembali tertarik dengan bibir Kanayah. Ia pun kembali mendekatkan wajahnya dan kembali mencium bibir Kanayah. Kali ini lebih lama dan lebih dalam, hingga ia pun tersadar. Nathan segera menjauhkan diri dari Kanayah.


"Bodoh.... aku harus bisa menahannya, hingga dia benar-benar bisa menerimanku." Nathan mengecup kening Kanayah dan masuk kedalam selimut, memeluk dan mulai memejamkan matanya.

__ADS_1


bersambung.


__ADS_2